Jisung hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk menghabiskan waktu bersama Minho, sebelum ia benar-benar bertekad melupakannya.
⚠️Disclaimer: MOHON BACA WARNING DI PART AWAL⚠️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Siang itu, Jisung dan Felix sedang bersantai di kantin menikmati jajanan mereka. Kuliah selesai lebih cepat karena dosen yang terakhir memberi mata kuliah tidak datang.
Felix menyeruput minuman sodanya sambil menatap Jisung yang tengah asik dengan ponselnya. "Eh, gimana perkembangan lo?"
Jisung mendongak. "Perkembangan apa?"
"Perkembangan janin."
Kepala Felix sukses mendapatkan pukulan. Bukan oleh Jisung, melainkan seorang Changbin yang diam-diam sudah berada di belakang Felix beberapa saat yang lalu.
"Sakit, Kak!" pekik Felix sambil mengelus puncak kepalanya.
"Utuk utuk, mana yang sakit Felix sayang?"
Jisung otomatis menutup kedua matanya dengan tangan. "Maaf saudara-saudara, tapi saya alergi sama yang uwu-uwu."
Kedua pasangan kekasih di hadapan Jisung hanya bisa terkekeh melihat tingkah Jisung. Mereka bertiga menghabiskan setengah jam mengobrol sampai akhirnya Jisung pamit karena sudah ada janji dengan Minho untuk menemani doi melihat setelan untuk wisuda nanti.
"Ji?" panggil Felix ketika Jisung baru saja melangkah.
"Apa?"
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan cari gue sama Kak Changbin," katanya.
"Tenang! Selama gue sama Kak Minho pasti terjamin kok!" Jisung mengacungkan ibu jarinya pada Felix. Kemudian ia melambaikan tangannya pada dua sejoli itu.
Dengan sabar Jisung menunggu Minho menjemputnya di depan gedung fakultas. Beberapa teman berlalu lalang menyapa Jisung, tetapi atensinya kali ini hanya tertuju pada Minho, Minho dan Minho.
"Duh, Kak Minho di mana sih?" gerutunya.
Baru saja hendak menghubungi Minho, mobil familiar datang dari arah kanan. Ketika berhenti di depan gedung, kaca mobil bergerak turun.