Dua belas

8.8K 913 34
                                        

Hujan turun dengan deras, petir menggelegar, kilat mengubah gelapnya malam menjadi siang persekian detik, angin bertiup kencang. Kepanikan mulai melanda beberapa orang yang percaya berita yang mereka bawa.
         
"Tapi, Yah, kita udah enggak punya banyak waktu!" teriak Mingi, suaranya bergetar menahan tangis. Air mata membasahi pipinya saat melihat kedua orang tuanya menolak pergi. "Ayah ini kepala desa, dan warga desa ini tanggung jawab Ayah," balas sang kepala desa, wajahnya tegas.
          
Mingi menggelengkan kepalanya. Ia tahu, ini adalah kemungkinan terburuk. "Yah, tapi kalau kita enggak keluar sekarang, kemungkinan kita enggak akan ketemu lagi."
         
"Mingi," sang ibu mendekat dan menangkup wajah putra satu-satunya itu. "Tanggung jawab kita besar, Nak. Kita enggak mungkin pergi gitu aja dan hidup dengan penyesalan. Kamu keluar duluan, ya? Nanti kita nyusul."
         
Mingi menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa membayangkan harus meninggalkan orang tuanya di zona merah seperti ini. "Enggak, Bu, aku mau sama Ayah sama Ibu!"
        
"YUNHO! CEPATAN!" teriak Jongho dari dalam mobil.
         
"Igi, ayo," Yunho menarik tangan Mingi.
        
"Enggak! Aku mau di sini!" Mingi menolak, memberontak.
         
"Yunho, Ibu titip Mingi, ya?" Yunho mengangguk, meskipun hatinya hancur. Mereka bisa apa?
        
"Maaf, tapi kita harus pergi sekarang! Tinggal tiga menit!" San terpaksa ikut keluar dari mobil dan menarik Mingi untuk kembali masuk.
        
"IBU! ENGGAK! MINGI MAU DI SINI! AYAH!”
           
San mendorong keduanya agar masuk, terserah sudah duduk dengan benar atau belum.
          
Setelahnya Jongho kembali tancap gas ke destinasi terakhir yaitu pertigaan tempat Hongjoong menanti. Sejak mereka dari panti, Seonghwa dan Yunho terus berteriak kepada para warga untuk segera mengungsi, ada yang mendengarkan dan segera keluar dari desa dan ada juga yang tidak peduli.
          
Untungnya saat mereka tiba pertigaan Hongjoong sudah menunggu. Tampak pria itu berdiri dibawah pohon pinus sambil mengusap kedua lengannya. Ia kedinginan.
          
"Ho! Biar gue yang bawa." Jongho mengangguk dan membiarkan jiwa pembalap ulung abangnya menyala.
          
"Petugas sama mitra udah keluar dari desa lewat belakang. Tapi aku engga tau mereka mau kemana,” ucap Hongjoong setelah ia berhasil masuk kedalam mobil dan duduk disebelah sang suami.
          
"Gapapa, ya. Yang penting mereka selamat." Seonghwa menenangkan.
          
San melirik kearah layar monitor yang tengah menghitung mundur, Jongho sudah menyetel nya sejak dari kota. Kini hanya tersisa 1 menit 27 detik lagi. San benar-benar harus memanfaatkan waktu itu untuk keluar dari pemukiman warga yang memiliki jalan berkelok-kelok.
          
Hujan deras mencambuk atap mobil, menciptakan simfoni ketakutan yang menggema. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi wajah-wajah pucat yang terperangkap dalam mobil yang melaju kencang. San mencengkeram kemudi dengan erat, matanya menyipit, berusaha menembus tirai air yang menghalangi pandangan. Setiap putaran roda adalah perjuangan melawan alam dan waktu.
        
Di row dua, Hongjoong dan Seonghwa saling berpegangan, tubuh mereka bergetar hebat tapi sebagai dua orang yang paling dewasa mereka berusaha tenang. Di row paling belakang, Yunho duduk diantara Mingi yang masih menangis dan Wooyoung yang duduk meringkuk memeluk bukunya yang sudah basah, tatapannya kosong, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Tidak ada yang ia mengerti dari situasi ini, tapi melihat mereka semua ketakutan Wooyoung jadi ikut merasakannya.
         
“Lewat sini! Lebih cepat, San!” teriak Hongjoong, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan.
         
San membanting setir ke kanan. Ban-ban mobil berdecit melengking di atas aspal basah, dan mobil oleng hebat. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi tampak seperti bayangan hitam yang menari-nari di tengah badai. Angka pada monitor terus menghitung mundur, setiap detik terasa seperti jarum jam yang menusuk jantung.
         
37 detik.
         
36 detik.
          
Keringat dingin membasahi pelipis San. Ia melirik Wooyoung di kaca spion, San tidak boleh menyerah. Ia tidak bisa mati. Ia berjanji akan melindungi Wooyoung. Janji itu terukir dalam hatinya, lebih kuat dari segala ketakutan.
         
12 detik.
         
11 detik.
          
Gapura perbatasan desa mulai terlihat, samar-samar di antara guyuran hujan. Sebuah harapan kecil menyelinap di antara rasa putus asa yang mencekam.
          
"5 detik, please please please." Jongho berteriak, suaranya parau, matanya menatap tajam ke arah gapura.
          
Semua orang menahan napas, kecuali Wooyoung, seolah ia tidak menyadari kengerian yang mengintai.
          
3...
          
2...
         
1...

DUARRRRRRRRRRRRRRRRRR!
         
Ledakan dahsyat menggelegar, lebih keras dari dentuman guntur manapun. Gelombang kejut menerjang mobil, melemparkannya beberapa meter ke depan. Kaca mobil pecah berkeping-keping, hancur menjadi serpihan-serpihan tajam. Airbag mengembang, menahan tubuh San dari benturan.
         
Semuanya gelap. Telinga San berdengung, tak mampu mendengar apa pun selain suara desing yang menusuk. Kepalanya berputar hebat, dan ia merasa kesadarannya mulai memudar.
       
San merasakan setiap sel dalam tubuhnya berteriak, hancur, dan perlahan-lahan menyerah. Kegelapan merayap, mencoba menelannya utuh. Namun, satu hal mencegahnya. Ia harus memastikan satu hal, satu-satunya hal yang penting.
       
"Wuuu... yo?" bisiknya, suaranya parau, nyaris tak terdengar.
        
Ia mencoba menggerakkan tangan, merangkak, mencari Wooyoungnya. Namun, tubuhnya berkhianat. Otot-ototnya terasa seperti beton, berat dan kaku. Setiap upaya adalah siksaan, setiap gerakan adalah pertempuran yang tak mungkin dimenangkan.
         
Dalam detik-detik terakhir kesadarannya, ia melihat Wooyoung. Tapi detik selanjutnya semua gelap.

•••
         
Raungan sirene memecah keheningan malam, menjadi nyanyian pilu yang mengiringi kedatangan mereka. Pintu-pintu ambulans terbuka, dan tim medis bergerak cepat, seperti pasukan yang terlatih. Brankar-brankar didorong keluar dengan tergesa-gesa, di atasnya terbaring tubuh-tubuh yang lelah dan terluka. Rona merah dari lampu darurat menari-nari di wajah para perawat dan dokter, menciptakan suasana tegang dan panik.
       
San adalah yang pertama kali dievakuasi. Pakaiannya terkoyak, dan wajahnya dipenuhi luka goresan dari pecahan kaca. Sebuah noda merah gelap mengalir dari pelipisnya, membasahi perban yang terpasang asal-asalan. Ia masih tidak sadarkan diri, dan tim medis dengan hati-hati meletakkan penyangga leher, khawatir akan cedera tulang belakang.
         
Kemudian, Hongjoong dan Seonghwa. Hongjoong menahan suaminya itu di sisinya, bahunya dipenuhi pecahan-pecahan kaca kecil yang menancap, membuatnya menahan rasa sakit yang kian menarik kesadarannya.
          
Mingi dan Yunho tak kalah parah. Mingi mengalami luka sobek di kening dan harus segera dijahit. Yunho terlihat pucat dan gemetar, tangannya memar, akibat melindungi Wooyoung dari benturan keras.
          
Jongho tak kalah parah. Ia duduk di kursi depan, dan saat mobil terlempar, tubuhnya membentur dashboard dengan keras. Wajahnya membiru, hidungnya patah, dan ia meringis kesakitan. Ia harus segera dilarikan ke ruang bedah untuk menjalani operasi darurat.
         
Di tengah semua kekacauan itu, ada satu keajaiban. Wooyoung selamat. Sebuah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Ia tidak memiliki luka fisik yang berarti, hanya memar-memar ringan di tangan dan kakinya. Namun, yang paling memilukan adalah tatapan matanya yang kosong, seolah jiwanya tak lagi berada di sana. Ia hanya diam, tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Satu-satunya hal yang ia genggam erat adalah buku dongengnya, seolah benda itu adalah satu-satunya pengingat akan dunia yang pernah ia kenal.
        
Tim medis segera membawa mereka ke ruang gawat darurat. Pintu-pintu tertutup, meninggalkan Tuan Hae, Istrinya dan dua orang bawahannya. Kekhawatiran, kecemasan, dan harapan berbaur menjadi satu, menciptakan ketegangan yang membuat jantung berdebar. Akankah mereka semua selamat? Akankah mereka bisa kembali seperti semula? Hanya waktu yang bisa menjawab.

•••
          
San tersentak hebat, kelopak matanya terbuka paksa, terasa berat dan panas. Bukan cahaya alam yang menyambutnya, melainkan langit-langit putih yang dingin, ditemani kilau tajam lampu neon yang menusuk retinanya.
       
Indra pendengarannya terasa tercekik. Hal pertama yang ia tangkap adalah gemuruh kacau—campuran antara suara sirine, gemuruh hujan dan teriakan samar. Semua suara itu kini tenggelam dalam dengung keras yang memekakkan telinga di dalam tempurung kepalanya.
     
Ia mencoba bergerak—hanya sedikit—namun rasa sakit yang membakar segera menjalar dari belitan perban tebal di kepalanya hingga ke setiap simpul saraf di tubuh. Kepala San berdenyut-denyut hebat.
      
Gelombang mual yang luar biasa tiba-tiba menghantamnya. San berjuang keras menahan isi perutnya, tetapi tubuhnya yang lemah tidak mampu melawan. Ia memuntahkan isinya ke samping, rasa perih dan pening semakin menyiksa.
     
“Suster! Pasien muntah!”
     
Sebuah suara teriakan panik terdengar dekat sekali. Dalam hitungan detik, seorang perawat berbaju hijau sudah berada di sisi ranjangnya. “Tenang, Pak. Jangan bergerak! Kami bersihkan!”
     
Perawat itu segera memiringkan kepala San dengan hati-hati dan membersihkan sisa muntahan dengan cekatan. Suara monitor detak jantung mulai berbunyi nyaring, alarmnya berbunyi cepat, mencerminkan peningkatan denyut jantung San akibat rasa sakit.
      
Setelah kekacauan mereda, dengung di telinganya perlahan-lahan surut, digantikan oleh irama monoton dan stabil dari monitor yang kini sudah diredam suaranya. Samar-samar, San mendapatkan kesadarannya seutuhnya.
      
Ia ada di ranjang.
      
Ia ada di rumah sakit.
     
Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa lemas, sakit, dan kekhawatiran yang menghantamnya.
         
“Wuyo...”
          
Dengan segenap kekuatan, San menarik selang infus dari lengannya. Alarm monitor berbunyi nyaring, membuat sang perawat terkejut. Namun, San tidak peduli. Ia mendorong perawat itu dengan lemah, dan terhuyung-huyung berdiri.
         
“Wuyo, mana?” tanyanya, suaranya serak.
          
Ia menyusuri lorong yang panjang, mencari-cari, sampai matanya menemukan sebuah bangsal yang lebih tenang. Di sana, di ranjang terakhir, Wooyoung terbaring. Tubuhnya tidak terluka, namun ia pingsan. Bukan karena cedera fisik, melainkan karena syok yang begitu dalam.
          
San menghampiri dan mengusap rambut Wooyoung dengan lembut. Ia tersenyum saat melihat Wooyoung tidak terluka parah
         
Setelah memastikan Wooyoung baik-baik saja, San melirik ke bangsal yang lebih ramai. Mereka semua di sana kecuali Jongho. Mereka tersenyum kearah San, ada kelegaan di mata mereka saat melihat San berdiri, meskipun dengan tertatih.
        
“San, orang tua kamu nunggu di luar.” Ucap Seonghwa.
         
Kata-kata itu bagai belati dingin yang menusuk San. Pikirannya berpacu, mengumpulkan setiap kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di balik pintu bangsal itu. Ia tahu Mingyu tidak akan datang hanya untuk menanyakan kabarnya. Dia datang untuk sebuah konfrontasi. Sebuah pengadilan.
       
San menarik napas panjang, mengumpulkan setiap sisa keberanian. Apapun yang terjadi, ia akan menghadapinya. Ia harus. Ini adalah pilihannya, dan ia harus bertanggung jawab. Ia menoleh ke arah teman, ah bukan, keluarga nya dan mengangguk, seolah meyakinkan dirinya sendiri lebih dari meyakinkan mereka. Ia melangkah keluar.
        
Di luar, lorong rumah sakit yang tenang terasa seperti arena gladiator. Di sana, di bawah sorotan lampu neon yang dingin, berdiri orang-orang yang selama ini menemani hidupnya, kedua orang tuanya dan Kakek Nenek.
          
Mingyu berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti guntur yang mengancam. Matanya yang tajam menatap San dengan nyalang, penuh dengan kemarahan yang membara.
         
“Puas kamu? Hah?” suaranya rendah, berbahaya. Wonwoo, segera menahan lengan kekar itu, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya
         
"Ngerasa hebat? Mau jadi superhero nyelamatin orang? Iya? Hidup kamu aja enggak beres kamu belagu mau ngurusin hidup orang lain? Papa ngirim Jongho kesana buat nyelamatin kamu! Bukan nyelamatin mereka! Kalo aja kamu enggak repot-repot ngurusin mereka, Jongho enggak akan luka!" San mendongakkan kepala, menatap mata Mingyu tanpa gentar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak menunduk.
         
“San juga enggak minta diselamatin!” balasnya, suaranya bergetar namun tegas.

Plak!
         
Tamparan itu keras, menggema di seluruh lorong. Pipinya yang sudah penuh luka terasa seperti terbakar. San memejamkan mata, menahan rasa sakit. Wonwoo menarik lengan Mingyu, mencoba meredakan amarahnya.
         
"Papa!" Wonwoo menarik lengan suaminya untuk menjauh, walaupun sejujurnya ia juga marah. Tapi melihat kondisi San saat ini, memukul hanya akan menambah masalah.
          
"Pukul sampe Papa puas!" teriak San, entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk menantang Mingyu.
           
Mata Wonwoo terbelalak. Ia mencoba memperingati San, tapi sudah terlambat. Mingyu sudah dibutakan oleh amarah. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh San yang rapuh.

Bughh
          
"Papa nyekolahin kamu bukan buat ngegambar enggak jelas!"
Bugh
          
"Papa ngirim kamu kesana buat renungin kesalahan kamu dan bukan jadi superhero!"

Bugh
          
"Papa udah nyiapin masa depan yang sempurna buat kamu, tapi kamu ngerusakin nya sendiri! BODOH!”
          
"MINGYU UDAH!" Wonwoo berusaha menariknya dibantu dengan Tuan Hae
          
San ambruk ke lantai, setiap pukulan terasa seperti menghancurkan tulang-tulangnya. Mingyu terhenti ketika Tuan Hae, kakek San, memeluknya.
          
“Mingyu, sudah! Kasihan anakmu!”
          
Mingyu menatap nyalang putra sulungnya yang kini terkapar tak berdaya di lantai dingin. Lalu, dengan tatapan dingin, ia berbalik.
         
"Urus diri kamu sendiri! Mulai hari ini kamu bukan bagian dari kita! Enggak usah pulang! Enggak usah ngasih kabar apapun ke kita! Dan jangan ada satupun dari kalian yang berani bantu dia!"
          
Mingyu pergi, siluetnya yang kejam meninggalkan jejak dingin di ruangan itu. Wonwoo dan Tuan Hae bergegas membantunya berdiri, tetapi San menepis tangan mereka dengan lembut, dengan gerakan yang ringkih.
     
“Papa bilang, nggak boleh.”
     
San berdiri tegak—sebuah tindakan yang membutuhkan segenap sisa kekuatannya—menatap Papi dan kakeknya dengan mata yang berkaca-kaca, menahan banjir kepedihan. Ia membungkuk dalam-dalam, tubuhnya gemetar. “Maafin San udah hancurin harapan kalian.”
      
Kemudian, sebuah senyum yang hampa dan menyayat hati terukir di bibirnya, senyum yang mengisyaratkan pemutusan ikatan secara final.
      
“Makasih Pi untuk setiap hari di 25 tahun San."
      
Ia berbalik, melangkah gontai dan berat menuju pintu bangsal. Setiap langkahnya adalah pengakuan bahwa ia telah diusir dari rumahnya sendiri.
      
Mata San memerah hebat saat ia melihat Seonghwa, Hongjoong, Mingi, dan Yunho di dalam, menatapnya dengan raut wajah yang sama hancurnya.
     
“San... San udah diusir Papa,” katanya, senyum hampa itu masih dipaksakan di wajahnya. Ia berjuang keras agar kalimatnya terdengar ringan, tapi suaranya patah dan bergetar menyedihkan. “Boleh nggak? San di sini?”
     
Air mata yang selama ini ia tahan—penjara emosi yang ia bangun atas nama kebanggaan—akhirnya luruh deras. Isakannya pecah, merobek keheningan, suaranya bergetar hebat. “Hiks, maaf… maafin San…”
     
Seonghwa tanpa berkata-kata menarik San ke dalam pelukan erat yang menawarkan perlindungan. San menumpahkan semuanya, ia hanya ingin menangis, melepaskan segala beban kehancuran yang ia pikul seumur hidupnya.
    
“Kamu masih punya kita," bisik Seonghwa, menepuk bahu San.
     
Tak ada penjelasan yang keluar dari bibir San, hanya derai isak tangis yang mencurahkan rasa sakit, kekecewaan, dan kesedihan yang menusuk karena telah dicampakkan oleh darah dagingnya sendiri. Ia menangis, bukan hanya karena pukulan fisik yang diterimanya, tapi juga karena luka batin yang terbuka lebar, luka yang jauh lebih dalam dan takkan pernah bisa dijahit.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang