—Dengan hormat kepada pembaca untuk tidak mengskip tulisan dibawah ini
Ini work lama aku di 2020-2021, sekarang di reworking ke ateez, dulu chr nya trejo. Waktu itu aku nulis ini karna iseng aja gabut covid online class, terus di akhir 2022 aku unpublish ga cuma work ini tapi semua yang aku publish aku unup semua, karna waktu itu selain aku pengen keluar dari dunia rainbow, aku benci banget sama semua karya aku, pertama karna ngerasa kurang banget dari segi tatanan bahasa sampe ngerasa kaya storyline nya aneh.
Terus diakhir 2024 aku balik lagi sebagai penulis YEAYYY, aku baca lagi semua work aku yang dulu, aku rombak lagi ketikannya, aku sempurnain storyline nya dan yaa chr nya aku ganti karna sekarang aku udah jadi atiny YEAYYY.
SO! Kalo kalian ketemu komen tentang treasure, jangan aneh ya, aku udah jelasin disini. Okey sekian penjelasan singkat yang mungkin bakal jadi pertanyaan buat kalian kedepannya.
“Papa maafin San, San janji enggak bakal bawa call boy lagi ke rumah, Papa...” Pemuda berumur 25 tahun itu kini meraung menangis memohon ampun bak anak kecil sambil terus menarik lengan sang Papa dari kursi belakang. Mingyu, yang tengah sibuk menyetir, sama sekali tidak menghiraukan afeksi-afeksi yang anak sulungnya itu lakukan.
Merasa tak mendapatkan respon, ia beralih pada sang Papi, Wonwoo, yang duduk di sebelah Mingyu. Tapi belum sempat ia meminta pertolongan, ia sudah mendapatkan penolakan telak. “Salah Abang juga, enggak pernah dengerin omongan Papa.” San langsung kecewa berat mendengar jawaban itu, bahkan sebelum ia mengucapkan sepatah katapun.
"Iya San salah tapi jangan dianterin ke panti sosial juga! URGHHH!”
"Apa sih, Bang! Kayak bocah, tahu enggak!" Jongho yang duduk di sebelahnya mulai merasa kesal dan mendorong tubuh besar itu menjauh darinya, atau kalau bisa, dibuang saja keluar.
Tak tega melihat anak sulungnya yang sudah frustrasi, Wonwoo mencoba membujuk sang suami.
"Sayang, ini kita beneran mau anter San ke panti sosial?" Mingyu melirik sebelum balik bertanya, "Menurut kamu aku bercanda?"
“Tapi San...” Wonwoo segera mengurungkan niat untuk melanjutkan kalimatnya, tatapan suaminya begitu menusuk membuat nyalinya menciut.
"Dengar, ya, San! Kelakuan kamu itu udah kelewat batas, tahu? Lulus kuliah bukannya cari kerja malah keluyuran, pergaulan bebas lagi! Liat Jongho!” Mendengar nama adiknya, raut wajah San mengeras seketika. Ia tidak bergerak, tetapi bahunya yang tegap tampak turun lelah menanggung beban perbandingan yang sudah ia kenal seumur hidup.
"Enggak salah, kan, orang-orang manggil dia The Next Mingyu? Dia cetakan sempurna, San. Belum lulus aja stakeholder sudah antre! Sudah punya lounge VIP di perusahaan-perusahaan besar, diundang sana-sini.”
Mingyu menatap sang anak sulung lewat spion tengah. Sorot matanya bukanlah jurang kekecewaan yang baru, melainkan lubang hitam yang tak pernah terisi. Itu adalah tatapan yang sama persis yang selalu San dapatkan, bahkan sejak ia kecil, di hari San memenangkan lomba menggambar sketsa wajahnya atau mendapat nilai tertinggi di sekolah. Sorot mata itu tak pernah mengandung selembar pun rasa bangga.
"Lah, kamu?! Udah lulus, ijazah itu cuma buat ganjalan pintu? Udah berapa lama kamu jadi pria murahan bolak-balik klub malam? Udah berapa kali kamu jadi sampah keluar masuk sel? Udah berapa uang yang kamu hasilkan buat bayar ganti rugi saya gedein kamu? Nol besar! Kamu itu investasi gagal, San! Kamu pikir ijazahmu itu tiket gratis buat jadi parasit?"
Suaranya kini mendesis, penuh penghinaan. "Kamu pikir saya gedein kamu Cuma buat jadi beban? Kamu udah buang-buang waktu bertahun-tahun di kampus, sekarang kamu mau buang-buang hidupmu juga? Kalau gitu, apa gunanya kamu lahir? Apa gunanya hidup?! Mati aja sana.”
Seolah Mingyu telah melihat benih yang ditanamnya tumbuh liar sejak awal—dan sekarang, ia hanya melihat konfirmasi saat San terjerat dalam belukar pergaulan bebas.
“Mingyu...” sang kepala keluarga menoleh sekilas pada sosok di sampingnya.
Mendengar rentetan hinaan Mingyu, San memalingkan wajah ke jendela, seolah pemandangan di luar lebih menarik daripada Papanya sendiri. Ia tidak mau sosok yang duduk di hadapannya ini, melihat betapa kalimat-kalimat itu telah menusuknya. Bibirnya mengerucut kesal, sebuah gestur yang kekanak-kanakan dan sengaja ia tunjukkan untuk menutupi fakta bahwa ia sudah berumur 25 tahun
"Tapi kan Papa bilang San bakal nerusin bisnis Papa. Ngapain coba harus repot-repot nyari kerja?" San menjawab, nadanya dibuat terdengar acuh tak acuh dan sedikit manja, seolah ini hanya masalah jadwal, bukan masalah moral.
"Ya, bukan sekarang! Papa masih sanggup ngurus semuanya sendiri, lagian, kalau sampai jatuh ke tangan kamu, saham kita bisa jadi uang koin dalam semalam! Kelakuan aja kayak berandal!” Wonwoo mengusap lengan Mingyu guna menenangkan, takut Mingyu akan berbicara lebih kasar lagi.
"Kamu tahu enggak, apa maksud panti sosial?" tanya sang Papa.
San diam, tak bisa menjawab karena memang tak pernah terbesit di otaknya untuk mencari tahu seputar panti sosial.
"San!!"
"Enggak tahu, Papa," jawabnya kesal.
“Panti Sosial adalah unit pelayanan yang melaksanakan rehabilitasi sosial bagi satu atau beberapa jenis sasaran untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Dan kamu tau apa disfungsi yang ada sama kamu?” Mingyu kembali melirik anaknya yang enggan menatapnya. Walaupun hanya dari pantulan kaca spion.
“Jongho?”
”Otaknya!”
“Bagus! Nanti Papa tambahin uang bulanan kamu!”
"PAPAAAA!!" teriak San. Suaranya pecah saat ia kembali menangis, meratapi nasibnya yang akan dibuang ke panti sosial milik Kakeknya. Semalam, ia masih merasa aman, karena berpikir itu hanyalah gertakan biasa. Ia merasa Mingyu hanya mengancam, seperti ancaman yang sudah-sudah, karena San tahu sang Papa tidak akan tega.
Namun, saat fajar menyingsing, kenyataan pahit itu menghantamnya. Mingyu menyeretnya keluar dari kamar dengan kasar, lalu mengatakan akan mengantarkannya ke panti sosial. Kata-kata sang Papa semalam bukan lagi ancaman, melainkan hukuman yang nyata. San yang angkuh dan tak acuh kini mendadak dipenuhi ketakutan. Ia merasa benar-benar akan dibuang.
“Kamu pengen buang anak kita?!” Wonwoo bertanya dengan nada tidak bersahabat. Ya, walaupun kelakuan anaknya memang bejat, tapi San tetap anaknya, darah dagingnya, dan tak mungkin ia buang.
Mingyu menarik napas kasar, melepaskan lengan dari sentuhan Wonwoo. Matanya menatap tajam ke depan, fokus pada perjalanan pagi ini.
"Anak kita itu udah bisa bawa jalang ke rumah, Wonwoo! Dan perlu kamu ingat, rumah itu masih atas nama kamu, bukan nama dia. Dia main judi sampai pintar keluar masuk kasino? Aku bayar kerugiannya! Dia mabuk tiap malam? Aku sediakan driver pribadinya dan aku yang bersihin nama dia dari berita! Dia beli narkoba? Aku yang diam-diam bayar rehab mahal tanpa ada yang tahu!”
"Bahkan saat dia ikut andil dalam kasus pembunuhan waktu itu," suara Mingyu mendesis rendah, menjadi ancaman yang mengerikan, "Aku yang turun tangan beresin jejaknya, aku yang bayar uang tebusannya, aku yang narik dia dari dalam rutan. Kelakuan dia yang mana lagi yang belum aku tanggung? Hah? Aku enggak pernah kurang soal uang dan perlindungan, tapi apa balasannya? Cuma jadi sampah yang ngerusak nama aku terus-terusan!"
