Wooyoung meringkuk, tubuhnya menggigil dan masih sangat terkejut. "San jangan pergi." Wooyoung memohon disaat San ingin melepaskan pelukannya. Ia mencengkeram erat lengan San, tubuhnya menolak untuk melepaskan kontak fisik itu.
Tapi San terpaksa melepaskan pelukan karena teriakan Sooyoung dan amarah Woosan yang memuncak di luar. “San mau keluar bentar, sayang. Bentar aja,” bujuk San lembut, berusaha melepaskan pelukannya. Wooyoung menggeleng kuat. Ia tak ingin San meninggalkannya karena San adalah satu-satunya sosok penenang sekarang. Sungguh, Wooyoung merasa ada sesuatu yang sangat salah di tubuhnya, rasa sakit dan takut yang tidak bisa ia jelaskan. Ia benar-benar tak mengerti cara mengungkapkannya pada San.
Tiba-tiba, suara keras dari ruang tengah menghantam.
"ABANGG UDAH SAKITT!"
"Bentar, sayang. Bentar ya, bentar aja kok" janji San, mencium kening Wooyoung.
San segera bangkit, melepaskan diri dari Wooyoung yang kini hanya bisa mengeluarkan teriakan lemah dan memilukan. Ia bergegas keluar, mengabaikan sebentar suaminya demi menghentikan konflik fisik itu.
"Woosan, stop! Hey! Daddy bilang stop! Kamu ngerti enggak?!" San berdiri di antara kedua putranya, wajahnya menegang.
Woosan menatap Daddynya, napasnya memburu. Ia kemudian kembali melirik adiknya yang meringkuk. “Biadap lo anjing! Gak ada otak! Emang enggak ada artinya Mommy buat lo sialan! Kalo enggak karena Mommy, lo enggak bakal lihat dunia, bangsat!”
“Woosan, udah!” tegas San. Tapi sang anak tak peduli.
“Ada otak lo ninggalin Mommy di pinggir jalan?! Lo sendiri tau Mommy enggak tahu apa-apa kalau di tempat asing! Sendirian lagi! Udah gila lo hah?! Lo enggak mikir bahayanya, bangsat?!” Woosan kembali maju berniat melayangkan pukulan lagi sebelum San menahannya.
“Abang udah! Tenangin diri!”
“Abang kesel, Dad! Masa Mommy dibiarin pulang sendiri?! Dan Daddy tahu alasannya apa? Karena ada temennya! Dia malu kalo temennya tahu Mommy itu spesial!”
San menautkan alisnya. Kata-kata terakhir Woosan menghantamnya. Raut wajahnya berubah menjadi kekecewaan yang menusuk.
“Iya, Soyo?” San memanggil dengan nada datar. Sooyoung masih setia menyembunyikan wajahnya di lutut. “Daddy nanya sama kamu, Sooyoung!” Pemuda yang sangat amat mirip dengannya itu akhirnya mengangkat kepala dan mengangguk pelan.
"Kenapa enggak bilang?" tanya San. Baik Woosan maupun Sooyoung sama-sama terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Daddy apaan sih?” Woosan menatap Daddynya kesal.
San mengabaikan Woosan. Ia menatap Sooyoung, dan saat ia berbicara lagi, ia menggunakan panggilan formal—sebuah jarak yang lebih menyakitkan daripada pukulan.
"Kenapa enggak bilang sama saya kalau kamu malu bawa suami saya?!"
Sooyoung terdiam, matanya membola. Kalimat itu jauh lebih menusuk daripada sumpah serapah Woosan.
"Harusnya kamu bilang dari awal, Sooyoung! Jadi saya bisa nyisihin waktu khusus buat temenin Wooyoung ke supermarket dan enggak perlu nyusahin kamu. Enggak bikin kamu malu!”
“Berani-beraninya kamu menyakiti orang yang paling berharga dihidup saya Sooyoung!!!” bentak San, menggunakan bahasa formal yang menusuk.
Sooyoung kembali menunduk, diserang rasa bersalah dan malu yang tak terhingga. Kalimat San penuh dengan kekecewaan yang menghancurkan.
“Terimakasih karna sudah menunjukkan kualitas kamu kepada saya, dan saya akan mengingatnya.” Bahasa formal nya yang kaku seperti sebuah pisau dan setiap kata terasa seperti irisan pisau menyayat dalam.
Pada detik selanjutnya, pintu utama terbuka tanpa ketukan. Anak sulung Mingi dan Yunho masuk. Yugi melirik sekilas kearah Sooyoung yang ketakutan, Woosan yang marah, dan San yang kecewa. Ia segera berlari menuju kamar San dan Wooyoung, seolah mengerti situasinya tanpa perlu bertanya.
Yugi masuk dan langsung duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Wooyoung yang terasa dingin. “Mommy.”
Wooyoung mencoba tersenyum, tetapi Yugi melihat ada yang salah. Sudut kanan bibir Wooyoung tampak tertarik ke bawah, tidak simetris. Kerutan di sekitar mata Wooyoung juga hanya terlihat di sisi kiri.
“S-sannn,” Wooyoung berusaha memanggil suaminya, tetapi yang keluar hanyalah suara pelo dan tidak jelas. Ia mencoba mengangkat tangan kirinya untuk menunjuk pintu, tetapi lengannya jatuh kembali, terasa lemas.
“Astaga, Mommy?” Yugi bergumam, merasakan kepanikan dingin merayap. Ia tahu ini bukan hanya karena kelelahan.
Tiba-tiba, mata Wooyoung kehilangan kontak. Pupil matanya melebar dan bola matanya miring ke kanan atas, bergerak tak terkontrol. Wooyoung berusaha menarik napas, tetapi suaranya tercekat. Tubuhnya menegang sesaat, dan kemudian datanglah serangan yang menghancurkan. Tubuh Wooyoung mulai kejang-kejang, Kejang itu terutama melibatkan sisi kiri tubuh Wooyoung—lengan dan kakinya menyentak-nyentak ritmis dan tak terkontrol, sementara sisi kanannya tampak lumpuh lemas. Mulutnya mengeluarkan buih tipis.
“Astaga Mommy kenapa?!” Yugi panik dan hanya mampu mengguncang tubuh itu sebentar sebelum akhirnya “DADDYY!!!!” Ia berteriak histeris, suaranya menusuk seluruh rumah.
San segera masuk, diikuti Woosan, dan mereka sama-sama terkejut ngeri atas apa yang mereka lihat.
"Wuyo?? Heyy! Sayang kamu kenapa?!" San memeluk kepala kekasih hatinya erat, menahannya agar berhenti.
"Mommy kenapaa?" Woosan menggenggam tangan Wooyoung yang menyentak.
"Sayang, jangan gini, San mohon! San takut!" San meratap.
Kejang itu tiba-tiba berhenti. Gerakan menyentak itu mereda. Wajah Wooyoung pucat pasi, ia mulai terkulai lemas dengan mata tertutup. Napasnya menjadi dangkal dan terputus-putus.
"Sayang? Hey! Wuyo! Wuyoo!" San bertambah panik. Ia menyentuh leher suaminya, memastikan denyut nadi masih ada.
"Woosan, ambil mobil!! Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak San, suaranya pecah, setelah menyadari sesuatu yang jauh lebih serius.
•••
San duduk di depan dokter ahli saraf, wajahnya membeku, kakinya gemetar. Diagnosis Wooyoung adalah pukulan telak yang menghancurkan hidupnya.
“Bapak San, setelah pemeriksaan CT scan dan MRI, kami memastikan bahwa Bapak Wooyoung mengalami Stroke Iskemik Akut,” jelas dokter itu dengan nada tenang. “Ini terjadi karena adanya penyumbatan total pada salah satu arteri serebri di otak, kemungkinan besar di cabang Arteri Serebri Media, yang bertanggung jawab memasok darah ke area motorik dan bicara.”
Dokter itu menunjuk sketsa otak. “Sel-sel otak di area tersebut mati karena kekurangan oksigen. Itulah yang menyebabkan kelemahan pada otot wajah, bicara pelo dan memicu kejang-kejang yang Bapak lihat.”
“Kalau boleh tahu, berapa lama Wooyoung mengalami kejang-kejang?” Dokter bertanya.
“Saya enggak tahu pasti, Pak,” San menunduk, tangannya menggepal. “Kejang fokal setelah stroke biasanya berlangsung singkat, 30 detik hingga 2 menit. Namun, karena kejangnya cukup keras, ini menunjukkan tingkat iritasi listrik yang tinggi di sekitar area infark. Waktu sangat menentukan di sini.”
San menghela napas yang hampa, rasa sesal menenggelamkannya. Ia menyalahkan diri sendiri karena memprioritaskan amarah pada Sooyoung daripada kehangatan pada Wooyoung. Ia merasa gagal total—gagal melindungi suami dan gagal mendidik putranya.
Dokter itu menyerahkan sebuah map. “Ini hasil tes neurologisnya. Wooyoung harus menjalani observasi ketat di Unit Perawatan Stroke kami selama beberapa hari untuk mencegah serangan kedua.”
San mengambil map itu, kertas-kertas di dalamnya terasa dingin dan memberatkan. Ia bangkit dan berjalan menyusuri koridor.
"ENGAKKK!"
Mendengar itu, San segera berlari ke ruangan tempat Wooyoung dirawat. Pemandangan di depannya adalah kekacauan yang terkontrol: Wooyoung sedang berada dalam kondisi agitasi akut pasca-kejang yang membuatnya mencoba melepaskan semua perangkat medis.
Dua perawat sedang berusaha menahan pergelangan tangan Wooyoung, sementara Yugi dan Woosan membantu menahan lengan dan bahunya. Wooyoung merasa terancam dengan adanya selang dan alat monitor di tubuhnya.
“ENGAKKK! SANNNN!” teriak Wooyoung, matanya panik.
San langsung menyentak masuk. Ia memberikan map diagnosis itu kepada Yunho, lalu segera mendekati suaminya.
Sambil dibantu perawat, San memeluk kepala Wooyoung dengan hati-hati. "San di sini, sayang. Liat, San disini," San berbicara dengan suara rendah, berusaha menjadi satu-satunya obat paling ampuh yang Wooyoung punya.
Perlahan, perlawanan Wooyoung mereda. Perawat dengan cepat memastikan semua kabel monitor dan infus IV terpasang dengan aman, lalu mundur.
"San di sini, sayang. San di sini..." ulangnya berkali-kali sembari mencium puncak kepala Wooyoung.
Di sudut ruangan, Yunho memegang map itu. Membaca laporan medis itu bersama Mingi, Hongjoong, Seonghwa, dan juga anak-anak. Jargon seperti "iskemia di Middle Cerebral Artery kanan" dan kebutuhan akan terapi anti-platelet hanya menambah ketegangan. Mereka semua mendesah kecewa, beban prognosis jangka panjang kini menjadi nyata.
Sooyoung, menatap Wooyoung yang masih berada didalam pelukan San. Air matanya mengalir tanpa suara. “Maafin Soyo,” isaknya.
Woosan mendekati adiknya. Ia tidak memeluk, tetapi menepuk bahu Sooyoung dengan canggung. “Semua salah Soyo, Bang. Soyo yang udah jahat sama Mommy,” isak Sooyoung, dihancurkan oleh penyesalan.
Woosan menghela napas, rasa kecewa pada adiknya tidak hilang, tetapi ia harus mengambil peran yang lebih stabil, seperti yang selalu dilakukan Daddynya.
Si sulung mendekati sang Mommy, mengambil tangan yang selalu mendekapnya hangat itu dan mengusapnya. Ia memaksakan senyum yang lembut. “Mommy tahu enggak? Di luar ternyata ada yang jual coconut cake loh, kesukaan Mommy. Mereka baru buka.”
Wooyoung melirik seolah memastikan kebenaran berita itu. Woosan mengangguk seolah paham. “Iya loh, sayang. Wuyo mau?” San mengiyakan kebohongan demi menstabilkan emosi Wooyoung.
Wooyoung mengangguk lemah, lalu menunjukan tiga dari jarinya. San sedikit menunduk "Kenapa banyak banget, hng?"
Wooyoung balas menatap. "Wuyo... Osan... Soyo..." Walaupun lemah, insting Wooyoung untuk berbagi dan memastikan anak-anaknya bahagia tetap utuh. San tersenyum mendengar itu.
“Osan beliin dulu ya, Mom? Osan bakal cepet, tunggu ya.” Woosan berjanji, dan Wooyoung mengangguk lemah.
•••
Dokter kembali bersama dua orang perawat, sedikit terkejut melihat Wooyoung sudah lebih tenang, menikmati coconut cake.
“Oh, lagi makan cake ya?” Dokter tersenyum tipis, lalu tatapannya beralih serius ke San. “Mulai sekarang, Bapak Wooyoung harus menjalani diet pencegahan sekunder secara ketat. Ini untuk menghindari serangan stroke kedua.”
Dokter itu menekankan. “Wooyoung harus benar-benar mengurangi gula, garam, lemak trans, dan lemak jenuh yang ditemukan pada makanan olahan dan instan. Fokus utama adalah pada makanan yang kaya kalium seperti pisang, alpukat, dan sayuran hijau untuk membantu mengontrol tekanan darah. Pola hidup harus berubah total mulai hari ini!”
Wooyoung menatap San, matanya dipenuhi kebingungan, tidak mengerti apa yang pria tua itu bicarakan. San menggenggam tangan Wooyoung hangat, memberikan senyuman penenang.
Dokter paruh baya itu mengusap bahu San. Seolah sedang menyemangati. San mengangguk, menerima bahwa kini perjuangan mereka adalah maraton jangka panjang, dimulai dari piring makanan Wooyoung.
