San meletakkan nampan makannya di tumpukan piring kotor, dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Pikirannya sudah tertuju pada bantal dan kasur; ia butuh istirahat total setelah hari yang melelahkan.
“San, tunggu!” seru Yunho.
San pura-pura tidak dengar, terus berjalan.
Tapi Yunho menyusulnya, langkah kakinya yang panjang dengan mudah menyamai San. Tepat sebelum San berhasil keluar dari kantin, Yunho berbicara lagi, suaranya kini terdengar tepat di samping telinga San.
“Aku nggak mau lagi, ya, bangunin kamu besok! Harus bangun sendiri pokoknya!”
San berhenti melangkah tepat di ambang pintu, memutar bola matanya dengan sangat jengah. Ini adalah peringatan yang sama persis yang ia dengar untuk kesekian kalinya sejak mereka selesai makan.
“Gue denger elah Yun. Telinga gue masih berfungsi,” gerutu San, nadanya datar dan lelah. Ia hanya ingin segera kembali ke kamarnya untuk tidur, dan ocehan Yunho yang seperti alarm rusak ini adalah hambatan terakhir antara dirinya dan kasur.
“H—halo, Pak San?”
San menghela napas panjang, rasa jengkelnya langsung naik ke ubun-ubun. Lagi-lagi namanya dipanggil dengan titel ‘Pak’. Ia segera membalikkan tubuhnya, wajahnya sudah mengeras, siap melontarkan protes tajam.
“Bisa nggak—“
Kalimat kasarnya terputus di tengah jalan, seolah membeku di tenggorokannya. Di depannya, Wooyoung berdiri, memandangnya dengan tatapan sedikit takut sambil memegang ujung bajunya.
Secara tidak sadar, otot-otot di wajah San yang tadi tegang melemas begitu saja. Alisnya yang bertaut kesal, terangkat sedikit. Matanya yang tadi siap menghakimi, kini fokus dan melembut saat menatap sosok di depannya.
“Oh, Wooyoung,” ucap San. Suaranya keluar jauh lebih pelan dan rendah dari yang ia niatkan. Seluruh energi konfrontatif yang sudah ia siapkan beberapa detik lalu menguap entah ke mana.
“Pak San mau ke kamar?” tanya Wooyoung.
“Iya. Eh, Wooyoung... Yunho bilang, kita seumuran, lho.”
“Oh, yaa?” mata Wooyoung berbinar.
“Iya. Jadi, kamu panggil aku San, terus aku panggil kamu Wooyoung.”
“Wuyo!” koreksinya.
“Ah, okey, Wuyo.”
Wooyoung mengangguk berkali-kali, setuju dengan San.
“Pintar,” puji San sambil tersenyum lebar. “Sekarang, Wuyo mau ke mana?”
“Mau ke rumah,” jawab Wooyoung.
“Rumah Wuyo yang waktu itu, kan? Yang di lantai dua?” tanya San.
Wooyoung menggeleng. “Wuyo tinggal sama Baba Bubu, San.”
“Oh, gitu. Mau San antar?”
“Mau!” pekiknya kegirangan, membuat senyum di wajah San semakin merekah.
“Ayo!” ajak San.
Mereka berjalan beriringan, melangkah dengan ritme yang selaras. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat hingga bersentuhan, namun juga tidak terlalu jauh. Mereka menyusuri koridor panti yang panjang.
"San suka nyanyi, yaa?"
San mengangguk, "Hng! Wuyo juga kan? Soalnya waktu San denger malem itu, suara Wuyo bagus tau.”
"Hehehe... makasih, suara San juga bagus! Wuyo suka!" San tersenyum lalu mengusak rambut yang menurutnya sudah terlalu panjang, bahkan sudah menutupi matanya.
"Rambutnya enggak ganggu kah?"
“Hng? Enggak kok,” ucap Wooyoung, seraya menyelipkan poninya ke belakang telinga, memperlihatkan wajahnya lebih jelas.
“Enggak ganggu, kan? Poni Wooyoung enggak jahat, kok, San.”
San hanya membalasnya dengan senyuman. Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah pelan. Meskipun tidak ada percakapan, tidak ada kecanggungan di antara mereka. Wooyoung sibuk dengan dunianya sendiri, melompat ke sana kemari sambil menyenandungkan nada-nada acak yang terdengar merdu. Sementara itu, San hanya memperhatikan tingkah Wooyoung dengan senyuman yang tak pernah pudar.
Mereka menyusuri koridor panti yang panjang, lalu berbelok melewati taman samping yang rindang, hingga akhirnya sampai di rumah sang ketua panti. Rumah itu berdiri di bagian paling belakang pekarangan, di sisi kanan, masih satu area dengan gedung panti sosial.
Meski dengan pencahayaan minim, San bisa melihat betala rumah itu terlihat sangat asri dan tenang. Sebuah jalur setapak dari batu-batu pipih memandu jalan menuju pintu depan, diapit oleh deretan tanaman semak yang tertata rapi. Halaman rumputnya terawat dengan baik dan hijau, serta dihiasi beberapa pohon berukuran sedang.
Rumahnya memiliki gaya arsitektur yang sederhana, dengan fasad berwarna putih kontras dengan atap genteng terakota. Di bagian depan, terdapat teras yang dinaungi atap dengan pilar dan balok kayu alami, dihiasi satu set meja dan kursi kayu yang siap menyambut tamu. Benar-benar rumah impian semua orang yang mendambakan ketenangan.
"Wuyo udah sampai! San mau Wuyo temenin kekamar enggak?" Wooyoung menawarkan, dengan senyum polos yang membuat San ikut tersenyum.
San menggeleng, “Enggak usah, Wuyo. San bisa sendiri, kok.”
Wooyoung tersenyum, lalu melambaikan kedua tangannya dengan riang. “Hati-hati, ya, San! Dadah!”
San membalas lambaian tangan Wooyoung, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar seorang diri.
Senyum San tak pernah pudar. Sepanjang jalan menuju kamarnya, bayangan Wooyoung yang tersenyum riang sambil melambaikan tangan terus menari-nari dalam pikirannya, membuat hatinya diliputi rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
