Lima belas

4 0 0
                                        

Biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya.

-believeme.


"Demi apapun soal tadi sulit bangeett," keluh Laras begitu keluar dari ruang ujian. Osiya hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya tersebut.

"Lebay lo," celetuk Samudra.

"Seriusan anjir! Itu yang trigonometri astagfirullahaladzim banget njir!" adu Laras berapi-api. Andra hanya bisa tertawa melihat wajah manyun Laras. Sedangkan  Samudra tak menghiraukannya, ia berjalan ke arah Osiya.

"Gimana tadi? Susah nggak?" tanya Samudra lembut. Osiya menghela nafas.

"Susah, otak gue hampir pecah," keluhnya. Samudra terkekeh kecil kemudian mengusap rambut Osiya.

"Makanya belajar itu sewajarnya, kalo berlebihan malah jadi blank kan." Osiya mempoutkan bibirnya. Astagfirullah jangan manyun-manyun woy, kasian iman gue. Samudra berdeham. "Udah, gausah manyun gitu, lo makin jelek." (Eitss, anda berbohong)

"Cih, dasar." Osiya memutar bola matanya. Laras dan Andra cekikikan melihat mereka berdua. Mereka sudah melantik diri sebagai 'osidra' shipper!

"HOLLA! SPADA! IBRA GANTENG HERE!" Satu koridor teralihkan atensinya kearah makhluk abstrak yang baru saja berteriak tak jelas. Langsung saja Samudra menggeplak Ibra menggunakan buku tebal miliknya.

"Sakit sat! Ah lu mah!" Ibra mengusap-usap kepalanya yang baru saja menjadi korban kesadisan seorang Samudra. Yang lain hanya tertawa saja melihat keduanya. Osiya juga tertawa, ia memilih tak mempedulikan orang yang ada dibelakang Ibra. Ya, kalian pasti tau.

"Bep, si Samudra jahat bep," adu Ibra pada Laras. Laras memutar bola matanya. "Siapa suruh ngerusuh," balas Laras cuek.

"Gue kesini sama Ibra mau ngambil barang Bu Ani," ucap Devon akhirnya. "Oh bentar, gue ambilin," jawab Andra kemudian lari kedalam kelas untuk mengambil barang Bu Ani.

"Gimana bep, ulangannya? Susah nggak?" tanya Ibra pada Laras. Laras menghela nafas. "Iya ih! Susah banget, aku sampe pusing tau!" keluh Laras. Osiya dan Samudra saling berpandangan, mereka mengerutkan alis. Sejak kapan Laras dan Ibra pake 'aku-kamu'? Itu yang ada dipikiran mereka.

"Sejak kapan lo berdua pake aku-kamu?" tanya Samudra menatap mereka curiga. Laras dan Ibra langsung gelagapan.

"Emm-ituu-" Laras terlihat gugup. "Kita udah jadian tadi malem," ucap Ibra yang membuat ketiga orang tersebut melotot.

"APA?!"

🔹🔹🔹🔹🔹

"Siyaaa entar gue jelasin, janjiii." semenjak pengakuan Ibra tadi, Osiya memilih mendiamkan Laras. Apa-apaan dia itu? Katanya sahabat, tapi kok nggak cerita apa-apa.

"Osiyaa maafff," ucap Laras memelas. "Entar pulang sekolah, jelasin." putus Osiya yang dibalas anggukan pasrah oleh Laras.

Sedangkan di belakang, Samudra sedang berusaha menghibur Andra yang patah hati mendengar Laras dan Ibra sudah jadian.

"Udah Ndra, banyak yang lebih baik dari si Laras," hibur Samudra yang tak dihiraukan Andra.

"Bantu gue cari cewe Sam." Samudra meringis, tapi akhirnya ia mengangguk lesu.

🔹🔹🔹🔹🔹

Saat ini mereka semua berada di kafe dekat sekolah, termasuk Devon. Kebetulan hari ini memang hari terakhir ujian, jadi mereka memilih pergi ke kafe dan tentu saja untuk mendengar penjelasan dari pasangan baru itu.

"Jadi?" tanya Osiya menatap mereka berdua. Laras menghela nafas.

"Jadi gini, Ibra kemarin malem nembak gue, dan gue emang suka sama dia, ya gue terima deh! Terus, gue ga sempet cerita ke elo karena gue tau lo pasti lagi sibuk belajar dan niatnya gue emang mau ceritain sekarang sekalian kasih kalian PJ," jelas Laras dibalas anggukan oleh keempat orang tersebut. Empat? Oke jadi disini ada Osiya, Samudra, Laras, Ibra, Devon, dan Andra yang sudah mengikhlaskan Laras. Udah Ndra, entar sama author aja.

"Yaudah, karena kalian berdua ngasih PJ, kita ga jadi ngediemin kalian," ucap Samudra dengan cengiran khasnya.

"Iye-iye, pesen aja apa yang kalian mau," pasrah Ibra.

Saat sedang memesan makanan terdengar dering panggilan yang berasal dari handphone Devon. Ia mengangkatnya.

"Iya by?" mendengar dari panggilannya mereka sudah tau siapa yang sedang berbicara dengan Devon. Osiya memilih menulikan pendengarannya.

"Ditha mau nyusul, boleh?"

"Nggak!" ucap Laras, Samudra, Ibra dan Andra.

"Gapapa," jawab Osiya cuek. Mereka semua menatap Osiya bingung. Osiya menghela nafas.

"Ini tempat umum, semua orang bebas kesini," lanjut Osiya menjawab kebingungan mereka.

"Lo yakin?" bisik Laras. Osiya mengangguk.

"Oke, gapapa. Tapi gue nggak mau traktir cewek lo," ucap Laras. Osiya menegurnya tapi Laras memilih acuh.

"Gimana?"

"Iya. Gue juga jangan lo traktir," jawab Devon dingin.

"Okay, terserah lo," jawab Laras.

Samudra menatap Osiya khawatir, ia tak yakin Osiya sedang baik-baik saja. Tapi ia hanya memilih diam.

Tak lama kemudian, lonceng pintu cafe itu berbunyi, disusul dengan kehadiran gadis berpita pink menuju meja yang diisi oleh pemuda-pemudi tersebut.

"Aduh sayang! Panas banget tauuu." Semuanya menatap malas kearah gadis sok imut tersebut. Devon mengusap rambut Ditha penuh sayang.

"Yaudah, sini duduk," ucap Devon lembut dan mengarahkan Ditha duduk di sebelahnya. Samudra menggenggam tangan Osiya dibawah meja. Osiya tersenyum kearah Samudra untuk memberi tahu bahwa ia baik-baik saja.

"Ah! Makanannya lama banget!" ucap Laras memecahkan keheningan.

"Kamu mau cheesecake? Katanya enak banget cheesecake disini."  Ditha mengangguk riang, lalu Devon memanggil pelayan untuk memberi tahukan pesanan mereka.

"Saya juga cheesecake mbak," ucap Osiya di antara riuh teman-temannya yang sedang memilih menu. Devon melirik ke arahnya. Osiya berusaha mati-matian menahan sesak di dadanya. Cheesecake. Cheesecake semua cafe di hampir seluruh kota ini sudah ia coba bersama Devon. Iya, cheesecake adalah dessert favorite mereka berdua. Kini, bukan Osiya lagi yang menemani Devon untuk hunting cheesecake.

Samudra menyadari perubahan sikap Osiya. Ia tahu betul, gadis di sampingnya ini sedang mati-matian menahan tangis. Ia ingin membawa Osiya pergi dari sini. Tapi ia tahu, Osiya tidak akan mau. Ia terlalu takut menunjukkan bahwa dirinya lemah.

                        

Believe MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang