"San? San..."
Perlahan, ia membuka matanya dan menemukan sosok yang paling ia cintai, Wooyoung, tengah menatapnya dengan manik rubah indahnya. Wooyoung terlihat segar, dengan rambut setengah basah dan senyum lembut.
"Kamu udah mandi, ya?"
San tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera pudar ketika ia mengingat semua kekacauan kemarin: bentakan, tangisan, dan demam tinggi Wooyoung. Ia segera duduk tegak, ekspresinya dipenuhi rasa bersalah.
"Kamu udah sehat?" tanya San, memeriksa dahi Wooyoung secara refleks.
Wooyoung menggeleng, "Wuyo enggak sakit." San tersenyum kecil. Tanpa berkata-kata, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Wooyoung dan menyembunyikan wajahnya di bahu sempit itu. Tindakan ini adalah pelarian sekaligus permintaan maaf.
"San kenapa?" Wooyoung membalas.
San sedikit menjauh, menatap suaminya dengan sorot mata memelas. "Sayang mau enggak maafin San?"
"San salah apa?" Wooyoung bertanya polos.
"Banyak. San kemarin jahat sama sayang, sama Osan juga."
Wooyoung menggeleng cepat, "San enggak jahat, San."
San menatap Wooyoung lekat, lalu menarik tubuh Wooyoung untuk berbaring lagi. Dua pasang manik itu kini saling tatap.
"I love you sayang," ucap San, mendekatkan tubuhnya dan mengambil jatah morning kiss-nya. Bukan kecupan ringan, melainkan lumatan sayang yang memabukkan. San menghisap dua bilah ranum itu bergantian, memperlambat tempo, menikmati sensasi setiap kali ia menyentuh mulut suaminya.
"Aaa Sayang," titah San, Wooyoung membuka mulutnya sesuai perintah, tubuhnya pasrah berada di bawah dominasi dan kelembutan San.
San memperdalam ciuman mereka, lidahnya masuk dan bersilaturahmi dengan lidah Wooyoung, tangannya tak lagi diam. Tangan kirinya masuk ke dalam baju Wooyoung, mengusap sensual setiap inci tubuh pujaannya. Jari-jarinya menelusuri tulang rusuk hingga berhenti di nipple simanis. Ia mencubitnya gemas, membuat alis Wooyoung bertaut menahan sensasi yang tak bisa ia cerna.
Wooyoung menahan tangan San yang berada di dadanya, sementara tangan yang satunya mendorong tubuh San menjauh sedikit-bukan menolak, melainkan mencari jeda. Mengerti maksud bahasa tubuh itu, San melepaskan tautan bibir mereka. Ia menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua sebagai isyarat bahwa mereka akan melanjutkan ke tahap berikutnya.
"I love you sayang, ah! I mean aku cinta kamu, aku sayang kamu," bisik San, nadanya penuh ketulusan, mencium setiap inci wajah Wooyoung.
San mengulum bibir bawahnya, menahan nafsu. Ia ingin segera melahap sosok dibawahnya ini. Ia menurunkan celana Wooyoung, lalu menatap wajah manis yang kini memerah.
"Kita kan udah lama, nanti pasti sakit dikit. Sayang bisa tahan?" San bertanya, suaranya sangat lembut, meminta izin.
Wooyoung mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti tetapi percaya penuh pada suaminya. San bukan tipe pasangan yang akan melonggarkan zona entry dengan foreplay panjang. San, lebih memilih kejantanannya langsung menjadi pelonggar dan pemuas, segera mengeluarkan miliknya. Ia memosisikannya perlahan dan memasukkannya ke dalam hole milik Wooyoung.
"Aaaa Sann~ sakittt." Rengek Wooyoung, kepalanya menggeleng panik ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya refleks menjepit dengan keras.
San segera menghentikan gerakan. Ia meringis merasakan jepitan itu, tetapi fokus utamanya adalah menenangkan Wooyoung. "Iya, sayang, iyaa. Ssttt, tahan aw yaa? Aku juga sakit inii, makanya santai aja yaa? Enggak bakal lama kok, aku janji." San menciumi wajah Wooyoung dengan lembut, memberikan keyakinan bahwa ia tidak akan menyakiti.
Setelah beberapa saat, Wooyoung menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol tubuhnya, dan perlahan melonggar. San memandang perubahan itu dengan haru. Kepercayaan Wooyoung adalah hadiah terbesarnya. Dengan hati-hati, San mulai bergerak, maju dan mundur, menghantam surga dunianya. Keduanya mulai tenggelam dalam permainan.
"Sannn, Sann~" erang Wooyoung.
"No dear, I'm your husband. Call me, sayang!" tegur San, suaranya dalam dan penuh hasrat.
"Sann~"
"Panggil aku sayang." San menuntut, ingin Wooyoung memanggilnya dengan sebutan cinta, bukan sekadar nama.
"Uh?"
"Panggil aku sayang, sayang."
"Sayangg, sayangg, hngg sayangg."
San memegang pinggul Wooyoung erat, mempercepat tempo, mendorong mereka ke batas kenikmatan.
"Bilang, 'sayang, enak. Fuck me sampai hamil adiknya Osan!'" pinta San.
"Enggak ngerti, Sann," jawab Wooyoung polos di tengah erangannya. San tertawa lepas, rasa bersalahnya kini sepenuhnya tergantikan oleh cinta.
"Bilang, 'sayang lagi."
"Sayang lagi."
"As you wish, my world." Gerakannya kian tak karuan hingga San memejamkan mata, mencapai puncak.
"Arghhh!" melepaskan semua yang ia miliki untuk satu-satunya dunia yang ia punya.
San terbaring diatas Wooyoung setelah pelepasan, napas mereka memburu. San mencium bahu Wooyoung sayang.
"Berat, San." Keluh Wooyoung pelan, suaranya lemas karena kelelahan, tetapi matanya memancarkan kedamaian.
San terkekeh, suara rendahnya terdengar sedikit serak. Ia segera turun dari tubuh Wooyoung, takut membebani suaminya.
"Maaf ya-"
"MOMMYYYYY!!!"
Ah, sepertinya mereka melupakan seseorang.
