Dua

12.7K 1.2K 128
                                        

Kini, San dibawa oleh pasangan itu menuju ke bangunan paling belakang yang terdapat di area panti.  Dari sudut pandang San selaku anak kota, bangunan itu terlihat seperti  hunian vertikal di kawasan padat penduduk. Terdiri dari tiga lantai dengan fasad modern berwarna abu-abu dan krem. Jendela-jendela kecil berderet rapi di setiap lantai, dihiasi pagar balkon besi berwarna putih yang serasi dengan bingkai jendela. Di sisi kiri bangunan, terdapat tangga berwarna hitam yang meliuk-liuk dari lantai atas hingga ke dasar, sebagai satu-satunya akses untuk naik dan turun. Berdasarkan penjelasan Hongjoong, itu merupakan gedung khusus untuk hunian para pengurus, dan satu pengurus diberikan satu unit.
         
“Kamar kamu yang ini, ya, San.” Seonghwa menyerahkan kunci dengan keychain angka sepuluh. Posisinya cukup strategis, di mana ini merupakan unit paling ujung di lantai dua dekat dengan tangga. Jadi, San tidak perlu repot-repot melewati unit orang lain untuk bisa menuju tangga turun ke lantai dasar.
           
“Semua keperluan kamu udah ada di dalam, untuk seragam juga udah saya siapkan di gantungan baju, di sudut kanan ruangan. Ada label harinya di setiap gantungan, jadi pake sesuai hari, oke? Oh iya, jadwal dan peraturan panti yang harus kamu baca, ada di meja. Mengerti? Ada pertanyaan?”
           
Seonghwa menatap San yang hanya menggeleng.
           
“Ngerti enggak ngerti lah, gue pengen tidur!”
           
“Kalo gitu kamu boleh istrahat dulu. Nanti jam tujuh kita makan malem bareng di kantin.” San hanya mengangguk pura-pura mengerti, bahkan hingga pasangan itu pergi San tetap tak bisa mencerna satupun dari penjelasan mereka.
           
Setelah memastikan mereka pergi, San masuk kedalam kamarnya dan terdiam sejenak.
           
“Hah?! Ini kamar?! What the fuck? Segede toilet gua! Papa ini gimana sih?”
           
San menutup pintu, lalu memindahkan kuncinya ke bagian dalam. Ia menatap sekeliling dengan dahi berkerut. Kamar ini hanya menyediakan satu kasur kayu, nakas senada di sampingnya, sebuah lemari besar yang sedikit reyot di sebelah pintu toilet, satu set meja dan kursi, yang di atasnya terdapat sebuah map kertas dan radio, dan gantungan seragamnya yang tadi sempat dibahas Seonghwa. Satu-satunya ruangan lain yang ada di ruangan ini hanyalah toilet. San melangkah memastikan betapa sempitnya ruangan itu.
           
“Kecil banget! Argh!!”
           
San menggaruk kepalanya yang gatal melihat betapa kecilnya toilet yang satu ini. Ia membayangkan satu bulan penuh akan hidup di tempat ini sendirian, tanpa gawai, dan hanya ditemani sebuah radio jadul.
           
“Terus gue mau ngapain? Ngitungin cicak? Semut? Atau dengerin nih radio biar kek kakek-kakek?? ARGHH ANJING!” teriaknya frustasi.
          
San menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. Ia bahkan belum mandi, mencuci muka, apalagi sikat gigi. Ia masih mengenakan kaus putih polos dan celana pendek ungu yang ia pakai semalam. Mingyu benar-benar menyeretnya keluar dari kamar dalam keadaan masih terlelap, tergulung selimut, dan membawanya kemari tanpa memberinya waktu untuk mencerna apa pun.
         
"Hadeh...” San bangkit, berjalan menuju toiletnya yang mungil. Ia ingin mandi, dan setelah itu, berniat untuk kembali tidur. Tubuhnya sudah lelah setelah bersandiwara, menangis, dan membujuk Mingyu sepanjang perjalanan.

•••
        
"San? San..."
         
San merasakan tubuhnya diguncang halus. Perlahan, ia membuka mata dan mendapati seorang pemuda bertubuh tinggi dengan kulit seputih susu.
          
"Lo?" tanyanya bingung, mencoba mengenali siapa orang di hadapannya. "Lo siapa? Kok bisa masuk kamar gue?" San segera mengubah posisinya menjadi duduk.
        
"Aku Yunho, anak ketua panti," balas pemuda itu. "Tadi aku udah manggil dari luar, tapi kamu enggak respon. Karna kebetulan pintunya nggak dikunci, jadi aku masuk. Maaf nggak sopan."
         
San hanya mengangguk. "Hm, gapapa.”
           
"Ohiya, udah jam makan malam. Kamu nggak kekantin? Tadi Bubu aku nyariin.”
            
San menautkan alisnya bingung, “Bubu? Bubu siapa?”
           
“Bubu itu sama kaya manggil Mama.” Jawab Yunho
          
“Owhh Pak Hwa?” Yunho  mengangguk
           
“Kalo Pak Hong? Lo manggil apa?” San kembali bertanya.
           
“Baba.”
            
San mengangguk paham, sepertinya pemuda yang lebih tinggi darinya ini bisa dijadikan teman. Ya, dari pada harus menghabiskan harinya berteman dengan radio. Mungkin lebih baik memiliki seseorang yang bisa diajak bicara.
           
“Bentar ya, gue cuci muka dulu.” Yunho mengangguk.
            
Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju kantin yang ternyata berada di gedung utama. Beruntung Yunho menjemputnya, karna kalau tidak, San pasti sudah tersesat karena tidak tau di mana posisi kantin panti ini berada.
            
“Btw, lo juga jadi pengurus disini?” tanya San.
             
Sejujurnya, pertanyaan itu hanya basa-basi. Dari seragam Yunho yang lengkap dengan nama bordir di dada, sudah jelas bahwa mereka berdua memiliki posisi yang sama.
             
“Iya, kamu juga bakal jadi pengurus disini kan?”
              
“Hm.” gumamnya.
              
“Semoga betah yaa.” San tersenyum, ia senang mendengar tutur kata Yunho yang lembut. Berbeda dari gaya berbicara teman-temannya  di kota yang seperti tidak pernah di sekolahkan.
            
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan besar yang riuh rendah. Suara denting sendok dan obrolan samar memenuhi udara. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang tengah menyantap makanannya. Sebagian lagi berlalu-lalang sambil membawa nampan makan, mencari tempat kosong.
           
San menoleh ke sisi kanan setelah pintu masuk. Matanya langsung disuguhkan deretan makanan prasmanan yang siap untuk dicicipi.
          
“Nih,” Yunho menyodorkan sebuah nampan makan lengkap dengan sendok dan garpu.
            
San menerimanya, dan mulai mengambil nasi seperti yang Yunho lakukan. Tapi, ia tidak melakukan kegiatan Yunho yang selanjutnya, yaitu mengambil lauk pauk. Karena, San tak pernah mencoba satupun dari hidangan yang ada disini kecuali nasi.
            
“Maaf, nak? Kenapa?”
            
Suara seseorang di balik meja prasmanan membuat San tersadar dari lamunannya. Yunho juga ikut berbalik menatap San yang berdiri agak jauh darinya.
           
“Kamu ada alergi nggak?” tanya Yunho.
            
San menggeleng, ya karna ia tidak memiliki alergi tertentu untuk makanan.
          
“Kalo gitu semua aman, lagian makanan disini enak kok.” Yunho berusaha meyakinkan.
           
Tapi San tetap diam, ia tidak mengambil satupun yang ada disana, karna sejujurnya, ia tidak tau apa yang harus ia ambil.
          
Untungnya Yunho berinisiatif untuk mengambil beberapa lauk dan meletakkannya diatas nampan San. Setelahnya, ia menarik pemuda kota itu ke meja yang sudah diisi oleh kedua orang tuanya.
           
Hongjoong dan Seonghwa yang melihat kedatangan anaknya bersama San, segera melemparkan senyuman ramah.
           
“Maaf, ya, makanan disini nggak kaya dikota,” Seonghwa memberikan kalimat itu sebagai sambutan untuk San
          
“Gapapa Pak.”
          
“Manggil Bubu aja kaya Yunho.” San mengangguk kaku, lalu fokusnya teralihkan pada sosok yang duduk tepat di sebelah Hongjoong. Pemuda itu seolah tak peduli dengan kehadirannya, ia sibuk dengan makanannya sendiri. Ingin bertanya tapi ia rasa tak perlu, karna mungkin itu adalah adik Yunho
          
“Tadi...” tiba-tiba San kehilangan fungsi pendengarnya saat pemuda yang duduk di sebelah Hongjoong itu mengangkat kepala dan melihat kearahnya. Manik rubah itu menatapnya dengan kepolosan yang memabukkan, memancarkan keindahan murni yang mengunci pandangannya, tak memberinya celah untuk berpaling. Seolah waktu untuk San berhenti. Membiusnya dalam pesona yang tak terlukiskan. Tapi itu tidak hanya terbatas pada kilau mata, lekuk hidung yang sempurna, bibir yang mengundang, hingga porsi wajah yang terukir tanpa cela. Semuanya sempurna. Jiwa San berteriak, berseru pada tuhan mengapa setelah 25 tahun hidup di dunia, ia baru dipertemukan dengan mahakarya tuhan seindah dan secantik ini.
           
“Bangsat! Masa gue kepincut sama anak panti?! Lagi kena kutuk kali nih mata!” San membatin.
          
"...San?” San tersentak, ditarik paksa kembali ke dunia nyata. Ia berkedip sekali, lalu dua kali, menatap bingung kedua sosok,—Hongjoong dan Seonghwa—yang kini duduk di hadapannya.
           
“Ini Wooyoung,” Hongjoong merangkul pemuda yang tadi sempat menjadi fokusnya untuk sesaat.
           
San kembali tersenyum kaku “Ah iyaa.”
         
“Manis kan?” San beralih pada Seonghwa, apa pria itu menyadari tatapan memuja San tadi? Apa sekentara itu?
         
“Ouh? Hahaha,” San terkekeh pelan, tawa palsunya nyaris pecah. Ia segera menunduk, pura-pura fokus pada makanannya. Sejujurnya, ia hanya mencari pengalihan. Pikirannya kosong, dan seluruh sistem pertahanannya mendadak down karena malu dan kebingungan harus bertindak seperti apa di depan pesona yang tak terduga itu.

•••
        
Selesai dengan makan malam. San memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Seonghwa mengatakan bahwa ia sudah harus ke kantin besok pukul 7:45 untuk sarapan pagi lalu dilanjutkan senam bersama di lapangan. Pikiran San langsung menerawang membayangkan bagaimana gerak senam yang ada disini? Apa seperti senam Ibu ibu? Senam anak TK? Atau mungkin sparko?
          
“Neol saranghaji ana.”

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang