Find the Truth

10 3 0
                                        

Story by Gea



Gean tersenyum miris di bangku taman kompleknya, sambil melihat Lucas yang girang karena baru saja jadian dengan wanita yang ia idamkan selama satu tahun belakang.

Lucas adalah sahabat sekaligus orang yang Gean cintai. Mereka tumbuh bersama dari kecil, Gean selalu ada untuk Lucas begitupun sebaliknya, baik dalam keadaan bahagia mau pun sedih. Tapi mungkin hanya Gean yang merasakan hal itu spesial, sementara Lucas tidak.

"Sakit ya?" ledek Fariz yang entah sejak kapan duduk di sebelah Gean.

Fariz adalah cowok tengil yang Gean jumpai sebulan yang lalu di komplek perumahannya. Lebih tepat lagi, tetangga baru. Mereka bertemu saat ibu Gean menyuruhnya untuk memberikan makanan pada tetangga baru mereka itu, saat itu ia bertemu dengan Fariz yang sedang asik menjahili adiknya.

"Apaan sih? Dateng-dateng ngagetin orang aja." Gean medelikkan mata dan memukul pelan bahu Fariz.

Faris terkekeh "Lagian lo kenapa sih, suka sama orang, yang ngelirik lo aja enggak?" tanya Fariz pemasaran.

Gean menghela napas berat "Ya mau gimana lagi, hati gue ga bisa menentukan kemana ia akan jatuh, kan?" jawab Gean menatap lurus ke arah Lucas yang sedang romantis-romantisan dengan kekasihnya.

"Hati lu memang ga bisa, tapi lu bisa," ucap Fariz menatap Gean dengan tatapan yang sulit diartikan.

Dahi gadis itu mengerinyit, pertanda ia bingung dengan ucapan Fariz "Maksudnya apa, Riz?"

Fariz memberi jeda yang cukup lama, seraya menatap wajah Gean. "Maksudnya, hati lu jatuh karena lu membiarkan dia menikmati harapan yang lu ciptakan sendiri," ucap Fariz dengan suara yang berat.

Gean terdiam, ya benar, selama ini ia mungkin menciptakan ekspetasi kemudian menganggapnya nyata, padahal itu semua semu.

"Bener juga, tapi ga papa, gue bakalan berusaha move on!" tekatnya seraya tersenyum.

Fariz mengangguk "Harus bisa! Jangan sampe lu jadi jomblo seumur hidup gara-gara mikirin teman tapi mesra lu itu."

Gean tertawa mendengar ucapan Fariz. "Kalo udah mentok banget gue sama lo aja, haha."

Candaan yang sukses membuat jantung Fariz jumpalitan, tetapi ia tetap tersenyum dan membelai lembut rambut Gean "Nah kalo senyum gini kan enak, jujur gue sebagai warga baru di sini bosen liat muka asem kecut lo itu tiap hari, sumpah!"

"Kalo bosen ngapain nyamperin gue mulu?"

"Umm, kenapa ya?" Fariz mengetuk-ngetukan jari di dagunya "Mungkin karena gue udah jatuh cinta sama lo," jawab Fariz santai.

"Jangan ngacoh deh! Lo selalu aja ngelawak," ketus Gean.

Fariz hanya diam dan ikut menatap ke depan, hingga beberapa menit kemudian cowok itu kembali bersuara.

"Ge, kadang lo harus melihat orang yang menginginkan lo dengan setulus hati, jangan selalu terpaku pada hal yang sulit buat lo gapai." Fariz memberi jeda.

"Menurut lo, mungkin semua pernyataan yang gue ucapin tentang perasaan gue itu cuma  banyolan semata, tapi ada yang harus lo tau, rasa gue bukan sekedar lelucon."

Setelah mengucapkan itu Fariz langsung pergi meninggalkan Gean yang tercenung karena kalimat yang baru saja Fariz lontarkan.

Apa benar jika Fariz mencintainya? Jadi ucapan jika dia menyukai Gean bukan main-main?

Oh! Betapa bodohnya Gean yang tidak menyadari jika sedari awal cara Fariz mendekatinya memang berbeda.

Gean langsung berdiri dan mengejar Fariz yang berjalan pulang.

Me and My IdolCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang