Jisung hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk menghabiskan waktu bersama Minho, sebelum ia benar-benar bertekad melupakannya.
⚠️Disclaimer: MOHON BACA WARNING DI PART AWAL⚠️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau kata author, mampus sudah Minho sekarang. Jisung sudah bersikeras bahwa ia akan pergi berkencan dengan Chris besok setelah jam kuliah selesai. Kalau sudah begini, mau dikatakan apa lagi? Alasan Minho tidak cukup kuat untuk menahan Jisung.
"Aaaaa..." Minho membuka mulutnya.
Dengan telaten, Jisung menyuapi Minho yang asik tidur telungkup sambil menonton video YouTube di ponselnya. Setelah satu kotak martabak itu habis, Jisung segera mencuci tangannya kemudian menghampiri Minho yang masih tetap di posisinya.
"Sikat gigi dulu sana, aku udah siapin sikat yang baru," kata Jisung.
Minho menurut saja. Ia segera menyikat giginya dengan segera. Kembali ke kamar, Minho menemukan Jisung yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang.
"Besok dijemput Chris jam berapa?" tanyanya.
"Aku suruh jam dua sih, Kak."
"Mau ke mana aja?"
"Belum tau, katanya rahasia."
"Jangan pulang malam-malam, bahaya." Minho menepuk kepala Jisung.
"Iya, kalau gak pulang malam ya pulang pagi aja," canda Jisung sambil cekikikan.
"Heh! Sembarangan!" Minho menaiki ranjang, kemudian menarik Jisung agar berbaring di sampingnya. "Besok kabarin gue kalau udah selesai sama Chris."
Jisung berbaring dalam posisi terlentang, lengannya dijadikan sebagai bantalan kepala Minho. Lengan kekar Minho pun secara posesif melingkar di perut Jisung.
"Kak?"
"Hmm?" gumam Minho. Perutnya yang kenyang membuat dirinya merasa mengantuk. Untuk menjawab Jisung saja rasanya tidak mampu.
"Udah jam sebelas, gak pulang?"
"Ntaran."
Minho memejamkan matanya. Suara degup jantung Jisung terdengar seperti alunan melodi merdu di telinganya. Entah mengapa ia sangat menyukai suara itu.
Pertanda bahwa Jisung hidup dan nyata berada di sampingnya.
Sebenarnya ia sedang mempertanyakan dirinya sendiri. Apa benar ia tidak cemburu? Apa ia sudah menjadi seorang yang egois karena bersikap seperti ini pada Jisung? Tetapi, percikan rasa terhadap Jisung dalam dirinya pun tidak ia rasakan.
Lalu, mengapa hatinya tak sepenuhnya ikhlas?
"Jiji?"
"Hmm?"
"Kok mobil lo gak ada tadi? Abang lagi keluar?" tanya Minho.
Jisung mengangguk kecil. "Iya, katanya nginep dua hari di rumah temen."
"Kalau gitu gue boleh nginep ya?"
"Iya, boleh."
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus. Minho sudah tertidur. Padahal Jisung ingin berbicara lebih banyak.