Tujuh

8.1K 901 32
                                        

Keesokan harinya, Yunho menghindari kontak mata dengan San. Ia benar-benar malu karena anak kota itu dengan santainya duduk menonton kegiatan dirinya dan Mingi semalam. Berbeda dengan Yunho, San bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Baginya, melihat seseorang berhubungan badan adalah hal lumrah.
        
"Wuyo!" San berlari menghampiri Wooyoung yang tengah duduk bersama Yunho disalah satu kursi yang ada ditaman tengah, bukan taman tempat kejadian Yunho dan Mingi.
        
“A-aku… aku ke sana, ya? Ya? Aku ke sana. Dah!” Yunho segera bangkit dan berlari meninggalkan Wooyoung yang kebingungan sendiri.
       
“Hng?” bingung Wooyoung.
       
"Hah? Ngapain lari?" tanya San, pura-pura tidak tahu sambil menunjuk Yunho yang sudah berlari menjauh.
       
"Yunho bilang mau kesana."
       
"Sana mana?"
       
Wooyoung menggeleng, "Tidak tau."
       
San tersenyum lalu duduk di tempat Yunho tadi.
      
"Wuyo udah sehat?"
      
"Wuyo nggak sakit."
      
"Masa? Yunho bilang badan Wuyo panas."
      
"Enggak San.” San mengangguk paham, ia sedikit takut dengan kata tidak Wooyoung, karena itu mengingatkan nya dengan kejadian kemarin.
      
"Wuyo lagi apa?” San mengalihkan pembicaraan
      
"Lagi makan cokelat dari Bubu, San mau?" Wooyoung menyodorkan sekotak cokelat berbentuk hati dengan beragam warna, jenis, dan topping.
    
"San boleh coba?"
    
Wooyoung mengangguk, lalu mengambil satu cokelat hati berwarna merah. "Aaa," ucapnya sambil menyodorkan cokelat itu ke mulut San. San tersenyum, lalu menerima suapan Wooyoung.
    
"Enak, kan?" tanya Wooyoung.
    
"Enak, tapi manis banget."
    
"Enggak!"
    
"Iya, iya, enggak," jawab San mengalah.
       
Lalu tidak ada percakapan yang terjadi, Wooyoung terlalu sibuk menghabiskan coklatnya dan San yang juga sibuk memperhatikan sosok yang tengah berada di hadapannya. Mata San tak pernah lelah memandangi setiap detail dari sosok di hadapannya, seolah ia menemukan samudra yang tak berujung untuk dijelajahi. Seolah waktu telah kehilangan maknanya, dan sosok di hadapannya inilah yang  kini menjadi pusat semestanya.
         
Meskipun memakan waktu lama, akhirnya cokelat itu habis. Wooyoung menutup kotaknya, membuangnya ke tempat sampah terdekat, lalu kembali duduk di hadapan San.
      
"San suka cokelat?" tanya Wooyoung tiba-tiba.
      
"Bisa makan, tapi enggak terlalu suka."
      
"Maksudnya?" Wooyoung memiringkan kepalanya sedikit, bingung dengan kalimat San.
      
"San enggak terlalu suka cokelat, tapi bukan berarti San enggak bisa makan cokelat," San menjelaskan dengan sabar.
      
Mulut Wooyoung langsung membentuk huruf 'O', mengerti dengan penjelasan itu. Padahal, San hanya membalik susunan kalimatnya.
        
"Terus San sukanya apa?"
     
"Suka apa nih? Makanan?"
     
"Iya, makanan dulu."
     
"Hmm, apa ya..." San berpikir sejenak. Mungkin karena Wooyoung adalah orang pertama yang menanyakan hal itu, ia jadi bingung harus menjawab apa. "Kalau makanan, enggak ada yang favorit banget, soalnya San pemakan segalanya." Pada akhirnya, San tetap tidak menemukan jawaban. "Eh, tapi San suka makan di restoran hotpot."
      
"Hot? Pot?"
      
"Hmm, hotpot itu makanan serba direbus gitu. Ada daging, ada seafood, ada sayur, ada mi juga, pokoknya banyak deh. Terus nanti makannya kita rebus dulu," jelas San. Ia tidak pandai menjelaskan sesuatu pada anak spesial seperti Wooyoung, tapi ia berharap Wooyoung mengerti secara garis besar.
      
"Kalau minuman?"
      
"Kopi." San tidak mungkin menyebutkan alkohol sebagai minuman favoritnya.
      
"Kalau warna? San suka apa?"
      
"Hmm, ungu?"
        
“Lagu? Wooyoung pernah dengar San nyanyi teriak-teriak.” San tersenyum malu. Seharusnya Wooyoung tidak mendengarnya.
        
"Hm, sebenarnya San enggak ada lagu yang terlalu suka, tapi kalo disuruh pilih San bakal milih lagu It's you." San memilih lagu milik Henry Lau itu, karena Jongho dulu sering menyanyikannya disaat ia tengah jatuh cinta pada kekasihnya, Yeosang. Adiknya itu selalu memutar lagu yang sama berulang kali dan bahkan menyanyikannya dimanapun dan kapanpun hingga semua orang rumah muak mendengarnya, terutama San. Tapi pada akhirnya San malah ikut menyukainya. Sama halnya dengan lagu kesukaan sang Papa.
         
Awalnya memang terasa mengganggu, lalu lambat laun terasa familiar, hingga akhirnya menjadi bagian dari diri. San menyadari, hal-hal yang berulang—meskipun awalnya menjengkelkan—pada akhirnya akan menemukan tempatnya di dalam hati.
        
"Tau enggak?" Wooyoung menggeleng atas pertanyaan San.
        
Dengan suara yang lebih lembut, San mulai bernyanyi, "Baby, I'm falling, head over heels..."
     
Wooyoung tersenyum. San tidak lagi berteriak, dan Wooyoung bisa menikmati suara San yang begitu indah.
     
Matanya menatap lekat dua manik mata rubah milik Wooyoung. San merasa seluruh dunianya berhenti setiap kali pandangan mereka bertemu, menegaskan bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta.
     
"Looking for ways to let you know just how I feel. I wish I was holding you by my side. I wouldn't change a thing 'cause finally it's real..."
     
San tidak lagi bisa menahan senyumannya. Melihat Wooyoung tersenyum bahagia, seperti sengatan listrik yang menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa begitu panas hingga menimbulkan hasrat untuk memeluk pemuda di hadapannya ini.
      
"I'm tryin' to hold back, you ought to know that. You're the one that's on my mind. Falling too fast, deeply in love. Finding the magic in the colors of you..."
      
Wooyoung menatap San, terpukau. Matanya tidak berkedip, tenggelam dalam melodi dan tatapan penuh makna dari San. Ia tidak mengerti arti liriknya, tetapi ia merasakan setiap emosi yang terpancar dari suara San.
      
"You're the right time. At the right moment. You're the sunlight. Keeps my heart going oh-whoa…"
      
San memelankan suaranya di akhir lirik, "Know when I'm with you. I can't keep myself from falling. Right time at the right moment. It's you."
     
Begitu lagu selesai, Wooyoung bertepuk tangan meriah, senyumnya merekah begitu tulus, membuat hati San menghangat.
       
Vokal San adalah kanvas emosi yang tak bertepi, di mana setiap lirik adalah sapuan kuas yang menciptakan palet cerita. Ia tidak hanya bernyanyi, melainkan merangkai setiap kata menjadi makna yang menanti untuk diselami. Andai saja Wooyoung mengerti bahwa nyanyian itu bukanlah sekadar unjuk keindahan, melainkan sebuah pengakuan yang tertahan, sebuah cara San untuk jujur pada perasaan yang masih belum berani ia utarakan.
        
"San hebat!!”
        
“Makasih Wuyo udah mau dengerin San.” Wooyoung mengangguk semangat.
        
Waktu seolah membeku di ambang keindahan. Di antara mereka, keheningan yang pekat justru menjadi saksi. Tidak ada kata yang terucap, namun mata mereka saling menaut, memancarkan kilau pengakuan yang sama. Itu adalah bahasa tanpa suara, sebuah kode batin yang hanya dipahami oleh jiwa mereka berdua. Senyum tipis muncul di bibir keduanya. Tatapan mereka terkunci rapat, menghapus eksistensi dunia di sekitar.
         
Gejolak asing yang meronta di dadanya memaksa San untuk mencari sebuah definisi. Cinta? Suka? Sayang? Apakah terlalu cepat untuk menarik kesimpulan? Ia tahu dirinya tidak bisa terburu-buru. Namun, hasrat untuk melindungi Wooyoung begitu kuat, begitu nyata. Sebuah desakan primitif untuk mendekap Wooyoung setiap hari, menjadi orang pertama yang menyambut senyumnya saat cahaya fajar menyingsing—seolah Wooyoung adalah pusat orbitnya. San tahu, ia sudah jatuh terlalu dalam, tapi ia takut mengakui itu, takut bahwa perasaan ini hanyalah ilusi belaka.
         
Sementara itu, Wooyoung sendiri berada di ambang kebingungan. Ia tidak mengerti apa pun tentang apa yang ia rasakan. Perasaan ini begitu baru, begitu asing baginya. Hati yang berdebar kencang saat San menatapnya, kehangatan yang menjalar setiap kali San tersenyum, semua itu terasa ajaib. Wooyoung ingin memahami, ia ingin memberi nama pada semua sensasi ini, tapi ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Ia tidak tahu siapa yang bisa memecahkan teka-teki di dalam hatinya ini. Yang ia tahu, ia tidak ingin perasaan ini berakhir. Ia ingin terus berada di sini, di samping San, merasakan keajaiban ini untuk selamanya.

•••
      
San menyelinap masuk ke dalam dapur utama. Di sana, para mitra tampak serius mendengarkan penjelasan pengurus, sepertinya hari ini adalah kelas teori. Dengan langkah yang mantap dan wajah tanpa ekspresi, San berjalan seolah ia memang bagian dari tim yang bertugas. Membuat tak ada satu pun yang menaruh curiga.
       
Mata elangnya menyapu pandangan, mencari-cari sosok Wooyoung di antara keramaian. Senyumnya merekah saat ia berhasil menemukannya. Wooyoung duduk di barisan paling belakang, terpisah dari yang lain. Matanya berkeliling, tampak tidak mendengarkan penjelasan petugas sama sekali.
      
San mengambil langkah pasti, lalu menepuk bahu Wooyoung pelan. Wooyoung menoleh dan seketika senyumnya mengembang. San membungkuk, berbisik pelan di telinga Wooyoung.
        
“Ayo ikut San!”
        
“Hng?” Wooyoung terlihat bingung.
        
“Ayo ikut San! Ayo!”
        
Tanpa menunggu persetujuan, San meraih tangan Wooyoung, menggenggamnya erat, dan membawanya keluar dari ruangan itu.
          
“San? San… San kenapa Wuyo ditarik?” tanya Wooyoung, suaranya polos dan penuh kebingungan.
          
San menoleh ke belakang sambil tersenyum, matanya memancarkan kehangatan. “Wuyo mau jalan-jalan nggak?”
         
“Mau!” pekiknya senang.
         
“Kalau gitu, ayo ikut!”
         
San sudah merencanakan semuanya dengan cepat. Ia menggunakan ponsel Hongjoong untuk menelepon Wonwoo, Papi-nya, dan meminta uang. Sebagai “anak kesayangan Papi”, ia mendapatkan apa yang ia butuhkan dengan mudah. Uang itu langsung masuk ke rekening Hongjoong detik selanjutnya.
         
Hongjoong sempat bertanya, “Uangnya buat apa, San?”
         
Dan San hanya menjawab, “Mau ajak Wuyo jajan.” Jawaban itu cukup membuat Hongjoong terdiam, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
         
“Kita mau naik motor?” tanya Wooyoung dengan suara gembira, melihat motor bebek di hadapan mereka.
         
San mengangguk mantap. Motor tua itu ia sewa dari satpam panti hingga matahari terbenam. Jadi mereka punya waktu sekitar 3 jam untuk menghabiskan waktu berdua.
         
“Yey! Naik motor!”
         
“Wuyo seneng?”
         
“Banget, San!” jawab Wooyoung, melompat-lompat kecil.
          
San tersenyum, lalu dengan hati-hati memasangkan helm tanpa kaca pelindung pada Wooyoung. “Nah, udah. Ayo pergi!”
          
San naik ke atas motor, diikuti Wooyoung di belakangnya. San menoleh ke belakang, mencari kedua tangan Wooyoung, lalu menariknya ke depan agar melingkari pinggangnya.
          
“Kenapa, San?” tanya Wooyoung, masih bingung.
          
“Kalau Wuyo nggak peluk San, nanti Wuyo jatuh,” jawab San lembut.
          
Mendengar kata “jatuh”, wajah Wooyoung langsung diliputi rasa takut. Secara refleks, ia mengeratkan pelukannya di pinggang San hingga tubuh mereka nyaris tanpa jarak. Pelukan yang hangat dan erat itu sukses membuat senyum San merekah sempurna, hatinya berdebar ganjil menikmati keintiman mendadak ini.
          
San memiringkan sedikit kepalanya ke belakang, merasakan napas Wooyoung menyapu tengkuknya. Kemudian, tangan kanannya terangkat untuk mengelus tangan Wooyoung yang melingkari pinggangnya, seolah menjamin bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Lalu motor bebek itu melaju perlahan, membelah jalanan yang membentang seolah tak berujung. Di kedua sisinya, petak-petak ladang dan peternakan membentang luas, menjadi satu-satunya saksi bisu perjalanan mereka di siang menjelang sore hari itu. San sedikit memundurkan tubuhnya, membiarkan punggungnya menempel sempurna pada dada Wooyoung, menjadikan pelukan itu makin sempurna.
               
“Wuyo?” panggil San lembut, seraya mengusap tangan yang melingkar erat di pinggangnya, sebuah kebiasaan baru yang ia sukai.
       
Sebuah kepala berhelm klasik, muncul di sisi kanan wajah San. “Hah?”
       
San tersenyum melihat betapa lucunya Wooyoung. Helm retro berwarna merah dengan kacamata goggles vintage itu membuat Wooyoung tampak seperti karakter paling menggemaskan dari era 80-an.
     
“Coba angkat tangannya begini,” San mencontohkan, mengangkat sebelah tangannya ke udara.
      
Wooyoung menggeleng, bibirnya melengkung ke bawah karena ketakutan. “Nanti jatuh.”
      
San terkekeh, suara tawanya rendah dan merdu. “Enggak, kok. Sini, sama San.” Ia meraih salah satu tangan Wooyoung yang memeluknya.
      
“Nanti Wuyo jatuh, San,” lirih Wooyoung.
       
“Enggak akan, sayang.” San meyakinkan Wooyoung, lalu dengan hati-hati membawa tangan itu ke udara. Saat tangannya terlepas dari pinggang San, Wooyoung secara spontan menyandarkan pipinya pada punggung San, mencari sandaran. Kontak tak terduga itu sukses membuat San salah tingkah, jantungnya berdebar kencang, nyaris kehilangan fokus mengemudi.
      
“Hah? Haaaaa...” sorak Wooyoung bahagia. “Anginn! Angin Sannn.” Ia tertawa lepas, seolah itu adalah keajaiban baru di hidupnya.
       
San berusaha menormalkan debar jantungnya. “Hng... Wuyo, liat! Ada kerbau di sana!”
      
“Di atasnya ada burung, San. Itu burung apa?” tanya Wooyoung polos, suaranya terdengar dekat di belakang telinga San.
       
“Itu burung jalak, sayang.”
       
“Kenapa dia di sana?”
       
“Karena dia teman kerbau. Kan mereka temenan.”
       
“Beneran?”
       
“Iyaaa. Wuyo, San nggak bohong kok.” San mengakhiri jawabannya dengan senyum yang hanya bisa ia rasakan sendiri.
      
“San, lihat rumputnya gerak-gerak! Dia geli ya?”
      
San tersenyum mendengar interpretasi Wooyoung. “Itu bukan geli, Sayang. Itu namanya angin. Angin yang bikin rumput goyang.”
      
“Goyang?”
      
“Iya, goyang buat Wuyo. Liat, pohonnya juga ikut goyang pelan-pelan.”
      
Wooyoung memusatkan perhatiannya ke pepohonan. “Pohonnya capek nggak, San?”
      
“Enggak, karena mereka seneng. Pohon itu seneng kalau ada Wuyo lihat mereka goyang.” San menoleh sedikit, mengusap helm Wooyoung, menikmati kepolosan dunia yang hanya bisa dilihat melalui mata Wooyoung.
       
Perjalanan itu menjadi begitu berwarna, diisi oleh rentetan pertanyaan polos yang Wooyoung lontarkan. Dan menjadi begitu indah saat San, dengan sabar, merangkai setiap jawaban menjadi penjelasan yang sederhana dan penuh kasih, agar Wooyoung dapat mengerti. Mereka melupakan waktu, terhanyut dalam gelembung percakapan mereka sendiri, hingga akhirnya motor bebek itu melambat.
      
Bau asap jagung bakar dan minyak panas tiba-tiba menusuk indra penciuman, mengakhiri gelembung percakapan mereka. Kini keduanya telah tiba di alun-alun desa. Menurut informasi dari satpam, tempat ini menjadi pasar kaget setiap sore. San dan Wooyoung turun dari motor tepat saat keramaian mencapai puncaknya, dengan hiruk pikuk orang dan aroma jajanan yang memenuhi udara.
       
Setelah memarkirkan motor, San turun terlebih dahulu, dan Wooyoung mengikutinya. San melepaskan helm retro itu dari kepala Wooyoung. “Rame, Wuyo gapapa kalo rame kaya gini?” tanyanya, sedikit khawatir.
         
“Kenapa, San?” tanya Wooyoung dengan suara polosnya.
        
“San takut Wuyo nggak nyaman karna banyak orang.”
       
“Gapapa, San.” jawab Wooyoung, matanya berbinar melihat keramaian.
      
“Bener ya?” San memastikan lagi. Wooyoung mengangguk, meyakinkan San.
     
San menautkan jari jemari mereka erat-erat, seolah takut kehilangan Wooyoung di tengah lautan manusia itu. Lalu membawa Wooyoung menerobos keramaian. “Bilang, ya, kalo Wuyo mau.” Bisiknya.
        
Entah Wooyoung mendengarnya atau tidak, ia justru terlalu sibuk melihat ke sana kemari, terpesona oleh setiap hal yang ia lihat. San tersenyum, hatinya bahagia melihat Wooyoung yang seolah hidup di tengah suasana itu.
      
Tiba-tiba, segerombolan anak laki-laki berlarian sambil tertawa keras, nyaris menabrak Wooyoung dari samping.
     
“Wuyo, awas!” San bereaksi cepat. Tangan kirinya secara protektif melingkar di bahu Wooyoung, menarik pemuda itu merapat ke dadanya, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng.
      
“Hah?” Wooyoung mendongak, matanya melebar bingung dengan tarikan mendadak itu, tangannya secara naluriah mencengkeram kaus San untuk keseimbangan.
      
“Hampir aja,” desah San, jantungnya berdebar kencang karena nyaris celaka. Ia menunduk sedikit untuk memeriksa Wooyoung yang kini aman dalam dekapannya.
      
Wooyoung terdiam sejenak, masih dalam dekapan San. Wajahnya yang tadi bingung kini berubah menjadi penasaran. Ia bisa merasakan sesuatu yang berdebar-debar di balik dada San.
      
“San...” lirih Wooyoung, suaranya teredam di dada San. “Kenapa di sini ada suara dug-dug-dug? Keras banget.”
     
Sebelum San sempat menjawab, Wooyoung—dengan kepolosan murni—memiringkan kepalanya dan menempelkan telinganya tepat di dada kiri San, mencoba mendengarkan sumber suara itu lebih jelas.
     
San membeku. Tindakan Wooyoung yang begitu intim dan tak terduga itu adalah serangan fatal bagi sistem San. Ia bisa merasakan napas hangat Wooyoung menembus kausnya. Ia bisa mencium aroma sampo samar dari rambut Wooyoung. Dan kini, telinga Wooyoung yang menempel di dadanya membuat jantungnya semakin menggila, berdentum jauh lebih kencang.
      
Wajahnya memanas seketika. “Wuyo... u-udah gapapa kok,” desis San, suaranya serak karena panik dan salah tingkah. Ia mencoba sedikit mendorong bahu Wooyoung untuk menciptakan jarak.
     
Tapi Wooyoung, yang mengira San akan pergi, justru melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang San, menolak untuk menjauh.
     
“Jangan, San! Wuyo suka suaranya!” seru Wooyoung gembira, masih dengan telinga menempel di dada San. “Suaranya kayak drum! Wuyo suka!”
      
San menahan napas, kalah telak. Ia tidak bisa bergerak. Ia terjebak di tengah pasar kaget, dengan Wooyoung memeluknya erat, mengira detak jantungnya yang panik adalah sebuah musik yang indah. San memejamkan matanya sejenak, berusaha keras menenangkan error massal yang terjadi di sistem sarafnya.
      
“Hng, jangan jauh-jauh,” ucapnya pelan, suaranya sedikit serak. San memaksakan dirinya untuk melonggarkan pelukan Wooyoung sedikit demi sedikit, dan menggenggam erat telapak tangannya.
      
Wooyoung, yang sudah merasa aman dan kini tangannya digenggam, perhatiannya teralihkan. “San! Itu apa?” Ia menunjuk sebuah kios yang menjual arum manis.
      
“Arum manis, Wuyo mau?” Wooyoung mengangguk antusias.
       
Dua jam mereka habiskan di sana, dengan tangan yang tak pernah lepas, mencoba semua jajanan yang Wooyoung tunjuk, membeli barang-barang yang ia minta, dan melakukan semua hal yang ia inginkan. Semua demi Wooyoung, San lakukan.
        
Kini keduanya sudah berada di atas motor bebek sewaan lagi, dengan gelang morse melingkar di pergelangan tangan masing-masing. Wooyoung sempat bertanya mengapa bentuk gelang itu hanya seperti itu, tetapi San hanya menjawabnya dengan senyuman. Ia tidak memberitahu bahwa gelang itu adalah kode morse untuk kata, “I love you.”
         
Satu tangan Wooyoung melingkar di pinggang San, sementara tangan lainnya memegang erat pistol gelembung yang San belikan. Setiap jalan yang mereka lewati meninggalkan jejak gelembung di belakangnya.
          
Langit di atas mereka seolah terbakar, mewarnai awan kelabu dengan goresan emas dan jingga yang menyilaukan. Meskipun matahari begitu cerah, keindahannya tidak bisa mengalahkan senyuman di wajah keduanya.
         
“Wuahhhh…” Wooyoung berseru senang saat gelembung-gelembung itu menari di udara, terus berterbangan setiap kali ia menarik pelatuknya. Tawa polos Wooyoung terdengar merdu di tengah deru angin motor.
       
San menoleh ke samping kiri, jiwanya luluh, tak kuasa menahan rasa gemas yang membuncah. Wajah Wooyoung yang memerah karena kebahagiaan di tengah angin itu terlalu indah.
        
San mendekat sedikit, menolehkan kepalanya lebih jauh.

Cup.
     
Satu kecupan hangat mendarat cepat di sudut pipi Wooyoung yang gembul, nyaris menyentuh bibir. Bukan kecupan biasa, melainkan ciuman manis yang terburu-buru. Wooyoung membeku di balik helmnya karena terkejut. Sementara San, tersenyum tipis penuh kemenangan, segera kembali menatap lurus ke jalanan, pura-pura fokus mengemudi.
      
“San?” panggil Wooyoung
      
“Apa, sayangku?” jawab San, suaranya terdengar lembut melawan hembusan angin.
       
“San kenapa?” Wooyoung memiringkan kepalanya, mencoba melihat ekspresi San.
       
San tidak menoleh. Ia hanya memiringkan sedikit helmnya ke arah Wooyoung, dan berbisik dengan suara yang paling tulus yang pernah Wooyoung dengar, agar bisikan itu hanya milik mereka berdua:
      
“Temenin aku sampai akhir, ya?”
      
“Hng?” San tau Wooyoung bingung, tapi itu bukan masalah, karna biarkan takdir yang mencatatnya.
       
Mereka berdua terdiam dalam pelukan di atas motor, menikmati sore yang indah, langit jingga menjadi saksi bisu. Meski tanpa kata-kata, mereka berbagi perasaan yang sama. Menikmati sebuah ketenangan yang tak pernah mereka temukan sebelumnya.

Jung Wooyoung - WOOSANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang