Malam pun tiba setelah hari yang panjang dan traumatis, semua orang telah meninggalkan rumah sakit. San tinggal sebagai pendamping Wooyoung di Unit Perawatan Stroke.
Setibanya di rumah, Seonghwa meminta Sooyoung untuk menginap di rumahnya, ia ingin menanyakan kejadian sore itu secara langsung. Pemuda yang hampir menginjak usia dua puluh satu tahun itu menyambut tawaran itu dengan senang hati. Dan kini mereka tengah berada di ruang tengah rumah itu.
“Soyo,” panggil Seonghwa lembut. Sooyoung mengangkat wajahnya.
“Bubu boleh nanya, kenapa sih Soyo malu punya Mommy spesial?” tanya Seonghwa, langsung menusuk ke inti masalah.
Sooyoung menundukkan kepalanya, menyangkal dengan lirih. “Soyo enggak malu kok, Bu.”
“Jangan bohong kalau ngomong sama Bubu,” tegur Seonghwa, mengingatkannya pada kalimat yang ditanamkan oleh Yunho saat mereka kecil “Ingatkan kata Mama?”
“Kalo bohong meninggal nya jadi jahe.” Ucap mereka bersamaan, lalu dilanjutkan dengan tawa renyah.
Sooyoung tersenyum samar. “Soyo bukan anak kecil lagi, Buu. Soyo udah enggak takut lagi jadi jahe.”
Seonghwa terkekeh. Ia merangkul bahu cucunya. “Terus, maunya jadi apa? Jadi bawang biar semua orang nangis kalau lihat kamu?”
“Iya, bawang,” jawab Sooyoung, suaranya sedikit lebih kuat.
Seonghwa menatap Sooyoung lekat-lekat, lalu mencium dahi sang cucu. “Lihat kamu, Bubu serasa lihat Daddy kamu waktu pertama kali diantar ke panti. Ganteng, keras kepala, ada jiwa-jiwa pemberontaknya.” Sooyoung menunduk lagi.
"Kenapa sih? Soyo kenapa? Emang temen-temen Soyo ada yang ngetawain Mommy?" Sooyoung menggeleng.
"Soyo takut Bu, kalo mereka lihat Mommy beda, mereka bakal ngetawain Mommy. Soyo enggak mau mereka ngetawain Mommy.”
"Terus kenapa Mommy nya disuruh pulang sendiri?"
Sore itu, setelah Sooyoung mendorong Wooyoung ke taksi dan melihatnya pergi sendirian, ia kembali masuk ke gerai donat. Duduk bersama teman-teman nya.
“Yang tadi Nyokap lo?” tanya salah satu temannya.
“Iya, kenapa?” jawab Sooyoung, suaranya dipenuhi pertahanan.
Temannya tertawa canggung. “Haha, kok gitu? Kenapa kaya anak kecil?”
Sooyoung menatapnya tajam. “Terus? Masalah?”
Namun, sebelum temannya sempat menjawab, dua suara lain datang membela Wooyoung.
“Nyokap lo lucu, tadi dia senyum lebar banget,” ujar seorang teman perempuan.
“Apanya yang lucu aneh begitu kaya anak kecil.”
“Lo yang aneh nanya begitu,” timpal yang lainnya.
“Enggak sopan!”
Sooyoung tersenyum dingin. Ia menyadari bahwa Wooyoung jauh lebih diterima daripada yang ia duga. Ternyata, sumber malunya bukanlah Wooyoung, melainkan ketakutan dan keraguan dirinya sendiri.
Seketika rasa bersalah mulai menamparnya dengan keras. Apa yang baru saja ia lakukan pada Wooyoung berbalik menjadi pisau yang menusuknya. Apa yang baru saja ia lakukan pada Mommy-nya adalah kesalahan besar, sebuah tindakan pengecut yang dipicu oleh ketakutan kosong. Tidak seharusnya dia membiarkan Wooyoung pulang sendirian. Bagaimana jika Wooyoung ketakutan? Bagaimana jika Wooyoung panik? Menangis? Atau yang lebih parah tantrum?
“Guys! Gua duluan ya,” ucap Sooyoung tanpa menunggu jawaban. Ia berlari keluar gerai dengan kecepatan penuh, menembus kerumunan orang. Ia bergegas menuju gedung parkir mengambil mobilnya, dan berharap secara ajaib bisa menyusul taksi yang membawa Wooyoung pulang.
"Udah cerita sama Daddy sama Abang?" Sooyoung mengangguk, meski sudah menjelaskannya mereka tetap merasa kecewa karena membiarkan Wooyoung pulang sendirian.
Seonghwa menatap lembut Sooyoung di sebelahnya, menyadari bahwa penyesalan saja tidak akan cukup untuk memperbaiki kesalahan. Sooyoung perlu memahami bobot dan sejarah cinta yang ia sakiti sore itu.
“Soyo, tahu enggak apa aja yang udah Daddy kamu korbankan demi Mommy kamu itu?” tanya Seonghwa, suaranya kini sarat emosi.
Sooyoung hanya bisa mengangguk lemah, mengulang kisah yang sudah ia dengar, “Daddy dulu nyelamatin satu desa, padahal cuma pengen nyelamatin Mommy.”
Seonghwa tersenyum sambil mengusap surai itu sayang. Kisah heroik di desa itu adalah satu-satunya bagian dari sejarah San dan Wooyoung yang diketahui anak-anak. Selebihnya, para orang dewasa memilih bungkam untuk melindungi privasi pasangan itu.
“Tapi, itu cuma sepenggal dari perjuangan Daddy kamu,” ralat Seonghwa, suaranya bergetar. Ia memutuskan tirai kebisuan keluarga, mengungkapkan kisah yang selama ini dirahasiakan semua orang.
Seonghwa mulai menceritakan semua detail yang selama ini disembunyikan. Ia bercerita bagaimana San, di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, dicampakkan dan diusir orang tuanya hanya karena membela dan membantu warga desa, dan membuat anak kesayangan sang Papa mengalami patah tulang. Ia kehilangan semua yang ia miliki, kecuali tunjangan kecil dari kakeknya.
“Malam setelah tragedi itu, Wooyoung kena PTSD akut. Kamu bayangin, anak dengan disabilitas mental yang enggak bisa jelasin apa yang dia rasain cuma bisa teriak ketakutan sendirian. Harus ngerasain bayang-bayang masa lalu yang traumatis itu setiap hari.”
Seonghwa menelan ludah. “Kondisi itu parah banget, Soyo. Waktu San bawa dia ke psikolog, Wooyoung langsung dikasih surat rawat inap di rumah sakit jiwa. Dia harus dikunci di sana.”
Seonghwa berhenti sejenak, membiarkan fakta itu meresap. “Dengan kondisi Wooyoung yang kayak gitu, itu cuma jadi beban mati buat San yang lagi di titik terendah. Dia frustrasi. Dia baru aja dibuang keluarganya, enggak punya apa-apa, enggak punya temen, dia bisa aja pergi. Nikmati hidup barunya di rumah Kakek dia yang enggak kalah kaya.”
“Tapi San enggak pergi. Dia enggak kabur, dia enggak ninggalin Wooyoung di sana,” bisik Seonghwa. “Dia nempatin dirinya sendiri di rumah sakit jiwa bareng Wooyoung, sebagai perawat sukarela. Padahal, harusnya dia sendiri yang dirawat karena tekanan itu!”
“Dia nemenin Wuyo di ruangan rawat, tiap hari ngeyakinin Wuyo kalo semuanya baik-baik aja, Wuyo enggak sendirian, dia di sana, di sisi Wuyo, selalu dan pasti begitu,” air mata Seonghwa mulai jatuh. “Sambil tetep maksain diri buat nyelesain skripsi tanpa dukungan sepeser pun. Dia berjuang di tengah kegilaan dirinya sendiri, di tengah keadaan yang ngancurin dia. Enggak ada yang tau sebesar apa dia berusaha buat bertahan, berusaha buat tetep waras tiap hari, tetep kuat diatas semuanya, semuanya demi Wuyo. San ngelakuin semuanya buat Wuyo.” Seonghwa menatap Sooyoung, yang kini menangis tanpa suara.
“Bubu belum pernah denger bahkan liat langsung ada orang yang mau ikut tinggal di rumah sakit jiwa sebagai perawat sukarela, tapi San mau. San nemenin Wuyo di rumah sakit jiwa, walaupun dia sendiri juga butuh dirawat. San selalu menomorduakan dirinya sendiri, demi siapa? Mommy kamu.”
Seonhwa menceritakan perjuangan San setiap hari, selama bertahun-tahun, mengambil semua tanggung jawab, mengurus kedua anaknya saat kecil agar Wooyoung tidak terbebani sedikit pun. Menjadi yang paling tegar agar rumahnya tetap kokoh.
“San menyerahkan seluruh hidupnya, nama baiknya, masa depannya, dan melawan seluruh dunia hanya untuk melindungi anak idiot ini agar tetap dicintai. Enggak ada yang bisa menggambarkan betapa San mencintai Mommy kamu, Nak.”
Kini, Sooyoung tidak hanya menyesal, tetapi hancur berkeping-keping. San rela menukar seluruh hidupnya dengan Wooyoung, dan ia, yang merupakan darah daging dari pasangan itu, gagal hanya karena takut pada pandangan sekelompok teman. Ia telah meremehkan pengorbanan yang seharusnya ia jaga.
“Jadi, sekarang ngerti kan seberapa berharga nya Mommy kamu?” tanya Seonghwa, suaranya tegas. “Kamu emang darah dagingnya Sooyoung, tapi kalau harus milih San enggak akan pernah ragu buat milih Wooyoung. Bahkan tanpa mikir satu detikpun.”
Sooyoung terisak, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Beban pengakuan ini kini jauh lebih berat daripada pukulan Woosan—ia telah menyakiti dunia Daddynya. Andai ia tahu semua ini lebih awal, mungkin sore itu akan berakhir berbeda.
