Sebelas

7.5K 829 65
                                        

“Saya minta maaf, ya, Nak San, atas nama desa,” ucap Ayah Mingi, kepala desa, yang duduk di kursi kemudi.
         
San yang berada di belakang hanya tersenyum tipis, matanya menatap kosong ke depan.
         
“Saya akan coba bicarakan lagi. Nak San sudah cukup membantu,” tambahnya.
         
San membalas dengan senyuman, tetapi kali ini disertai helaan napas berat. Ia menatap Wooyoung yang sudah terlelap di sebelahnya, masih dalam posisi memeluknya. Bahkan saat San harus mengobati lukanya, Wooyoung tetap tidak mau melepaskan pelukan itu. Luka di kepalanya juga tidak terlalu parah, sehingga San bisa langsung kembali ke panti tanpa harus dirawat.
         
San mengusap lembut rambut Wooyoung, lalu mengecup puncak kepalanya. Wooyoung menggeliat dalam tidurnya.
         
“San... San sakit...” gumam Wooyoung, suaranya parau.
         
“Enggak, sayang, San enggak sakit. San gapapa,” bisik San.
         
“Jangan sakit, San... nanti Wuyo nangis...”
         
San menelan ludah, hatinya mencelos. Ia tidak menyangka Wooyoung akan bereaksi sejauh ini. Luka yang ia pikir tidak seberapa, ternyata adalah hal yang menakutkan bagi Wooyoung.
         
San mempererat pelukannya pada Wooyoung, menenggelamkan wajahnya di rambut Wooyoung yang halus. “Enggak, Wuyo. San enggak akan sakit. San janji,” bisiknya, suaranya bergetar. San berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membuat Wooyoung khawatir seperti ini lagi.
         
“Kayaknya mau hujan, deh? Hitam banget awannya,” celetuk Mingi yang duduk di kursi depan, di sebelah ayahnya.
         
“Iya, kayak mau badai juga,” timpal Yunho. Mereka hanya melihat ke arah atas, tidak memperhatikan hal lain.
         
Sementara itu, San yang sejak semalam sudah overthinking langsung melihat sekeliling, berharap ini bukanlah asap hasil dari pembakaran. Untungnya tidak, itu benar-benar awan hitam yang akan menurunkan hujan.

Drrttt...
          
Tiba-tiba ponsel Yunho bergetar.
         
“Bubu?” Yunho menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
         
“Iya, Bu?”
        
“Kalian di mana?”
         
“Ini udah deket gapura masuk.”
         
“Lewat belakang, ya.”
         
“Loh, kenapa?”
         
“San ditungguin warga desa. Bubu takut nanti kenapa-kenapa.” Yunho melirik San yang ternyata juga memperhatikannya.
         
“Oh, iya deh. Nanti Yunho lewat belakang, langsung ke panti.”
         
“Hati-hati, ya.”
         
“Iya, Bu.”
         
“Ayah, kita lewat belakang aja, ya,” ujar Yunho. Kepala desa menatap calon menantunya lewat kaca spion.
        
“Kenapa?”
        
“San ditungguin warga. Bubu nyuruh lewat belakang aja.” Pria itu mengangguk paham. San hanya bisa diam, tidak mau memberikan komentar apa pun.
         
Mereka pikir dengan menghindari warga, San akan aman, tetapi ternyata mereka salah. Saat mobil memasuki jalan utama menuju panti, terdengar riuh suara teriakan dan yel-yel yang memekakkan telinga. Wooyoung yang tadinya terlelap dalam pelukan San, terbangun. Matanya membulat penuh ketakutan saat melihat kerumunan warga yang membawa kain dengan tulisan dari cat pilox dan obor di depan gerbang panti.
         
Para pengurus sudah berusaha mengendalikan keadaan, tetapi suara mereka kalah dengan teriakan warga. San, yang melihat kekacauan itu, berusaha keluar dari mobil, tetapi Hongjoong menahannya.
         
“San! Jangan!”
         
Jantung San berdegup kencang. Ia menatap Wooyoung yang gemetaran di pelukannya, lalu menatap kerumunan yang semakin beringas. Ia tahu, jika ia keluar dari mobil, tidak ada yang bisa menjamin keselamatannya. Sedangkan janji untuk tidak lagi membuat Wooyoung khawatir baru saja ia lafazkan di dalam hati. Mungkin kali ini San harus bersabar.

•••
       
Di bawah langit malam yang pekat, San memandang Wooyoung yang duduk di sampingnya. Ia telah berdiskusi panjang dengan Hongjoong dan Seonghwa, tetapi hasilnya nihil. Mereka menolak dengan tegas, “Demi keselamatan kamu, San. Ini satu-satunya jalan.”
       
San menghela napas, rasa sakit dan kehancuran menindih hatinya. Ia tidak bisa membayangkan harus memutus ikatan dengan Wooyoung. Ia menatap Wooyoung yang sedang asyik bermain dengan tangannya, seolah tak terjamah oleh kekejaman dunia. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar. Di luar, suara teriakan warga masih terdengar, membuat malam terasa mencekam.
       
San menggigil, teringat bagaimana warga desa melemparkan batu kepadanya, bagaiamana mereka semua mengepungnya. Wooyoung yang merasakan tubuh San bergetar hebat, segera merangkulnya erat. “San... jangan takut...” bisik Wooyoung, suaranya menenangkan seperti melodi yang hilang.
      
San menoleh, jiwanya tersentak. Sosok polos ini mengerti tanpa satupun penjelasan verbal. San mempererat pelukannya hingga nyaris tanpa jarak, seolah Wooyoung adalah jangkar terakhirnya dan satu-satunya sumber kehangatan yang ia miliki sekarang. “Wuyo, San takut,” bisiknya, suaranya pecah karena pengakuan yang jujur itu.
      
Wooyoung menenggelamkan wajahnya di dada San, mengusap punggung San dengan gerakan berulang, seolah-olah ia adalah yang terkuat di antara mereka. San memiringkan kepalanya, menghirup aroma manis Wooyoung yang selalu menjadi penangkal bagi ketakutannya. San mencium puncak kepala Wooyoung dengan lembut dan lama, sebuah ciuman yang sarat janji bahwa ia akan melindungi momen ini. Ia mengecupi berulang kali di sisi pelipis Wooyoung, seolah ingin menanamkan kasih sayangnya di sana.
     
“San sayang Wuyo,” bisiknya lagi, kali ini lebih tegas.
     
Malam itu, mereka habiskan dalam dekapan yang intim. San mulai menceritakan dongeng tentang seorang pahlawan yang melindungi desanya dari naga. Wooyoung mendengarkan dengan saksama, sesekali tertawa riang saat San mengubah suaranya. Hingga akhirnya, Wooyoung tertidur pulas dalam dekapan San yang juga ikut memejamkan matanya, membiarkan waktu berjalan lambat, berharap ia bisa membekukan momen ini selamanya.

•••
          
Jam menunjukkan pukul 11:30 malam. Hujan deras mengguyur, tetapi Jongho tidak peduli. Ia terus berlari, napasnya tersengal, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan air hujan. Wajahnya pucat, ia harus segera menemukan San.
         
"Bangsat! Dikasih HP bukannya dibawa kemana-mana, malah dijadiin pajangan kamar! Anjir, gue nggak mau mati konyol di sini!" monolognya sambil terus berlari. Hingga akhirnya, ia melihat seorang satpam yang tengah berpatroli.
         
"Pak! San di mana, ya?"
         
Satpam itu menatap Jongho dari atas sampai bawah, alisnya terangkat. "Kamu siapa?"
         
"Saya adiknya," jawab Jongho, tidak sabar.
         
"Bener?" tanya satpam itu, lebih waspada karena kasus yang tengah dialami San.
         
"Duh, siapa sih yang pengin bohongin Bapak? Cepetan!"
         
"Oh, iya. Di rumah Pak Hong. Kamu lurus saja ke bagian kanan, nanti ketemu taman, jalan aja sampai ujung, ada rumah warna putih atapnya terakota, nah, itu rumah Pak Hong."
         
"Oke, makasih, Pak!" Jongho berlari menuju koridor yang diarahkan satpam.
         
"Tapi, kamu benar adiknya, kan?" teriak satpam.
         
"Bacot!"
         
"Heh, enggak sopan kamu!"
         
Jongho tidak peduli. Ia hanya ingin membawa San keluar dari sini.

Tok tok tok!

"Cih, San! San!"
         
Jongho memukul pintu rumah dengan lebih kencang, suaranya dipenuhi amarah dan kepanikan. Ia mengintip sedikit dari kaca, tetapi yang terlihat hanya ruangan gelap yang diterangi lampu remang-remang.

Brak brak brak!

Ceklek ceklek...
         
Jongho bahkan berusaha membuka gagang pintu yang terkunci. "Abang!" ia berteriak, menggunakan jurus andalannya.
        
"Jongho?" Akhirnya, San mengeluarkan suara emasnya.
        
"Bangsat! Dari tadi kek! Keluar nggak lo!" Jongho berteriak. Tak lama setelah itu, pintu terbuka, memperlihatkan San dengan Hongjoong di belakangnya.
        
"Ayo!" Tanpa penjelasan apa pun, Jongho menarik tangan San.
       
"Ke mana?!" San menolak.
        
Jongho menatap San dengan frustrasi, napasnya tersengal-sengal.
          
"Jangan bilang sekarang!" Tebak San yang langsung di jawab anggukan.
         
“Iya! Makanya dikasih HP bukan buat pajangan kamar! Dari sore semua orang coba buat ngehubungin lu!” teriak Jongho. Ia mengangkat tangannya, berniat memukul kepala San, tetapi ia terhenti saat melihat ada perban di sana.
         
“Loh? Ini kenapa?”
          
“Gapapa.” Jawab San singkat.
         
Jongho menatap San, tidak percaya, tetapi ia merasa sekarang itu tidak terlalu penting. Ia harus membawa San keluar dari desa ini sebelum pukul 12 malam. “Ayo!”
         
“Tunggu! Terus yang lain?”
         
Jongho menatap San jengah. Lagi-lagi San bersikap seperti pahlawan super. Padahal mereka berdua bisa pulang dengan selamat saja merupakan anugerah. “Ya udah, semua yang ada di rumah ikut kita. Lagian, mobil gue enggak muat banyak.”
         
San berbalik, menatap Hongjoong. “Ba, kita harus pergi sekarang!” Hongjoong mengangguk, lalu masuk ke dalam untuk membangunkan yang lain.
         
“San,” panggil Jongho. Andai saja situasinya tidak genting, Jongho pasti sudah mendapatkan satu pukulan dari San.
         
“Apaan?” jawab San ketus.
         
“Jam 12,” Jongho menggantung kalimatnya. “Bomnya.”
          
“Di mana?”
          
“Enggak tahu.”
          
“Kita harus kasih tahu warga buat ngungsi.”
          
Jongho mengusap wajahnya kasar. “Kita enggak punya waktu! Sekarang aja udah 11:36! Bomnya jam 12! Lo mau ngapain dalam kurun waktu 14 menit?! Jinakin bom? Sejak kapan anak arsitektur tahu caranya?”
         
San menatap Jongho, tidak percaya. “Tau dari mana lo?!”
         
“Ya, gue tahu. Tapi, itu pilihan lo. Intinya sekarang kita pergi! Gue, atau bahkan lo dengan gaya sok keren lo itu, enggak ada yang bisa nyelamatin desa ini!” ucap Jongho, penuh penekanan.
         
“Yang lain?”
         
“Bang! Gue tahu lo peduli, tapi kita enggak punya pilihan lain selain nyelamatin diri sendiri dulu. Dari awal kita enggak punya kuasa apa pun buat lawan pemerintah. Bahkan gue bisa jamin, pengeboman ini enggak bakal diusut. Bakal jadi misteri buat semua orang.” Jongho menatap San tepat di kedua matanya. “Walaupun lo enggak bisa nyelamatin semua orang, minimal lo bisa nyelamatin satu keluarga dan diri lo sendiri.”
         
San menghela napas panjang. Ia tahu, ia akan merasa bersalah seumur hidup jika benar-benar meninggalkan warga desa ini.
       
San berbalik, pandangannya menyapu semua orang yang berkumpul. Matanya berhenti pada Wooyoung yang bahkan tidak membuka matanya, terlelap dalam pelukan Seonghwa. Ditangannya, Wooyoung masih menggengam buku yang San bacakan tadi, pahlawan yang menyelamatkan desanya dari naga. San terkekeh, hatinya menghangat melihat pemandangan itu.
         
"Wuyo," panggil Seonghwa. Wooyoung membuka matanya sesaat, tetapi kemudian kembali menutupnya.
          
"Gapapa nanti kita tidur di mobil," kata San, lalu mendekat ke arah Wooyoung. “Wuyo bisa jalan, hm?” ia bertanya, mengusap lembut surai Wooyoung.
         
Wooyoung menggelengkan kepalanya. “Wuyo... ngantuk, San.”
         
San tersenyum dan dengan senang hati membalikkan badannya agar pemuda manis itu bisa naik ke atas panggungnya.
         
Jongho melihat semua itu, dan untuk pertama kalinya ia melihat San mencintai dengan setulus itu. Tatapan matanya, senyumannya, kasih sayang yang ia berikan, dan nada suaranya. Jongho bertanya-tanya, sejak kapan San jatuh cinta sedalam itu dengan Wooyoung?
         
“Nanti kita ketemu di pertigaan depan, ya? Baba mau ngasih tahu mitra sama petugas yang lain dulu,” ucap Hongjoong sebelum pergi meninggalkan mereka semua. Seonghwa menatap nanar kepergian suaminya, seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi.
         
“Nanti kita jemput Baba lagi,” Yunho meyakinkan sambil menggenggam erat tangan Seonghwa.
         
“Ya udah, ayo!” Jongho menjadi satu-satunya orang yang masih memikirkan waktu. Baginya, setiap detik sangat berharga.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang