Story by Taufik
Khabib Nurmagomedov
Nurmagomedov adalah Juara Dunia Combat Sambo dan dua kali Juara UFC kelas ringan. Dia saat ini memegang rekor tak terkalahkan terpanjang di MMA, dengan 29 kemenangan, dan tetap tak terkalahkan dalam MMA profesional.
"Bapak sangat mengidolakan dia, pantas saja, hobi mereka pun sama dan melihat prestasinya yang sungguh luar biasa, membuatku ikut mengaguminya pula."
Rasa penasaran semakin menggerogoti, dan akhirnya timbullah keinginan untuk mengetahui si Khabib ini lebih jauh lagi, dengan cara ... yah, melihat sosial medianya di instagram. Namun, diriku tidak tahu, apa username-nya, dengan asal, kuketik saja nama lengkapnya, dan yah ... berhasil kutemukan.
khabib_nurmagomedov
Dengan jumlah pengikut 26 juta serta instagram yang telah centang biru, yang bisa kukatakan hanyalah, "Wow."
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku terkejut, dan ternyata bapaklah pelakunya.
"Lagi ngapain kamu?"
"Lagi liat sesuatu," jawabku. Sang bapak terlihat penasaran, dengan cepatnya ia menyambar ponselku dan pada akhirnya, diriku pun ketahuan.
"Ini apa, Nak? Kok ada foto Khabib di sini? Banyak pula," tanya bapak.
"Itu sosial medianya, Pak. Ini namanya instagram, tempat orang ngirim foto-foto," jawabku dan bapak mengangguk-angguk.
"Nak, coba kamu cetak fotonya yang ini, apakah bisa?"
"Enggak bisa, Pak. Harus izin dulu sama si Khabib, nanti kena undang-undang kalau ketahuan sama dia," candaku dan bapak ternyata serius menanggapinya.
"Aduh ... gimana yah cara izin ke dia? Bisa dihubungi, enggak?"
"Bisa, tetapi ... belum tentu dibalas, Pak."
"Hubungi saja, siapa tau beruntung, Nak," ucap bapak dan aku hanya mencoba-coba, walau aku tau, balasan dari Khabib sangatlah mustahil.
Aku mulai mengetik, tetapi jariku terhenti ketika bapak menyeletuk, "Loh, katanya mau dihubungi, kenapa malam di sms, Nak?"
"Maaf, Pak. Baru inget kalau si Khabib ini enggak bisa ditelepon, bisanya cuman di-sms-in doang," jawabku cengengesan. Sang bapak langsung menghela napas.
"Pak, sebenarnya tuh fotonya bisa dicetak aja, gak perlu minta izin karena gak bakalan ketahuan, dan tadi tuh Taufiq cuma bercanda saja," ujarku setelah mengirim pesan ke Khabib melalui instagram.
"Loh, ternyata kamu bohong, toh. Sana cepat, cetak fotonya banyak-banyak, nanti bapak pajang di kamar, ha ha."
Tanpa mendengar balasanku, bapak pergi begitu saja, dan aku hanya bisa menatap ponsel yang menerterakan pesanku tadi.
Pesan tersebut, sebagai berikut:
Halo, aku Taufiq, orang yang mengagumimu berasal dari Indonesia, hal yang ingin kusampaikan adalah, kau benar-benar hebat, sampai-sampai ayahku pun mengidolakanmu. Ngomong-ngomong, karena ayah sangat mengidolakanmu, beliau ingin menyetak salah satu foto kemenanganmu yang telah kau posting di instagram. Namun sebelum menyetaknya, aku ingin izin terlebih dahulu, karena sang ayah takut jika menyetak tanpa izin, dia akan di penjara karena mengambil foto orang tanpa izinnya. Terima kasih, semoga kau membacanya, walau aku yakin, itu adalah hal yang mustahil. (Bayangkan saja bahwa teksnya berbahasa inggris)
Aku berpikir, jika Khabib membaca pesanku ini, perasaanku akan menjulang tinggi, serta tak dapat kubayangkan, kemungkinan diriku akan melompat-lompat kegirangan. Namun, rasa penasaranku pun lebih mendominasi ketika rasa ingin tahu akan balasannya itu, lebih kuat lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and My Idol
Storie breviBagaimana jika idolamu terasa sangat dekat denganmu? Bahkan, bisa berinteraksi secara langsung. Bukankah sudah pasti menyenangkan?
