Selamat Membaca
Dua minggu berlalu dengan sangat cepat, para siswa kembali memasuki bulan-bulan awal semester satu. Satu persatu siswa SMA Arunika memasuki gerbang sekolah mereka dengan senyum ceria. Banyak wajah-wajah baru yang bergabung ke dalam keluarga besar SMA tercinta mereka.
Rexa tak kalah semangatnya. Setelah memarkirkan motor kesayangannya di tempat biasa, ia menyapa adik-adik kelasnya yang baru ataupun yang lama. Ya, kini dia telah menjadi kakak kelas. Kelasnya yang sebelumnya berada di lantai dua menjadi berada di lantai satu. Memang ruang kelas 12 sengaja diletakkan di lantai dasar untuk memudahkan mereka dalam berbagai hal. Tidak harus naik atau turun tangga setiap saat. Karena kelas 12 memiliki jadwal yang lebih padat daripada kelas-kelas lainnya. Apalagi mereka juga masih harus mengikuti pelajaran tambahan untuk bekal menempuh ujian kelulusan.
"Kakak itu namanya siapa ya? Ramah banget kayaknya," bisik seorang siswa pada temannya begitu melihat Rexa menyapa adik-adik tingkatnya. Sebenarnya Rexa mendengar bisikan itu, namun ia pura-pura tak dengar saja.
"Kata tetanggaku yang anak kelas 11, dia itu Kak Rexa, anggota osis," balas siswa yang lainnya, masih dengan berbisik. Rexa pun segera meninggalkan tempat parkir yang masih banyak dikerubungi anak-anak baru itu. Langkah kakinya membawanya ke kelas 12 MIPA 1.
"Bonjour," kata Rexa menggunakan Bahasa Perancis dengan fasih sambil melambaikan tangannya di depan kelasnya. Ia amat menyukai Perancis karena style fashion mereka yang membuat Rexa menyukai apapun tentang negara itu. Ia bahkan sedikit demi sedikit mulai belajar bahasa mereka. Ya, walaupun hanya kata-kata umum yang sudah berhasil ia praktekkan.
"Ngomong apaan sih lo?" kata Johan yang tiba-tiba berhenti sejenak dari aktivitasnya menonton youtube.
"Bonjour," balas Mia dari tempat duduknya.
Rexa pun segera meletakkan ranselnya di bangku barunya. Ia menatap bangku sebelahnya yang masih kosong. Merasa heran jika dirinya bisa berangkat lebih awal dari Rayna. Segera ia ambil jas osis SMA Arunika yang berwarna hitam biru dari dalam ranselnya. Segera ia sampirkan jas itu di bahunya.
"Re!" Mia menghentikan kegiatan Rexa, "Eh kabarnya ada anak pindahan kelas 12, bener gak tuh?"
"Katanya ada 2 orang ya?" Johan ikut nimbrung.
"Yang satu pindahan dari SMA sebelah. Katanya sih dia itu primadonanya sana," sambung Rayna yang baru memasuki kelas. "Gue jejer lo lagi kan Re," katanya pada Rexa.
"Iyelah," balas Rexa. "Primadona? Heh, ntar kalo ujung-ujungnya ratu drama kaya Luna gimana?" sambung Rexa sambil mengepalkan tangannya.
Johan tertawa, "Entahlah, lo segitu keselnya sama Luna ya,"
"Ya kesel banget lah, orang dia sukanya nyari gara-gara sama gue,"
Mia yang tadi asik membuka ponselnya pun bersuara, "Katanya anak pindahan yang satunya lagi itu agak aneh sifatnya,"
Ketiganya kompak menatap Mia, "Aneh? Aneh gimana,"
"Katanya sih dia itu orangnya sopan banget dan kemana-mana selalu pake gaun-gaun yang mewah,"
"lha anehnya dimana, anak sultan boleh aja kan suka begituan?"
"Gaunnya tuh yang ribet-ribet. Nggak tau deh, gue baru mau liat instagramnya nih, barusan di share sama temen gue,"
"Bentar-bentar, tapi kok captionnya selalu bilang putri sih, namanya putri kah?" kata Rexa, ikut melihat sesuatu di ponsel Mia.
"Noh, ada postingan lagi naik kereta kencana, waduh waduh berasa jadi putri dongeng tuh," kata Rayna.
KAMU SEDANG MEMBACA
AdeRa [End]
Teen Fiction"Siapa cewek yang paling lo sayangi? awas aja kalo lo jawab 'bunda' lagi," "Rexa," Sial. Gara-gara keinget perkataan Altaf kok aku jadi aneh gini? Sebenernya wajar sih aku kan sahabatnya dari kecil sering kemana-mana bareng jadi ya normal-normal a...
![AdeRa [End]](https://img.wattpad.com/cover/245925051-64-k999728.jpg)