Android [EdanhxBam]

408 49 14
                                        

Tuhan menciptakan manusia dengan akal kemudian para manusia menggunakan akal itu untuk berfikir dan menciptakan sesuatu agar pekerjaan manusia terasa lebih mudah.

Zaman semakin berkembang, alat alat yang diciptakan pun menjadi lebih canggih. Android yang awalnya hanya berbentuk benda pipih sekarang berubah menjadi manusia.

Android seperti duplikat manusia dan manusia itu sendiri seperti Tuhan. Mereka memiliki tubuh, darah, jantung, mata, mulut dan dapat berjalan seperti manusia. Satu hal yang mereka tidak miliki adalah Empati. Yah mereka hanya mesin yang menerima perintah dari manusia, mereka terlihat seperti manusia namun bukan manusia. Lalu mereka itu apa? Benar benar hanya mesin?

.
.
.
.
.
.

"Sayur sudah buah sudah sekarang tinggal cat air." Gumam seorang Android bermerek A500 sembari berjalan ke arah toko cat air yang tak jauh dari tempat nya berada.


Android A500 adalah android yang memiliki tugas untuk melayani orang yang membelinya, semacam Maid. Kebanyakan model Android ini adalah wanita berusia 20 tahunan, namun berbeda dengan Android A500 yang dimiliki oleh seorang seniman legenda bernama Khun Edanh, ia bermodel remaja laki laki berusia 16 tahunan.

Kring

Suara bel berbunyi, seorang Android masuk dan membeli barang yang dipesan Tuannya.

"Satu paket cat air."

"Baik, tunggu sebentar."

Android kasir itu lalu pergi untuk mengambil barang yang diminta.

"Ini catnya, Rp. 100.000 ribu." Ujar Android itu sembari menyerahkan cat air pada Android lain.

Ini lah salah satu kelebihan Android, membayar Via transfer secara otomatis. Lampu kecil berbentuk lingkaran yang terletak di bagian pelipis dekat mata berubah warna menjadi kuning dan berubah menjadi biru setelah selesai melakukan pembayaran.

"Terima kasih." Ujar Android kasir sembari tersenyum ramah.

•••

"Tuan Khun apa anda di dalam?" Tanya seorang Android pribadi milik Khun Edanh dengan berbagai obat obat an ditangannya.

"Masuk lah Bam." Jawab suara dari dalam kamar

"Ini waktunya Anda minum obat Tuan Khun." Ujar Android remaja itu sopan sembari meletakkan obat di meja lalu membantu Edanh untuk duduk.

"Bisakah aku berhenti meminum obat obat an itu? Rasanya memuakkan." Ujar Edanh sebal yang dibalas senyuman hangat oleh Android pribadinya yang bernama Bam.

"Bukannya Anda membenci anak Anda yang bernama Tuan Aguero? Jika Anda berhenti meminum obat ini maka Tuan Aguero akan mendapat apa yang diinginkannya selama ini." Jelas Bam sembari menyuntikkan cairan vitamin ke lengan Edanh setelah itu ia menumbuk beberapa pil obat dan memasukkannya ke dalam teh agar terasa tidak pahit.

"Ternyata kau tau cara memotivasi ku agar tetap hidup yah." Ujar Edanh sembari tertawa pelan lalu meminum teh yang diberikan Bam.

"Tidak Tuan Khun, itu sudah ada di program saya."

Edanh menatap Bam yang saat ini tengah sibuk membereskan kamarnya, ia tahu itu bukan program milik Bam. Bam tidak di desain untuk memotivasi seseorang, Bam dirancang hanya untuk menjadi pelayan namun akhir akhir ini Edanh merasa Bam bersikap seperti manusia.

Seperti beberapa Minggu yang lalu, saat itu salah satu anak Edanh datang merusuh kerumahnya, anak itu bernama Khun Marco Asensio.

"Ayah aku minta harta bagian ku sekarang!"

"Belum waktunya Asensio."

Karna Emosi Asensio kemudian mendorong ayahnya lalu mencekik pria paruh baya itu. Bam yang melihat hal itu ingin menghentikan tindakan Asensio namun Edanh memberi perintah untuk diam dan membiarkan dirinya yang menyelesaikan masalah ini. Tetapi Bam tidak menuruti perintah Edanh, Android itu justru menyerang Asensio hingga ia terbentur mesin dibelakangnya dengan sangat keras.

Edanh syok melihat salah satu anaknya mati di tempat, tetapi itu tak masalah untuknya toh ia masih punya banyak anak.

"Maaf Tuan Khun a-aku--"

Ucap Bam terpotong karna suara tangisnya, ehh Android bisa menangis? Begitu pikir Edanh saat itu.

"Tak apa apa Bam, hubungi polisi dan pihak rumah sakit."

Sejak saat itu Edanh yakin Bam adalah Android spesial. Mungkin Aguero telah mengetahui hal spesial itu sehingga ia menginginkan Android ini.

"Ingin jalan jalan Tuan Khun?" Ujar Bam membuat lamunan Edanh sedikit terganggu.

"Yah boleh."

•••

Pemandangan di sore hari memang terasa menyenangkan, apalagi bisa merasakannya dengan orang terkasih ahh maksudnya Android terkasih.

"Indah kah Bam?" Tanya Edanh masih menatap sunset matahari dari seberang danau.

"Jika menurut Anda indah--"

"Jawablah dari perasaan mu sendiri Bam." Edanh meletakkan jari telunjuknya di bibir Bam membuat Android cantik itu terdiam.

Perasaan?

Apa itu? Di programnya tidak terdapat hal semacam itu.

"Lihatlah sunset itu Bam, apa kau merasa takjub saat melihatnya?" Tanya Edanh sembari mengelus Surai lembut Bam.

Bam melihat ke arah Sunset, perpaduan warna biru air dan warna jingga matahari memang terlihat indah dimata Bam. Blue blood nya berdesir kencang, bibirnya membentuk seulas senyum polos.

"Itulah perasaan senang Bam." Ujar Edanh tersenyum simpul saat melihat senyum polos Bam.

Bam menatap Edanh sebentar lalu kembali menatap sunset yang hampir menghilang.

"Tuan Khun..." Gumam Bam yang dijawab 'iya?' dari Edanh.

"Apa manusia merasakan hal seperti ini?" Tanya Bam dengan raut wajah bingung.

Edanh mengangguk

"Sedih, senang, sakit, takut semua perasaan itu ada pada diri manusia."

"Lalu mengapa aku bisa merasakan perasaan itu Tuan Khun?" Ujar Bam tanpa sadar menggunakan kalimat 'aku-kamu'

Edanh mengangkat bahunya menandakan ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan Bam.

"Yang pasti kau itu spesial Bam, Android spesial."

Note:
Melenceng sama tema buku ini, but author harap kalian masih mau baca buku ini.

Kalian tau kan Game Android Become Human dan salah satu pemeran utamanya itu Markus, ngerasa cocok aja kalau Edanh yang meranin kakek itu wkwk

Thanks yang udah baca

KxB One Shots [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang