Dreamies 12

11 4 0
                                    

Hari ini aku sudah membuat janji dengan jio di taman awal aku bertemu dengan Dirga dan yang lainnya. Ah taman ini masih sama bentuknya dan tidak ada yang berubah sama sekali. Aku jadi merindukan masa SMA ku dulu.

Aku duduk di salah satu bangku taman, tepatnya ditempat awal aku bertemu dengan Davian. Uhh sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya.

'Davian, kau tidak membohongiku bukan? Aku benar - benar sangat merindukanmu' batinku.

Aku menarik nafasku kemudian menghembuskannya, kemudian menepuk - nepuk kedua pipiku pelan.

"Sadar Amey sadar dia akan kembali padamu" gumamku meyakinkan diri.

Aku terus menerus melakukan hal itu hingga menimbulkan sedikit warna merah di pipi.

"Ameyra" panggil seseorang dari belakang.

Aku memutar badanku dan menyunggingkan senyum.

"Hai Jio, sini duduk di sebelahku" ucapku dan sedikit bergeser untuk memberi ruang untuk ia duduk.

"Maaf yaa aku terlambat, ada beberapa hal yang aku urus dulu tadi" ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.

Aku menganggukkan kepalaku, "uhum tidak apa - apa jio"

Kami terdiam satu sama lain, tidak ada yang memulai obrolan dan sibuk dengan urusannya masing - masing.

"Jio"

"Amey"

Panggil kami bersamaan, kemudian kami saling berhadapan dan terkekeh.

"Kamu duluan" ucapku.

Ia kembali menggaruk tengkuknya, "ah aku ragu mengatakan ini. Pasti kau tidak akan menyukainya" ucapnya.

"Kamu ingin mengatakan apa? Katakanlah"

"Berbalik badanlah aku malu jika berhadapan denganmu" ucapnya lagi.

"Kenapa harus malu? Memangnya hal apa yang ingin kau katakan?" tanyaku.

"Berbalik badanlah dulu, Amey" perintahnya.

Aku mengedikkan bahuku dan menuruti perintahnya untuk membelakangi dirinya.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.

"Tunggu sebentar yaa, kau jangan memutar badan" perintahnya lagi.

Aku memilih diam dan memilih menurutinya. Aku hanya mendengar helaan nafas darinya, sebelum akhirnya memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya diatas bahuku. Dan bisa aku rasakan helaan nafasnya yang mengenai kulitku.

'Sial. Aku jadi merinding seperti ini' batinku.

"Ameyra" panggilnya.

"Ada apa? Kenapa kau memelukku seperti ini?" tanyaku.

"Aku sangat mencintaimu, entah sejak kapan hal itu terjadi yang jelas aku sangat mencintaimu" ucapnya.

Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya. Aku ingin sekali melepas pelukan ini, tapi ia malah menahan lenganku.

"Jangan dulu, Amey. Aku belum selesai berbicara" ucapnya.

"Aku benar - benar sangat mencintaimu. Aku serius, aku ingin menjadikanmu pacarku. Apa kau mau menjadi pacarku?" Lanjutnya.

Lagi - lagi ia membuatku terkejut dengan ucapannya. Ia melepas pelukannya dan memutar badanku cepat untuk berhadapan dengannya.

"Kau tau? Kau sangat cantik Amey, terlebih saat kau tersenyum" ucapnya.

Dreamies Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang