"Hafiz sama Renja mana?!"
Sonya bertanya sembari menggebrak meja membuat yang ditanya langsung tersedak kuah mie yang sedang dimakannya detik itu juga. Lia yang melihatnya dibikin meringis merasa tak enak lantas memukul lengan Sonya sambil melotot memperingati, yang dipelototi cuma mengangkat bahu malas,
"Dianya aja yang lebay." begitu elaknya.
Lia mendengus, mengalihkan pandangan pada korban kebarbaran Sonya hanya untuk dibuat meringis ngeri sekali lagi ketika mendapati Haje tengah fokus memukul tengkuk Jeno—orang yang tersedak— dengan hasrat ingin memampuskan yang kelewat kentara, soalnya bukan membuat Jeno baikan malah membuat Jeno makin terbatuk heboh.
Maka sebelum Haje sungguhan membuat Jeno tewas di tempat, cewek itu dengan galak memukul tangan Haje agar menjauh dari tengkuk Jeno. Menggantikan pukulan Haje dengan tepukan yang lebih manusiawi.
Tepukan Lia di tengkuk Jeno memelan seiring batuknya yang mulai mereda, cowok itu melemparkan tatapan penuh balas dendam pada Sonya di balas pelototan tak peduli bikin Jeno berhasrat untuk mencolok mata Sonya detik itu juga.
"Asik ada keributan!"
"Asik bapak lo botak?!" sewot Jeno begitu mendapati Hafiz dan Renja datang membawa minuman di tangan sambil cengar cengir menyebalkan.
Hafiz mengedarkan pandangan, mencari seseorang. "Una mana?"
"Gak ada, dia ogah ketemu lo."
Lia berdeham pelan, menghentikan Sonya dan Hafiz yang tengah bersitegang, bukan itu tujuannya datang ke sana.
"Kalian berdua dapet job."
"Job apa tuh?"
"Nyanyi, tiga lagu, gitarnya pinjem ke anak rokris aja, gitar kita bunyinya sember. Sekalian bawa kue juga, targetnya lagi ulang tahun."
"Kuenya udah beli?"
Lia mengangguk, menunjukkan paper bag di tangan mengundang anggukan kompak dari Renja dan Hafiz.
"Berduit juga klien kita."
"Bayarannya lumayan dong?"
Sonya mengangguk membenarkan.
"Dia bayar lebih malah."
"Kebetulan banget tanggal tua."
"Oh perkumpulan gak jelas itu, apa namanya? Para pengagum rahasia?" celetuk Jeno yang langsung mengundang tatapan sinis dari Lia dan Sonya mengingat mereka berdua adalah pengurus sekaligus pelopor pembuatan perkumpulan yang Jeno maksud.
Biar di jelaskan sedikit, sejak setahun yang lalu Lia, Sonya, Una, dan beberapa teman yang lain sepakat membuat sebuah team dimana team ini bertugas untuk menyampaikan pesan, lagu atau bahkan hadiah dari si pengagum kepada yang dikagumi tanpa perlu membeberkan identitas— singkatnya pengagum rahasia.
Cukup bayar sesuai tarif dan semuanya beres. Atau bahkan terkadang mereka jadi team sukses acara tembak menembak. Meski awalnya dianggap aneh, team mereka sekarang sudah cukup ramai job kok. Lumayan untuk menambah uang jajan. Hafiz dan Renja direkrut oleh Lia beberapa bulan yang lalu mengingat suara mereka yang lumayan.
"Emang siapa targetnya?" tanya Renja penasaran, menyeruput minuman di tangannya, lantas kembali memfokuskan atensi pada Lia.
"Ini nih," Lia menepuk bahu Jeno, tersenyum mengejek. "Gebetannya Jeno."
"Lo dong?"
Lia memutar bola mata malas mendengar celetukan Haje.
"Cari mati ya lo?!"
"Loh bukan ya?"
"Ya bukan— si Sea tuh. Tau kan?"
Mata Jeno menyipit, mendongak menatap Lia yang berdiri di sampingnya.
"Atas dasar apa lo bilang dia gebetan gua?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sympathy
Fanfiction"Lia ya Lia, Sea ya Sea, jangan lu embat dua duanya, tolol!"
