"Sesulit apa pun rintangan di depan, akan ada satu orang yang menggapai tangan penuh luka, memberikan senyum ketenangan, hingga kita tersadar dia mungkin mengharap balas, balas yang sulit diberikan."
Awan hitam menggantung manja menantikan pecah ke tanah. Mengubur niat semua orang yang bersiap keluar, melaksanakan aktivitas sore harinya. Namun, niat air langit meluncur deras, belum diberi izin oleh Tuhan. Masih ada seorang insan yang sedang berjuang, melirik arloji di tangan merasakan resah yang sangat mengganggu konsentrasinya selama di dalam kelas. Isi kepala yang biasa fokus ke depan, anehnya tadi diisi penuh oleh perempuan baru dan mengharap pertolongan, semenjak awal temu.
Langkahnya memasuki mobil hitam yang terparkir, segera melajukan kecepatan sebelum air langit benar-benar turun. Sekali lagi, ponselnya memanggil perempuan yang siap ia datangi. Namun, sayang tidak ada balasan sama sekali. Mungkin terlalu lelah atau bahkan sakit parah? Ah, ya, Bram masih ingat, tadi malam Acha basah kuyup kehujanan, menangisi lelaki yang begitu saja pergi. Ia menikungkan mobilnya tajam, sampai di sebuah gang, di mana kosan khusus perempuan berada.
Sebuah parkiran lapang menjadi tempat pemberhentian, lalu ia membawa buah yang terbungkus rapi. Setelahnya, Bram keluar dari mobil seraya berjalan lurus, mendekati gerbang yang tertutup rapat. Sudah biasa karena penjagaan yang ketat, ia pun berhenti sejenak, sebelum mendorong gerbang ke samping. Tanpa ia sentuh, gerbang itu terbuka didorong dari dalam, seketika ia mundur dan mendapati seorang lelaki yang memiliki tinggi badan hampir sama dengannya.
Dilihat dari penampilan, bisa dibilang orang kantoran. Setelan kemeja yang dihiasi dasi, juga sepatu yang tersemir rapi. Namun, seketika ingatan Bram tertuju kepada dosen yang digilai beberapa mahasiswi. Oh, ya, bukankah itu dosen Sastra Indonesia? Lelaki yang katanya mengabarkan keadaan Acha? Ah, ya, mungkinkah dia selesai menengok muridnya? Keterdiaman Bram, langsung digubris oleh Arga.
"Kamu bukannya dari fakultas Jurnalistik?" tanya Arga, mengingat waktu lalu manusia di depannya sedang mendengarkan materi dari salah satu pembimbing Jurnalistik, juga lelaki yang membawa Acha masuk ke dalam mobilnya.
Bram mengangguk kaku. "Iya, Pak, eh ... Bapak udah nengok Acha, ya?"
Arga sedikit menatap Bram sinis. "Kamu mau ngapain ke sini? Jangan bilang mau nengok, Acha!"
Dih, siapa Arga? Beraninya membentak dan seolah Acha hanya miliknya? Bram mengangguk kaku lagi. Namun, segera telunjuk Arga menari-nari di depan wajah Bram, memberikan kode bahwa itu tidak boleh dilakukan, Arga menggiringnya sampai di tanah lapang, di mana mobilnya terparkir di sana, pula mobil Arga yang berwarna putih juga.
"Itu kosan khusus perempuan, laki-laki dilarang masuk! Masa kamu enggak tahu peraturan kek gitu?"
Terus barusan dia baru dari mana? Bukannya nengok Acha? Oh, mungkin Arga menganggap dirinya waria? Wanita pria, begitu? Bram tidak mempedulikan dosen di kampusnya itu, ia hanya mengangguk sok merasa salah. Lalu, Arga kembali berucap, "Kembali saya tegaskan, kamu pulang saja, Acha juga sudah mendingan. Daripada akhirnya kamu dikira ngapain ke kosan khusus perempuan, 'kan?"
Entah untuk ke berapa kalinya, Bram mengangguk lagi. "Baik, Pak, saya pulang lagi, silakan Bapak duluan. Soalnya, saya juga punya teman dekat di wilayah ini," tolak Bram dengan halus, agar tidak menyakitkan perasaan sang dosen sok benar itu.
Arga menepuk sebelah bahu Bram. "Baiklah, cepat pulang, kayaknya mau hujan," ucapnya, seraya memasuki mobil putihnya.
Bram menatap kepergian dosen itu, sampai mobil putih di kejauhan sudah tidak lagi terlihat. Bram menendangkan kakinya ke depan, seolah menendang bokong Arga yang tololnya minta ampun. Terus barusan dia dari mana? Habis pinjem toilet? Ya, kali, pastinya dari kamar Acha! Bram pun kembali melanjutkan langkahnya sampai berada di halaman depan kosan bertingkat dua itu. Sore ini, terlihat sepi karena berada di kamarnya masing-masing, demi keamanan, Bram memutuskan mengetuk pintu sebuah rumah yang diberi tanda, pemilik kosan di sana.
Tidak lama kemudian, seorang wanita yang menggelung rambutnya ke belakang membuka pintu. "Eh, ada yang bisa saya bantu?" tanya bu Siti, seraya merapikan gelungan rambutnya yang pasti sangat berantakan.
Bram tersenyum kecil. "Maaf, Bu, saya temannya Acha. Ingin meminta izin, boleh tidak ibu mengantarkan saya untuk menjenguknya?"
Bu Siti pun segera membawa Bram ke lantai dua, mereka melewati beberapa kamar yang pintunya tertutup rapat. Sempat pula, suara musik dari salah satu kamar terdengar sampai keluar, mereka sampai di depan pintu paling ujung. Di mana, Acha berada di dalamya, bu Siti mengetuk pintunya pelan, sebuah sahutan lemah membuatnya mendorong pintu sampai terbuka. Bram mendekat, ruangan kecil itu diterangi lampu yang tergantung di tengah ruangan.
Menyadari keberadaan seseorang di samping bu Siti, Acha segera merapikan wajah kusutnya dan Bram pun tersenyum lembut masuk. Bu Siti pamit ke bawah dan Bram segera membuka lebar pintunya, takut terjadi fitnah. Jika, pintu ditutup dan mereka berada di satu kamar berduaan. Acha menyelipkan beberapa rambutnya ke belakang telinga, awalnya Bram bingung harus duduk di mana, sampai Acha menepuk sisi ujung ranjangnya.
"Gua ganggu, ya?" Bram menyimpan bingkisannya di nakas, seraya duduk di samping tubuh Acha yang bersandar ke ranjang.
"Enggak, eh lo ketemu sama si Arga, gak?" Kali ini, Acha tidak menyebutkan Arga dengan dosennya, ada kalanya ia muak sendiri, mengingat perhatian yang dibuat-buat seolah memancing agar dirinya suka.
Bram menahan tawa. "Serius, lu masukin tuh cowok ke kamar?"
"Dih, dianya masuk sendiri, masa iya gua usir," sangkal Acha, memang kebenarannya demikian.
"Dia ngelarang gua dateng loh, katanya anak cowok gak boleh masuk ke kosan cewek. Et, dah emang gua buta, barusan dia masuk ke mana, dong? Lubang buaya gitu?"
Seketika Acha tertawa, ia sampai mendaratkan tangannya yang gemas menampar paha Bram. Melihat Acha tertawa, Bram merasa seolah telah menghilangkan beban perempuan di depannya, ia masih ingat bagaimana Acha yang tadi malam terus menangis sepanjang jalan perjalanan. Seterusnya, ia tidak tahu keadaan Acha, sampai tadi pagi ada kabar bahwa temannya itu demam. Pandangannya mendapati ponsel yang tidak lagi berbentuk, layarnya pecah, isinya juga keluar semua.
Jadi, ponsel Acha rusak? Bram mengambilnya, membuat Acha yang masih tertawa berhenti. "Kok bisa rusak gini? Lu apain?"
"Tauk! Lupa ingatan gua," balas Acha, malas mengingat kejadian tadi malam. Raut wajahnya juga berubah, sekarang ditekuk sambil kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Harusnya, elo enggak bersikap gini juga, Cha, apalagi sampe sakit. Mau gitu perjuangan selama satu bulan penuh ini sia-sia cuma karena kecewa? Lu harus yakin, pasti di depan ada jalan yang paling berharga dan harus diperjuangkan. Bukan dilupakan."
Acha terdiam. Ada benarnya yang dikatakan Bram, ia tidak seharusnya bersikap demikian. Toh, Devid juga takkan peduli. Apalagi ibunya, dipastikan Sinta tertawa keras, anaknya sudah sakit dan tidak ada yang mengurusi. Hingga, tuntutan hidup di rumah megah milik Arga menjadi akhir. Itu tidak mungkin. Acha menutup wajahnya dengan kedua tangan, menghirup udara dalam-dalam, mulai merancang strategi baru, nanti ia takkan lagi pesimis apalagi menjadi lemah.
Bram pun menepuk kedua bahunya. "Gua percaya, lo bisa dapetin Devid yang lu kenal."
Lambat, tangan Acha lepas dari wajahnya. Ia menatap Bram yang memberikan senyum hangat, tanpa berpikir ulang, Acha memeluk tubuh terbalut jaket kulit warna hitam itu. Bram merasakan jantungnya berdegup kencang tidak biasa, kedua tangan Acha memeluknya erat, sedangkan kepalanya bersembunyi di dada bidangnya. Apa yang harus ia lakukan? Memeluk balik pelukan sang teman? Atau melepasnya karena takut menambah beban, terciptanya sebuah perasaan yang terlarang.
Namun, alasan kedua Bram singkirkan, ia membalas pelukan Acha, sebuah bisikan terdengar samar karena hujan kembali datang. "Tanpa lo juga, gua gak bisa sampe ke titik ini." Lama terjeda. "Gua janji, gak bakal lupa pertolongan yang lo kasih."
Detik berikutnya, hanya suara hujan yang bersenandung menuntun sore menjadi malam menghitam, sedangkan di ambang pintu, kedua kaki lelaki itu tertahan untuk kembali melangkah, ia mundur perlahan dan menembus hujan lebat menghunjam.
What! Siapa tuh, cowok?
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Teen FictionPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)