Enam

8.6K 955 50
                                        

Setelah makan siang, semua kembali ke kegiatan masing-masing. Kecuali San, yang harus pergi ke ruangan ketua yayasan atas perintah Seonghwa.

​Di sana, Seonghwa menyodorkan laptopnya yang menampilkan wajah Papi San, Wonwoo, yang sudah beberapa hari tidak ia lihat.
       
"Kamu kalo marah sama Papa, Papi jangan didiemin juga dong! Kenapa kamu nggak nelfon Papi, hah? Kamu nggak kangen apa sama Papi? Papi disini mikirin kamu siang malam, kamu udah makan apa belum, kamu..." Wonwoo terus berbicara tanpa henti, bahkan sebelum San sempat duduk dengan nyaman. Saking cepatnya Wonwoo bicara, San tidak lagi bisa mendengar semuanya dengan jelas.

“San!”

San menyandarkan punggungnya di sofa, lalu menatap kamera. “Hoh?”

“Hoh? Hoh kamu bilang? Dari tadi Papi ngomong kamu denger enggak?!”

“Denger kok, denger,” jawabnya malas.

“Papi udah berusaha ngebujuk Papa tapi kan kamu tau sendirilah gimana susahnya ngomong sama dia. Jadi, Papi bukan nggak mau nolongin—"

San meletakkan telunjuknya di bibir "Sstt...  udah, Papi. San enggak mau bahas itu. Sekarang San udah disini, udah kan? San cuma tinggal jalanin aja." 

Wonwoo terdiam menatap putranya "Kamu enggak mau protes lagi?" San menggelengkan kepalanya.

"Di sini not bad lah Pi, San suka."

Mendengar itu, Seonghwa dan Hongjoong tersenyum, sedangkan Wonwoo memasang wajah sedihnya, ternyata anaknya baik-baik saja tanpa dirinya.

"Disini ada Baba, ada Bubu, ada Yunho sama ada Wooyoung,” kata San sambil tersenyum.

 "Siapa Wooyoung?" tanya Wonwoo penasaran.

"Manusia lucu, hehe."

"Heh! Kamu jangan cari pacar ya di sana!"

 "Kenapa? Emang enggak boleh? Biasanya juga Papi nggak pernah ngelarang,” jawab San.

"Enggak ya San! Kamu disana buat ngejalanin hukuman! Bukan buat cinta-cintaan!"

"Nggak denger nggak denger!" San pura-pura tidak mendengarnya.

Secara bersamaan, di ruangan yang sama, percakapan lain terjadi antara Hongjoong dan Seonghwa.

"Kayanya San suka deh sama Wuyo.” Hongjoong mengangguk setuju.

"Tapi, dia belum tau kan kalo Wuyo itu cacat mental?” Seonghwa menoleh pada sang suami, "Apa kita kasih tau aja ya? Kasian kalo nanti dia kecewa sama Wuyo."

Hongjoong mengernyitkan dahi. "Kenapa harus kecewa Hwa? Kan bukan kemauan Wuyo juga jadi kaya gini."

"Joong, kamu pasti ngerti. San itu anak kota dan mindset nya pasti beda jauh dari kita."

"Tapi—"

Seonghwa dan Hongjoong menghentikan percakapan dan menoleh saat San datang dan menyodorkan laptop milik Seonghwa. Pasangan itu terus menatapnya selama beberapa detik.

​“Kenapa?” tanya San.

​“Kamu—”

​“Soal Wuyo?” potong San. Ia sudah mendengar semuanya sejak percakapan itu dimulai, itulah alasan mengapa ia segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Wonwoo. “San tahu kok, Yunho udah cerita. San terima Wuyo apa adanya.”

​Seonghwa dan Hongjoong terdiam, tak tahu harus berkata apa. Mereka tidak menyangka San sudah mengetahui kebenarannya dari anak mereka sendiri. Terlebih San sudah menerimanya.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang