empat belas

5.9K 678 109
                                        

Siang itu, matahari bersinar terik, tetapi tiga sekawan kecil itu berkumpul di bawah pohon mangga besar dekat kafe. Woosan, Yugi, dan Minho tengah melingkar, bahu mereka saling merangkul, menciptakan lingkaran rahasia. Wajah mereka penuh keseriusan, seolah sedang merencanakan kudeta.
         
“Denger, ya, Osan, Ino.” Yugi, yang paling tua, berbisik dengan nada komandan. "Nanti kalo ditanya Mama atau Papa kita jawabnya main aja, ya? Terus kita lari kenceng-kenceng ke peternakan, okey?" Yugi mengulang kembali rencana mereka untuk menyelinap ke tempat Hongjoong dan Seonghwa bekerja. Mereka sudah merindukan aroma jerami dan anak sapi.
        
Woosan mengernyitkan dahi. Ia memang pemberani, tetapi gambaran wajah San tadi pagi yang tampak frustasi masih menghantuinya. "Kalo Daddy Osan malah imana Kak?”
        
"Nda bakal malah, ihh! Ocan penakut sekali,” sela Minho dengan nada menyebalkan, melipat tangannya di dada. Minho memang adik yang paling kecil, tapi tingkat kenakalannya paling tinggi.
       
Raut wajah Woosan langsung berubah merah padam. "Osan nda penakut Ino!"
       
"Ocan penakut! Ino yang pembelani!" Minho bersikeras, menantang dengan tatapan mata.
       
"Ino aja nda bisa bilang el!" balas Woosan, menyerang kelemahan Minho dalam pelafalan.
       
"Ocan juga!!" Minho balas berteriak, wajahnya tak kalah merah.
        
"Ihhh! Jahattt!"
        
"Wleee." Minho menjulurkan lidahnya mengejek saudara tak sedarahnya itu. Woosan yang kesal berniat melayangkan pukulan, Minho segera berlari menghindar tapi Woosan terus berusaha melayangkan setidaknya satu pukulan pada Minho, dan pada akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran.
        
"IHHH JANGAN LARI-LARI!" Yugi tidak bisa membiarkan rencana mereka hancur karena pertengkaran konyol ini. Ia mendesah frustrasi, mau tak mau dirinya harus menyusul kedua adiknya itu, bertindak sebagai polisi kecil.
         
Mereka terus berlari, mengabaikan teriakan Yugi. Kaki-kaki kecil mereka menginjak rumput dan dedaunan kering. Namun, karena Minho yang berlari paling depan tanpa tujuan yang jelas—hanya untuk menghindari pukulan Woosan—mereka tidak menuju ke peternakan. Minho membawa mereka berbelok tajam, melesat ke arah perbatasan hutan yang mengelilingi area perkebunan.
         
Mereka berlari menembus semak-semak, jantung mereka berdebar kencang, bukan lagi karena marah, tetapi karena kegembiraan petualangan dan adrenalin. Aroma tanah basah dan dedaunan liar langsung menusuk hidung mereka. Tiba-tiba, Minho yang berlari paling cepat berhenti mendadak, membuat Woosan dan Yugi nyaris menabraknya.
       
"Wahhh! Ocann! Kakak! Ada lusaa!" Minho yang masih terengah-engah menunjuk kearah seekor rusa yang tengah minum disungai.
     
Di sana, seekor rusa betina dewasa tengah minum dengan tenang, tanduknya yang ramping terlihat elegan di balik rerimbunan pohon.
        
"Mana lusa?" Woosan, yang tadi masih dipenuhi niat balas dendam, langsung melupakan niat awalnya. Ia berhenti tepat di sebelah Minho, matanya membulat takjub melihat keajaiban alam itu. Pertengkaran konyol mereka seketika lenyap, digantikan oleh kekaguman yang teramat besar.
        
Napas Woosan masih memburu, tetapi matanya tak lepas dari rusa di kejauhan. "Nanti kita minta Baba ambilin lusa naa ya Ino,” bisik Woosan, penuh harapan.
        
"Iyaa nanti kita minta iga ya Ocan, Ino atu, Kakak atu, Ocan atu." jawab Minho bersemangat, mengangguk setuju dengan pembagian yang sudah ia atur sendiri.
        
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh suara yang jauh lebih mendebarkan daripada rusa. "WAAAAA!" Itu bukan tangisan, tapi seruan kaget atau mungkin ketakutan. Keduanya tersentak dan berbalik. Yugi, kakak mereka, telah menghilang dari pandangan.
        
"Kakak Ino!" Minho yang tadi paling berani, kini yang paling panik. Ia kembali berlari dengan tergesa-gesa, mencari sosok Yugi di antara pepohonan.
        
"Kakak imanaaa?" Woosan setengah berteriak.
        
"Bodol mana kedengelan! Begini. KAKAKKKK!!! KAKAK IMANAA??" teriak Minho dengan volume penuh, mengoreksi cara berteriak Woosan.
       
"KAKAKK UGIII!!!" Woosan tak mau kalah, ia meniru gaya Minho, suaranya menusuk telinga.
     
Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan dengan sungai tadi, terdengar suara balasan. "KAKAK DISINIII!"
       
Keduanya langsung saling tatap, lalu menoleh ke sumber suara. “Disanaa!” seru Woosan, menunjuk ke arah suara. Mereka berlari tanpa pikir panjang, menembus semak-semak yang lebih rimbun. Mereka terus berlari dan berlari, hingga akhirnya pepohonan terbuka, menampakkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan dari rusa tadi.
       
Mereka tiba di sebuah muara dangkal yang berkilauan. Airnya mengalir tenang dari sungai tadi, bertemu dengan sebuah cekungan lebar. Muara itu dihiasi batu-batu sungai yang mulus dan dihiasi pantulan langit biru yang sempurna.
       
"Wahh bagus sekali ya Ino." Mereka tertegun melihat betapa indahnya tempat tersembunyi ini. Sinar matahari siang membuat airnya tampak seperti permata berkilauan.
        
“Hehe sinii!!” seru sebuah suara. Mereka melirik, dan tawa mereka pecah. Yugi sedang telentang santai di atas air yang hanya setinggi mata kaki, membiarkan arus dangkal menggelitik punggungnya sambil menikmati langit biru. “Airnya gak dingin! Cepat sini, Kakak capek lari!”
        
Lalu, ketiganya sibuk bermain air. Mereka saling melempar air ke arah satu sama lain, tawa mereka bergema di antara pepohonan. Mereka melompat-lompat, membuat cipratan air besar, dan benar-benar melupakan niat awal mereka untuk mengunjungi peternakan.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang