Story by Febrin
"Anak-anak, hari ini kelas kita kedatangan murid pindahan dari Surabaya."
"Silakan masuk."
Langkah demi langkah dia lalui dengan pasti.
Dia yakin di sekolah ini akan baik-baik saja, sekolah terbaik pilihan om dan tantenya.
Perempuan itu menunduk menatap ujung sepatunya, dia sangat gugup dan takut salah bicara.
"Perkenalkan diri kamu, dan asal sekolah kamu dulu." Seperti tersambar petir di siang bolong, air matanya menetes teringat apa yang dia rasakan di sekolah lamanya.
Dengan cepat dia mengusap air matanya dengan kasar, "Nama saya, Btari Amanda--" dia menghembuskan nafas kasar dan menyebutkan asal sekolahnya dulu "Saya pindahan dari SMA Trimurti di Surabaya."
"Kamu duduk di bangku yang kosong ya,"
Amanda mengangguk dan melihat sekelilingnya, rasanya seperti berada di kenangan lama.
"Permisi? aku boleh duduk disini?" kata Amanda pada lelaki yang sedang tidur saat jam pelajaran.
"Permisi?" Tidak ada sahutan.
Guru yang saat itu akan memulai pelajarannya sadar akan Amanda yang belum juga duduk.
"Manda?" Merasa dipanggil Amanda menoleh ke asal suara.
"Kok belum duduk? ada apa?"
"Siapa itu yang tidur?"
"BIMA!!" Seru guru itu saat melihat lelaki berwajah tampan, sedikit berandal dan acak-acakan.
"Ya bu," ucap Bima dengan malas.
"Keluar dan cuci muka sekarang!" Bima beranjak dengan malas dan keluar kelas.
Namun, bukan Bima namanya jika tidak membuat guru marah.
Dia malah pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan tidurnya.
"Sudah, jangan hiraukan Bima. Sekarang Manda duduk disitu. Besok Ibu akan bilang ke wali kelas kalian biar Bima di pindah tempatnya di depan."
Pelajaran selama 2 jam pun terlewati, Manda jadi pusat perhatian karena mampu menjawab semua soal fisika yang dianggap rumit di jurusan IPA di SMA Bhakti Jaya.
"Jam pelajaran ibu sudah selesai, 5 menit lagi istirahat. Kalian jangan ada yang keluar kelas ya."
Amanda membereskan bukunya yang berada di atas meja, lalu dia mengeluarkan ponselnya.
"Hai anak baru," Amanda mendongak dan melihat ada empat perempuan cantik tapi dengan tatapan mengintimidasi.
"Hai," ucap Amanda yang berusaha ramah.
"Nama gue Alya, murid paling populer di sekolah ini. Dan gue juga selebgram, followers gue udah lebih dari 20K." Amanda hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan Alya.
"Gue Nanda, bokap gue dokter ahli bedah kulit. Nyokap gue Direktur di perusahaan persewaan alat berat, kakak gue yang pertama kuliah di Belanda, kakak gue yang kedua kuliah di Korea Selatan.
Dan gue adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, apapun yang gue minta akan selalu di turutin sama bokap gue. Bahkan mungkin gue minta sekolah ini jadi milik bokap gue pasti bisa di wujudin." Lagi-lagi Amanda meringis mendengar ucapan Nanda, teman se gengnya Alya.
"Oke, Gue Bila. Nabilla Syakeera, anak pengusaha terkaya di keluarga gue. Lo tau perusahaan yang bikin sepatu brand lokal yang terkenal itu ga?" Amanda menggeleng. "Ish norak, itu punya om gue. Jadi, keluarga gue itu keluarga pengusaha sukses dan kaya pastinya."
"Gue Nadra, gue bisa dibilang paling kalem disini. Tapi kata Psikolog gue, ada kemungkinan jiwa psiko di diri gue." Amanda terkejut menatap Nadra dan melihat senyum mengerikan dari bibir Nadra.
"Oke girls, kalian udah kenalan sama cewe baru ini. Dan gue pengen lo kenalin diri ke kita semua."
Amanda mengangguk, "Nama aku Btari Amanda, biasa dipanggil Manda. Aku pindahan dari Surabaya, dan aku pindah karena orang tua ku pindah tugas." Amanda berbohong karena dirinya disini menumpang pada om dan tantenya.
"Oh, kerja apa bokap lo?" Amanda terdiam bingung harus menjawab apa.
"Kok diem?" ucap Alya.
"Jangan-jangan lo anak haram." Amanda sontak terkejut dengan ucapan Nanda, dan berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan sok tau, bapakku masih hidup dan ada. Aku bukan anak haram, gak penting orang tuaku kerja apa buat kalian, karna status kekayaan yang kalian katakan gak akan mampu membuat kalian mandiri.
Seumur hidup kalian akan terus bergantung pada uang orang tua kalian. Inget itu!" Amanda menangis dan berlari menuju keluar kelas, dia bertanya dimana toiletnya dan setelah itu dia menangis di dalam toilet.
"Minggir dong gue mau duduk!" Alya dan teman-temannya yang masih terpaku mendengar ucapan Amanda pun seperti di kagetkan oleh sesuatu.
"Eh, Bima. Darimana Bim?" tanya Alya dengan nada manja.
"Dari rumah!
Ya dari luar lah! Buta mata lo gue tadi di usir dari kelas!" ucap Bima dengan nada sedikit meninggi.
Di dalam toilet Manda menangis karna teringat ayahnya yang hingga kini tidak ada kabar.
Terdengar ketukan dari pintu toilet yang Manda tempati membuat Manda tersadar dan membasuh wajahnya dengan sedikit cipratan air.
"Ada orang?" suara dari luar terdengar samar.
"Iya sebentar." Manda merapihkan bajunya dan mengusap air matanya.
"Sorry lama, silakan masuk." Manda menuju wastafel untuk berkaca, dia melihat pantulan wajahnya di cermin apakah dia tidak pantas bahagia, kenapa dia selalu di anggap jadi pembawa sial? dari mulai kematian ibunya saat melahirkan dia, dan ayahnya yang terkena tuduhan korupsi di perusahaan pajak. Lalu teman-temannya di sekolah yang lama membully dia karena tuduhan kriminal yang menimpa ayahnya.
"Lo anak baru? atau emang gue yang ga pernah lihat?"
"Eh, iya aku anak baru," ucap Manda dengan pelan.
"Gue Ale, lo?" Perempuan bertubuh tinggi bahkan lebih tinggi satu senti dari Manda mengulurkan tangannya.
"Aku Manda, pindahan dari Surabaya," balas Manda seraya membalas uluran tangan Ale.
"Lo jurusan apa?"
"Aku jurusan Sebelas MIPA 2, kamu?" tanya Manda balik.
"Gue? Sebelas MIPA 2 juga." Ale mengingat-ingat saat dia melihat Manda di ruang Kepala Sekolah tadi pagi.
"Oh, lo yang tadi di ruang KepSek?" Manda mengangguk antusias dan tersenyum tipis.
"Masuk yuk, udah bel nih. Gue ketinggalan jam pertama soalnya." Manda berjalan di samping Ale, ntah kenapa dia merasa Ale adalah orang yang friendly.
"Ale!"
"Ale senyum dong," Ale hanya melirik dengan sinis.
Setiap melewati koridor kelas, Ale selalu di sapa oleh murid lelaki yang menurut Manda tampan, namun anehnya Ale tidak merespon bahkan senyum pun tidak.
"Ale, tadi kamu di sapa lho." Ale juga tidak menjawab pertanyaan Manda.
"Duduk sama gue ya," ajak Ale agar Manda mau duduk sebangku dengannya.
Manda menganggukan kepalanya. Tetapi ia ingat sesuatu yang ingin ia tanyakan, "Tadi kamu kenapa engga nyaut pas dipanggil?"
"Ga begitu penting buat gue jawab mereka,"
Manda diam seraya menyalakan ponselnya. Tetapi ia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ale.
Ale melanjutkan, "Mand, lo mau masuk OSIS ga?"
Manda menghentikan aktivitasnya sekejap lalu kemudian menatap kembali lawan bicaranya dengan kening yang mengkerut.
"Buat?"
"Ya masuk aja, kita kekurangan Anggota nih."
Manda sedikit ragu namun apa salahnya untuk mencoba gabung dalam organisasi.
"Kalo lo mau, ntar gue kenalin sama Ketosnya, dia anak 12 IPS 1, selain pinter dia juga berprestasi di sekolah. Mau kan?" tanya Ale sekali lagi.
"Boleh," jawab Manda dengan tersenyum.
Saat istirahat kedua Manda dan Ale menuju aula yang sedang ramai anak OSIS biasa berkumpul.
"Eh Le, siapa tuh?" tanya Jeno, murid 11 IPS 3 yang terkenal banyak gebetannya namun belum ada yang berhasil memikat hati Jeno.
"Oh, ini Amanda. Anak baru," jawab Ale.
"Manda," sambil tersenyum Manda mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Jeno.
"Jeno,"
"Eh, Bin!" seru Ale.
Pria yang di panggil Ale tampak silau dimata Manda, pria tampan, tinggi sekitar kurang lebih 170cm, dengan senyum yang manis membuat Manda terkesima.
"Hai, Ale." balas pria itu sambil mengacak pelan rambut Ale, Manda sudah mengurungkan niatnya untuk lebih dekat dengab Bintang, sepertinya dia menyukai Ale.
"Gue bawa anak baru, dia mau masuk Osis buat gantiin Bima," ucap Ale dengan antusias.
"Oke, nama lo siapa?" tanya Bintang.
"Nama aku Btari Amanda, biasa dipanggil Manda."
"Oke gue jelasin dulu ya. Anggota OSIS yg dulu bertugas jadi Wakil Ketua Osis, sebenernya gue mau Ale gantiin posisi dia tapi Ale ngga mau karna terlalu ribet.
Dan ini berita bagus buat gue karna lo mau masuk dan gantiin orang yang sebelumnya." Manda bingung harus menjawab apa karena dia sama sekali belum pernah ikut organisasi apapun.
"Tapi, aku ga pernah ikut organisasi apapun. Emang bisa ngebantu kamu?" Bintang yang tidak biasa dengan aku-kamu pun sedikit canggung berbicara dengan Manda.
"Lo harus banget ya Aku-kamu ngomongnya?" tanya Bintang.
"Aku ga biasa ngomong bahasa gaul, karna logat aku ini jadi aneh kedengarannya." Bintang tertawa karna mendengar suara Manda dan logat khas Surabaya nya, secara refleks Bintang mengacak pelan rambut Manda seperti apa yang dia lakukan pada Ale.
Suasana semakin canggung karena Bintang melakukan ini kepada perempuan lain yakni Manda yang berfikir Bintang menyukai Ale dan sebaliknya.
"Lo isi formulir pendaftaran dulu ya, ga perlu pake pelantikan soalnya kan lo pengganti jadi cukup isi formulir abis itu kita kenalan sama anggota yang lain." Manda mengangguk dan mengikuti Bintang dan Ale menuju ruang TU untuk mengambil sisa formulir.
Setelah itu Ale dan Manda kembali ke kelas karena jam pelajaran ke empat akan di mulai.
"Ale!" panggil Bima,
"Apa?"
"Itu anak baru?" tanya Bima.
"Iya," Bima hanya ber-oh ria saja.
"Bim!" panggil Mark dari ambang pintu.
"Apaan?" sahut Bima.
"Ke rooftop sekarang, ada yang nungguin lo." Bima mengikuti Mark dengan langkah yang sedikit cepat, ini pasti ada yang tidak beres batin Bima.
"Oh jadi itu yang namanya Bima," gumam Manda, "Iya itu Bima, ya kerjaannya gitu-gitu doang, apalagi kalo jam terakhir makin jarang di kelas tuh bocah." Ale yang mendengar suara Manda yang mungkin bagi dia hampir tidak terdengar pun dijawab oleh Ale.
"Eh ada, Amanda." Alya yang baru saja masuk kelas melihat Manda duduk bersama musuhnya Ale.
"Lo ngapain pindah tempat? anak baru udah berani aja," kata Nadra.
Ale menyahutinya dengan perasaan dongkol "Masalah buat lo? Nggak kan? Ya udah, gausah banyak bacot anjir!"
Sementara Manda hanya diam, ia tidak bisa membalas celaan Nadra. Manda mengetahui letak salahnya di mana .
"Bu diah dateng, duduk ditempat masing-masing." Suara sang ketua kelas membuat semua murid di kelas 11 MIPA 2 duduk di tempatnya masing-masing.
"Selamat siang semua!"
"Siang bu," ucap mereka dengan serentak.
"Ibu mau minta absensinya,"
Saat Bu diah mengabsen, Bima yang dipanggil tidak ada di kelas, "Ada anak baru ya katanya di sini?" Amanda mengangkat tangan dan mengangguk.
"Sini, ibu mau minta tolong."
Amanda beranjak dari tempat duduknya dan maju ke meja guru.
"Iya bu,"
"Tolong kamu cari Bima, dimanapun. Sampai ketemu." Amanda bingung harus mencari dimana, sedangkan dia tidak tahu seluk beluk sekolah ini.
"Iya bu." Amanda keluar kelas dan berusaha bertanya pada murid yang sedang berlalu lalang di koridor.
"Kamu tahu Bima nggak?"
Setiap murid yang lewat ditanya dan jawabannya pun sama "Tidak,"
Saat melewati kantin Manda melihat seorang lelaki yang tidak asing , tapi bukan Bima.
Melainkan temannya, Mark.
Tanpa berfikir panjang Amanda menghampiri Mark dan teman-temannya.
"Ehm, permisi," Mark dan teman-temannya diam mengamati Amanda dari ujung kaki hingga kepala.
"Sopan banget nih murid," celetuk salah satu temannya Mark.
"Hush diem lo John." sahut Mark.
"Ada apa? lo siapa?" tanya Mark.
"Mau cari Bima."
"Ngapain cari Bima?"
"Dipanggil sama Bu Diah."
"Oh, emaknya Bintang?" Amanda bingung dengan perkataan Mark.
"Siapa ibunya Bintang?" tanya Manda.
"Ya itu, Bu Diah guru Biologi kan?"
Amanda mengangguk, "Gausah nyari Bima deh, percuma. Dia ga bakal mau ikut pelajarannya tu guru. Tapi, kalo lo mau tau Bima dimana, dia di rooftop." Amanda masih berdiri disana menunggu Mark mengarahkan dia.
"Lo anak baru? lo gak tau di mana rooftopnya?"
"Enggak, makannya aku tanya. Kalo aku tau ya mana mungkin aku nanya." Mark akhirnya beranjak dan mengantarkan Amanda menuju rooftop.
"Lo naik, nanti lo intip aja dari dalem. Biasanya jam segini lagi jamnya Bima gamau di ganggu." ucap Mark.
"Gue balik dulu."
Amanda mengangguk dan dia langsung menaiki tangga kayu yang masih kuat menurutnya.
Dia membuka pintu perlahan dan melihat Bima sedang bersama perempuan.
Dia mundur perlahan dan tidak sengaja menabrak tumpukan kardus yang mengakibatkan suara barang jatuh.
"Aduh Manda, bisa ga sih ga ceroboh sebentar," ucapnya.
"Lo tunggu sini." ucap Bima samar dari luar.
"Aduh mati!" ucap Manda merutuki kebodohannya.
Bima membanting pintu dengan sangat kuat, menampilkan sosok gadis yang tengah berdiri di depan pintu dengan menundukan wajahnya. Sehingga Bima tidak bisa melihat sosok itu. "Siapa lo!" tanyanya dengan nada tinggi
"M-maaf, aku ga sengaja." Manda gugup dan takut dengan posisinya sekarang, dia seperti melihat monster.
Bima memperhatikan lebih detail lagi setelah mengetahui ia menjauhkan pandangannya. "Lo anak baru itu kan?" Manda hanya sanggup membalasnya dengan mengangguk.
"Ngapain lo kesini?" Belum sempat menjawab perempuan yang bersama Bima di rooftop pun ikut masuk ke dalam ruangan akses menuju rooftop.
"Gue balik kelas dulu, kalo lo butuh sesuatu telfon gue aja." ucap perempuan itu.
Bima tersenyum sekilas, bodohnya Manda melihat itu dan seperti dejavu, dia seperti pernah melihat senyuman ini meskipun tipis.
"A-aku juga balik ya," Bima menarik tangan Manda hingga mereka berhadapan bahkan hampir tidak ada jarak. Hembusan nafas Bima bisa ia rasakan di keningnya.
Yap, Bima yang lebih tinggi dari Amanda pun membuat dirinya harus sedikit mendongak untuk melihat wajah tampan Bima.
"Apa yang lo lihat tadi?" suara Bima membuat Manda merinding.
"En-ggak kok, a-aku ga lihat," gagap Manda seraya berusaha melepaskan cengkeraman kuat Bima.
"Bohong!"
"Bb-beneran, pegang kata-kata ku kalo kamu ga percaya."
Bima melepaskan tangannya dari lengan Manda, dengan cepat Manda melangkah dan turun meninggalkan Bima disana.
Saat berlari di koridor, Manda tidak sengaja menabrak Bintang.
"Loh Mand? Kenapa?" tanya Bintang.
"Gapapa kak, aku telat kelasnya Bu Diah, permisi." Manda masih berlari menuju kelasnya yang berada di lantai bawah.
Tak lama kemudian Bima juga bertemu dengan Bintang, di koridor.
"Masih idup lo ternyata." Bima yang tadinya tidak menghiraukan, langkahnya terhenti dan menatap lawan bicaranya.
"Cara lo buat bikin gue mati itu udah basi." Bima meludah di hadapan Bintang, tepat di sepatu nya.
"Mungkin kalo lo pake caranya Jessica, bakal berhasil. Kalo beruntung." Bintang mengalihkan pandangannya dari Bima. "Lo harus inget, gue selalu berada jauh di depan lo." ucap Bintang dan meninggalkan Bima di koridor.
Bima yang masih berdiri disana menatap punggung kekar milik Bintang juga menunjukkan senyum masam, Bintang yang ia kira bisa menjadi kakak sepupu yang baik ternyata dia sangat membenci dirinya hanya karna dia iri pada Bima.
.........
Untuk kali pertama Bima mengikuti mata pelajaran Biologi.
Bima masuk ke dalam kelas seperti tidak punya dosa. Bu Diah yang melihat Bima berjalan ke arah tempat duduknya menahan amarah yang selama ini ia pendam.
"Untuk minggu depan ibu kasih kalian tugas kelompok, tapi satu kelompok berisi dua orang." Bima tidak peduli dengan siapa dia akan mengerjakan tugas.
"Amanda." panggil Bu diah saat Manda sedang berdiskusi dengan Ale.
"Iya bu?"
"Karna kamu anak baru, ibu mau kamu satu kelompok sama Bima." Ale yang hampir saja membantah perintah Bu Diah ditahan oleh Manda.
"Iya bu, tapi Ale juga ikut kelompok saya. Boleh kan bu?" Bu Diah mengangguk menyetujui dan memberikan tugasnya untuk dikumpulkan minggu depan.
"Pelajaran hari ini sudah selesai, sebentar lagi istirahat terakhir. Kalian jangan lupa sholat ya." Bu Diah berlalu dan meninggalkan kelas itu.
Seketika kelas menjadi ramai, ada yang bersiap-siap untuk solat, dan pergi ke kantin.
Lain halnya dengan Manda. "Aku ke Bima sebentar ya." Melihat Ale yang mengangguk. Manda langsung melangkah menuju bangku Bima.
"Bima," sapa Manda saat sudah tiba di bangku Bima. Manda melanjutkan
"Ini bab yang harus kamu jabarkan, kamu rangkum. Setelah itu buat power pointnya terus file nya kirim ke aku aja." Namun, Bima hanya diam saja sambil mendengarkan lagu dari earphone miliknya.
Manda menghela napasnya dengan kasar. Ia kembali ke bangkunya dan menuliskan sesuatu di kertas.
Ale, teman sebangkunya, memperhatikan aktivitas Manda dan mengikutinya. "Lo ngapain sih? biarin lah dia mau ngerjain apa engga suka-suka dia. Percuma! ngabisin tenaga lo!"Ale menyeletuk dengan kencang tepat di sebelah Bima.
"Itu lo paham." sahut Bima yang sengaja mematikan musiknya sejak Manda menghampiri bangkunya, ia berdiri dari tempat duduknya dengan membawa kertas kecil yang tadi Manda tulis untuk tugas yang harus dia kerjakan.
"Tapi, tenang aja. Gue bakal kerjain tugas gue kok, bukan untuk Bu Diah. Tapi buat menghargai lo yang udah mau nampung gue di kelompok lo." lanjut Bima seraya melangkah keluar kelas.
Ale tidak habis pikir sejak dulu dia mengenal Bintang dan Bima mereka sangat berbeda.
Bintang dengan segala prestasi dan image baiknya, Bima dengan catatan kenakalan yang dia buat.
Mereka bersaudara namun mereka sangat bertolak belakang.
.........
Bima menghampiri teman-temannya di kantin.
"Sekarang gue tau siapa yang sengaja sabotase motor gue." Bima membuka suara membuat teman-temannya terkejut.
"Serius? siapa?" tanya Jimmy.
"Si brengsek Bintang."
"Gue ga paham kenapa dia pengen banget lo pergi dari hadapan dia," kini Mark ikut berbicara.
"Takut kalah saing kali sama lo." Bima menyetujui apa yang dikatakan Jhonny.
Dari kecil Bima selalu berprestasi, hingga pada suatu hari Bintang menyerang Bima dari belakang.
Membuat Bima di benci oleh semua teman-temannya, membuat gurunya sering memarahi Bima, bahkan orang tua kandungnya pun juga sering memarahi Bima.
"Eh, itu anak baru ya?" tanya Jimmy saat melihat Amanda berjalan kearah kantin bersama Ale.
"Iya, sopan banget. Naksir kayanya gue sama dia," ucap Johnny.
Bima menoleh pada objek yang dimaksut Jimmy. Karena posisi duduknya yang menghadap ke Jimmy, akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Manda manis juga ternyata." batin Bima.
Bima kembali berbalik menghadap pada teman-temannya.
"Manis banget kan Bim." kata Mark.
"Lumayan lah dibanding geng cabe di kelas gue."
"Yah Bim, kalah start lo sama Bintang." Bima mengkerutkan dahinya seraya bertanya pada Jimmy "Maksut lo kalah start?" Jimmy menunjuk pada meja yang di tempati Manda, disana ada Bintang yang sudah bisa akrab dengan Manda.
"Gue mah udah biasa kalah start sama dia, tapi yang selalu nyampe finish duluan malah gue." ucap Bima sambil tersenyum.
"Gue pergi dulu," Bima beranjak dari tempatnya dan membeli satu kotak susu coklat dan roti sandwich rasa coklat.
Dia pergi ke kelas dan ternyata sepi, Bima menaruh susu dan roti itu diatas bangku milik Manda dan Bima kembali duduk di bangkunya dan tidur.
"Eh Mand, itu punya siapa?" tanya Ale yang melihat ada susu dan roti.
"Ga tau, eh tapi ada suratnya." Ale tersenyum menggoda Manda, "Cie yang udah punya fans, cie." Amanda tersenyum membaca surat itu dan sedikit salah tingkah karena di goda oleh Ale.
"Baca dong Mand, mumpung masih sepi nih kelas."
Manda melihat sekeliling ruangan, hanya ada dirinya, Ale dan Bima yang sedang tidur.
"Iya aku baca." Manda menahan senyumnya dan mulai membaca isi surat itu.
"Jangan senyum, nanti coklatnya kalah manis sama senyuman lo -B."
Ale semakin gencar menggoda Manda, dia murid baru tapi sudah mempunyai fans rahasia.
"Simpen aja Mand, kali-kali besok dia ngasih lagi." Ale memberi saran pada Manda dan di setujui olehnya.
"Eh tapi siapa ya? B?" Ale memicing curiga "Jangan-jangan Bayu lagi."
"Bayu siapa?" tanya Manda.
"Itu loh, Bayu anak basket." Manda berfikir masa ada murid lain yang mengenal dia selain Ale dan anak osis?
"Udah lah gaperlu di pikirin." Ale benar, untuk apa memikirkan siapa yang memberinya susu dan roti ini.
............
Jam terakhir sudah selesai, waktunya murid SMA Bhakti Jaya pulang.
"Gue duluan ya Mand." pamit Ale pada Manda yang masih membereskan buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan.
"Hati-hati."
Bima masuk ke dalam kelas dan mengira kelasnya sudah sepi.
"Lo ga balik?" tanya Bima pada Manda.
"Pulang, kamu ga pulang?" tanya Manda sambil beranjak dari tempatnya dan mengenakan tasnya.
"Balik, masih nunggu Mark."
Setelah mengucapkan kata itu, mereka berjalan beriringan. Namun, saat di depan gerbang mereka berpisah. Manda yang berjalan ke arah halte, dan Bima yang berjalan ke arah warung kopi yang tak jauh dari halte itu.
Bertepatan dengan Manda datang, ada sebuah sedan yang berhenti tepat di hadapannya.
Pria yang di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya dan menanyakan, "Mand, nunggu siapa?"
"Nunggu angkot kak."
"Pulang sama gue aja. Gue anter," ajak Bintang. Iya pria dengan mobil mewahnya itu adalah Bintang.
Manda bimbang. Ingin menolak ajakan Bintang karna mereka baru saja kenal.
Melihat Manda yang diam saja dan tampak bimbang. Bintang kembali bersuara, " Ayo gue anter!"
Manda tersenyum simpul melangkahkan kakinya ragu untuk masuk ke dalam mobil itu. Tidak enak bukan jika tidak menerima ajakan Bintang? Terlebih lagi dia memaksanya.
"Wah bro, lo kalah start lagi." Bima dan Mark yang berada di warung kopi sebrang halte melihat Manda pulang bersama Bintang.
"Kan gue udah bilang, dia yang ambil start gue yang dapet finish." Mark jadi mempunyai ide untuk dirinya dan Bima.
"Oke, gue berani taruhan kalo sampe Manda bisa lo dapetin." Bima tersenyum dan menjawab tanpa berfikir bagaimana nanti akhirnya "Berani taruhan apa lo sama gue?"
Mark bertaruh uang sebesar 500ribu untuk tantangannya kepada Bima.
Namun, Bima bertaruh akan bersujud di hadapan Bintang dan ibunya jika dia kalah untuk mendapatkan Manda.
......
Manda sudah sampai di rumahnya, "Mau mampir dulu kak?" tawar Manda.
Bintang menolak dengan halus. "Kapan-kapan aja Mand, udah sore gue juga harus bikin proposal buat acara malam kelulusan."
Manda turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Bintang masih berada disana untuk memastikan Manda masuk rumah dan tidak ada yang mencurigakan.
.........
Bintang pulang ke rumah dan melihat motor Bima sudah ada di garasi.
Bintang masuk dan melihat ada Mark di ruang tamu.
"Ngapain lo?" tanya Bintang pada Mark.
Mark yang sedang asik bermain game pun harus melihat siapa yang mengajaknya bicara.
"Main games."
"Mata gue ga buta, maksut gue lo ngap--" belum selesai Bintang berbicara Bima sudah keluar dari kamarnya dan mengajak Mark keluar.
"Ini bukan rumah lo, gausah sok kayak tuan rumah." Bima memperingati Bintang agar tidak semaunya sendiri di rumah peninggalan orang tua kandung Bima.
Mark berseru senang karena dia memenangkan gamesnya.
"Oh udah? Yuk cabut. Loh ada Bintang disini? sejak kapan? sejak kecil ya? numpang ya? tapi gatau diri ya?" Mark dan Bima tertawa renyah karena melihat ekspresi Bintang yang tidak menyangka Mark akan berbicara seperti itu.
Setelah kepergian Mark dan Bima, Bintang masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan segala emosinya.
"Bangsat!!" Bintang mengumpat dan meninju kaca di kamarnya.
"Masih untung lo hidup! Kalo bukan karna bokap lo yang bangsat! gue gak akan ada di dunia ini anjeng!"
Ibunya yang mendengar pecahan kaca dan teriakan khawatir akan anaknya, anak semata wayangnya.
"Bintang?" panggil Diah, ibunya.
"Ya mam," jawab Bintang dengan santai sembari menutupi lukanya dengan kasa dan obat merah.
"Kamu kenapa?" tanya Ibunya.
"Gapapa, aku cuma nyesel aja kenapa punya satu ayah sama Bima." Diah yang juga menyesali perbuatannya kini merasakan kebencian yang sama dengan Bintang.
"Maafkan mama ya sayang, Mama akan balas semua rasa sakit kita dulu." Bintang mengangguk dan memeluk Ibunya.
Bintang dan Bima sebenarnya adalah kakak adik yang tidak seharusnya, Ayah Bima, tidak sengaja membuat kesalahan dengan menghamili Diah, dan akhirnya kesalahan itu tercium setelah satu tahun Bintang lahir, saat itu Rani ibu Bima masih mengandung Bima delapan bulan.
Namun, setelah terungkap Ayah Bima tidak mau mengakui Bintang, dan malah menuduh Diah yang membuat drama agar bisa menghancurkan keluarganya, Rani tidak percaya dengan Diah dan ikut membenci adiknya.
Dari situlah, Diah merawat Bintang sendiri. Menahan cibiran dan hinaan dari orang tuanya, dari sanak keluarganya.
Saat Bima ber-umur enam tahun ayahnya meninggal karena kecelakaan kereta, saat itu Bintang dan Bima belum paham mereka saudara sedarah.
Saat mereka beranjak dewasa, Diah menceritakan semuanya pada Bintang dan membuat anaknya menjadi pendendam.
Bima mengetahuinya dengan tidak sengaja karena saat itu mereka satu rumah dengan nenek dan kakeknya.
Bintang menjadi anak yang egois dan ingin mendapatkan apa yang Bima dapat. Entah itu perhatian, nilai bagus, dan barang-barang mahal.
Saat menginjak kelas satu SMP, Bima pindah ke rumah peninggalan ayahnya, Diah yang merasa punya hak atas itu juga ikut pindah dengan Bintang.
Akhirnya Rani, Bima, Diah dan Bintang tinggal di satu atap namun seperti tidak ada kedamaian di dalam sana.
Bintang selalu membuat cerita bahwa Bima sangat licik dan selalu membuat masalah, hingga ibunya marah besar pada Bima.
Tidak lama kemudian Rani meninggal karena serangan jantung, Bima seperti hidup sendiri di dalam rumahnya.
Bima menjadi anak yang tidak tahu aturan, sering pulang malam, bahkan dia sama sekali tidak menganggap Diah dan Bintang adalah saudaranya, meskipun takdir mengatakan Bima dan Bintang adalah kakak ber-adik.
.........
2 Bulan berlalu, Bintang semakin terlihat kalau dia menyukai Manda.
Ale yang sadar akan hal itu kini sudah gerah dengan kedekatan mereka.
"Bin! gue mau bicara sama lo." Bintang meng-iyakan ajakan Ale dan meninggalkan Manda di ruangan Osis mengerjakan revisi proposal untuk acara kelulusan.
"Ada apa Le," suara Bintang membuat benteng pertahanan Ale runtuh, dia suka dengan Bintang. Perasaan ini ia pendam sejak ia kelas sepuluh.
"Lo kok semakin deket sih sama Manda? Kan gue sekertaris OSIS, harusnya lo nyuruh gue yang revisi itu proposal, bukan Manda." Bintang yang mengerti kemana arah pembicaraan Ale pun terkekeh dan mengacak rambut Ale pelan.
"Lo kan sibuk buat urus acara Olimpiade matematika, ya gue gamau membebani lo dengan proposal itu," ucap Bintang dan diakhiri dengan senyuman manis.
"Iya sih, tapi gue udah ga sibuk kok. Lo bisa minta tolong sama gue, oke?" Bintang mengangguk dan mencubit hidung Ale dengan gemas.
"Ya udah, sekarang lo yang kerjain ya." Ale mengambil alih proposal yang tadinya dikerjakan oleh Manda dan kini di kerjakan Ale.
"Ale, aku ke kelas dulu ya." Manda pamit pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran fisika. Karena selama dua bulan terakhir Manda sering meninggalkan pelajaran karena harus mengikuti kegiatan Osis.
Saat Manda berjalan melewati kantin dia melihat Bima yang sedang duduk disana bersama teman-temannya.
Manda jengah melihat kelakuan Bima yang tidak merasa punya beban untuk menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar.
"Amit-amit deh kalo aku punya pacar kaya dia. Jangan sampe deh jauh-jauh aja," gumam Manda.
"Permisi Bu?" Manda berada di depan pintu. "Ya? Oh ada apa? mau ikut pelajaran?" Manda mengangguk dan masuk ke dalam kelas.
Saat duduk di bangku Manda mengeluarkan buku Fisikanya dan melihat ada susu dan roti lagi.
Dia membaca suratnya dan penasaran sebenarnya siapa yang selama 2 bulan ini memberinya surat dan camilan.
Isi suratnya seperti ini ; "Sudah dua bulan sejak lo masuk di sekolah ini gue cuma bisa mengamati lo dari jauh, lo terlalu susah di gapai. Coba lo turun, biar ga di langit terus kaya bidadari-B."
"Jangan terlalu penasaran siapa gue. Biar Tuhan yang akan menjawab-B"
"Coba deh lo sesekali lihat Bintang di langit, gue tau waktu emang cepat banget berlalunya, tapi gue yakin gue bukan angin lalu kan buat lo?-B"
Setiap membaca tulisan ini mungkin biasa saja bagi orang yang malas berurusan dengan orang asing.
Tapi entah kenapa Manda selalu menunggu surat-surat berikutnya dari sosok B ini, dia penasaran siapa B sebenarnya. Dan kapan dia menaruh makanan dan surat ini di mejanya? Entahlah terlalu misterius bagi Manda.
.........
3 bulan berlalu, murid kelas 12 sedang sibuk untuk mempersiapkan ujian kelulusan.
Kelas 10 dan 11 senang karena libur usai ujian semester.
"Mand, kita liburan yuk," ajak Ale.
"Liburan ya? umm.. kayanya gabisa deh, soalnya aku harus survey ballroom hotel buat acara perpisahan kelulusan." Ale mengangguk paham.
"Bima!" seru Manda saat melihat Bima melewati depan kelasnya.
Bima menoleh dan menautkan alisnya.
"Bentar ya Ale," ucap Manda berpamitan pada Ale dan menghampiri Bima.
"Kenapa?" tanya Bima dengan suara lembut.
Yap, tiga bulan terakhir ini Manda dan Bima semakin dekat.
"Nanti temenin aku yuk," Manda mengajak Bima pergi untuk survey ballroom hotel yang bisa dipakai saat Desember nanti.
"Kemana?" tanya Bima.
"Ke hotel." Manda yang melihat ekspresi wajah Bima sedikit terkejut dengan ajakannya menjadi tertawa.
"Manisnya," gumam Bima.
"Apa Bim?" tanya Manda dan berhenti tertawa.
Bima menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung harus menjawab apa. "Bima ngomong apa tadi?" desak Manda.
"Enggak.” Manda tersenyum menggoda Bima, ia hanya menggoda. Ia sadar diri Bima tidak akan menyukainya, meskipun Manda sedikit nyaman dengan Bima.
"Gue ke kantin dulu." Manda mengangguk dan memastikan Bima mau menemaninya survey. "Mau nemenin aku kan nanti?" ucap Manda sedikit berteriak.
"Iya!!" jawab Bima dengan berteriak juga.
Ale yang memperhatikan sikap Manda sedari tadi menyimpan sejuta pertanyaan di kepalanya.
"Lo pacaran sama Bima?" tanya Ale.
"Apasih? enggak. Bima anak orang kaya, mana mungkin suka sama aku." Ale menyibikkan bibirnya dan menyemangati Manda. "Optimis dong Mand, siapa tau Bima diam-diam suka sama lo." Manda tersenyum dan mengaminkan dalam hati.
............
Libur semester telah tiba, Manda yang beberapa hari tinggal dirumah sendirian kini merasa kesepian.
Dia melihat meja belajarnya, membuka buku diary nya dan menuliskan sesuatu disana.
Sejak dia pindah ke Jakarta, buku ini tidak pernah di sentuh.
Ia punya sahabat yang kini ada untuk dia, ia punya teman bercerita, membela dirinya saat Alya dan gengnya membullynya.
Ia menuliskan sesuatu disana, dan menempelkan fotonya bersama Ale.
"Dia Ale, perempuan pemberani yang baik. Kadang manja, tapi dia juga punya berjuta kesedihan. Dia berusaha menutupinya dariku, tapi semakin kita dekat dia semakin terbuka padaku. Akupun juga tak ragu untuk menceritakan masa laluku, awalnya aku takut dia akan pergi meninggalkanku sama dengan teman-temanku dulu. Namun, aku salah. Dia tetap setia menjadi sahabatku." Manda memandangi foto yang di ambil saat kegiatan tengah semester yang diadakan di Puncak, Bandung.
Manda juga menempelkan fotonya bersama Bima, Mark, Jimmy dan Johnny. Manda akrab dengan mereka karena saat itu Manda sedang di posisi bahaya, Manda tidak tahu bagaimana nasibnya saat ini jika Bima dan teman-temannya tidak ada disana.
"Bima, Mark, Jimmy dan Johnny. Empat lelaki nakal yang sering bolos pelajaran, sering ketahuan merokok di rooftop dan dipanggil guru BK membuatku geleng-geleng kepala. Kadang aku memarahi mereka karena bertengkar dengan Bintang. Iya, Bintang yang menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahku saat ini. Entah, aku tidak tahu apa masalahnya hingga mereka berani mencari masalah dengan Bintang. Kadang juga aku dipaksa ikut Bima bolos pelajaran dan menemani mereka berkumpul di rooftop, padahal aku adalah wakil ketua OSIS. Entahlah, aku juga menyimpan perasaan pada Bima, aku sadar aku siapa. Tapi, apakah aku salah jika aku nyaman pada Bima?" Manda tersenyum saat sesudah menuliskan perasaannya di buku kesayangannya, dia lega.
Ponsel Manda bergetar dan menampilkan nama Bima disana, dengan cepat Manda mengangkat panggilannya itu.
"Ya Bim?"
[Di rumah?]
"Iya, ada apa Bim?"
[Jalan yuk, gue udah di depan.]
Manda terkejut dan langsung menuju balkon kamarnya.
"Kok mendadak sih?"
[Buruan turun, dingin nih.]
Manda mematikan panggilannya dan bersiap dengan memakai hoodie dan celana pendek se lutut lalu mencepol rambutnya walaupun tidak rapi, lalu memakai sedikit bedak dan lipbalm pada wajah dan bibirnya.
Manda turun dari kamarnya dan mengunci semua pintu, karena ia sendiri di rumah.
"Bim," panggil Manda dan Bima melambaikan tangannya pada Manda.
"Masih sama, tetap manis," gumam Bima saat melihat penampilan Manda yang apa adanya.
"Nih buat lo." Bima membawa bungkusan yang berisi susu coklat dan roti sandwich rasa coklat.
"Makasih Bima." Manda melihat ada secarik kertas di dalam bungkus plastik itu.
"Bentar Bim, kok ada suratnya." Bima sengaja memasukkan surat di dalam sana, agar Manda menebak siapa sebenarnya sosok B yang memberinya surat setiap hari.
"Baca, gue pengen denger." Bima tersenyum simpul saat melihat wajah Manda. Bahkan ia lupa taruhannya dengan Mark, atau mungkin ia membatalkannya? Entahlah itu urusan Bima.
"Malam ini indah, sebenarnya malam-malam lalu juga indah. Tapi, lebih indah saat melewati malam bersamamu. Kau sedang mencari aku bukan? Lihat di depanmu saat membaca surat ini, itulah aku yang kamu cari-B" Manda melihat di hadapannya, dan tersenyum lalu berhambur memeluk Bima.
"Coba jelaskan pelan-pelan ke aku," ucap Manda.
"Oke, tapi ga disini ya." Manda dan Bima berlalu menuju taman di dekat rumah Manda, dia menjelaskan segalanya disana. Dari awal dia diam-diam menyukai Manda hingga menunjukkan dirinya di hadapan Manda.
"Sejak lama?" tanya Manda.
"Apanya?" tanya Bima dengan alis yang bertaut.
"Sukanya." jelas Manda dengan pipi yang merona.
"Sejak lo terlihat manis di mata gue, sejak lo mau berteman sama gue." Manda terharu dengan ucapan Bima lalu sekali lagi ia berhambur memeluk Bima.
"Tapi Mand, lo mau kan nunggu gue?" Manda melonggarkan pelukannya dan menatap mata Bima dengan penuh pertanyaan. "Kenapa? kenapa ga sekarang?" Bima mengacak pelan pucuk rambut Manda dan mencium keningnya. "Gue mau kasih kejutan buat lo, tapi tunggu sampai acara kelulusan ya." Karena Manda percaya pada Bima akhirnya dia menyetujui dan menunggu Bima selama dua bulan lagi. Itu lama, tapi dia harus menunggunya.
.........
Keesokan harinya, Bima dan Mark berada di cafe milik orang tua Mark.
Setelah lama saling diam karena sibuk dengan ponsel masing-masing akhirnya Mark membuka suara.
"Jadi gimana nih?" tanya Mark pada Bima.
Karena merasa diajak bicara, Bima menyimpan ponselnya dan berdeham.
"Gue transfer sekarang, tapi lo jangan pernah bahas ini. Anggap ini adalah uang syukuran karena gue bisa dapetin Manda. Bukan uang taruhan." Mark menyetujui dan bersorak bahagia.
Seseorang mendengar pembicaraan Mark dan Bima langsung menghubungi Bintang untuk melaporkan semua tentang Bima dan Manda.
.........
Satu bulan berlalu, Manda dan Bima semakin dekat.
Bintang merasa gerah melihat mereka dan berencana membongkar rahasia terbesar Bima dan mendapatkan hati Manda.
Karena liburan semester untuk kelas 10 dan 11 telah selesai, Manda juga sudah aktif di kegiatan OSIS yang mendekati hari H.
"Manda," panggil Bintang saat Manda berjalan menuju perpustakaan.
"Eh, kenapa kak?" tanya Manda dan menghentikan langkahnya.
"Gue harap lo ga salah pilih, lo harus bisa liat orang yang tulus sama lo. Bima cuma mainin lo doang Mand." Manda tidak mengerti arah pembicaraan Bintang.
"Bima taruhan sama Mark, buat dapetin lo." Manda berusaha mencerna perkataan Bintang dan menanyakan langsung pada Bima.
Dia mencari keberadaan Bima yang sudah pasti ada di rooftop.
Saat ia akan keluar dari ruangan sempit itu, Manda mendengar Mark tertawa bersama Jimmy dan Johnny. "Jadi, lo dapet duit dari Bima?" tanya Jimmy.
"Iya, dia deketin Manda cuma mau buktiin ke Bintang kalo dia ga bakal kalah." Air mata Manda lolos begitu saja, dia tidak menyangka bahwa Bima menjadikan dia bahan pembuktian pada Bintang.
Saat Manda akan turun dia bertemu dengan Bima yang akan ke rooftop.
"Mand? ngapain ke rooftop?" tanya Bima sambil meraih tangan Manda, namun di tepis oleh Manda.
"Jangan pernah deketin aku lagi, aku bener-bener kecewa sama kamu." Manda turun dari ruangan menuju rooftop dan meninggalkan Bima, ia yakin Bima pasti senang karena mempermainkan dirinya.
Bima mengurungkan niatnya untuk ke rooftop dan mengejar Manda. Namun nihil, ia tidak menemukan Manda di kelasnya.
Dia berlari mencarinya di ruang OSIS dan melihat Bintang sedang memeluk dan menenangkan Manda. Bintang melihat keberadaan Bima disana, dia tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya.
Bima merasa belum kalah, masih ada satu bulan lagi untuk membuktikan pada Manda kalau dia benar-benar mencintai Manda.
.........
Keesokan harinya Bintang dan Manda semakin dekat, Manda juga terlihat nyaman dengan sikap Bintang, meskipun ia tau Bintang adalah pria yang sangat baik ke semua orang.
"Manda," panggil Bintang.
Karena mereka wakil dan ketua OSIS, Manda dan Bintang lebih sering menghabiskan waktu bersama.
"Iya kak?" jawab Manda.
"Ehm.. gue boleh tau sesuatu nggak dari lo?" Manda menopang dagunya dengan tangan dan menatap mata Bintang sambil tersenyum tipis.
Bintang sadar dan salah tingkah karena Manda menatap dirinya sangat intens. "Pertama, gue penasaran sama lo dan keluarga lo. Kedua, soal hubungan lo dan Bima. Ketiga, soal--" Manda mengerutkan dahi karena penasaran dengan pertanyaan ketiga dari Bintang yang masih menggantung. "Soal apa kak?" Bintang menggaruk tengkuknya kikuk dan melanjutkan pertanyaannya. "Soal kita, maksut gue soal kejelasan hubungan kita."
Manda membenarkan duduknya dan menjawab pertanyaan Bintang dengan tenang. "Pertama, mama aku meninggal saat setelah melahirkan aku. Papa ku dinas keluar kota. Aku tinggal sama om dan tante ku." Manda menghela nafas kasar karena dia harus berbohong soal ayahnya. "Yang kedua, aku ga punya hubungan apapun sama Bima." Entah, rasa kecewa Manda sangat besar hingga rasanya tidak ada kesempatan untuk Bima lagi (mungkin). "Yang ketiga, soal kita. Aku masih ga bisa kasih kepastian soal hubungan kita, yang penting kak Bintang nyaman sama aku itu udah lebih dari cukup buat aku." Bintang tersenyum dan mengenggam tangan Manda, tanpa mereka sadari kedatangan Ale di ambang pintu, Ale mendengar segalanya.
"Mereka saling suka," gumam Ale yang mati-matian menahan air matanya.
Ale pergi ke kelas dan pindah tempat duduk, dia merasa dibohongi oleh sikap Bintang selama ini.
Manda terlihat bahagia saat kembali ke kelas diantar oleh Bintang, kemesraan mereka pamerkan hingga Ale dan Bima melihat semua itu.
"Nanti pulang bareng aku ya," ucap Bintang sambil mengacak pelan rambut Manda.
"Iya, aku masuk dulu ya." Manda masuk ke dalam kelas dan belum menyadari perubahan sikap Ale.
.........
Jam pelajaran terakhir sudah selesai, kelas menjadi ramai bersiap-siap untuk pulang.
"Besok-besok kalo mau suka sama cowo liat-liat, minimal tanya sama temen lo dia lagi suka sama siapa. Jangan sampe suka sama cowo yang sama." Ale mengatakan itu kepada Manda, karena dia bukan tipe orang yang suka memendam apapun. Termasuk sakit hati.
"Kamu kenapa?" tanya Manda dengan wajah polosnya dan berusaha meraih tangan sahabatnya, namun di tepis kasar oleh Ale.
"Lo masih sempat nanya kenapa? Lo pura-pura bego atau emang bego sih?" Ale mulai emosi dan sedikit meninggikan suaranya.
"Aku beneran nggak tau." Bima yang sedari tadi sengaja mendengarkan perdebatan dengan berpura-pura memakai earphone di telinganya.
"LO SUKA KAN SAMA BINTANG!! LO EMANG GAK TAU DIRI YA MAND! BIMA LO EMBAT! BINTANG LO EMBAT! SOK KECANTIKAN LO!" bentak Ale membuat Manda terkejut.
"Aku ngga suka sama Bintang, wajar kalo aku nyaman. Wajar, kamu aja juga nyaman sama dia kan? Sikap dia yang bisa bikin aku nyaman, aku merasa punya sosok kakak, bukan kamu aja. Aku juga punya kesakitan yang ga harus kamu tau, aku capek jadi pendengar kamu. Capek Ale." Suara Manda mulai parau dan menangis terisak. Ale meninggalkan Manda di dalam kelas, dia merasa tertampar dengan perkataan Manda.
Manda berdiri dari tempat duduknya dan mengusap air matanya, dia keluar kelas dan menunggu Bintang di halte.
Bima mengikuti Manda dari belakang, saat ini dia sangat ingin memeluk Manda, namun dia ingat kesalahan yang dia perbuat. Kini dia benar-benar mencintai Manda.
Manda menyalakan ponselnya dan membaca pesan masuk dari Bintang.
["Manda maaf, aku harus pulang lebih awal. Mama aku masuk rumah sakit. Kamu gapapa kan pulang sendiri?"]
Manda menghela nafasnya lemah, dia terpaksa harus menunggu angkot untuk pulang.
10 Menit kemudian suara motor berderu membuat Manda menoleh ke asal suara.
"Gue anter pulang. Anggap aja gue disuruh Bintang buat anter lo pulang." Manda berfikir cukup lama dan akhirnya dia melangkah perlahan lalu naik ke atas motor gede milik Bima.
"Lain kali pake jaket, jaga-jaga kalo Bintang ga bisa anter pulang lo bisa pulang sama gue. Gue ga mau bagian tubuh lo terekspos dengan cuma-cuma." Manda melirik bagian kakinya yang sedikit terbuka karena roknya yang terangkat.
"Iya, udah yuk jalan." Manda sudah siap namun Bima masih bergeming,
"Bim? nunggu apa?" Bima meraih tangan Manda dan menaruh di pinggangnya. "Kalo mau mati ntar aja Mand, kita mati bareng biar bisa jadi cinta sampai mati." Manda memukul pelan bahu Bima dari belakang, “Garing Bim,” balas Manda.
.........
Manda sempat bingung karena ia kini bukan berada di rumahnya, namun di rumah yang sangat besar dan mewah.
"Ini rumah siapa?" tanya Manda pada Bima.
"Masuk yuk, ini rumah gue." Saat masuk ke dalam rumah, Manda melihat sebuah foto keluarga di ruang tamu. Cukup besar namun terlihat harmonis.
"Gue mau lo tau sesuatu Mand." Bima mengajak Manda ke dalam sebuah ruangan kecil yang biasa Bima sebut dengan ruang masa lalu.
"Ruangan apa ini Bim?" tanya Manda.
"Ini ruangan yang isinya kenangan gue sama lo, bukan sama lo aja sih. Sama nyokap, bokap dan keluarga gue." Manda tertarik melihat sebuah pigora kecil terpasang di meja belajar yang lumayan berdebu.
"Ini kamu Bim?" tanya Manda.
"Iya, itu gue saat masih baik-baik saja." Manda menatap lawan bicaranya dan mengerutkan dahinya.
"Emang sekarang kenapa?"
Bima mulai menceritakan semuanya dari awal hingga bagaimana Bintang dan Ibunya hampir membuat dirinya meninggal. Manda tidak bisa berfikir jernih saat ini karena dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Bima mengajaknya keluar dari kamar dan pulang, saat akan pulang Bintang dan ibunya yang notabene guru di SMA Bhakti Jaya terkejut melihat Manda berada di rumah mereka.
"Mand? ngapain ke sini?" Manda melihat kekhawatiran di mata Bintang, ada apa? apakah yang di ceritakan Bima itu benar? Apakah Bintang sejahat itu? Banyak pertanyaan di kepala Manda yang sebenarnya harus dijawab oleh Bintang, karena menurutnya saat Bima bercerita dia melihat ketulusan dan kejujuran di matanya.
"Mand, yuk." Bima meraih tangan Manda dan mengajaknya pulang.
Setelah hari itu Manda sedikit menjauhi Bintang, dia juga ingat perkataan Ale bahwa dia menyatakan menyukai Bintang.
Bima sudah menjelaskan kesalah pahaman yang menimpa Manda yang di akibatkan oleh kesalahannya.
.........
30 Desember 2020
Hari ini adalah hari dimana Bintang dan angkatan kelas 12 merayakan hari kelulusannya. Sebagai anggota OSIS yang merangkai acara agar berjalan lancar Manda dan Ale berangkat ke hotel tempat dimana Promnight SMA BHAKTI JAYA di adakan.
"Mand," sapa Mark pada Manda.
"Kenapa Mark?" tanya Manda.
"Hari ini ulang tahunnya Bima, dia mau tampil di panggung buat lo," ucap Mark saat dia tau temannya akan berusaha kembali menyukai musik setelah sekian lama. Manda tersenyum lega karena Bima mau menjadi salah satu pengisi acara untuk di bagian musik akustik.
"Syukurlah, dia sekarang dimana?" tanya Manda.
"Di belakang panggung kayanya, samperin gih." Manda mengangguk dan berjalan menghampiri Bima.
Manda celingukan mencari batang hidung Bima, ternyata Bima sedang berlatih di pojok ruang tata rias.
"Selamat ulang tahun Bim." Bima yang sedang serius berlatih terkejut melihat Manda yang memakai gaun dan sedikit menunjukkan bahunya, rambutnya yang di cepol indah dan riasan wajah yang tipis membuat Bima terpana.
"Bima? kok liatnya kaya gitu,” ucap Manda sambil sedikit cemberut.
"Lo cantik, cantik banget." Manda tersenyum dan memeluk Bima.
"Lo suka lagu apa Mand? eitss tapi jangan suruh gue nyanyi lagu bahasa Korea. Oke?" Manda terkekeh dan mengatakan dia menyukai lagu dari Pink Sweats yang judulnya At My Worst.
"Gue juga niatnya mau bawain lagu itu, sekalian mau nembak lo." Manda mengangguk paham dan memberi semangat pada Bima.
Saat akan keluar dari ruang tata rias, Bintang menahan tangan Manda dan memeluknya.
"Lo udah tau semuanya? tentang kejahatan gue? Lo ngejauhin gue karna itu?" Manda melepaskan tangan Bintang dari lengannya.
"Belum terlambat untuk menjadi lebih baik. Bagaimana pun kamu berusaha merubah kenyataan, Bima tetap saudara kamu, adik kamu. Kamu tau? Bima yang awalnya benci musik karena dia tau kamu juga berusaha merebut kesukaannya itu, dia berhasil mendapatkannya lagi. Bima berhasil mencintai musik lagi." Bintang tersadar sesuatu.
"Begitu juga dengan gue yang berusaha merebut lo dari Bima. Gue ga akan maksa lo nerima gue, tapi gue cuma mau bilang. Gue suka sama lo," Manda tersenyum lalu pergi meninggalkan Bintang di sana.
Acara berjalan dengan lancar dan saat Bima tampil banyak yang terkesima dengan suara deepnya yang merdu, dengan lagu At My Worst membuat Manda yakin bahwa Bima serius mencintai dirinya dan akan menjaganya.
Saat menuju puncak acara Bima dan Bintang tiba-tiba naik ke atas panggung dan menyatakan perasaannya pada Manda.
Bima yang notabene hanya mantan vokalis di sebuah band Sekolah, dan Bintang adalah ketua OSIS dua tahun, Manda menatap mata keduanya, tulus. Hanya itu yang terlihat. Namun, Manda yakin dengan pilihannya.
"Aku pilih Bima, tapi dengan syarat. Bima harus balik lagi di Boys Band bareng Mark, Jimmy dan Johnny." Bima mengangguk bahagia dan dia berlari turun dari panggung lalu memeluk Manda dengan bahagia.
-SELESAI-
Cast :
Kim Taehyung BTS as Bima
Jeon Jungkook BTS as Bintang
Mark NCT as Mark
Park Jimin BTS as Jimmy
IU as Ale
Manda as Me or y/n
Johnny NCT as Johnny
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and My Idol
KurzgeschichtenBagaimana jika idolamu terasa sangat dekat denganmu? Bahkan, bisa berinteraksi secara langsung. Bukankah sudah pasti menyenangkan?
