Kamu

1.8K 207 13
                                        

  Matahari sudah berada tepat diatas kepala. Sinarnya yang terik mampu membakar siapa saja yang berjalan di bawahnya. Waktu sekolah sudah usai. Semua siswa telah pulang kerumahnya masing-masing. Namun tidak dengan gadis itu.

  [Name] masih duduk menghadap laptop di ruang OSIS. Hanya dia seorang diri disana. Hening, hanya ada suara ketikan keyboard dibawah jari-jarinya yang menari diatasnya. Tak lama setelah itu, muncul sebuah suar dering singkat yang tak jauh darinya. Ternyata dari ponselnya.

  [Name] meraih ponsel yang terletak di sebelah laptop, lalu mengusap layarnya keatas untuk melihat isi pesan dari salah satu kontak yang bertuliskan "Salty Kei".

  Dahinya berkerut sejenak, setelah melihat isi pesan dari teman laki-lakinya itu. 

(ignore timestamp)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(ignore timestamp)

  Setelah jari-jarinya puas mengetikkan pesan kepada Kei, ia menghela nafas sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kei aneh sekali." Benar saja, laki-laki itu bertingkah sangat aneh hari ini. Apalagi setelah kejadian di kantin tadi pagi.

  Dan apa lagi ini? Bagaimana ia bisa mengetahui jika [Name] masih berada di dalam lingkungan sekolah? Memikirkannya amat membuang waktu. Maka dari itu, gadis itu memilih untuk segera berkemas dan meninggalkan sekolah segera mungkin.

  Tak butuh waktu lama, dirinya sudah meninggalkan bangunan sekolah yang sudah sepi penghuni. Di tengah lapangan, ia melirik ke kanan dan ke kiri. Memastikan apakah Tsukihima Kei sedang menguntitnya di suatu tempat.

  Namun syukurnya, tidak ada siapapun disana. Menyadari terik yang segera membakar kulit wajahnya, [Name] menjadikan tas sekolahnya sebagai 'Payung' untuk berlindung. Kedua kakinya segera berlari menuju rumah. Ia sudah tidak bisa menahan sinar matahari ini. 

    Belum separuh perjalanan, gadis itu menemukan dua sosok laki-laki yang amat dikenalnya dari kejauhan. Keduanya masih sama-sama mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Kei ternyata sedang menunggu dirinya bersama Yamaguchi Tadashi, satu-satunya teman dekatnya selain [Name].

  Yang bersurai kehijauan melambaikan salah satu tangannya kearah [Name], mengisyaratkan agar perempuan itu bergabung dengan mereka. [Name] sempat diam sejenak, namun tak perlu waktu yang lama, kedua kakinya berlari kecil kearah dua laki-laki disana. 

  "Hahh.. panas.." [Name] menghela nafas kasar. Ia mengipaskan kedua tangannya kearah wajah. Ia mulai merasakan terik matahari itu perlahan membakar kulitnya. Kei yang datang dari dalam minimarket membawa sebotol jus jeruk dan meletakkannya dihadapan [Name].

  "Lama banget," singkat lelaki itu sembari berjalan kearah kursinya. [Name] masih meneguk jus jeruk dingin pemberian dari Kei. "Terima kasih, Tsukki." Gadis itu menyengir lebar. Kei tidak menyukai jawaban itu. Ia mendengus kesal. 

  "Iya Kei, terima kasih ya." Lanjut gadis itu. 

  Siang itu dihabiskan dengan cuitan tentang hal-hal yang sedang terjadi di sekitar mereka. [Name], Kei, dan Tadashi sudah terbiasa melakukan hal ini. Disaat seperti ini, hanya [Name] dan Tadashi yang banyak berbicara. Hanya tersisa Kei, yang lebih sering menyimak obrolan mereka.

  "[Name], kamu lagi banyak kerjaan ya?" Tadashi bertanya disela-sela percakapan mereka. Gadis bermahkota [hair color] itu tersenyum tipis. "Itu adalah hal biasa bagi seorang ketua OSIS," ucapnya diikuti satu tegukan jus jeruk.

  Salah satu laki-laki disana mengerutkan alis. "Jangan terlalu dipaksa, nanti kau bisa sakit." [Name] segera menggeleng.

  "Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ia melanjutkan. "Lagipula, aku menyukai kesibukan ini." Wajahnya memberikan senyuman kepada dua orang temannya disana. Tadashi kepalanya yang tidak gatal. "[Name] memang berbeda ya, Kei.." Laki-laki bersurai kehijauan itu melirik kearah Kei yang masih menatap [Name].

  "Manusia aneh."

***

  Setengah jam berlalu sejak saat itu. [Name], Kei, dan Tadashi memutuskan untuk pulang. Tadashi yang lebih dulu berpamitan, mereka berpisah di persimpangan jalan. Sementara [Name] dan Kei melanjutkan perjalanan. Dikarenakan rumah mereka satu arah, sisa perjalanan hanya dihabiskan oleh mereka berdua.

  Seperti biasa, Tsukishima Kei bukanlah tipe periang. Jika tidak diajak bicara, ia hanya akan diam. Seperti saat ini, tidak ada percakapan diantara mereka dalam beberapa waktu. Hanya terdengar suara senandung dari gadis yang berjalan memimpin di depan.

  "Kei," panggil gadis itu. Ia tidak membalik badan. Yang dipanggil namanya hanya berdeham. "Apakah kau mulai menikmati Voli?" Gadis itu berjalan, diiringi oleh loncatan kecil di setiap langkahnya. Dibandingkan dengan pertanyaan, laki-laki itu justru lebih tertarik memperhatikan gadis itu dari belakang.

  "Biasa saja." singkat laki-laki itu. Ia amat menghindari topik pembicaraan ini. Tapi [Name] selalu saja membahasnya. "Cobalah untuk menikmatinya, Kei. Aku tahu kau pasti bisa." Laki-laki yang dimaksud itu hanya diam, memilih untuk tidak menjawab.

  [Name] selalu berusaha agar Kei dapat melihat bahwa dunia yang dimilikinya tak selamanya membosankan. Laki-laki itu selalu saja memandang sesuatu dengan penuh kebencian. Maka dari itu, sangat sulit baginya untuk menyukai suatu hal. 

  Lain halnya dengan [Name] yang sangat menikmati setiap detik hidupnya. Baginya, itu semua sangat berharga. Tak ada harta yang mampu menukarkan nilainya dengan momen berharga di kehidupannya. Karena  hal itulah, gadis itu suka sekali mengukir senyum di wajahnya walaupun tidak semuanya selalu baik-baik saja.

  "Jadi, apa yang kau suka?" Kini mereka berjalan beriringan. Gadis itu mendongak kepada Kei yang jauh lebih tinggi darinya. Tentu saja diiringi langkah kaki. Kei melirik gadis itu dari ujung matanya. Kemudian ia mengalihkan wajahnya. 

  "Sampai jumpa." 

  [Name] terhenti langkahnya, melihat punggung pemuda itu yang perlahan menjauh. Ia menoleh kearah kiri, ternyata sudah sampai dirumahnya. Gadis itu dihantui oleh seribu pertanyaan tentang Kei. Terlebih lagi dengan tingkahnya hari ini. Ia menghela nafas.

  Disisi lain, Kei masih melangkahkan kaki jenjangnya di sepanjang jalan. Tatapannya lurus kedepan, namun entah kemana pikirannya. Di dalam hatinya, ia selalu bertanya-tanya. Kemana pada akhirnya ia akan berakhir? 

  Perkataan gadis itu selalu menimbulkan pertanyaan bagi dirinya. Mengapa ia tidak bisa menemukan sesuatu untuk dinikmati? Selayaknya gadis itu, mengapa ia tidak bisa? Apa yang membuatnya berbeda?

  Lagipula mengapa gadis itu selalu meyibukkan dirinya hanya sekedar untuk memastikan bila dirinya telah sebuah kebebasan? Kebebasan bahwa ia juga bisa mengatakan bahwa ia menyukai suatu hal. Atau mungkin kebebasan dalam merasakan sesuatu tanpa merasakan pilu. Ahh, lantas mengapa jadinya ia ikut memikirkan hal ini?

  Kei menggusar rambutnya. Ia menghela nafas kasar, lalu kembali memasang headphone yang sejak tadi menggantung di lehernya. 

  "Kau menyulitkan segalanya, [Name]."



To be continued..

revised [17.07.23]

𝗗𝗮𝗶𝗷𝗼𝘂𝗯𝘂 | 𝗧𝘀𝘂𝗸𝗶𝘀𝗵𝗶𝗺𝗮 𝗞𝗲𝗶 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang