12. Ruang Broadcast

528 90 33
                                        

Sekali lagi Lia katakan, jadi adiknya Jisa itu enggak enak! Selain agak apatis dan hobi mengancam, kakaknya itu kerjaannya cuma kasih harapan aja. Seperti sekarang ini nih, tadi pagi waktu Jisa mengantar Lia ke sekolah dia bilang dia yang akan menjemput Lia nanti, tumben, tapi Lia iyakan saja. Nyatanya kala jam pulang tiba, bukannya datang menjemput, Jisa malah menelepon Lia untuk bilang kalau dia batal menjemput.

Rese, tau begitu kan Lia tak akan  menghabiskan uang jajannya untuj jajan cilok kang eman dan es krim mochi tadi. Sekarang bagaimana? Naik ojek online tak ada uang, naik bis ya sama saja. Lia terpaksa menumpang pada Juna, lagi.

Tapi sialnya hari ini cowok itu ada pendalaman materi untuk persiapan ujian yang akan makan waktu sekitar sembilan puluh menitan. Mau tak mau Lia harus menunggu, maka di sinilah cewek itu sekarang. Di ruang broadcast, duduk di sofa yang memang ada di sana sambil mendengarkan lagu diselangi iklan karena spotify nya yang belum premium.

Cklek

Lia dibikin tersentak kaget kala dengan amat sangat tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Tampak agak kaget untuk sesaat sebelum akhirnya melempar senyum manis seperti biasa sembari lanjut melangkah masuk dan menghempaskan tubuhnya pada bagian sofa yang kosong.

"Aku kira gak bakal ada siapa-siapa di sini." ujar Sea membuka pembicaraan lebih dulu. "Ganggu gak kak?"

"Siapa? Lo? Enggak sih. Cuma ngagetin aja."

Sea tersenyum menanggapi ucapan Lia. Terdiam lagi sesaat sebelum kembali melemparkan pertanyaan basa-basi. "Kok belum pulang?"

"Lagi nunggu kak Juna, biasalah, mau nebeng. Lo sendiri ngapain bukannya pulang malah ke sini?"

"Ada janji sama temen tapi dia mau kumpul ekskul dulu katanya."

"Ekskul apa?"

"Basket."

"Jeno ya?" Lia melempar tatapan menyelidik sebelum sejurus kemudian memasang ekspresi meledek begitu mendapati semburat merah di pipi Sea.
"Pantesan gua mencium bau-bau orang lagi kasmaran."

"HP kak Jeno pecah, aku mau ganti. Cuma itu kok..."

"Lebih juga gak apa-apa."

Sea tak menjawab lagi. Dia diam. Memorinya terlempar pada beberapa waktu yang lalu. Ketika dilihatnya Lia dan Jeno tampak begitu dekat dan akrab. Ketika Lia menyusul Jeno yang duduk bersamanya di taman. Ketika Jeno membantu Lia membawa setumpuk raport. Ketika Jeno memukul seorang guru karena Lia; Sea dengar yang terakhir itu dari gosip teman-temannya.

"Kak Lia..."

"Hmm?"

"Kakak gak marah?"

Alis Lia bertaut, menatap Sea tak paham. "Buat?"

Sea terdiam lagi. Sibuk merangkai frasa.

"Aku kayaknya suka sama kak Jeno."

Lia buat beberapa saat terdiam. Bukan karena terkejut atau apa. Dia sudah menebak sejak lama. Hanya saja dia tak tau saja harus merespon ucapan Sea bagaimana.
Tertawa kah, meledeknya seperti tadi kah, atau malah marah seperti yang Sea bilang. Lia tak tau. Lagi pula buat apa Sea laporan kepadanya soal apa yang dia rasakan?

"Ooh gitu..." ujar Lia akhirnya setelah beberapa saat diam. "Bagus deh, meski agak rese dia baik kok anaknya."

"Kak Lia gak marah?"

Duh, Lia jadi kesal sendiri. Marah untuk apa?! Punya hak apa dia mengatur ngatur perasaan orang lain 'kan?

"Emangnya kalian gak ada apa-apa?"
tanya Sea lagi.

SympathyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang