13 : cupp!

9.9K 1.4K 730
                                        

Benar saja, esok harinya Sunghoon tetap memegang teguh pendirianya untuk tidak mengizinkan Sunoo ikut ke tempat kerja bersama Sunghoon.

Walaupun mata Sunoo sudah membengkak akibat merengek sambil menangis kencang, tetap saja Sunghoon tidak mau mengubah keputusannya. Dia tetap tidak mengizinkan Sunoo, dan pagi ini Sunghoon membawa Sunoo keluar apartemen. Rencananya, selama Sunghoon tidak ada, Sunoo akan ia titipkan kepada Jungwon.

"Udah siap?"

Tidak ada jawaban.

Karena pertanyaannya tak kunjung dijawab, Sunghoon menoleh, menatap Sunoo yang tengah duduk disofa sambil melipat kedua tangannya didada. Tak lupa, bibir cerinya pun mengerucut lucu, lelaki manis itu mengalihkan matanya agar tak menatap Sunghoon.

Sunoo sedang marah, dan entah mengapa bukannya ketakutan, Sunghoon malah dibuat gemas oleh tingkah bayi besar yang satu ini.

"Ddeonu, kalau ada yang nanya itu dijawab, bukan dibiarin gitu, sayang." jelas Sunghoon sambil mendekat, kemudian duduk disamping Sunoo.

"Emang ada yang nanya ke Sunoo?!" jawab Sunoo, dari nada bicaranya saja, Sunghoon tau kalau Sunoo tengah marah.

"Ada," ucap Sunghoon, "Tadi aku nanya ke kamu, aku ulang ya, Ddeonu udah siap?"

"Siap apaan?" tanya Sunoo, "Kalau nanya itu yang bener dong, jangan setengah-setengah!"

Sunghoon menghela nafas berat, "Sunoo udah selesai nyiapin mainan buat dibawa ke tempat Jungwon-nya?"

"Dah!" jawab Sunoo jutek.

Sebenarnya, Sunghoon juga tidak mau meninggalkan Sunoo sendirian seperti ini, dia tidak mau waktunya bersama Sunoo harus berkurang, namun Sunghoon juga tidak punya pilihan lain. Dia harus mencari uang untuk membiayai Sunoo.

Sunghoon mengusap surai hitam Sunoo dengan lembut, berusaha menyalurkan perasaan tulusnya pada lelaki manis tersebut.

Perasaan sayang Sunghoon pada Sunoo itu sangat besar nan luas. Perasaan yang semakin lama, semakin mengembang menjadi perasaan ingin memiliki, meski Sunghoon juga tau diri, Sunoo dan dia akan cukup sulit untuk bersama.

"Kalau begitu, ayo berangkat!"

Sunoo menurut tanpa mengoceh ataupun membantah ucapan Sunghoon. Dia mengikuti langkah Sunghoon dari belakang, ingat tidak membantah bukan berati sudah tidak marah.

Tentu saja Sunoo masih marah kepada Sunghoon. Sunoo tidak butuh uang, di hanya butuh Sunghoon. Sunoo hanya ingin Sunghoon, bukan ingin uang. Namun, lelaki tampan berwajah datar itu selalu bilang, 'Sunoo, kita butuh uang. Kamu gak akan kenyang kalau cuman natap wajah aku'. Ya, memang benar sih, tidak ada yang salah, tapi tetap saja Sunoo kesal.

Sampai mereka berdua duduk didalam bus pun, Sunoo masih setia menutup mulutnya. Sunghoon menatap Sunoo, lalu tersenyum kecil melihat tingkah si manis yang menggemaskan. Perlahan, Sunghoon menyenderkan kepalanya dipundak Sunoo, hanya satu kata yang terlintas dipikiran Sunghoon pada saat itu ; nyaman.

Karena pergerakan tiba-tiba dari Sunghoon, Sunoo terkejut. Dia hendak mengomel, namun ketika matanya menatap manik indah Sunghoon, Sunoo tak bisa. Sunoo tidak bisa melarang lelaki itu bersandar dipundaknya, sebab ia mengerti, Sunghoon tak punya siapa-siapa lagi untuk ia jadikan tempat bersandar.

"Maaf." ucap Sunoo.

Sunghoon melirik Sunoo sekilas, kemudian meraih tangan mungil lelaki manis itu, ia mengusap tangan Sunoo dengan sangat lembut, "Buat apa?"

"Maaf aja," jawab Sunoo, "Sunoo nakal banget, gak mau ngertiin posisi kakak."

"Gak nakal kok, kamu anak baik." ucap Sunghoon dengan suara lembutnya.

The Egg Boy | sungsunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang