Suara petir bergemuruh di temani dengan derasnya hujan,angin berhembusan menabrak pepehonan membuat malam yang biasanya cerah dengan di temani bintang bintang yang cantik dan ramai kini mendadak sepi, seolah alam juga ikut bersedih menani keni, gevan, andran dan bangkit.
Kini mereka tengah duduk di kursi tepat di depan ruang UGD dimana vanila masih di periksa di dalam sana.
Sejak bangun dari pingsannya 1 jam yang kalu keni tak pernah menghentikan tangisannya sedangkan gevan pria itu hanya mampu menengkan keni yang berada di pangkuannya.
Entahlah, ini baru kali pertamanya ia merasakan rasa sesak di hatinya saat melihat vanila berlumur darah seperti tadi, entah mengapa juga ia merasa bersalah karena tidak dapat menolong vanila dengan tepat waktu, lihat saja nanti jika sesuatu terjadi pada vanilanya, gadis yang ia cintai itu ia tak akan pernah mau memaafkan dirinya.
"semoga aja vanila gak papa, walau kemungkinan 20%dia selamat"ucap bangkit dengan lirih, jangan ditanya,ia juga merasa kehilangan dan merasa bersalah karena tak dapat menolong vanila.
"semoga dia bisa selamat gue kasihan sama gevan dan keni, kelihatan banget kalau mereka merasa takut dan menurut gue gevan suka sama vanila"ucap andran yang terlihat tak sedatar biasanya.
Cklek!
Pintu UGD terbuka menampakkan para perawat yang keluar dari ruangan dan tak lama muncullah seorang gadis yang umurnya menginjak kepala 3,dokter nita.
Nita berjalan dengan wajah lesunya menghampiri keempatnya.
"gimana sama kakak keni dok hikss? "tanya keni terisak.
Nita menghembuskan nafasnya gusar, terlihat wanita itu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sesih, jujur ia sangat kecewa karena dirinya tak bisa menyelamatkan nyawa vanila.
"maaf, kami sudah berusaha dengan semaksimal mungkin dan semampu kami tapi kehendak berkata lain, pasien atas nama vanila kenya abimansyah meninggal dunia tepat pada pukul 23 lewat 29 menit 48 detik"jelas nita.
Keni menggelengkan kepalanya tak percaya, aitmatanya terus menetes, bayang bayang sang kakak terua berputar bak kaset rusak.
"kakak sayang keni"
"keni makan yang banyak ya biar cepat gedekk"
"keni di rumah hati hati ya"
"sini mana lukanya kakak obatin"
"keni yang kuat ya dek"
"sayang keni"
Keni menatap kosong pintu UGD dengan air mata yang terus memerus menetes, ia tak sanggup bila harus kehilangan satu satunya orang yang ia miliki saat ini ia tak mampu.
"KAK VANILAAAA"teriak keni memasuki ruangan tak menghiraukan bangkit yang terus memanggil namanya.
Gevan dan andran serta bangkit masih diam walaupun mereka belum lama memgenal sosok vanila tapi entah mengapa rasanya sakit bila vanila meninggalkan mereka apalagi gevan, terlihat pria itu tengah menangis dengan tangan terkepal kuat.
"saya permisi"pamit dokter nita.
Gevan dkk memasuki ruang UGD dengan perasaan sesak mereka.
Gevan berjalan menatap wajah pucat vanila dan banyak luka di sekujur tubuhnya bahkan darahpun masih keluar dari kepala belakang vanila.
"kakak, keni mohon bangun.. Hikss jangan thinggalin khenii,keni takhuutt.. Hikss"
"keni gak punya siapa siapa kak.. Hikss"
"KAKAK VANILAAA BANGUNN"
"hikss.. Kakak janji hikss.. Akan shelalu.. Hikss ada untuk keni.. Hikss tapi mana bukhtinyaa kakak tega ninggalin kheni.. Hikaa sendiriann"
"kalau kakak gak hikss bangun, keni marah.. Hikss"
melihat tak ada respon dari vanila membuat keni kehilangan akal, gadis cilik itu meraih gelas yang ada di nakas lalu membantingnya hingga pecah, mengambil serpihan kaca itu.
"hikss.. Kakak lihat, keni mau ikhut khkak kalau.. Hikss kakak gak bangun,keni mau MATI"ucapan itu spontan membuat andran dan bangkit menghampiri keni dan menenagkan dan saat itu semuanya gelap, keni tak sadarkan diri untuk yang keduakalinya.
"bawa keni ke ruang rawat, dia butuh perawatan, tinggalin gue disini"printah gevan yang langsung di laksanakan andran dan bangkit.
Gevan mengusap sayang rambut vanila, menggemgam tangan mungil itu yang tetasa sangat dingin, wajahnya yang terlihat datar serta matanya yang berkaca kaca menatap vanila penuh permohonan.
"kenapa?? Lo gak kasian sama adek lo? Lo tau dia memderita, dia kesakitan nila, dan lo dia bahkan hampir mengakhiri hidupnya"
"bangun ya, jangan tinggalin kami semua apalagi keni, lo mau keni memderita karena bokap tiri lo? Lo mau keni sedih? Ayo bangun kembali lah vanila"ucap gevan dengan suara bergetar.
"lo tau, gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali lo samperin gue.. Haha lucu ya, gue yang dikenal sebagai cowok cool jatuh cinta pandangan pertama sama cewe kek lo haha"
"lo bangun ya, demi keni dan--gue.. Gue gak ngerti kalau lo pergi apa yang akan terjadi,plis bangun jangan pergi.. Hikss"hancur sudah pertahannannya, kini airmana yang ia tahan sejak tadi tumpah juga.
Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa? Kenapa disaat ia mencintai seseorang untuk pertama kalinya tapi mengapa ia justru di tinggalkan untuk selamanya sebelum mengungkapkan isi hatinya, mengapa? Itu rasanya sangat sesak.
Mengapa harus dirinya yang memiliki perasaan memyebalkan ini?
Kenapa??
"yaudah kalau lo emang udah capek jalanin kehidupan di dunia yang kejam ini, lo boleh pergi, lo boleh istirahat,gue janji akan gantiin lo buat jagain keni, I LOVE you...Gue harap lo sudi membalasnya,tapi itu gak mungkin"
Tiiiiiit.. Tit.. Tit.
-TAMAT-
Tapi boong hayukkk 😂😁
Vote dan coment nya donggg kak 😀
.
.
.
.
Se you sampai jumpa di part selanjutnya bayy ❤

KAMU SEDANG MEMBACA
VANILA || on going
Teen Fiction(PELAGIAT DI LARANG MENDEKAT💣) Di publis pertama kali pd, 19,9,2020 *NO COPPAS *DON'T COPPY MY STORY