Empat

9.5K 1K 57
                                        

Setelah makan siang, San memutuskan untuk kembali ke area bengkel, namun niatnya bukan untuk kembali bekerja. San memilih untuk duduk di bangku kayu yang terletak agak jauh di luar, di bawah naungan pohon rindang, ia menjatuhkan tubuhnya di sana dengan napas lega, menikmati jeda dari kepungan para mitra untuk sesaat.

​San baru saja mulai menikmati keheningan, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya di bangku kayu itu. Tepat saat ia hampir terlelap, suara yang terlalu dekat mengagetkannya.

“Kok tiduran di sini?” Suara Yunho yang tiba-tiba membuat San terkesiap, punggungnya sedikit terangkat dan matanya langsung terbuka.

“Yunho... kaget anjir.” Gumam San singkat, kembali menutup matanya dengan cepat, mengisyaratkan bahwa percakapan sudah berakhir. Namun, ia merasakan bangku kayu disebelahnya berderit.

“Ngapain di sini? Nggak ada kerjaan?”

“Pengen ketemu,” jawab Yunho dengan enteng.

San langsung terangkat duduk, menoleh cepat ke arah lawan bicaranya, raut wajahnya curiga. “Hah?! Ketemu siapa?”

Yunho terkekeh pelan. “Bukan sama kamu, Tuan Kota,” katanya, lalu tersenyum tipis.

San mengembuskan napas panjang, lalu melipat tangannya ke dada. Syukurlah, bukan dirinya alasan Yunho kemari.

San diam sejenak, lalu kembali membuka matanya. Ia terlalu malu untuk jujur bahwa ia penasaran dengan sosok Wooyoung, jadi ia memilih bertanya balik dengan cara paling sok tahu.

“Mau ketemu adek lo yang super-duper ceria itu, kan? Yang tingkahnya kayak anak TK itu. Kok beda banget sih sama lo? Lagian, dia mirip siapa sih? Kok beda sendiri?”

 Yunho seketika terdiam, senyum di wajahnya memudar karena pertanyaan San yang terlalu to the point dan menghakimi. Ia menggeleng pelan, matanya menghindar dari tatapan tajam San.

“Bukan,” jawabnya, suaranya sedikit tertahan. “Wooyoung bukan adik kandung aku.”

San langsung membuka mata lebar-lebar, memperbaiki posisi duduknya, dan menghadap Yunho sepenuhnya, menandakan minatnya yang tidak bisa disembunyikan lagi. Tebakannya salah, tapi ia justru menemukan data yang jauh lebih menarik. “Hah?! Enggak kandung? Terus dia anak pungut gitu?”

“Ya... bukan anak pungut juga,” jawab Yunho, sedikit tidak nyaman dengan istilah San.

“Terus?” San mendesak, suaranya mengandung impatience.

“Ceritanya panjang, San,” kata Yunho, ragu-ragu.

“Pendekin!” tuntut San, matanya menatap Yunho, meminta penjelasan secepat kilat, seolah ini adalah deadline bisnis.

Yunho menghela napas. “Wuyo itu... dia beda. Dia punya keterbatasan. Ada gangguan perkembangan yang bikin... kelakuannya nggak sesuai sama umurnya.”

 Pernyataan Yunho bagai palu godam yang menghantam tepat di kepala San. Bukan badai, tapi sebuah bug fatal yang menghentikan sistem operasinya. San terdiam seribu bahasa, semua arogansinya lenyap seketika. Pikirannya berpacu gila-gilaan, seperti error screen yang berputar cepat.

 “Keterbatasan? Gangguan perkembangan? Berarti dia idiot dong?”

“Tapi mukanya kaya orang normal, bangsat! Enggak keliatan sama sekali!”

“Tapi gue suka! Masa gue suka ama anak idiot?! Gila, enggak mungkin!”

San mencengkeram lututnya. Ini adalah liabilitas terburuk yang pernah ia ciptakan. Bagaimana mungkin seorang San, putra Mingyu, yang dituntut sempurna, bersih, dan berorientasi aset tinggi, jatuh hati pada seseorang yang tercacat dari segi spesifikasi sosial? Perasaan ini tidak efisien. Perasaan ini akan menjadi titik lemah yang akan dihancurkan Mingyu jika sampai ketahuan.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang