Still Call You Mine

13 4 1
                                        

Story by Bunga



"Aku tahu memang semua ini adalah rencanaku, anganku. Aku yang memulai semuanya, hingga akhirnya membuat ruang luka ini semakin parah. Harusnya sedari awal aku sadar bahwa kita hanya akan menjadi anganku saja." -Senja Revanata Dirgantara-
***
Mencintaimu memang menjadi hak setiap orang, siapa pun mampu memiliki, menyayangi, mengagumi bahkan mungkin berusaha untuk bertakhta di hatimu. Namun, apakah diriku yang tidak apa-apanya ini bisa memiliki hatimu dengan penuh tanpa harus berbagi? Kurasa aku hanya bisa melakukannya dalam sebuah tulisan saja. Tulisan yang menjadi karya sederhana yang dinikmati oleh banyak orang.
Gemine Putra Dhiafakhri, seorang laki-laki yang menjadi pusat perhatian Senja Revanata Dirgantara. Laki-laki yang berhasil membuat Senja menjadi seorang gadis yang tidak peduli, jika harus dilabeli dengan kalimat 'perempuan tidak tahu diri' atau 'perempuan yang tidak mempunyai harga diri.' Mencintai Gemine dengan diam atau langsung pun sama saja, laki-laki itu tidak pernah melihatnya.
"Bang Gemine?"
"Hm?"
"Jangan jutek-jutek, nanti kalau Abang jatuh cinta sama aku gimana?"
"Nggak akan mungkin."
"Kita liat aja nanti ya?"
"Lo emang nggak malu apa ngejar laki-laki?"
"Kalau laki-lakinya kayak Abang, bisa dikasih toleransi ah."
Gemine hanya terdiam, lalu pergi. Sena tersenyum, selalu seperti itulah Gemine. Pergi dengan penuh rasa kesal kepadanya. Namun, hal itu sama sekali tidak membuatnya berhenti untuk membuat Gemine jatuh cinta kepadanya. Karena Senja yakin bahwa suatu hari nanti, Gemine akan mencintainya setulus ia mencintai Gemine.
"Senja?" sapa Rembulan. Rembulan berlari kecil menghampiri sahabatnya itu, kemudian ia melihat arah pandang Senja. Di sana ada seorang laki-laki yang sangat ia kenali dari bentuk tubuh serta punggungnya. "Bang Gemine cuekin kamu lagi ya?" tanyanya. Kemudian tangannya terulur menyentuh jemari Senja. "Maaf ya."
Senja menoleh. "Eh? Lo ngapain minta maaf? Emang lo salah apa?" Gadis itu langsung merangkul Rembulan. "Gue gapapa kok, lagian Bang Gemine itu wajar aja kayak gitu. Tenang aja, gue nggak bakal nyerah. Asal lo nggak risih aja, punya calon ipar kayak gue." Setelah itu Senja tertawa kencang.
"Apa banget deh kamu."
"Yaudah, yuk ke kelas."
Kemudian mereka berjalan menuju kelas. Rembulan Aurelya, gadis ini adalah sahabat Senja sekaligus adik dari Gemine Putra Dhiafakhri. Rembulan memang selalu mengingatkannya perihal sikap kakaknya yang tidak pernah sekalipun melihat Senja, Rembulan selalu berkata bahwa kakak laki-lakinya ini memang tidak mudah untuk ditaklukkan. Karena masalah lalu yang begitu menyakitkan bagi Gemine.
Laki-laki itu tidak lagi mudah mempercayai tentang cinta dan perempuan. Bukan karena ia tidak menyayangi Rembulan dan Bundanya, tetapi ada masa lalu Gemine yang begitu menyakitinya bahkan mungkin menutup ruang hatinya. Perempuan yang berhasil merebut hatinya, tetapi justru malah luka yang diberikan. Sejak saat itulah Gemine selalu tidak peduli dengan siapa pun yang mencari perhatiannya. Termasuk Senja.
***
"Gemine?"
"Hm?"
"Lo kenapa sih nggak pernah kasih kesempatan sama Senja?"
"Lo tau alasannya."
"Tapi, kan Senja beda sama Adara."
Gemine langsung menoleh ke Maykid. "Jangan pernah lo sebut nama itu lagi depan gue. Sebelum akhirnya gue mukul lo." Laki-laki itu langsung berlalu.
"Lo sih, tau kan Gemine sensitif banget sama nama Adara. Lo mah cari masalah aja," ucap Dehood. "Gemine tuh lagi PMS, jangan disenggol."
Stardust yang mendengar perkataan Dehood langsung melempari laki-laki itu dengan kuli kacang. "Ngawur aja kalau ngomong." Setelah itu dia melanjutkan menguupas kacang yang lainnya lagi. "Bisa-bisanya, King punya wakil yang sensian kayak Gemine, Rembulan juga, dia kuat ya punya Abang kayak Gemine."
King hanya terkekeh. "Begitu-begitu, Gemine tuh lumayan kalau disuruh jadi mata-mata. Dangerous butuh orang kayak Gemine, lagian gue sama dia udah kenalan selama SMP. Jadi, gue lebih kenal dia." Bayangan perkelahian antara dirinya dengan Gemine pun berputar. Gemine sebenarnya peduli dengan adik perempuannya, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya?
"Gue mau nyamperin jodoh dulu."
"Bucin teros sampe mampus."
"Semenjak si Bos pacaran sama Rembulan jadi hobi belajar ye?"
King tertawa kencang, tetapi ia sama sekali tidak berminat untuk berbalik arah. Kejadian kemarin, benar-benar membuat ia menjadi seseorang yang tidak bisa kehilangan sosok Rembulan. Rembulan Aurelya, gadis polos yang berhasil ia miliki karena taruhannya dengan Gemine. Bohong, kalau King senang bisa memenangkan taruhan tersebut.
Karena King tahu bahwa jika ia mendekati Rembulan, gadis itu pasti menghindar darinya. Apalagi label King adalah seorang ketua geng motor yang suka bolos, membuat masalah, sering dipanggil guru BK. Sementara Rembulan adalah seorang gadis cantik, juara umum, sering mewakili perlombaan olimpiade Matematika maupun bahasa Inggris untuk mewakili sekolahnya. Rembulan pasti akan menjauhinya.
"Assalamualaikum, jodoh."
Rembulan menoleh. Kemudian ia melanjutkan kembali aktivitasnya mencatat tulisan di papan. "Ngapain Bang?" tanyanya saat King mengambil alih pulpennya dan menarik bukunya, kemudian laki-laki itu menuliskan catatan Rembulan. "Lho? Kok jadi Abang?"
"Gue nggak mau pacar gue kecapean."
"Tapi kan ini kerjaan aku."
"Iya, kenapa sayang?"
"Gapapa sih, oh iya? Abang ngaoain ke sini?"
"Gue niatnya mau ngajak makan ke kantin, eh jodoh gue masih nulis."
"Aku bawa bekel. Mau?"
"Boleh, suapin ya?"
Rembulan tersenyum saat melihat King memasang wajah dengan senyuman mautnya yang begitu menggoda. Sementara teman-teman Rembulan yang berada di dalam kelas langsung berteriak.
Tolong, cekek gue sekarang.
Tuhan, kenapa jodohku selalu jadi jodoh orang sih?
Tolong, kalau mau pacaran jangan di sini.
Cekek gue woy, uwu phobia gue.
Jiwa jomlo gue berteriak.
Karena King merasa panas pada bagian telinganya, laki-laki itu langsung bersuara. "Lo semua boleh jajan sepuasnya di kantin, asal stop ngomongin gue sama Rembulan. Risih cewek gue. Masalah jajanan, bilang aja nanti dibayar sama King Black, 12 IPA 1." Kemudian laki-laki itu kembali menuliskan catatan Rembulan.
"Bang King!" pekik Rembulan seraya memukul bahu laki-laki itu. Bisa-bisanya ia melakukan hal seperti itu. "Abang ngapain? Ish, jangan suka kayak gitu. Buang-buang uang." Setelah mengomeli King, Rembulan kembali menyuapinya dengan sesendok nasi. Hari ini bekalnya adalah Ayam kecap dengan kentang balado lalu ada beberapa cup cake kesukaannya yang dibuatkan oleh Raya.
Bundanya memang benar-benar hebat. Seorang penulis, editor sekaligus pemilik penerbitan juga. Rembulan benar-benar kagum dengan sosok Bundanya, perempuan tersebut mampu mengerjakannya dengan baik. Beruntung sekali seorang Iqbaal Ramadhan memiliki istri seperti Bundanya.
"Ini masakan lo?"
"Enggak, Bunda yang bikin."
"Dibantu ayah lo?"
"Enggak, sendiri. Emang kenapa?"
"Lo tau, lo juga bikinan Bunda lo, tapi dibantu Ayah lo."
"Hahaha, dasar mesum."
"Loh? Kok mesum?"
"Iyalah."
"Udah ah, udah mau bel juga. Nih, buku kamu. Udah selesai."
Rembulan tersenyum, kemudian ia mengambil sehelai tisu dan mengelap sudut bibir King. "Makan aja berantakan ya, Bang? Hahaha." Setelah membersihkan wajah King, gadis itu menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu, ia langsung mengalihkan pandangannya. "Udah, Bang," ucapnya. Rembulan mendadak salah tingkah saat King mulai menyadari bahwa mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Ciye, malu ya?"
"Bang?"
"Hahahaha, yaudah. Gue ke kelas ya, pulang sekolah, pulang sama gue."
"Iya."
Setelah itu King berlalu. Rembulan terduduk, ia berusaha untuk mengatur detak jantungnya. King benar-benar membuatnya tidak sehat, bisa-bisanya laki-laki itu menatapnya sedekat itu dan biasa saja. Sementara dirinya, tidak! Rembulan tidak boleh jatuh cinta dengan laki-laki nakal itu.
***
"Bang Gemine?"
"Hm?"
"Nengok ke aku bisa kali, bola basketnya lebih menarik dari pada aku?"
"Kenapa?"
"Ajarin aku main basket mau?"
"Beneran mau main basket atau mau modusin gue?"
"Main basket lah."
"Ok."
Kemudian Gemine menarik tangan Senja untuk mendekat ke ring basket. "Coba lu belajar dribell bola dulu, nanti baru gue ajarin shooting," ucap Gemine. Laki-laki itu melemparkan bola ke arah Senja, lalu ia membiarkan gadis itu men-dribell bola tersebut.
"Gini kan?" tanya Senja.
Gemine mengangguk. "Lo jago dribell, yaudah coba langsung belajar shooting ke ring." Gemine menerima operan bola basket dari Senja kemudian ia memberikan contoh memasukkan bola tersebut ke ring. "Lo liatin gue shooting ya?" pintanya.
Senja mengangguk.
"Bisa?"
"Bisa. Tapi, ajarin."
"Iya."
Kini Senja dan Gemine bertukar posisi untuk memasukkan bola basket tersebut ke ring. Meskipun tidak mudah, tetapi Senja sama sekali tidak menyerah. Bahkan ia berdoa semoga sore ini tidak cepat berlalu, karena ia tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Gemine. Karena ini adalah sore yang membahagiakan untuk Senja bisa sedekat ini dengan Gemine.
***
"Ciye yang tadi sore main basket bareng Senja," ucap Dewa.
"Berisik lo pacar Gemini."
Dewa langsung tertawa kencang, kakak kelasnya ini terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Apakah ia tidak sadar bahwa perempuan itu butuh kepastian? Nanti, kalau Senja sudah pergi dan tidak akan kembali saja. Barut ahu rasa. "Bang? Lo nggak ada niatan buat terima Senja? Nanti keburu diambil orang," ucapnya seraya melirik Pio.
"Apa?" tanya Pio.
Balmoond tersenyum. "Bang Gemine sama Pio. Gue tantang mau?" Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya. "Gue tantang lo berdua, deketin Senja. Kalau salah satu dari lo bisa dapetin Senja, liburan Bali. Gimana?"
"Mobil lo buat gue juga ya?" tantang Gemine. "Sebenernya Ayah mah bisa aja beliin, tapi sekalian aja gimana?" Laki-laki itu tersenyum miring, Balmoond tidak akan dengan mudah memberikan mobilnya. Secara mobil tersebut adalah mobil kesayangannya.
"Deal."
Pio dan Gemine langsung membulatkan matanya. "HEH, NGGAK! GUE NGGAK MAU JADIIN SENJA TARUHAN," ucap Pio. "Bang Gemine, lo punya adik cewek. Kalau dia digituin sama Bang King gimana?"
Gemine terdiam. Benar juga kata Pio, jika Rembulan berada di posisi Senja. Dirinya pasti akan marah dan tidak terima, lagi pula jika King tahu semua akan berantakan. Bodohnya kenapa harus Senja yang menyukainya? Kenapa bukan Pelangi?
"Gue balik duluan."
***
Setibanya Gemine di rumah, ia langsung menuju taman belakang untuk menemui Iqbaal. Gemine benar-benar membutuhkan bantuan serta nasihat dari ayahnya. Laki-laki itu tidak bisa memecahkan isi hatinya dengan baik, bukan karena ia tidak peduli dengan Senja. Namun, karena trauma masa lalunyalah yang membuat ia sulit memberikan ruang untuk siapa pun.
"Ayah?"
"Eh, kamu, Bang. Udah pulang?"
"Udah. Ayah sibuk nggak?"
"Enggak, Bang. Kenapa?"
"Abang mau cerita."
Iqbaal menoleh sejenak, kemudian ia menutup laptopnya. Pria tersebut tersenyum. "Anak Ayah mau cerita apa?" tanyanya. "Pasti tentang cewek ya? Kenapa?" Iqbaal tersenyum melihat ekspresi Gemine yang sedikit gelisah, sebenarnya pria itu sudah tahu perihal sikap Gemine menghadapi teman Rembulan.
"Yah?"
"Iya?"
"Abang jahat banget ya jadi cowok, kalau gunain cewek sebagai bahan taruhan."
"Iya, Ayah bakal hukum kamu kalau sampai kamu lakuin hal itu. Bang? Adik kamu perempuan, apa kamu bakal diem aja kalau tau Rembulan jadi bahan taruhan? Lagian kamu mau nyakitin perempuan? Nggak takut kalau semua itu berbalik ke Rembulan?"
"Enggaklah, Abang bakal cari laki-laki itu."
"Nah, sama kayak perempuan yang mau kamu jadikan bahan taruhan. Bang? Senja itu cewek baik kok, Ayah setuju kamu sama dia. Lagi pula, apa salahnya kamu lupain Adara dan kasih kesempatan untuk Senja?"
"Kok Ayah tau?"
"Rembulan cerita."
Gemine terdiam. Memang benar, beberapa hari ini Senja begitu mengganggu pikirannya. Gadis itu benar-benar membuat Gemine hampir gila, ia selalu memikirkan Senja belakangan ini. Ia merasa bahwa gadis itu benar-benar mengusik ketenangannya. Besok Gemine akan berbicara kepada Senja tentang apa yang ia rasakan.
***
"Senja?"
"Hai, pagi Bang Gemine."
"Pagi, gue mau ngomong."
"Ngomong apa?"
"Mulai besok nggak usah deket-deket lagi sama Delvin, gue nggak suka milik gue deket-deket sama cowok lain. Pokoknya mulai besok, lo pulang sekolah sama berangkatnya barengan sama gue. Cuma gue yang boleh liat ketawa lo, yang lain nggak boleh. Karena gue nggak suka berbagi, apalagi terbagi. Mulai sekarang lo jadi cewek gue," ucap Gemine penuh ultimatum.
THE END!
THIS IS CHARACTER
Gemine

Me and My IdolCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang