Malamnya, personel meja keluarga Hongjoong bertambah dengan bergabungnya Jongho.
“Hng! Ini siapa yang masak?” Jongho mengernyitkan dahi. Nada suaranya sedikit meninggi.
“Kenapa? Enggak enak?” tanya Seonghwa khawatir.
“Hmm! Enak banget ini mah! Papi enggak pernah masak ini, Pak, eh Buk, eh Bu.” Ujar Jongho. Seonghwa terkekeh mendengar nya.
“Pelan-pelan bodoh! Kaga ada yang pengen minta makanan elu!” San memperingatkan adiknya, heran melihat Jongho makan dengan terburu-buru.
“Jongho belum makan?” tanya Wooyoung.
Jongho melirik Wooyoung “Belum Kak, dari pagi gue belum makan!” San terkejut. Jarang sekali Jongho menggunakan panggilan “kakak” saat berbicara dengan orang lain, bahkan dengan San sendiri.
“Mau punya Wuyo?” Wooyoung malah menawarkan makanannya.
“Ehhh! Wuyo ngapain? Jangan ih!” San menahan piring simanis agar tidak disodorkan pada sang Adik.
“Tapi Jongho belum makan San.”
“Ya tapi jangan dikasi punya kamu juga.”
“Kak Wuyo mah sayangnya sama gue, ya ga Kak?” Jongho menaik turunkan alisnya dan langsung dihadiahkan pukulan oleh San.
“Aduh, Kak, sakit!” Jongho mengaduh sambil berpura-pura meringis kesakitan.
“Uh? Sakit? Baba,” Wooyoung justru mengadu kepada Hongjoong.
“Dia Cuma bercanda, jangan percaya,” Hongjoong menenangkan Wooyoung.
“Iya, enggak usah di dengerin,” tambah San. Tetapi Wooyoung tetaplah Wooyoung, yang sulit mengerti situasi.
“Jangan dibecandain anjing! Gue sebar nih foto lo mau?!” bisik San. Ancaman itu langsung mengubah ekspresi Jongho. Yang awalnya pura-pura kesakitan kini berubah menjadi senyum terpaksa.
•••
Kini kakak beradik itu sudah berada di kamar San. Jongho terkapar di atas kasur setelah berhasil memenangkan permainan batu-gunting-kertas.
“Kayaknya gue tahu deh kenapa Papi ngasih lo HP,” kata Jongho sambil duduk bersila.
“Karena kemarin gue minta duit,” jawab San.
“Kaga,” sanggah Jongho.
“Apalagi? Biar bisa nelponin gue 24/7,” balas San kesal.
“Kepedean lo! Papi ngasih lo HP biar kaga mati konyol di sini.”
San bangkit, lalu duduk menghadap adiknya. “Mati? Lo enggak lihat seberapa senangnya gue di sini?” San bertanya sambil menunjuk wajahnya.
“Iya sih, lo jadi lebih hidup di sini. Tapi kok bisa, ya?” tanya Jongho heran.
“Bisa, lah. Kan ada Wooyoung.”
“Bang! Wooyoung itu idot! Lo mau ama anak idot?”
Matanya menajam, dan rahangnya mengeras. “Terus? Masalahnya buat lo?!” tanya San sedikit emosi
“Kaga ada, gue mah fine-fine aja, masalahnya itu di Papa sama Papi!” San menghela nafas panjang lalu menghempaskan tubuhnya keatas lantai beralaskan selimut. Karna kasurnya sudah dimonopoli oleh sang Adik.
“Ntar deh gue pikirin, gimana bilangnya,” jawab si sulung.
“Lah iya tadi gue pengen kasi tau alasan Papi ngasih lo hape!”
“Apaan?”
“Desa ini bakal diambil alih sama pemerintah.”
San menautkan alisnya bingung. Kembali mengubah posisi menjadi duduk. “Lah? Bukannya emang punya pemerintah? Sejak kapan Desa ini punya Kakek?”
“Iya, emang punya pemerintah. Tapi pemerintah pengen ambil alih tanah ini buat dijadiin lokasi pertambangan,” jelas Jongho.
Ketimbang tidak mengerti, San mungkin lebih ke denial. “Maksudnya? Anjing ini gimana sih?”
“Iya, San, tolol! Waktu itu Kakek ke rumah, dan gue enggak sengaja nguping. Mereka bahas soal ini,” kata Jongho setengah berteriak.
“Soal apa?”
“Soal ini bangsat!”
San terdiam, hanya bisa menjawab dengan ‘oh’ tanpa suara.
“Dan lo tahu, nyet? Kakek udah nerima uang ganti rugi. Lo tau artinya apa?”
“Apa?”
“Berarti Kakek udah setuju pantinya digusur Sanjing goblok! Kan fungsi uang yang Kakek terima buat balikin modal bangun nih panti San dongo,” Jongho sudah jengah menjelaskan.
“Enggak bisa gitu, dong! Terus mereka yang di sini gimana? Mau dipindahin ke mana?”
Jongho menatapnya lelah. “Kakek bilang mitra panti bakal dipulangkan ke keluarga masing-masing, kalo enggak punya keluarga, dipindah ke panti lain, buat pengurus bakal dikasih uang pisah. Kalo warga sini mau digusur baik-baik, bakal dikasih tempat tinggal dan lapangan kerja baru. Tapi kalau enggak, ya udah, digusur secara paksa.”
San menggaruk kepalanya. Ini membuatnya terpaksa menggunakan otak kecilnya. “Kenapa Kakek enggak pindah lokasi aja? Dan tetep lanjutin pantinya?”
“Engga tau. Kakek bilang enggak akan ngelanjutin pantinya.”
“Tapi emang kenapa sih warga sini enggak mau pindah?” tanya San.
“Ya, logika aja tolol! Ini desa, fuddy duddy. Mereka punya alasan apalagi selain alasan kuno? Kepercayaan mereka soal leluhur-leluhur tuh masih kental banget disini. Mereka ngerasa nih tanah punya nenek moyang mereka, enggak punya pemerintah.”
Jongho membenarkan posisinya, bersiap menjelaskan, layaknya seorang peneliti yang memaparkan hasil riset. “Gue udah riset dan udah ngumpulin beberapa informasi seputar isu ini, dan ternyata pemerintah udah sering kali kesini sejak 3 tahun terakhir, tapi hasilnya selalu sama. Mereka nolak migrasi. Kalo kata gua, mereka pada goblok sih,” San melirik, saat jeda menghampiri penjelasan Jongho.
“Ini desa kecil Bang, ilang dari peradaban juga enggak bakal ada yang ngerasa kurang. Karna emang nih desa juga enggak terlalu nguntungin banget buat dunia luar. Coba kalo mereka setuju, hidup di kota, punya kehidupan yang lebih maju. Hng? Lebih baik kan ketimbang disini?” tambah Jongho.
San diam, bingung harus bertindak seperti apa kedepannya.
“Gue tebak, kalo Kakek udah nerima uang ganti rugi, berarti tanggal mainnya udah dekat dan kemungkinan terburuk nya bakal terjadi!” San menatap Jongho
“Apa?”
“Apa aja. Bisa jadi mereka bikin gempa lokal atau pembakaran massal.”
“Gila lo? Bisa makan korban jiwa, woy!”
“Lo pikir pemerintah peduli? Enggak! Total kepala keluarga di sini cuma 826 dengan 2.627 jiwa. Komoditas desanya juga nggak guna-guna amat. Itu enggak ada apa-apanya di mata mereka ketimbang hasil pertambangan yang bakal ngasih mereka uang miliaran, bahkan triliunan! Mereka cuma butuh tanah ini buat tambang. Mereka nggak butuh popularitas kuno kaya mereka.”
San merasa frustrasi. Otak kecilnya sama sekali tidak berguna jika harus menghadapi hal seperti ini. “Terus? Kita harus gimana?”
“Kita? Sejak kapan ada urusannya sama kita? Siapin aja diri lo sendiri buat kabur,” jawab Jongho santai.
"Dan gue balik ke kota buat nyelametin diri gue sendiri?" tanya San, tidak percaya.
"Heh! Lo di sini bukan buat jadi pahlawan! Buat apa coba repot-repot?"
"Jiwa kemanusiaan lo di mana? Kalau seandainya desa ini beneran diratain, lo enggak ngerasa bersalah apa karena udah tahu duluan tapi enggak action apa-apa?" San menatap Jongho jengah.
"Lo kayak gini juga karena ada orang yang lo suka, kan?! Lo enggak pernah sepeduli ini sama orang, kalau lo lupa! Lagian, ya udah, lo tinggal bawa Wooyoung ke kota, selesai! Enggak sulit, kan?"
"Wooyoung doang? Terus warga desa? Semua orang yang ada di panti ini? Lo enggak mikirin mereka? Enggak semua orang pengin mati, Ho! Enggak usah egois!" Jongho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia frustrasi menghadapi sifat San yang sekarang.
"Terus? Lo mau apa? Lo punya power apa buat ngelawan pemerintah? Jangankan lo, Kakek saja belum tentu bisa!"
Jika dipikirkan lagi, kalimat Jongho ada benarnya. Tapi bukankah ada cara lain? "Pasti ada cara! Gue yakin!"
"Apa? Satu-satunya cara yang bisa lo lakuin cuma ngebujuk warga desa ini buat setuju sama pemerintah. Setelah itu, mereka aman."
"Ya udah, bakal gue coba."
“Tapi sayang banget ini desa kolotnya kebangetan. Orang gede aja enggak didenger, apa lagi orang kecil yang bukan siapa-siapa kaya lo. Mereka di iming-iming kehidupan yang lebih baik di kota aja nolak, apalagi cuma beralaskan keselamatan mereka doang!”
San mengacak-acak rambutnya, frustrasi. Ia merasa terjebak di antara dua pilihan sulit: mengikuti nalurinya untuk menyelamatkan desa, atau mengikuti logika Jongho yang menyuruhnya untuk menyelamatkan diri sendiri. Tapi ia tidak bisa membuang waktunya untuk mempertimbangkan semua itu, karena ia tahu, waktu terus berjalan, dan nyawa ribuan orang dipertaruhkan.
San menghela napas. Ia tahu, ia harus melakukan sesuatu. “Mana kunci mobil lo. Gue mau ketemu Kakek sekarang!” San menadahkan tangannya.
“Gila lo? Dari sini ke rumah Kakek dua jam!”
“Ya, terus kenapa?” San menantang.
Sang Adik mengehela nafas panjang sambil melemparkan kunci mobilnya. Jongho melirik jam yang menunjukkan pukul 10 malam, semoga saja pemuda itu sudah kembali sebelum matahari terbit karna ia sudah harus kembali ke kota pagi harinya.
