Paginya, Yunho harus dengan besar hati pergi kekamar San untuk membangunkannya lagi. Menunggunya bersiap-siap dan pergi bersama menuju lapangan utama. Tempat semua orang tengah berkumpul untuk melakukan senam pagi. Seharusnya San ke kantin terlebih dahulu untuk sarapan, tapi pemuda itu sudah sangat terlambat. Jadi, seperti yang Yunho bilang “Nanti aja selesai senam,” sebelum mereka benar-benar tiba di lapangan.
“Duh... kaya anak TK,” keluhnya sambil mengacak rambut frustrasi. Ia mendesis kesal, mengeluh tentang gerakan yang terlalu sederhana dan musik yang norak setiap detik di sini benar-benar terasa sia-sia. Ia berdiri diam di tempat, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan sikap menentang. Ia menolak keras untuk mengikuti satupun gerakan sang instruktur, pikirannya hanya sibuk mencari celah strategis untuk bisa kabur dari rutinitas yang dianggapnya buang-buang waktu ini.
Saat matanya menjelajah, mencari celah untuk melarikan diri, pandangannya terpaku pada sosok yang berdiri beberapa barisan di depannya. Itu Wooyoung, yang kini terlihat sangat bersemangat mengikuti senam. Gerakannya lentur, ringan, dan penuh energi, terlihat ia sudah sangat hafal dengan urutan latihannya.
Tanpa ia sadari, keluhan di bibirnya mereda. Tubuhnya yang awalnya menolak mentah-mentah instruktur secara otomatis mulai meniru dan mengikuti setiap gerakan yang Wooyoung lakukan, seolah pemuda itu adalah satu-satunya pemandu yang sah di lapangan itu.
“Semangat banget,” kekeh Yunho, yang berdiri di sampingnya, saat melihat San yang tiba-tiba saja menjadi bersemangat.
San tersentak keras, seperti tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang memalukan. Ia segera mengalihkan pandangannya dari Wooyoung, wajahnya memanas karena ketahuan. Malunya sudah terlanjur, dan ia bereaksi dengan kasar untuk menutupi.
“Serah gua lah anjing! Mau semangat kek, mau nggak kek, bukan urusan lo!” Sentak San, nadanya langsung kembali galak seperti biasa.
Yunho seketika membeku. Ia berhenti bergerak dengan ekspresi terkejut dan agak canggung. Dia tidak menyangka San akan merespon sekasar itu, padahal ia hanya bercanda.
San, menyadari kekasarannya berlebihan, segera membenarkan, “Eh, sorry, Yun. Kebiasaan.”
Yunho mengangguk perlahan, tersenyum kecil. “Gapapa kok.”
San membuang napas panjang lalu kembali fokus pada gerakan senamnya yang kini ia ikuti dengan setengah hati. Intinya, jangan sampai ia ketahuan lagi sedang mengagumi anak panti.
•••
Selesai dengan senam, para petugas dan mitra bubar, melanjutkan dengan kegiatan masing-masing yang sudah terjadwal. San, yang kini merasa sangat kelaparan, bergegas menuju kantin atas perintah Seonghwa untuk sarapan.
Kantin itu sepi, tidak ada satu pun orang di sana. Keheningan yang tiba-tiba itu terasa asing dan sedikit menekan. “Serem juga kalau gini... kaya setting film horor,” pikir San, mencibir pelan.
Ia mendekati meja saji. Mata San meneliti tiga buah sandwich sederhana. Walau terlihat menyedihkan dibandingkan brunch mewah di rumahnya, ia tahu ia tidak punya pilihan. Ia mengambil semuanya tanpa ragu, juga mengisi paper cup dengan kopi hitam, berharap kafein bisa memperbaiki suasana hatinya.
San memutuskan untuk tidak makan di dalam. Ia membawa sarapannya keluar dan duduk di tepi lorong kanopi, tempat dimana ia bisa menghirup udara luar, sekaligus menikmati kebun outdoor panti. San menyandarkan punggungnya ke tiang kanopi, membuka bungkus sandwichnya dan menggigitnya sambil mengamati para mitra. Mereka terlihat sibuk dan antusias membudidayakan tanaman, seolah mereka memiliki tujuan hidup yang jelas, sesuatu yang terasa sangat jauh dan asing dari realitas San yang kosong.
“Not bad,” ucapnya menilai, sedikit terkejut. “Tapi jauh banget dibanding Gourmet Club Sandwich langganan Papa dari restoran Italianya itu.”
San meraih sandwich yang kedua, lalu mendengus sinis. Nada suaranya penuh ejekan, mengolok-olok keangkuhan Papanya sendiri. “Papa mana mau makan makanan murah dan low-grade kayak gini. Bisa-bisa sistem imun Tuan Besar langsung down dan merusak jadwal meeting yang super penting.”
Tiba-tiba, sebuah suara bernada tidak bersahabat dan menginterogasi memecah ketenangan San, seolah melanggar privasi sarapannya.
“Pengurus baru?”
San terdiam, gigitan sandwichnya terhenti di tengah jalan menuju mulut. Ia mengerjap, lalu dengan perlahan memutuskan untuk mengangkat kepalanya. Matanya menyapu sosok di hadapannya—seorang pria dengan perawakan yang San langsung labeli sebagai preman pasar. Penampilannya lusuh, kumal, dan tatapannya menusuk seolah menantang.
San menautkan alisnya kesal, segera kembali pada mode defensif yang kasar. "Hah?!"
“Owh, lo dari mana?” Pria itu bertanya lagi, suaranya mengandung nada menantang yang San anggap tidak pada tempatnya.
“Dari mana? Lo buta? Dari tadi gue di sini, nggak liat?” San membalas, nadanya dipenuhi jengkel.
“Bukan tolol, maksud gue lo dari kota mana? Kenapa sampe mau kerja di sini?” Pria itu bertanya tanpa filter, seolah San adalah objek penelitian.
San menatap pria itu dari atas sampai bawah, alisnya terangkat sinis, bibirnya sedikit menyungging ejekan. Rambut acak-acakan, seragam yang sepertinya sudah berhari-hari tidak dicuci, dan aroma rokok murah yang pekat—sebuah kombinasi yang berteriak 'kualitas rendah' di mata San. Pria ini benar-benar terlihat sangat menyebalkan—sebuah entitas yang tidak layak mendapatkan waktu San.
"A city," jawab San singkat, menekankan pengucapan bahasa Inggrisnya. "Kenapa? Penting buat profiling lo?"
“Owh... dulu gue pernah ke sana.” Pria itu mencoba melanjutkan percakapan, seolah menemukan titik temu.
San memalingkan pandangannya ke arah lain, menghela napas berat yang terdengar sangat disengaja. Pikirannya berkecamuk, apa gunanya percakapan ini?
“Dahlah, nggak peduli gue! Mau lo pernah ke sana, apa kaga. Who gives a rat’s ass?” San bangkit dengan gerakan tiba-tiba. Ia menggenggam sisa sandwich dan paper cup kopinya, lalu melangkah cepat menjauhi manusia yang ia anggap tidak jelas dan terlalu menyebalkan ini. San tidak sudi membuang energinya untuk liabilitas tak terpakai seperti pria itu. Ia harus segera pergi sebelum aura miskin dan tidak berkelas pria itu menular padanya.
Baru beberapa langkah dari posisi awalnya, San mendengar sebuah kalimat yang dibuat sengaja lantang untuk menghentikan langkahnya.
“Liat, kan? Gue yang paling berani di sini! Hahaha...”
San menghentikan langkahnya seketika. Ia menarik napas dalam, geram karena pria itu berani menggunakan dirinya sebagai alat untuk mencari validasi. Ia berbalik, menemukan pria itu kini telah dikerumuni oleh beberapa mitra lain, berdiri membusungkan dada layaknya jagoan yang baru saja memenangkan pertarungan sepele.
San menatap pemandangan itu dengan mata menyipit penuh penghinaan.
“Cih, dikira keren apa?” San berdecak, menggelengkan kepala.
Bagi San, pemandangan itu adalah tontonan yang menyedihkan. Pria itu hanya mencari panggung murahan dan pengakuan instan dari orang-orang yang juga tidak punya apa-apa. Ia hanya ingin diakui sebagai alfa di lingkungan terbatas ini, dengan tingkah bar-bar.
•••
Hari ini San bertugas di bengkel panti, sebuah ruang yang penuh dengan bau oli, debu besi, dan keringat—bau-bauan yang sangat asing dan tidak menyenangkan bagi indra penciumannya. Ia seharusnya bertugas bersama para mitra lain, tetapi yang ia lakukan hanyalah mendudukkan dirinya di sudut yang paling bersih, jauh dari keriuhan dan alat-alat berat.
Ia melipat tangan di dada, menatap sekeliling dengan pandangan menilai yang sinis. Ia sama sekali tidak berniat mendekat atau menawarkan bantuan.
"Pak San!"
San melirik tak senang. Panggilan itu terdengar terlalu tua untuknya, yang bahkan belum menikah, ya meskipun sudah 25 tahun.
"Kak San, jangan 'Pak'!" tegasnya.
“Tapi biasanya pengurus disini dipanggil Pak,” protes wanita berambut bob itu.
“Ya kalo sama gu—saya manggilnya Kak!”
“Iya deh Kak, itu mesin buat isi angin ban nya enggak bisa dipake.”
“Kok enggak bisa dipake?” wanita itu menaikkan kedua bahunya.
Dengan berat hati, San memaksakan diri berdiri dari sudut nyamannya. Ia melangkah menghampiri sekumpulan mitra yang tengah sibuk mengelilingi generator yang tampak usang, menatap benda itu dengan sorot mata bingung, seolah mereka yakin kesalahan terjadi pada mesin dan bukan pada otak mereka.
“Goblok!” makinya dalam hati.
“Tadi bannya udah dikosongin dulu belum udaranya? Di-vacuum.”
Semua orang menoleh, lalu serempak menggeleng—entah karena memang belum dikosongkan atau memang tidak mengerti cara kerjanya. San tidak peduli.
San kembali ke mode malasnya. Ia menyilangkan tangan di dada. “Gini deh, gampangnya ya. Angin nitrogen itu sifatnya kering banget. Beda sama angin biasa yang kalian pakai itu, yang ada uap airnya.”
“Kelebihannya apa, Kak?” tanya salah satu mitra dengan antusias.
San menghela napas, tapi ia menanggapi pertanyaan itu dengan senyum terpaksa yang tipis. “Kelebihannya banyak. Karena dia kering, tekanan ban jadi stabil terus. Jadi, kalau kalian ngebut atau jalan jauh, ban enggak gampang kempes atau meledak tiba-tiba. Aman.”
“Wah, keren! Terus harganya mahal enggak, Kak?” tanya mitra yang sama, matanya berbinar.
“Terus kalau kita isi ban biasa ke ban nitrogen, bisa, Kak? Boleh enggak?” sambar mitra lain dari belakang.
“Kalau ban sepeda saya diisi nitrogen, sepedanya jadi lebih cepat enggak, Kak?” tanya yang ketiga, polos.
“Kalau nanti bannya rusak, nitrogennya bisa diminum enggak, Kak?” tanya yang keempat, yang terdengar makin bodoh.
“Kakak cucunya Pak Hae?” tanya yang kelima, benar-benar melenceng dari topik.
San mengulum bibirnya erat-erat. Ia memejamkan mata sesaat, merasakan otaknya terkuras habis karena harus menjawab pertanyaan tidak relevan. Rasa jengah dan kejengkelan itu akhirnya memuncak, melampaui batas toleransinya.
Ia membuka mata lagi. “Coba, tadi angin biasa ada apanya?”
“Uap air,” sahut salah satu mitra.
“Betul. Nah, itu dia masalah utamanya,” lanjut San, nadanya sedikit meninggi karena kesal. “Uap air itu yang bikin tekanan ban gampang naik-turun enggak jelas kalau ban panas di jalan. Terus yang paling parah, uap air ini bikin bagian dalam ban karatan pelan-pelan. Kalau nitrogen kan kering total. Intinya? Ban lebih awet, tekanannya stabil, dan bobot ban pun jadi lebih enteng karena enggak ada airnya. Gitu aja, udah!”
San menatap mereka semua, matanya memancarkan kebosanan dan frustrasi yang nyata.
