Delapan

7.6K 922 16
                                        

Malam harinya, Mingi kembali datang untuk makan malam bersama. Setelah itu, ia mengatakan ingin meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan San.
       
“Hah? Salah paham apaan?” San bingung. Ia merasa tidak punya hubungan apa pun dengan Yunho atau Mingi, lalu salah paham apa yang dimaksud?
       
"Yaa—“
       
"Mingi, enggak usah bikin situasi kaya lo ketahuan selingkuh elah." Mingi menggaruk kepalanya, benar juga.
       
"Lagian lu berdua pada kenapa, sih?" San menunjuk pasangan itu bergantian.
       
"Kita malu San,” jawab Mingi.
San terkekeh sambil mengalihkan pandangannya. "Tapi wajar sih malu. Soalnya enggak pro."
     
Mata Mingi membola. "Beneran?"
    
"Hmm, kurang. Enggak ada yang jadi, kan? Padahal enggak pakai kondom," komentar San.
     
Mingi kembali menggaruk kepalanya. "Emang kamu pernah jadi?" tanyanya pelan. Ia malu dan bingung kenapa San bisa berbicara santai tanpa beban.
    
"Sering," jawab San, menaikkan sebelah alisnya dengan sombong.
    
"Berarti kamu duda dong?" tanya Mingi.
     
Giliran San yang melotot. "Duda lo bilang? Ya enggak lah! Nikah aja belum."
     
"Terus anaknya kamu kemanain?"
     
"Aborsi, Mingi. Aborsi. Lagian one night stand mana boleh minta tanggung jawab. Kan sama-sama mau."
      
Mingi mengangguk paham. Ia pernah membaca artikel tentang one night stand jadi ia cukup mengerti.
      
Ya, pergaulan anak kota memang terlalu ekstrem, pikir Mingi.
         
Lalu hening, San sibuk menarik benang bajunya, sedangkan Mingi menatap langit malam yang kini dihiasi bintang dan bulan sabit. Ketiganya kini tengah duduk di teras nyaman rumah sang ketua panti.
        
"Gimana sih rasanya jadi anak orang kaya?" San diam, berhenti dengan kegiatannya dan menatap Mingi.
        
"Gimana rasanya kuliah? Punya banyak temen, bisa kesana kesini, bisa beli apa aja, bisa cobain banyak hal baru... Gimana sih rasanya?" Mingi tetap fokus menatap langit, meskipun ia tau jika San kini tengah menatapnya.
         
"Seru enggak sih kalo masa depan udah ditata rapi sama orang tua?"
         
San tersenyum datar lalu mengalihkan pandangannya, ikut menatap langit. Senyum itu tidak sampai ke matanya "Lo pikir semenyenangkan itu?"
         
"Lah iya dong? Kamu udah punya gelar, walaupun kamu enggak kerja kamu masih bisa beli ini itu, uang kamu ngalir terus. Lagian nanti kamu cuma tinggal nerusin usaha orang tua kamu. Enggak perlu repot-repot kaya aku." Mingi tertawa membayangkan dirinya yang memiliki kehidupan seperti San, pasti sangat menyenangkan. Ia tak perlu bekerja keras demi uang tambahan.
        
"Lo tau alasan gue kesini?"
         
"Bubu sama Baba bilang kamu nakal, makanya dikirim kesini biar berubah jadi lebih baik. Kalo aku jadi kamu udah pasti diusir dari rumah." San tertawa hambar
          
"Lo sendiri kan udah jadi aparat desa, Bokap lo juga kepala desa, terus apa yang harus lo iriin dari hidup gue?" Mingi akhirnya balas menatap San
          
"Beda San, ibaratnya kita sama-sama pengen nyebrang lautan, aku masih mikir harus pilih kayu yang mana biar kuat sampe tujuan, harus dibikin kaya gimana biar bisa ngelawan badai di tengah jalan, harus bawa bekal apa aja biar enggak kelaparan, sedangkan kamu udah tinggal naik aja, kamu udah ada kapal." San menatap Mingi tak senang, orang-orang memang hanya akan menilai dari apa yang bisa mereka lihat, mereka tak pernah berusaha untuk mengerti atau mencoba meletakkan diri mereka diposisi yang sama.
        
San bangkit sambil menghela napas panjang. Jika ia yang dulu, Mingi sudah pasti kehilangan beberapa giginya. Tapi sekarang, San sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia mengurungkan niatnya. "Maaf kalau kehidupan sempurna gue ini bikin lo iri. Kalau Bubu dan Baba nanya, bilang gue balik ke kamar." Setelah itu, San pergi, hatinya penuh dengan kekesalan.
     
Mingi menatap kepergian San, sementara Yunho menatap kesal kekasihnya. “Kamu sih!”

•••
       
San berbohong. Ia tidak kembali ke kamarnya. Malam itu, ia duduk di pagar beton yang menjadi pembatas panti dan dunia luar. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya berputar liar, masih terngiang-ngiang ucapan Mingi yang menusuk.
       
"Gimana sih rasanya jadi anak orang kaya?"
      
"Seru enggak sih kalo masa depan udah ditata rapi sama orang tua?"
       
Perumpamaan kapal itu juga terus menggerogoti benaknya. Mingi hanya melihat dari permukaan, tidak berusaha menyelami apa yang ada di dalamnya. San mengakui, hidup bergelimang harta adalah anugerah, tapi apakah Mingi tahu, bahwa ia tidak pernah menikmati hidupnya sendiri? Kapal yang disediakan untuknya adalah rancangan orang tuanya, bukan miliknya. Hidupnya sudah ditentukan sejak dini, tanpa ada ruang untuknya berkreasi.
        
Apa Mingi pikir hidup yang diatur itu menyenangkan? Apa ia tahu rasanya selalu dibanding-bandingkan dengan adik yang jauh lebih pintar? Apa menyenangkan menjadi anak yang dianggap bodoh dan tidak berguna?
        
Di usia 25 tahun, San masih terpenjara dalam belenggu bayang-bayang orang tuanya. Ia sudah mencoba segalanya—melakukan kenakalan demi kenakalan—agar mereka menyerah. Namun, usahanya sia-sia. Alih-alih mendapatkan kebebasan, ia malah dikirim ke panti sosial. San hanya ingin seperti teman-temannya, membangun masa depan dengan tangannya sendiri, dan berjalan di atas kakinya sendiri. Karena, apa arti kesuksesan jika ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri? Bukankah kesuksesan sejati adalah saat kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri?
        
"San," sapa Yunho.
      
San melirik sinis, menemukan Yunho dan Mingi di sana.
      
"Maaf ya soal yang tadi. Aku beneran cuma pengin nanya, enggak maksud menyinggung kamu." San menebak, ini pasti ulah Yunho si pembaca pikiran.
      
"Sans," jawab San singkat.
      
"Sans?" Mingi mengernyitkan dahi.
      
"Santai," jelas San.
      
"Oh, oke. Yuk!" Mingi menarik tangan kekasihnya untuk duduk di atas pagar, mengikuti San.
      
"Loh?" San bingung, karena maksud jawabannya bukan itu.
      
"Kan tadi kamu nyuruh santai," jawab Mingi.
     
"Hadeh, terserah, deh," gumam San. Ia lelah dengan perbedaan bahasa yang jauh antara dirinya dan mereka.

•••

Tok, tok, tok
          
"SANNN!!”
          
"SANN?? HALLO? SUDAH PAGII! YUNHO BILANG BANGUNIN SAN!"
          
San tersenyum dalam tidurnya saat mendengar suara itu, meskipun nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, ia sudah bisa mengenali teriakan itu milik siapa. Suara Wooyoung yang melengking tapi terdengar begitu menggemaskan.
        
"Wuyoo!” panggil San dengan suara serak, masih setengah sadar.
        
"Huh?"
        
Sisulung terkekeh mendengar suara Wooyoung dari luar. "Sayanggg!"
       
"San udah bangun?"
       
"Udahh...”
       
"Kenapa enggak keluar?"
       
"Masi ngantuk...” San merajuk.
       
"Yunho bilang bangunin San."
       
"Wuyo masuk dulu sini!"
       
"Pintunya dikunci."
       
"Kata siapa?"  tanya San heran.
       
"Kata Baba, semua pintu harus dikunci." San mengusap wajahnya "Engga! Pintu San enggak dikunci, coba aja." Memang sejak tinggal di sana, San tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa di rumah dan ia juga percaya sepenuhnya pada orang-orang di sekitar.

Kriek...
          
Suara pintu kamar San yang seperti sound effect film horor itu berbunyi seram, tapi senyuman Wooyoung meredam segalanya.
         
"Woahh enggak dikunci!" San mengangkat tubuhnya sedikit dan bertumpu pada sikunya, ia tersenyum kearah Wooyoung yang kini berjalan mendekat sambil melihat sekeliling kamar San.
        
"Morning baby." Wooyoung mengangkat kedua alisnya, bingung dengan artinya  "Selamat pagi sayang,” ulang San.
         
"Selamat pagi juga, San!" sambut Wooyoung dengan suara riang. San tersenyum. Melihat Wooyoung di pagi hari ternyata obat terbaik untuk suasana hatinya.
         
"Ini yang bisa ngeluarin suara itu ya San?" Wooyoung menunjuk radio butut milik San di atas meja.
          
San beringsut ke tepi ranjang "Iya, Wooyoung mau denger musik?" Wooyoung mengangguk antusias.
          
“Peluk dulu,” pinta San, merentangkan kedua tangannya. Ia hanya bercanda, tapi Wooyoung dengan polosnya langsung melompat ke pelukannya. San sampai kehilangan keseimbangan dan kembali terbaring, kini dengan Wooyoung di atasnya.
         
“AAAA, TANGAN WOYOO!” San buru-buru mengangkat tubuhnya agar Wooyoung bisa menarik tangannya yang terjepit.
         
“Maaf, cantik,” bisik San.
         
“Wuyo enggak cantik! Baba bilang Wuyo manis!” San terkekeh, lalu menyelipkan poni Wooyoung ke belakang telinga. Ia kesal jika tidak bisa melihat wajah Wooyoung seutuhnya.
          
“Iya, manis. Kenapa enggak diikat, sih, rambutnya?”
          
“Baba bilang boleh kok, potong rambut,” jawab Wooyoung. San memasang wajah terkejut.
          
“Iya, Baba juga bilang kalau mau pergi sama Yunho.”
          
Tangan San mengusap lembut punggung hingga pinggang Wooyoung yang ramping. “Sama San?”
          
“Sama Yunho.”
          
“Iya, sama Yunho, tapi San boleh ikut, kan?”
          
“San mau potong rambut juga?”
          
“Enggak,” jawab San.
          
“Terus kenapa San ikut?” Wooyoung memiringkan kepalanya, tidak mengerti.
          
San menghela napas, “Tadi Wuyo pengin dengar musik, kan?” Ia mengalihkan topik. Percuma menjelaskan hal yang rumit pada Wooyoung. Ia mengubah posisi, kini Wooyoung duduk di pangkuannya.
         
"Mau denger yang sedih? Apa yang senang?" San menatap netra indah itu dari dekat, pandangannya penuh pemujaan.
         
"Senang!"
          
Setiap melihat senyuman Wooyoung, San merasakan dorongan yang tak tertahankan. Ia ingin lebih dekat, ingin merasakan semua kebahagiaan yang Wooyoung pancarkan.
          
San mengikis jarak, mendaratkan kecupan lembut di pipi Wooyoung.

Chup
          
Setelah kecupan itu, Wooyoung tidak bergerak. Ia hanya menatap San dengan mata yang melebar, membuat San semakin gemas. Tanpa ragu, San menghujani setiap inci wajah Wooyoung dengan kecupan-kecupan bertubi-tubi.
Chup chup chup chup...
           
“Hahaha, San, San, geli!” Wooyoung terkekeh, berusaha menghindar.
           
San berhenti, tersenyum sambil melihat Wooyoung menetralkan napasnya. San kemudian memiringkan kepalanya sedikit, menunduk dan kali ini ia mendaratkan sebuah kecupan singkat dan lembut di ranum pink pucat Wooyoung.

Chup...
           
"Oke! Kalo gitu Wuyo duduk sini," San menurunkan tubuh itu dari atas pangkuannya dan mulai menghidupkan radio, tak berselang lama musik pun terdengar dan Wooyoung langsung tersenyum senang
          
"Duduk disini dulu ya? San pengen mandi." Wooyoung lagi-lagi mengangguk banyak hingga membuat rambutnya berterbangan kesana-kemari.
           
Di sisi lain, Jongho tiba di parkiran panti dengan mobil maroon-nya. Ia keluar dan menatap para satpam yang juga menatapnya dengan heran.
       
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu satpam.
       
“Saya mau ketemu sama petugas San.”
       
“San?” Satpam itu mengernyitkan dahi bingung, lalu masuk ke dalam posnya untuk bertanya pada rekan yang lain.
       
Tak lama, ia kembali keluar. “Oh, San. Ada. Tapi Bapak siapa?”
       
“Adiknya.”
       
“Oh, ya sudah, mari saya antar.”
       
Jongho pun melangkahkan kaki, mengikuti satpam itu.
       
“Pak! Pak Hwa!” Tiba-tiba satpam itu berlari mendahului Jongho. Ia berbicara sejenak dengan Seonghwa. Setelah itu, Seonghwa tersenyum sambil menghampiri Jongho.
      
“San-nya belum keluar kamar. Mau nunggu sambil sarapan dulu?” tawar Seonghwa.
      
Jongho mengangguk, menerima tawaran itu karena ia memang belum sarapan.

•••
        
Jongho menatap sang kakak yang sedang melambaikan tangan ke arah seseorang. Ada rasa bingung di benaknya. San terlihat begitu ceria, sesuatu yang jarang ia lihat. Apalagi, ia tahu San tidak suka dengan orang yang memiliki sifat terlalu kekanak-kanakan seperti pria di sana.
      
"Siapa sih?" tanya Jongho.
      
"Calon kakak ipar lo," jawab San sambil terkekeh.
      
Jongho menautkan alisnya. "Sejak kapan lo betah sama yang menye-menye begitu?"
      
"Ini mah beda!"
      
Jongho menghela nafas panjang, memutuskan untuk tidak terlalu memedulikan ucapan itu.
         
Mereka memutuskan untuk duduk di kursi taman. Jongho langsung menyodorkan ponsel San yang sudah lama tidak digunakan.
      
"Loh?" San menatap ponsel dan adiknya bergantian. "Mau enggak, nih?" Jujur, San ingin, tetapi ia juga merasa sudah terbiasa dengan kehidupan di sini tanpa ponsel.
      
"Papa bilang no gadget," ujar San.
      
"Papi yang nyuruh, biar gampang kalau ada apa-apa. Enggak minjam HP Pak Hong lagi," jawab Jongho.
      
San tersenyum miring. Jika Papi yang meminta, sudah pasti hidupnya akan kembali diatur. San tidak mau, ia ingin hidup tenang, setidaknya hanya untuk satu bulan ini.
       
"Tapi di sini enggak boleh ada yang punya HP," San beralasan, padahal tidak ada aturan seperti itu.
       
"Masa, sih! Lo enggak usah bohong!" Jongho menatapnya kesal, sembari meletakkan ponsel itu dengan kasar di hadapan San.
       
San mengalihkan pandangannya. "Tapi nanti bilangin Papi, ya, kalau gue enggak bisa ngabarin setiap hari."
      
"Itu urusan lo. Dah, ah, kamar lo di mana?" Jongho berdiri, menatap sang kakak.
      
"Ngapain?" San menautkan alisnya bingung.
      
"Gue malas pulang."
      
"Cih, sejak kapan anak kesayangan Papa enggak mau pulang ke rumah, hm?" San menggunakan nada mengejek.
      
"Banyak omong! Cepat!"
      
"Ya udah, kalau enggak mau kasih tahu, jadi gelandangan saja di sini," goda San.
       
Jongho menatap kesal kakaknya yang memasang wajah sombong. "Papa..." San melirik, menunggu kelanjutannya. "Cih, Papa nyuruh gue lanjut kuliah di luar," lanjutnya sambil membuang pandangan.
        
"Loh? Bagus, dong. Jadi Profesor Doktor Jongho," San mengolok.
         
Jongho memutar bola mata malas. "Bagus apanya? Lo masih mau lihat gue siang malam cuma belajar? Capek, tahu. Gue pengin istirahat."
         
San tersenyum tipis. Akhirnya Jongho angkat tangan dengan tuntutan orang tua mereka yang selalu memikirkan masa depan, tanpa memikirkan masa kini. Apa gunanya masa depan jika mereka sudah mati hari ini?
         
"Gue bela-belain lulus cepat biar bisa kayak lo, bisa hangout, bisa ke sana ke sini, bisa nikmatin masa muda. Gue juga pengin jadi kayak lo, tapi gue enggak bisa. Gue enggak seberani lo buat nentang Papa sama Papi." Jongho menunduk sambil menendang angin.
          
San menatap Jongho lama. Ternyata benar, sebagai manusia, kita tidak akan pernah merasa puas. Selalu menjadikan hidup orang lain sebagai patokan yang lebih baik. Padahal, pada kenyataannya, tidak ada hidup yang sempurna. Semuanya hanya tentang menerima.
           
"Capek, Bang," lirih Jongho.
San berdiri dan memeluk adiknya. Jongho terkadang memang menyebalkan, atau bahkan sangat menyebalkan. Ia tidak suka diperlakukan seperti adik, juga selalu tidak sopan pada San. Tapi, terlepas dari semua itu, Jongho tetap adiknya.
          
"Udah, udah. Ntar gue bantu ngomong, deh, sama Papa," hibur San.
          
"Papi saja enggak didengerin, apalagi lo!" Jongho mendorong San, melepaskan pelukan itu. Ia harus segera menghapus air matanya, jika tidak, ia akan menjadi bahan ejekan San.
          
"Haha, nangis, kan, lo!" goda San.
          
"Enggak, anjing!"
          
"Iya, bego! Lihat! Jongho nangis, gue fotoin, kirim ke Yeosang bagus, nih," San segera membuka kamera di ponselnya.
          
"Sialan! Jangan!"
          
"Wlee, udah dapat!" San menjulurkan lidahnya sambil memperlihatkan hasil jepretannya,  "SANJING!”

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang