Dua puluh tahun telah berlalu sejak San secara emosional memutuskan ikatan dengan masa lalunya yang menyakitkan. Keluarga kecil yang ia bangun bersama Wooyoung kini berdiri tegak, sebuah bukti nyata bahwa cinta sejati dan penerimaan bisa menyebuhkan luka abadi yang San bawa. Mereka kini diberkati dengan dua putra, dan kehadiran si bungsu, Sooyoung, melengkapi segalanya.Rumah mereka bukan sekadar bangunan mewah, melainkan tempat pulang yang sempurna, sebuah benteng kokoh yang dibangun di atas fondasi cinta dan kepercayaan.
San selaku pilar utama yang menopang keluarga selalu memastikan kedua putranya merasa dianggap, diapresiasi, dan dicintai sebagaimana seharusnya seorang anak dapatkan. Ia juga menerapkan sistem pengasuhan bebas tapi tak lepas kepada kedua putranya. Ia pernah muda dan ia tahu bagaimana rasanya tercekik oleh banyak peraturan. Dan San juga sepenuh membebaskan Woosan dan Sooyoung untuk menemukan jalan mereka sendiri tanpa campur tangannya jika tidak diminta.
San kini berusia lima puluh dua tahun. Rambutnya dipangkas pendek dengan sedikit uban perak yang menambah karisma di pelipisnya. Tatapannya penuh kedamaian yang ia raih melalui perjuangan. Tubuhnya masih tegap dan kuat, perpaduan sempurna antara seorang ayah sekaligus pemimpin yang hebat. San kini menjadi pemilik Wo's Group yang bergerak sebagai konsultan arsitektur, dan juga mencakup divisi konstruksi design and build. Yang berhasil ia dirikan diumur empat puluh tahun. San juga sudah mengambil kendali penuh untuk mengelola yayasan sosial sang Kakek setelah beliau meninggal dunia.
Wooyoung sendiri tak banyak berubah, seolah menolak usia. Rambut hitam legamnya yang baru diwarnai terurai panjang hingga menutupi lehernya, membingkai sempurna wajahnya yang lembut. Perpaduan kontras ini justru membuat penampilannya terlihat awet muda dan timeless. Wooyoung menua dengan sangat anggun, garis-garis halus di sudut matanya hanyalah peta dari setiap tawa dan pelajaran hidup yang ia jalani.
Sedangkan Woosan yang kini berusia dua puluh tiga tahun, pewaris manik rubah milik sang Mommy tumbuh menjadi pemuda yang tenang, mencerminkan kematangan San setelah usia dua puluh lima tahun.
Sedangkan anak bungsu keluarga itu yang kini berusia dua puluh tahun adalah cerminan muda dari San, tampan dengan tatapan intens dan temperamen yang sulit diatur, mengingatkan San pada dirinya sebelum bertemu Wooyoung.
•••
Hari ini, Wooyoung secara khusus meminta Sooyoung menemaninya ke supermarket kota untuk mengisi kembali stok camilan di rumah. Meskipun San dan Woosan selalu bersedia, Wooyoung tetap bersikeras, membuat sang putra bungsu mau tak mau harus pergi ke kota untuk menemani Wooyoung. Bagi Wooyoung perjalanan singkat ke supermarket adalah petualangan kecil yang dipenuhi kebahagiaan, ia menggenggam lengan anaknya dan bersenandung kecil di sepanjang jalan. Sebaliknya, bagi Sooyoung, perjalanan itu dipenuhi dengan ketegangan dan kehati-hatian, berdoa agar ia tidak bertemu siapa pun yang dikenalnya.
Mereka baru saja keluar dari supermarket dengan dua kantung belanjaan besar, kini keduanya tengah berada di dalam antrean gerai donat yang ramai, sebelum Sooyoung secara tiba-tiba menarik lengan Wooyoung keluar dari tempat itu.
“Mommy, tunggu di sini ya!” Wooyoung menatap anaknya kebingungan, manik rubahnya yang polos dipenuhi tanda tanya.
“Kenapa Wuyo tunggu di sini? Soyo mau ke mana?”
Sooyoung menatap jengah sosok di hadapannya. Rasa malu itu menusuknya begitu ia melihat sekelompok teman kuliahnya yang masuk ke gerai donat. Ia tidak sanggup menghadapi tatapan kasihan atau, lebih buruk, tawa yang mungkin akan muncul jika mereka melihat interaksinya dengan Wooyoung yang terkadang tidak terduga. Rasa sayang Sooyoung kalah oleh harga diri remajanya.
“Udahlah, Mom. Duduk disini apa susahnya sih?” Sooyoung berbisik tajam. “Duduk di sini! Jangan ke mana-mana! Soyo mau ke dalem, beli donat. Ngerti?”
Sooyoung hampir mendorong Wooyoung ke kursi panjang yang terletak di depan etalase sebuah toko bunga yang harum, persis di sebelah gerai donat yang memalukannya. Ia meletakkan dua kantung belanjaan di samping kiri kanan Wooyoung, lalu bergegas pergi, meninggalkan sang Mommy yang masih berdiri kebingungan.
Wooyoung, yang selalu mematuhi perintah San dan anak-anaknya, hanya memilih untuk duduk diantara belanjaannya . Matanya mengikuti punggung Sooyoung yang menjauh, tetapi ia tidak berani beranjak. Ia hanya duduk diam di antara aroma manis bunga, memeluk kantung belanjaan besar itu.
“Hai, Kakak cantik?”
Wooyoung mengalihkan pandangannya pada suara lembut itu. Seorang gadis muda dengan apron florist berdiri di dekatnya, tersenyum hangat. Wooyoung yang berusia lima puluh tahun, dengan kulit terawat dan wajah awet muda, sering membuat orang asing salah mengira usianya. Gadis itu memanggil pria berusia lima puluh tahun itu dengan sebutan 'Kakak' dan imbuhan 'cantik'. Woah, sepertinya Wooyoung memang tidak akan pernah mencoba rasanya jadi tua.
“Owh. Wuyo disuruh duduk di sini,” jawab Wooyoung, memegang erat kantung belanjaan, seperti sedang melindungi.
Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Sikapnya yang tenang menunjukkan ia mungkin sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang yang "berbeda." “Iya, enggak apa-apa kok. Namanya siapa?”
Wooyoung menunjuk dirinya sendiri dengan jari, lalu meralat. “Aku Wuyo, ehh, bukan, Wooyoung.”
Gadis cantik itu kembali tersenyum, kehangatan matanya menenangkan. “Aku Rami.”
Wooyoung mengangguk, senang mendapatkan teman bicara. Rami kemudian mengambil satu tangkai bunga tulip berwarna putih yang berada di belakang tempat mereka duduk—simbol kemurnian.
“Ini buat Kakak yaa,” ucapnya tulus.
Wooyoung menerima tulip itu, matanya berbinar. Ia teringat Sooyoung, anaknya yang sedang marah.
“Satu lagi boleh?” tanya Wooyoung polos, matanya menatap penuh harap ke arah tulip putih lainnya.
Rami terkekeh lembut, merasa terhibur dengan permintaan itu. Ia mengambil satu tangkai lagi dan menyerahkannya. "Boleh dong.”
Wooyoung memeluk kedua tulip itu dengan hati-hati. “Makasih. Wuyo pergi dulu ya?” Wooyoung berpamitan sambil membawa dua kantung belanjaan besar di satu tangannya, sementara tangan yang satunya menggenggam dua tangkai bunga tulip pemberian Rami.
“Hati-hati!” seru Rami.
Wooyoung segera kembali ke gerai donat. Ia tidak kembali untuk membeli makanan, tetapi untuk menyerahkan bunga tulip putih yang satunya itu kepada Sooyoung, berharap bunga itu bisa menghapus ekspresi jengkel di wajah anaknya. Ia hanya tahu, bunga itu cantik, dan keindahan harus dibagi.
“Soyo!!!!”
Sontak sang pemilik nama, yang masih duduk bersama teman-temannya di dalam gerai donat terkejut bukan main. Ia menoleh dan melihat Wooyoung, Mommynya, berdiri di ambang pintu, tersenyum lebar dan melambai riang. Wooyoung masih memegang dua kantung belanjaan besar dan menggenggam erat dua tangkai tulip putih di tangan lainnya.
Wooyoung segera berlari menghampiri. “Hehe, liat, Mommy punya inii!” seru Wooyoung gembira, mengangkat kedua tulip itu.
Seketika, Wooyoung menjadi pusat perhatian teman-teman Sooyoung dan juga mengalihkan fokus beberapa pengunjung toko. Sooyoung merasakan darahnya mendidih. Ia segera mengusap wajahnya, berharap bisa menghilang ditelan bumi.
“Mommy lo, Soo?” tanya salah satu temannya, nada bicaranya mengandung campuran rasa heran dan sedikit mengejek.
Sooyoung dengan cepat menyangkal, rasa malu menenggelamkan semua perasaan lainnya. “Hehe, enggak.”
“Ihh, Wuyo itu Mommy-nya Soyo!” Wooyoung kesal karena tidak diakui, ia menghentakkan kaki ringan, tingkah laku yang tak terduga dan kekanak-kanakan itu justru membuat Sooyoung semakin panik.
“Apaan sih? Keluar!” Sooyoung segera bangkit dan menarik paksa lengan Wooyoung untuk keluar dari gerai donat. Ia menyeret Wooyoung ke pinggir jalan.
“Mommy apa-apaan sih? Kan aku udah bilang tunggu di sana! Kenapa masuk?!” Sooyoung membentak, suara frustrasinya tertahan.
“Tapi Mommy mau ngasih ini ke Soyo,” Wooyoung menunjukkan bunga tulip yang tadi diberikan Rami. Ia ingin berbagi kebahagiaan kecil itu dengan anaknya.
Rasa malu Sooyoung mencapai puncaknya. Tanpa berpikir panjang, dengan gerakan kasar ia merebut bunga dari tangan Wooyoung dan segera melemparnya ke tengah jalan. Dalam sepersekian detik, bunga tulip putih yang lembut itu langsung dilindas mobil yang lewat, hancur menjadi serpihan.
Mata Wooyoung membola. Ekspresi gembiranya langsung berubah menjadi duka yang mendalam. Ia mulai menghentakkan kedua kakinya. “Kenapa Soyo buang?! Soyo enggak boleh buang! Itu bunga Wuyo!” Ia berniat kembali mengambil sisa-sisa bunga itu, tetapi Sooyoung segera menahan lengannya kuat-kuat.
“Pulang!” Sooyoung memberhentikan taksi dan dengan kekuatan paksa mendorong Wooyoung masuk ke kursi belakang. Ia membayar, memberi tahu alamat Cafe Vivre, lalu membanting pintu taksi. “Jalan, Pak!”
Mata Wooyoung membola ngeri. Ia menoleh ke belakang, melihat Sooyoung berdiri tegak di trotoar, meninggalkannya. Rasa ditinggalkan itu menghantamnya, memicu kepanikan yang datang tanpa ampun.
“Eh? Eh? Soyo! Soyo belum naik! Soyo! Soyoo!! Soyo belum naik!! ENGGAK! SOYO! NAIK! NAIK!” teriak Wooyoung histeris. Ia tidak mengerti konsep 'pulang sendiri' yang ia tahu, Sooyoung belum ada di mobil.
Sang sopir melirik dari spionnya, terganggu. “Maaf Pak, tolong suaranya dikecilkan.”
Wooyoung mengguncang-guncang pintu mobil, kepanikan murni menguasai dirinya. "SOYOO! SOYO AYO! BELUM NAIK! WUYO SENDIRIAN!"
Sang sopir menggeram marah dan menatap tajam ke belakang. Wajahnya terlihat mengerikan karena marah. “DIEM!! TERIAK LAGI GUA TENDANG LO KELUAR!” Bentakan keras itu menghantam Wooyoung seperti pukulan fisik.
Seluruh tubuh Wooyoung langsung membeku. Ia mencengkeram erat kantung belanjaan di pangkuannya. Itu adalah suara paling keras dan paling menakutkan yang pernah ia dengar. Tidak ada yang pernah membentaknya seperti itu. Jantungnya berdebar kencang hingga rasanya mencekik. Ia menunduk dalam-dalam, mulutnya bergetar hebat saat ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Ia tidak berani bersuara. Ia harus diam, ia berpikir, jika tidak ingin ditendang keluar di tengah jalan. Dadanya terasa sesak, perih karena menahan isakan yang memilukan. Ia ditinggalkan, disakiti, dan kini terperangkap dalam ketakutan yang mencekik, sendirian di kursi belakang taksi yang melaju kencang.
Mobil taksi itu melaju membelah jalan menuju arah perbukitan. Tak lama, mereka dilanda hujan deras yang turun tanpa ampun. Di tengah perkebunan, jalanan yang belum diaspal sepenuhnya telah berubah menjadi kubangan berlumpur tebal dan sangat licin. Air hujan bercampur tanah hingga ke mata kaki, membuat mobil nyaris tak bisa bergerak.
“Tau jalan pulang kan?” Sang supir berbalik, tatapannya lelah dan tajam.
Wooyoung mengangguk, takut membuat masalah lagi. Instingnya tahu arah, tetapi logikanya bingung.
“Turun! Jalan sendiri!” perintah sang sopir, suaranya kasar dan dingin. Tanpa ampun, di tengah hujan badai itu, Wooyoung mengangguk lagi, menerima nasibnya. Ia membuka pintu taksi dan langsung disambut oleh curahan air dingin dari langit. Mobil itu segera tancap gas, meninggalkan Wooyoung sendirian.
Pria malang itu menyipitkan mata, berusaha menembus tirai hujan. Ia mencoba berjalan seimbang di atas lumpur, tetapi kakinya terasa berat dan licin. Ia harus berhenti berkali-kali karena tangannya terasa mati rasa harus membawa dua kantung belanjaan besar yang semakin berat. Setiap langkah adalah perjuangan. Ia tergelincir, jatuh terduduk di lumpur, lalu bangkit lagi, tubuhnya sudah basah kuyup, penuh tanah.
Wooyoung tiba di depan kafe yang sudah tutup. Ia tahu Yunho dan Mingi akan tutup lebih cepat saat hujan melanda, karena kemungkinan kedatangan pelanggan sangat kecil mengingat sulitnya medan yang harus ditempuh. Ia berjalan sambil menatap kafe itu, hatinya merasa sedih.
“Aduhh!”
Sepertinya hari ini adalah hari sialnya yang tak berkesudahan. Karena ia terus menatap ke arah kafe sehingga ia sampai tidak melihat lubang yang memang sengaja dibuat di sana untuk saluran air, karena jalanan di sekitar kafe memang sering tergenang. Kakinya terperosok ke dalam lubang itu hingga betis.
“S—sakit,” isaknya, suara tangisnya kembali pecah. Ia berusaha menarik kakinya yang sudah terbenam dalam lumpur dingin.
“BABAAA! BABAAAA! TOLONGG WUYO!” Wooyoung tetaplah Wooyoung, walaupun umurnya sudah memasuki kepala 5, jiwanya tetap seperti anak berumur 8 tahun yang akan berteriak memanggil Hongjoong saat keadaan menjadi sulit.
“Kaki Wuyo enggak bisa keluar, sakit Baaa! BABA TOLONGGGIN WUYO! SANNN!” Meski ia berteriak meminta pertolongan, Wooyoung tetap berusaha menarik kakinya sekuat tenaga. Dengan segenap kekuatannya, kakinya berhasil keluar, tetapi ia harus mendapatkan beberapa goresan karena terkena duri putri malu yang tumbuh di dalam lubang itu.
“Sakit,” isaknya lagi. Ia berusaha berdiri dengan benar dan kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Sepanjang perjalanan ia terus menangis sambil mengatakan mantra ajaibnya, “San...San...”
Setibanya di pekarangan rumah, entah mengapa Wooyoung lebih mengingat kedua orang tuanya ketimbang San. Ia segera menuju rumah Hongjoong dan Seonghwa. Mengetuk pintu lemah. Pintu terbuka.
“Astaga, Wuyo?! Kamu kenapa?!” Seonghwa panik melihat kondisi anaknya yang basah kuyup, penuh noda tanah di mana-mana. Kedua matanya juga merah dan ia masih terisak.
“Bubu...” lirih Wooyoung. Seonghwa segera menarik sosok itu ke dalam pelukannya. “Hongjoong!” Ia berteriak memanggil suaminya, yang tak lama setelah itu datang menghampiri.
“Wuyo?” Hongjoong terkejut. Wooyoung melepaskan pelukan itu, menjatuhkan dua kantung belanjanya dan segera memeluk Hongjoong. “Kaki Wuyo sakit, Baaa,” adunya.
“Yang mana, Nak? Mana? Sini Baba lihat!” Wooyoung menunjuk kaki sebelah kanannya yang mengeluarkan darah di beberapa spot yang tergores. Jika Wooyoung menggunakan celana panjang, kakinya akan lebih aman, tetapi sayangnya tidak.
“Wuyo pulang sendiri?” Wooyoung menggangguk pelan.
“Kurang ajar!” Hongjoong segera keluar dari rumah menuju rumah San tanpa menggunakan payung, wajahnya dipenuhi amarah.
Tak butuh waktu lama, Hongjoong kembali bersama San dan juga Woosan.
“Sayang? Kenapa pulang sendiri? Soyo mana?” San bertanya sambil memeluk sosok yang sudah mulai menggigil itu erat. Mereka kini tengah berada di dalam kamar mandi rumah Honghwa guna membersihkan tubuh Wooyoung.
“Soyo tinggal,” lirih Wooyoung, tubuhnya mulai lemah. Diluar dirinya yang diguyur hujan, ia juga sedih karna Sooyoung mengusirnya, ditambah dirinya juga sempat menahan emosinya setelah dihardik sang sopir taksi sialan.
“Kenapa di tinggal?” tanya San, masih shock.
“San, nanti dulu nanya-nanyanya,” Seonghwa menyadarkan San, menunjuk kondisi Wooyoung yang sudah telanjang dada.
“Biar San aja, Bu.” Seonghwa menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar mandi, meninggalkan pasangan itu.
San menangkup kedua pipi suaminya. “Sakit ya, Sayang?” Wooyoung mengangguk sambil menunjuk kakinya. San melirik goresan itu. “Nanti kita obatin ya? Sekarang Wuyo mandi ya, sayang ya?” Dan Wooyoung masih mengangguk sebagai jawaban.
