Saat kami tiba di asrama, aku berusaha menceritakan peristiwa menghilangnya si petugas kasir kepada Rosie, tetapi dia tidak memercayaiku. Dia terus mengatakan, 'Itu hanya halusinasimu saja, Em. Tidak ada manusia yang bisa menghilang.'
Yang benar saja. Manusia memang tidak dapat menghilang, tetapi sudahkan dia memerhatikan si petugas kasir itu secara detail? Katie tidak mungkin manusia! Kecantikannya itu tidak manusiawi! Tubuhnya seperti manekin yang dipajang di estalase-estalase toko. Tetapi tetap saja Rosie menolak untuk memercayaiku. Aku tahu aku tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain. Mereka hanya akan mengolok-olokku, seperti yang biasa mereka lakukan.
Dua hari berikutnya berlalu dengan penuh derita. Rosie selalu mengalihkan pembicaraan jika aku bertanya soal insiden di mall. Aku ingin sekali melupakan insiden itu, tetapi rasanya sulit sekali. Ingatan akan Katie si petugas kasir seakan terpatri di ingatanku, dibuat untuk tetap berada disana. Hal ini sungguh membuatku gila dan menyebabkan Rosie menjaga jarak dariku. Aku tidak meyalahkannya. Semua orang menganggapku gila. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai sahabatku-temanku satu-satunya melihatku dengan sudut pandang yang sama dengan orang-orang.
Sebelum pesta dansa dimulai malam ini, aku berniat untuk mengembalikan gaun yang Rosie berikan untukku. Lagipula aku tidak akan datang ke pesta dansa ataupun melakukan sesuatu yang menyenangkan di hari ulang tahunku. Setidaknya tidak tanpa sahabatku.
Hari ini, kami hanya sekolah sampai pukul 11. Kepala sekolah memberikan pengecualian kepada seluruh murid-terutama anak-anak perempuan untuk mempersiapkan diri untuk acara malam ini.
Bel pulang berbunyi. Aku cepat-cepat keluar dari kelas geografi dan mengampiri lokerku. Ketika aku sampai, Rosie menungguku disana. Dia tersenyum lebar ketika dia melihatku.
"Emily!" panggilnya sambil melambai-lambai, berusaha untuk mendapatkan perhatianku.
"Ada apa?" tanyaku. "Kau tampaknya senang sekali,"
"Memangnya siapa yang tidak senang? Malam ini pesta dansanya. Hari ini ulang tahunmu yang ke 13!"
"Rosie, aku tidak akan datang ke pesta dansa."
"Tetapi aku sudah membuat janji," rengeknya.
Janji? Mengapa harus membuat janji? Ini kan hanya pesta dansa konyol.
"Aku membuat janji dengan seorang hair stylish dan seorang make-up artist pada pukul 2. Setidaknya kita tidak akan terlihat seperti seorang anak 4 tahun yang mendadani dirinya sendiri di pesta dansa nanti."
"Ugh, baiklah!"
Rosie memekik girang dan melompat-lompat. "Ayo kita ke asrama, aku punya sesuatu untukmu." Lagi-lagi Rosie menyeretku ke asrama. Ini sudah menjadi hal biasa buatku, toh dia melakukannya setiap saat.
Kubiarkan Rosie menarikku sampai kami tiba di asrama. Ketika kami sampai, seperti dugaanku, Rosie melepaskan tanganku tetapi tetap melompat-lompat. Aku bersumpah akan membuat janji temu dengan psikolog untuknya.
Dia mencari-cari kunci pintu di tasnya. Entah apa saja yang dia jejalkan didalam sana, tetapi itu membuat Rosie kerepotan. Karena sedang menjadi teman yang baik, aku bukannya membantu mencari kunci, tetapi malah memainkan ponselku-notice the sarcasm.
"Bisa kau membantuku?" pinta Rosie tanpa mengalihkan perhatiannya dari tasnya. "Aku kerepotan disini,"
Aku tetawa kecil dibuatnya. "Tidak bisa, aku sedang sibuk."
"Kau tidak melakukan apapun selain memainkan ponselmu,"
"Hey! Setidaknya itu adalah suatu kegiatan! Dan aku memang sedang sibuk,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow (old ver)
Fantasy[NEW VERSION AVAILABLE! READ NOW ON OUR PROFILE] We do not own any of J.K. Rowling, Stephenie Meyer and Rick Riordan characters. Highest rank #1 in fantasy © 2015 by Melia F, Azarina W, Rani D, Fadhila D.
