Tiga belas

5.8K 671 99
                                        

Tujuh tahun telah berlalu sejak malam kelam itu. Waktu berputar begitu cepat, membawa kehidupan baru yang lebih cerah. Wooyoung dan San kini telah menikah selama empat tahun, dan putra mereka, Woosan, kini berusia tiga tahun. Woosan tumbuh pesat, terutama soal lisan. Ia sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik dan benar, meskipun ia masih sering salah mengucapkan beberapa huruf, tapi itu bukan masalah. Di rumah, tawa dan celoteh Wooyoung dan Woosan menjadi musik yang paling merdu untuk San. Tiada hari tanpa perdebatan Wooyoung dan Woosan, tidak jarang pula berakhir dengan pertengkaran, dan San akan membuat mereka kembali berbaikan seperti sedia kala.
          
Kesuksesan San sebagai arsitek mencapai puncaknya. Jika dulu ia akan menerima semua jenis permintaan demi pundi-pundi uang untuk keluarganya, kini ia sudah berani menolak tawaran rancangan jika ia merasa tidak tertarik atau tidak sesuai dengan visinya. Nama San telah menjadi jaminan kualitas dan kreativitas, membuatnya menjadi salah satu arsitek yang paling dicari. Klien-klien rela menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan sentuhan desain dari tangannya. Dan San kini bekerja bukan lagi untuk bertahan hidup, melainkan untuk menciptakan mahakarya yang ia cintai.
         
Tak hanya San, perkebunan dan peternakan pemberian Kakek San untuk Hongjoong juga sudah mencapai kesuksesan luar biasa. Apa yang dulu hanyalah sebuah ladang, kini telah berkembang menjadi sebuah bisnis yang terintegrasi. Hongjoong dan Seonghwa kini sudah bekerja sama dengan berbagai swalayan besar, restoran bintang lima, toko roti artisan, dan bahkan rantai makanan cepat saji yang mencari bahan baku segar dan berkualitas tinggi. Bisnis mereka tidak hanya mencakup sayuran dan buah-buahan organik, tetapi juga produk susu, telur, dan daging segar. Pasangan tua itu bahkan sudah menggunakan golf cart untuk berkeliling dari rumah ke perkebunan dan peternakan, alih-alih berjalan kaki, bukti nyata dari kemajuan dan kenyamanan yang mereka nikmati.
            
Begitupun dengan Mingi dan Yunho. Kafe kecil mereka yang dulu berukuran sempit, hanya bisa menampung sebagian kecil orang, dan tak banyak peminat kini telah berekspansi menjadi tempat yang ramai dan populer. Mereka telah merenovasi dan mengubahnya menjadi ruang makan yang lebih luas, kini bisa menampung lebih dari 100 pelanggan dalam satu waktu, mencakup area indoor dan outdoor. Menu mereka juga berkembang, tidak hanya kopi dan kue, tetapi juga makanan berat, menjadikan kafe mereka sebagai tempat favorit untuk bekerja, bersantai, atau sekadar berkumpul bersama, meski terletak jauh dari pusat kota. Kesuksesan ini adalah buah dari kerja keras dan impian sederhana yang mereka pupuk bersama.
        
Mereka berenam adalah mozaik dari puing-puing keputusasaan tujuh tahun silam yang kini membentuk gambaran utuh dari sebuah kebahagiaan. Mereka tidak sempurna, tidak pernah, namun cinta dan pengorbanan telah menggenapkan setiap ruang kosong. Luka masa lalu tidak menghilang, ia hidup sebagai cambukan untuk terus berjuang.

•••
          
Pagi itu, mentari menyusup masuk melalui jendela, membanjiri kamar dengan cahaya keemasan. San sedang sibuk di depan cermin, merapikan dasinya. Di atas kasur, Wooyoung dan Woosan duduk berhadapan, saling meniru mimik muka.
          
Wooyoung tiba-tiba menoleh kearah San, “San liat bibir Osan!”
          
San menoleh lewat pantulan cermin. “Lucu. Mirip kamu sayang."
      
"Tapi bibir Wuyo gak maju, San," protes Wooyoung, langsung memanyunkan bibirnya.
        
"Oh ya?" San selesai merapikan dasinya. Ia mendekat, lalu dengan cepat menyambar bibir Wooyoung yang sudah manyun. "Hng, kayanya kamu bohong deh,” godanya, sambil mencuri ciuman-ciuman kecil di seluruh wajah Wooyoung.
        
"San, perginya lama enggak?” Wooyoung bertanya, wajahnya sudah penuh dengan jejak ciuman San.
        
"Enggak kok, nanti kalo udah beres aku langsung pulang." jawab San, sambil mengusap lembut pipi Wooyoung. "Kamu mau dibeliin apa, hm?"
        
"Wuyo mau coconut cake," jawab Wooyoung dengan cepat. San hanya tersenyum. Setelah bertahun-tahun, kue itu tiba-tiba menjadi ritual mereka. Sebuah bom cinta yang tidak pernah ia sangka. Semua bermula saat mereka ke pusat perbelanjaan di kota. Salah satu pegawai toko menawarkan sepotong coconut cake sebagai menu baru, dan booom! Wooyoung menyukainya. Sejak itu, setiap kali San pergi ke kota, permintaan Wooyoung tak pernah berubah.
        
“Oke. Ada lagi?” tanya San.
        
“Tanya Osan,” Wooyoung menunjuk anaknya. San menunduk, menatap putranya.
        
“Osan mau apa dari Daddy?”
        
“Hmm...” Woosan berpikir keras, bibirnya mengerucut.
         
“Osan mau coconut cake juga, jadi belinya dua ya,” Wooyoung tiba-tiba menyahut, membuat San tak bisa menahan tawa. “Itu kamu yang mau,” goda San. Wooyoung langsung menggeleng kencang.
        
“Enggak! Osan yang minta, ya kan Osan?” San menggendong Woosan, lalu menarik tangan Wooyoung. Mereka berjalan keluar kamar.
        
“Osan nda mau!” Woosan kembali bersuara, membuat Wooyoung cemberut.
        
“Osan enggak boleh bohong!” tegur Wooyoung.
         
“Woosan tidak berbohong, Mommy,” jawab San, menirukan suara anak kecil.
         
Wooyoung memelototi San, lalu berseru, “Yunho bilang kalau suka bohong nanti meninggalnya jadi jahe!” San menggelengkan kepala. Setiap hari, pasti ada saja kalimat Wooyoung dengan kata ‘Yunho bilang’.
         
“Yunho yang bohong,” bantah San, berusaha serius.
         
“Berarti Yunho meninggalnya jadi jahe, San!” Wooyoung menatap San, wajahnya menunjukkan kemenangan.
         
San mengusak surai Wooyoung sayang. “Iya, iya. Nanti kalau ada jahe yang jalan, kita panggil Yunho, oke?” Wooyoung mengangguk semangat.
         
Mereka berjalan ke pintu depan. San, yang masih menggendong Woosan di satu tangannya, bersiap membungkuk untuk memakai sepatunya. Sebuah tindakan yang sudah ia lakukan ribuan kali, sebuah rutinitas sederhana. Namun, sebelum San sempat menunduk, Wooyoung menunduk terlebih dahulu.
         
Wooyoung berlutut dengan lututnya, lalu mengambil sepatu San dari rak. Tanpa kata, ia memasangkan sepatu itu, lalu dengan cekatan mengikat tali sepatunya. San menatap Wooyoung, hatinya terasa hangat, dan ia merasa seolah napasnya tertahan. Ia tidak meminta, tidak memohon, namun Wooyoung melakukannya begitu saja. Tanpa kata, Wooyoung menunjukkan betapa ia mencintai dan menjaga San.
        
“Sayang... aku bisa sendiri.” ucap San, suaranya tercekat.
        
Wooyoung mendongak, matanya bertemu dengan mata San, dan senyum lembut mengukir di bibirnya. “Kan San gendong Osan. Berat,” jawabnya.
        
San membiarkan Wooyoung selesai sambil menatap Wooyoung dalam, memperhatikan dengan seksama bagaimana jari-jari lentik yang dulunya kaku, kini sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah.
        
Setelah selesai Wooyoung berdiri dan mengambil alih Woosan.
         
“Makasih, ya.” Ucap San, mencium kening Wooyoung dengan penuh penghargaan, lalu beralih mencium pipi Woosan.
         
“Jangan berantem ya, yang nakal nanti malam tidur sama sapi.” goda San. Kedua 'kembar beda lahir' itu—Wooyoung dan Woosan—mengangguk serentak dengan ekspresi serius.
         
"Daddy dadah!" Ucap Wooyoung sambil melambaikan tangan Woosan
         
"Muah Daddy!" Woosan menambahkan dengan memberikan kiss bye.
          
"Iya sayang." Balas San, menanggapi ciuman jauh itu dengan lambaian tangan sebelum masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.
         
“Gi! Titip Wuyo sama Woosan ya!” sorak San saat melihat Mingi yang sedang berada di depan kafe.
         
“Sip! Aman!” balas Mingi sambil mengacungkan jempol.

•••
         
San duduk di kursinya, berusaha keras untuk fokus pada blue print di depannya alih-alih pada pria dingin yang duduk di seberangnya, Mingyu, Papanya. San harus mengakui, mendiskusikan teknik insulasi termal sambil berhadapan dengan orang yang dulu menganggapnya kegagalan adalah ujian kesabaran tertinggi. San bahkan sempat berpikir, lebih mudah mendesain gedung pencakar langit yang miring daripada berpura-pura santai di hadapan Mingyu. Otaknya terus mengulang janji coconut cake untuk Wooyoung agar tetap waras. Ia bahkan jadi teringat lupa menanyakan titipan Woosan tadi pagi.
       
"Jadi, Pak San," suara Mingyu terdengar datar, menggunakan formalitas yang semakin mempertebal jarak. "Konsep Anda sangat berani. Bagaimana Anda memastikan bahwa material yang Anda pilih dapat menopang struktur kaca di lantai atas? Terutama dengan pertimbangan iklim di sini."
       
San menarik napas, memaksakan dirinya masuk ke mode profesional yang ia kuasai. Ia menjabarkan detail arsitektur, berbicara tentang perhitungan beban lateral, tentang teknik insulasi termal pada fasad bangunan, dan tentang material komposit yang ia sarankan. San berbicara dengan percaya diri, menunjukkan kompetensi yang ia peroleh tanpa bantuan sang Papa. Menunjukkan profesionalisme yang ia bangun dari nol sendirian. Selama setengah jam, mereka hanya membahas garis, sudut, dan visi bangunan, mengabaikan tujuh tahun sejarah yang membebani bahu mereka.
          
"Baiklah, Pak San. Kami tunggu presentasi finalnya," ujar sekretaris Mingyu, mengakhiri rapat. San segera bangkit, lega, dan berjabat tangan dengan sang sekretaris. Ia bergegas menuju pintu, ingin melarikan diri sebelum Mingyu sempat mengucapkan sepatah kata pun.
        
"San!"
        
Langkah San terhenti. Ia memejamkan mata sesaat, lalu memasang raut wajah paling datar yang pernah ia punya, sebuah topeng profesional yang ia harap bisa menutupi kekacauan di hatinya. Ia berbalik, senyuman tipis tergantung di bibirnya.
        
"Iya?" jawab San.
        
Mingyu melangkahkan kakinya mendekat, tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya dingin dan menyelidik. "Tinggal di mana kamu sekarang?"
        
"Tinggal bareng keluarga kecil aku," jawab San tanpa ragu.
        
Mingyu terkekeh pelan, tawa hampa yang selalu membuat telinga San sakit. Ia memalingkan wajah ke samping sebelum kembali menatap San dengan nada meremehkan. "Sama anak idiot itu?"
        
Darah San mendidih, tetapi ia menahannya. Ia menegakkan dagu. "Iya. Sama anak idiot itu," tegas San. Tatapannya lurus, penuh kebanggaan yang tak terbantahkan. Mingyu sedikit terkejut, ia pikir San akan membela Wooyoung, tetapi ia justru mengiyakan panggilan hinaan itu dengan bangga.
         
"Btw, sekarang Jongho udah jadi—"
         
“Makasih buat infonya, tapi saya enggak butuh, Pak,” potong San, suaranya tajam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini: pujian berlebihan untuk Jongho, sebagai kontras tak terucapkan untuk kegagalan San di mata Mingyu. “Saya mau pulang. Wooyoung sama Woosan udah nungguin. Permisi.”
          
San membungkukkan sedikit badannya, bukan sebagai tanda hormat, melainkan sebagai formalitas terakhir. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Mingyu. Andai ia tahu bahwa kliennya kali ini adalah Papa? Atau mungkin mantan Papanya, ia tidak akan segan untuk menolaknya. Tapi, sayang sekali pertemuan pertama San itu dengan sekretaris Mingyu, dan itu adalah orang yang berbeda dengan yang terakhir kali San tahu. Jadi dirinya sama sekali tidak tau bahwa ternyata peminat rancangannya ini adalah Mingyu sendiri. Tapi apa boleh buat, ia sudah menandatangani kontrak. Kini, ia harus menyelesaikan proyek ini dengan profesionalisme tertinggi.

•••
           
Saat jam menunjukkan pukul 16:30, mobil San memasuki area perkebunan. Ia segera turun, membawa kotak kue yang dijanjikannya,
          
"Wuyooo! San pulang sayang! Osann! Daddy pulang Nakk!” San berjalan cepat menuju pintu, tetapi saat ia mencoba memutar kenop, ternyata dikunci.
        
"Uh? Apa di cafe ya?" tebak San. Ia mengunci mobil, lalu melangkahkan kaki menuju kafe Mingi dan Yunho yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah mereka.
        
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Hongjoong dan Seonghwa yang sedang dalam perjalanan kembali dari peternakan menggunakan golf cart mereka.
        
“Mau ke mana, San?” tanya Hongjoong sambil menghentikan laju cart-nya
        
"Kafe, liat Wuyo atau Woosan tadi gak Ba?" San balik bertanya.
        
"Osan tadi ada main sama Minho, tapi Wuyo enggak keliatan." San mengangguk, lalu mempercepat langkah.
        
Setibanya di kafe, ia langsung menemukan Woosan yang tengah asyik bermain bersama putra Mingi, Minho dan beberapa pelanggan.
         
“DADDY!” Woosan berlari dengan tangan terbuka lebar menghampiri San. San langsung berjongkok, siap menerima pelukan yang selalu meluluhlantakkan hatinya.
         
“Muahh,” sebuah kecupan dalam San daratkan di pipi Woosan. “Udah mandi, ya, jagoan Daddy?” Woosan mengangguk sambil tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mungil.
        
“Mommy mana, Sayang?” tanya San.
         
"Itu, Mommy malahkan Osan." Woosan mengadu. San menautkan alisnya bingung.
         
"Kenapa Mommy marahkan Osan?"
         
"Osan... Osan nakal Daddy."
         
"Kenapa Osan nakal?"
          
"Osan main abun di pece telus Mommy atuh nah." Woosan menirukan cara Wooyoung terjatuh tadi. Raut San langsung berubah khawatir.
         
"Sekarang Mommy mana?"
         
"Ama Mama." Jawab Woosan, merujuk pada Yunho yang biasanya di kafe. San segera menggendong anaknya dengan sebelah tangan, lalu setengah berlari masuk ke dalam kafe.
        
"Yun! Wuyo mana?" Tanya San saat menemukan Yunho yang sedang duduk di balik meja kasir.
         
“Di kursi samping, San! Enggak apa-apa kok, Cuma memar dikit di siku,” jawab Yunho sambil tersenyum menenangkan. Setelah mendapat jawaban, San segera melangkah menuju pintu samping dan menemukan Wooyoung sedang duduk di salah satu kursi kayu, menghadap ke pemandangan peternakan yang tenang, wajahnya cemberut.
          
“Sayang,” panggil San. Wooyoung berbalik tanpa merespon, hanya mengerucutkan bibirnya. San mendekat, mendudukkan Woosan di sebelah Wooyoung.
          
“Yang mana yang sakit, hmm?” San berjongkok di hadapannya, menggenggam tangan Wooyoung. Wooyoung menunjukkan siku kirinya yang kini memerah keunguan. San menghela napas pelan.
          
“Sakit?” tanya San lembut. Wooyoung mengangguk, matanya berkaca-kaca.
          
“Osan nakal,” adunya dengan suara serak,
          
"Osan nda sengaja Mommy, Osan minta maap." Woosan mengulurkan tangan kecilnya ke arah Wooyoung.
          
"Wuyo udah bilang sama Osan jangan main sabun, jadi licin kan lantainya." Wooyoung masih mempertahankan posisi marahnya.
         
"Tapi ada gembung nya Mommy." Woosan membela diri.
         
"Tapi licin Osan!"
         
"Udah, udah." San mengambil tempat diantara mereka, jangan sampai terjadi pertengkaran antara orang kembar ini.
         
"Udah, udah," San mengambil tempat di antara mereka, merangkul Wooyoung untuk bersandar di bahunya. Ia berusaha meredakan suasana, namun aura ketegangan antara mereka begitu terasa.
       
"Osan nakal! Nakal, San!" Wooyoung mendesis, bibirnya maju, matanya masih memancarkan kekesalan. Ia menunjuk sikunya lagi yang memar. "Lihat, 'kan? Ini sakit! Wuyo hampir mati, tahu!"
          
Woosan, di sisi lain, menatap Wooyoung dengan mata polos penuh pertahanan. “Ana ada ati! Mommy ndapapa! Agian gembung na kan antik.” balasnya, tak mengerti mengapa keindahan gelembung sabunnya harus disalahkan.
          
“Gak peduli cantik! Lantainya licin, Osan! Wuyo jatoh!” Wooyoung memiringkan badannya untuk melihat anaknya.
       
"Mommy cepet alannya! Kenapa coba cepet-cepet?" Woosan balik bertanya, menyalahkan kecepatan Wooyoung dengan logika tiga tahunnya.
       
San menahan napas, menutupi mulutnya agar tawanya tidak meledak. Mereka benar-benar menggemaskan.
         
“Wuyo kan mau lihat Osan! Kenapa Osan tumpahin sabunnya?!” Wooyoung balas menyerang, nada suaranya meninggi.
         
“Biar banyak gembungnya! Osan suka gembung!” Woosan bersikeras.
           
San menghela napas. “Oke, Osan tahu kalau Osan salah?” San bertanya pada putranya, suaranya tenang.
          
Woosan menunduk, bibirnya mengerucut, menghela napas dramatis seperti yang sering dilakukan Wooyoung. “Tapi gembung...”
         
“Enggak ada tapi-tapi, Nak,” tegur San. “Minta maaf sama Mommy. Mommy sakit.”
         
Woosan akhirnya mengangguk kecil. Ia mengulurkan tangan kecilnya ke arah Wooyoung, wajahnya menyesal, tapi matanya masih menunjukkan kerinduan pada gelembung sabun yang ia sebut dengan gembung.
        
“Wuyo enggak mau maafin San,” kata Wooyoung, membuang muka. Ia menahan uluran tangan Woosan, menikmati sedikit kekuasaan di saat Woosan memohon di hadapannya.
       
San tahu persis kartu truf apa yang harus ia gunakan. Ia berbisik di telinga Wooyoung, “Yahh, padahal tadi aku beli coconut cake spesial buat kamu... Ada dua. Tapi kalau kamu masih marah, aku kasih Osan saja deh...”
        
Mata Wooyoung langsung berbinar, semua kesakitan dan kemarahan menguap dalam sedetik. “Iya, Wuyo maafin! Wuyo maafin!” Ia segera menyambut uluran tangan anaknya, lalu memeluk Woosan erat-erat seolah tak terjadi apa-apa, dan menatap San dengan mata menuntut.
        
“Nah, gitu dong,” San tertawa. Puas dengan hasilnya.
        
“Udah mana coconut cake nya?”
        
“Halah.”
•••
        
Keheningan malam telah menyelimuti kamar mereka. Woosan sudah lama terlelap di ranjang kecilnya, napasnya teratur, mengisi ruangan dengan ritme damai. Wooyoung berbaring memunggungi San, tubuhnya sudah rileks, hampir memasuki alam mimpi. Namun, San tidak bisa tidur. Ia berbaring kaku, matanya menatap langit-langit yang remang-remang. Bayangan wajah Mingyu, nada dinginnya, dan kata-kata tajamnya masih berputar-putar di benaknya, menghancurkan kedamaian malamnya.
          
San menghela napas panjang, lalu memanggil pelan, “Sayang?”
        
Wooyoung menggeliat, berbalik menghadap San, matanya mengerjap dalam kegelapan. “Hm?” suaranya serak dan mengantuk.
        
“Aku... aku ketemu Papa tadi,” bisik San. Suaranya terdengar lelah, dan semua kegelisahan yang ia tahan seharian kini terlepas.
        
Wooyoung bergeser mendekat, memeluk lengan San erat-erat, dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Hng? Papa?” tanyanya lembut.
         
San mulai bercerita. Ia menjabarkan pertemuan yang canggung, tentang proyek yang tiba-tiba menjadi milik Mingyu, tentang bagaimana ia harus berbicara seputar rancangan sambil menekan amarahnya. Ia menceritakan bagaimana Mingyu meremehkan keluarga mereka, dan bagaimana ia dengan bangga membela Wooyoung. Semakin San bercerita, semakin dalam Wooyoung memeluknya.
        
Wooyoung tidak mengerti detail arsitektur yang rumit, ia tidak memahami seluk-beluk konflik bisnis yang San hadapi. Ia juga tidak mengerti mengapa Mingyu menjadi alasan San seperti ini. Namun, ia tidak perlu mengerti semua itu. Ia hanya perlu menyelami kegelisahan dalam suara San, rasa sakit yang tersembunyi, dan beban yang dipikul suaminya.
         
Sepanjang cerita San, Wooyoung tidak menyela. Ia hanya memeluk, mengangguk sesekali, dan mengusap lembut lengan San. Ia membiarkan kehangatan tubuhnya menjadi tempat San menumpahkan segalanya.

Ketika San akhirnya diam, keheningan kembali. Keheningan yang kini tidak lagi mencekik, melainkan penuh solas dan keintiman. San memejamkan mata, merasakan aroma Wooyoung dan kehangatan yang tak terbatas. Masalahnya tidak hilang, tetapi di dalam pelukan itu, ketegangan dalam dirinya perlahan menyusut.

“Makasih, Sayang, udah dengerin aku,” bisik San pada Wooyoung yang akhirnya benar-benar tertidur.  Ia mencium pucuk kepala Wooyoung dan mendekapnya erat. Dalam pelukan Wooyoung, San akhirnya menemukan kedamaiannya untuk tidur.


Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang