"Tapi Kek, kenapa harus sampe digusur? Kan pemerintah bisa aja bikin kesepakatan sama warga di sana, ngebor dibeberapa titik tanpa harus ngeratain semuanya. Itu bisa jadi lapangan kerja kan buat mereka?" tanya San.
Pria tua yang duduk di kursi kebesarannya menatap San dengan tatapan datar, penuh pengalaman. "San, pemerintah ambil kebijakan ini setelah survei berkali-kali. Apa kamu pikir kerja di tambang itu gampang?"
"Tapi mereka bisa ngasih sosialisasi! Bisa bikin kursus buat mereka!" San bersikeras.
"Apa kamu pikir warga desa sepintar itu?!" jawabnya cepat.
"Terus pantinya? Kenapa Kakek enggak ngelanjutin pantinya?" Tuan Hae menghela nafas panjang, ia benar-benar kehilangan seluruh rasa kantuknya karena berdebat dengan cucunya selarut ini.
"Baik itu Mingyu ataupun Seulgi, enggak ada yang mau ambil alih yayasan. Mereka nolak. Dan menurut kamu setelah Kakek nggak ada siapa yang bakal jadi donatur utamanya? Enggak ada kan San? Jadi cepat atau lambat semua panti yang bernaung di bawah yayasan ini pasti bakal ditutup. Jadi kenapa enggak sekalian?"
"San! Ada San Kek! San yang bakal ngelanjutin panti itu!" ucap San dengan penuh keyakinan
"Kamu—"
"Penghasilan? Iya, kan? San bakal cari kerja. Tapi di jalan yang San pilih sendiri!" Tuan Heo menatap cucu pertamanya itu lekat, mencari kegetiran disorot mata itu.
"Sebenernya kamu mau jadi apa?"
San mengalihkan pandangannya, ragu untuk jujur. Ini adalah rahasia yang ia simpan dari semua orang. Tapi kali ini ia harus jujur, demi desa, demi panti sosial dan semua orang di dalamnya, dan juga demi Wooyoung. Jika ia memiliki penghasilan sendiri, ia pasti bisa mempertahankan mereka semua. Terutama ia juga bisa membawa Wooyoung untuk tinggal bersamanya.
"San... " dirinya kehilangan kata-kata, ia takut jika harus jujur, ia takut semua orang akan menghakiminya, ia takut semuanya akan berantakan jika mereka tau jika sebenarnya San sudah menyimpang dari jalan yang sudah mereka sediakan.
"Sebenernya San lanjutin kuliah.” jawab San dalam satu helaan nafas.
"Kuliah? Kamu lanjutin study kamu?" San mengangguk "Jadi selama ini...” kalimat itu menggantung karna San terlebih dahulu menganggukkan kepala.
"Iya Kek, tapi San ngambil arsitektur, San enggak lanjutin yang kemarin."
"Udah lulus?"
San menggelengkan kepala "Lagi nyusun."
"Terus kamu dikirim ke panti gimana mau nyusun?"
"Gapapa Kek, ntar kalo udah balik kerumah San beresin semua." Sang Kakek menatap cucunya
“Jadi ini mimpi kamu, San?” tanya Tuan Hae tegas.
“Iya, Kek.”
Hening melanda. Sang Kakek tampak berpikir keras, mempertimbangkan lagi keputusannya. “Selesaikan apa yang sudah kamu mulai! Kakek bakal pindahin kepemilikan yayasan atas nama kamu, dan sampai kamu punya penghasilan sendiri, Kakek bakal terus ngurus semuanya.”
San tersenyum lebar, mengangguk, lalu berlari menghampiri sang Kakek dan memeluknya erat. “Makasih, Kakek,” bisiknya.
“Hmm, ya sudah sana, masuk kamar, istirahat,” balas Tuan Hae.
“Oh, enggak, Kek. San harus balik sekarang ke panti, soalnya pake mobil Jongho.”
“Aman?” Tanya Tuan Hae.
“Tenang aja, San aman, kok.” San berdiri. “Titip salam sama Nenek, ya, Kek. San pulang dulu.” Setelahnya, San berbalik meninggalkan pria lansia itu.
“Pulang?” Tuan Hae mengulang kata itu. San terdiam, lalu kembali berbalik sambil tersenyum.
“Iya, Kek, pulang ke panti.”
Tuan Hae tersenyum mendengarnya, lalu mengangguk. Sepertinya San menganggap panti sosial itu sebagai tempat dirinya pulang. Tapi siapa yang menjadi rumahnya di sana?
•••
San tiba di panti saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Setelah mengembalikan kunci mobil adiknya, ia segera menuju rumah Hongjoong.
"Enggak pengen ngelepas gue apa?" tanya Jongho tak percaya, melihat San yang bergegas pergi setelah mengembalikan kunci mobilnya.
"Udah anjing, lo kalo mau pulang mah pulang aja! Sana! Gue sibuk!" balas San.
"SANJING!'
"JONGOS!"
Setibanya San di rumah sederhana itu, ia langsung disambut dengan raut wajah bingung dari Hongjoong dan Seonghwa. Dengan cepat, San menjelaskan maksud kedatangannya.
"Owh, iya. Mingi sering ngasih kabar perkembangan terkini soal itu. Tapi sejak beberapa bulan terakhir udah enggak ada utusan pemerintah kesini. Mungkin udah batal,” jawab Hongjoong saat San menanyakan apakah mereka tahu perihal desa yang akan dijadikan lokasi tambang.
"Engga Baa, sama sekali enggak batal. Malah Kakek udah nerima uang ganti rugi panti ini, yang itu artinya daerah ini tetep bakal digusur,” jawab San. Seonghwa dan Hongjoong saling bertukar pandang, terkejut.
"Tapi Mingi bilang mereka udah nggak datang lagi!" Yunho menimpali.
"Iya karena desa nolak teruskan? Pemerintah enggak sebaik itu Yunho, kalo enggak bisa secara baik-baik mereka bakal pake cara kotor. Desa ini enggak ada apa-apa nya buat mereka ketimbang hasil tambang nantinya,” jawab San. Jawaban itu membuat kedua kaki Yunho lemas.
"Terus pantinya bakal digusur juga?" tanya Seonghwa, suaranya pelan dan penuh kekhawatiran.
"Soal panti aman Bu. Yayasan nanti bakal atas nama San. Semua tentang panti aman.”
"Kamu serius?" Hongjoong menatap sosok itu tidak percaya.
San mengangguk dengan penuh percaya diri. Kedua orang tua itu langsung bernafas lega.
"Terus desa? Warga desa gimana?" Yunho bertanya sambil melangkahkan kaki mendekat.
“Enggak ada cara lain selain berusaha sekali lagi buat ngeyakinin warga desa nerima tawaran migrasi ke kota.”
“Mereka mau, enggak, ya?” tanya Seonghwa, pesimis.
“Mending sekarang kita diskusi sama Ayah Mingi,” usul Hongjoong. Seonghwa mengangguk setuju.
“Mereka aja yang ke sini. Bentar, aku telepon,” ujar Yunho, lalu segera menghubungi Mingi.
“San, ketemu Wuyo, boleh enggak, Bu, Ba?” San menatap keduanya bergantian. Hongjoong mengangguk dan menunjuk kamar Wooyoung. San tersenyum, lalu bergegas menuju kamar sang pujaan hati.
“Wuyoo~” panggil San dengan suara yang pecah dan serak, seolah seluruh beban dunia telah menumpuk di pundaknya.
“Oh, SAN!” Wooyoung melompat kegirangan. San segera merengkuhnya ke dalam pelukan yang mendesak dan erat, melepaskan beban yang menyesakkan di bahunya. Ia memejamkan mata, meneguk dalam-dalam aroma khas Wooyoung yang menenangkan dan memabukkan. Aroma manis Wooyoung adalah aroma paling mahal yang pernah ia cicipi—jauh lebih berharga dari semua parfum bermerek miliknya. San merasakan gelombang kehangatan tubuh Wooyoung menjalar, seolah menyembuhkan setiap inci penatnya.
San menyandarkan dagunya di bahu Wooyoung yang sempit. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, ia memang belum tidur semalaman.
“San kenapa?” Wooyoung bertanya, bingung. Tangannya mengusap punggung San dengan gerakan ritmis dan lembut.
San hanya menggeleng, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Wooyoung. Berada diperlukan Wooyoung entah mengapa terasa seperti kode pulang ke rumah. “San capek,” bisik San.
“Capek kenapa?” Wooyoung bertanya lagi, mempererat pelukannya seolah menyalurkan seluruh kekuatannya.
“Ssssh, jangan tanya-tanya dulu, ya? San mau peluk Wuyo.”
“Oh, oke,” Wooyoung membalas patuh.
San melonggarkan sedikit pelukan di bahu Wooyoung, mengangkat wajahnya perlahan dari ceruk leher si manis. Ia menatap mata Wooyoung yang polos dan penuh kebingungan. Jemari San yang lelah terangkat untuk mengusap pipi gembul Wooyoung yang terasa halus.
San mendekat, sangat pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang mereka ciptakan. Mata San terpejam lebih dulu. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan. Bibirnya bergerak, menyentuh bibir Wooyoung dengan kelembutan yang luar biasa.
Tidak ada gerakan, tidak ada lumatan—hanya sentuhan penuh kelembutan. San menahan napasnya selama beberapa detik, membiarkan kehangatan Wooyoung membanjiri perasaannya, mengukir momen sunyi itu di ingatannya. Ia membiarkan bibirnya menempel sejenak, sebuah pengakuan tulus bahwa inilah tempat paling aman baginya.
Kemudian, San mundur perlahan, dahi mereka masih bersentuhan. Ia membuka mata, melihat Wooyoung yang terkejut, pipinya merona merah.
San tersenyum kecil, senyum paling tulus yang bisa ia tunjukkan saat lelah, lalu kembali menenggelamkan wajahnya di bahu Wooyoung, menutup babak keintiman itu dengan pelukan yang kembali erat. “Aku bakal lakuin apapun buat kamu, aku janji,” bisik San di telinga Wooyoung.
San merasakan detik-detik yang damai dalam pelukan Wooyoung. Ia menyandarkan seluruh beban pada tubuh kecil itu, mengabaikan seluruh masalah yang baru saja ia hadapi. Sejenak, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Wooyoung yang membuatnya merasa aman. San menyadari, di tengah kekacauan hidupnya, Wooyoung adalah satu-satunya tempat ia bisa beristirahat, dan satu-satunya rumah tempat ia bisa pulang.
“San sayang Wuyo.”
"Wuyo juga sayang San."
San tersenyum, mungkin Wooyoung tidak mengerti tapi ia pasti merasakan dan San yakin itu.
•••
Mereka telah berdiskusi dengan kepala desa yang tak lain adalah Ayah Mingi. Kepala desa itu setuju dengan usulan San dan mengumpulkan semua warga di balai desa, berharap San bisa memberikan pencerahan. Namun, San segera menyadari bahwa semua yang dikatakan Jongho adalah kenyataan pahit.
Balai desa itu terasa bagai arena gladiator. Warga desa yang berkumpul di sana tidak mendengarkan, mereka menolak. Suara-suara mereka seperti gerombolan serigala yang siap menerkam, melayangkan berbagai alasan tak masuk akal pada kepala desa.
"Otak kepala desa kita sudah dicuci oleh anak kota!" teriak seseorang.
"Benar! Tuan Hae pasti ngirim cucunya kesini buat ngebujuk kita ngasih desa! Dia bagian dari pemerintah!"
"Desa ini milik leluhur kami! Kalian enggak punya hak buat ngusir kami!"
"Usir cucu Tuan Hae dari desa kita!!"
“Usir dia dari sini!”
Suara-suara itu saling bersahutan, menciptakan gelombang amarah yang membahayakan. Hongjoong langsung menarik San untuk menjauh dari podium, tetapi San menolak. Ia malah berjalan ke arah Ayah Mingi dan merebut mikrofon yang berada di genggaman pria itu.
“Terserah kalian mau anggap anak kota ini apa! Tapi saya berdiri di sini karena tulus pengin bantu kalian semua! Jangan sampai ada sesuatu yang enggak kita inginkan terjadi di sini cuma karena keserakahan pemerintah! Saya mohon, pikirin sekali lagi nyawa kalian, nyawa orang tersayang kalian!”
“Halah! Bilang saja kamu sekongkol sama pemerintah!” teriak salah satu warga.
“Demi apapun! Saya enggak ada sangkut paut sama pemerintah! Saya cuma pengin ngasih jalan keluar terbaik buat kalian semua! Buat desa kalian! Kalau kalian semua terima tawaran pemerintah, bisa aja kalian dapat tempat yang lebih baik! Bisa aja kalian dapat lapangan kerja yang penghasilannya lebih dari penghasilan kalian sekarang! Coba pikirin lagi, saya mohon.” San menatap ratusan orang di sana, berharap mereka mendapatkan setitik pencerahan.
“Kami enggak punya alasan buat dengerin omongan kamu!” jawab seorang warga desa.
San menatap tajam ke arah kerumunan. “Dan saya juga enggak punya alasan buat bantu kalian!”
Mereka terdiam, terkejut mendengar balasan San. Bisikan mulai terdengar, membuat suasana sedikit lebih tenang. Mereka mulai mempertimbangkan ucapan San. Mereka yang berada di pihak San sejak awal mulai bernapas lega. Mereka pikir semua sudah selesai. Tapi, mereka salah.
Dug!
“Argh!”
Sebuah batu berukuran sedang melayang dari arah kerumunan, menembus udara, dan tepat mengenai kepala San. Pemuda itu tersungkur, darah segar mulai mengalir dari dahinya.
"SANNNN!"
Teriakan Wooyoung penuh kepanikan menembus keramaian, membuat suasana mencekam yang sempat mereda kembali pecah. Wooyoung yang berada di sisi kiri podium bersama Yunho, melihat San terhuyung dan jatuh dengan darah mengalir dari dahinya. Tanpa berpikir, Wooyoung langsung berlari, tetapi Yunho menahannya.
"Wuyo! Wuyo jangan!" Yunho memeluk Wooyoung erat, tetapi Wooyoung meronta.
"Astaga, San!" Seonghwa menatap khawatir cucu pemilik yayasan itu. San menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pusing yang tiba-tiba melanda. Suasana kembali riuh. Sebagian warga mulai berbalik arah, mencari pelaku pelemparan, sementara yang lain masih bersikeras dengan pendapat mereka.
"SANNN! SANN! WUYO MAU SAN! SANN!"
San memfokuskan matanya pada sosok yang tengah memberontak dalam pelukan Yunho. Ah, Wooyoung-nya pasti sangat khawatir. San menghapus darah di wajahnya dengan bajunya, lalu tertatih menghampiri Wooyoung.
Melihat San mendekat, Yunho melepaskan pelukannya. Wooyoung langsung menabrakkan tubuhnya ke San yang sedikit oleng karena hantaman itu.
“Hei!” San menangkup kedua pipi Wooyoung. “Kenapa nangis? San gapapa.” Wooyoung menggelengkan kepalanya, terus meraung seolah ia yang terkena batu itu. Lagipula, jangankan Wooyoung, siapa saja tidak akan percaya dengan kata “gapapa” milik San.
"Gapapa sayang, gapapa." San menarik Wooyoung ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya pelan untuk menenangkannya.
“San! Kita harus ke rumah sakit sekarang!” Ayah Mingi berteriak. San meliriknya, lalu mengangguk. Lalu San berjalan meninggalkan balai desa dengan Wooyoung di dalam pelukannya.
