"Ceritanya bisa dipendekin, tapi lebih enak dipanjangin biar waktu sama kamunya lama, gak pendek kayak hubungan kita."
Sebelum Devit menekan bel apartemen, tiba-tiba pintu terbuka lebar ia mendapat sambutan dari orang tuanya, menciptakan sesungging senyum yang tak bisa ditahan. Acha dan Devid sengaja memberikan kejutan karena anaknya itu sudah mengikuti perlombaan, tanpa mereka ketahui entah jadi juara atau tidak, bagi mereka Devit tetap menjadi sang juara!
"Gimana lombanya? Lancar kan?" tanya Acha setelah melepas pelukan erat kepada sang buah hati.
Devid mengelus puncak kepala anaknya itu. "Jangan ditanya, Cha ... Devit udah jadi juara sebelum ikut lombanya juga!"
"Alhamdulillah, Pa, Ma, juara dua," balas Devit.
"WAWW!" Acha tak mampu menyembunyikan rasa terkejut dan bangganya. "Gak penting juara satu atau enggak, kamu tetep juara di hati mama ...!"
"Hehe, iya ... kalian kenapa nyambut Devit berlebihan kayak gini?"
Acha dan Devid bertukar senyum geli. "Ya, ini kan hari pertama kamu ikut lomba fashion show, Dev! Kita bangga, jadi harus rayain bersama, ke mana, Dev?"
Devid memainkan kunci mobil di tangan. "Makan di luar ...!" serunya semangat.
Namun, Devit serba salah ia pula ingin merayakan kemenangannya, tetapi besok ia harus masuk sekolah! Jangan sampai malam ini tidur kemalaman berakhir bangun kesiangan.
"Kok, kamu gak happy, sih, Dev? Diputusin, Gita?" tanya Acha spontan.
"MA!" Devit cemberut. "Besok kan masuk sekolah, takut kesiangan loh kalo jam segini malah main keluar," jelasnya.
Devid menjitak kepala Acha. "Inget, Cha, anak kita tuh teladan bagi temen sekolahnya, kok, lu malah ngajarin yang buruk, sih?" oceh Devid merasa benar, padahal tadi yang memberikan ide makan diluar adalah dirinya.
Acha tak mau disalahkan. "Eh! Elu kan yang punya ide buat ngerayain kemenangan Devit kita makan di luar!"
"Ya, harusnya elu ngelarang dong, nolak gitu jangan setuju aja!"
"Ini ya, gu—"
"Ma, Pa," panggil Devit. "Masuk, yuk, Devit mau istirahat ...."
Ah, ya, mereka bertiga masih berdiri di ambang pintu! Acha dan Devid langsung tersadar, memberikan jalan masuk bagi anaknya itu. Pandangan Devit bersirobok dengan potret kedua orang tuanya yang baru Acha pasang tepat di dinding yang memisahkan kamarnya dan kamar Devit.
Terlihat foto pasangan yang baru sah menjadi suami istri, Acha dan Devid nampak memamerkan buku nikah keduanya, senyum keduanya benar-benar nyata! Bak tak ada beban yang mereka rasa, padahal di hari itu pula kedua orang tua mereka tak memberikan restu kepada mereka.
Acha yang akan dijodohkan dengan Arga dan Devid sudah dipasangkan dengan Devita. Namun, Acha dan Devid memiliki kekuatan cinta, membawa mereka sampai berada di titik bahwa keduanya memiliki cinta yang kuat menjalankan kehidupan bersama sampai membuahkan hasil, yaitu Devit.
"Sekarang papa udah ada, mama berhak pajang foto pernikahannya di ruang tengah bukan sembunyi di kamarnya," batin Devit.
"Gimana kalo beli pizza, aja? Kita makan bareng di apart?" saran Acha, setelah Devit melepas sepatunya.
"Boleh, Devit juga laper nih!"
Tanpa menunggu lama, Acha pun memesan pizza melalu ponselnya. Devid sendiri segera menyiapkan tiga gelas untuk menyajikan es jeruk peras di malam hari siap merayakan kemenangan. Acha pun segera menyusul menyiapkan cemilan lain, sedangkan Devit membersihkan diri di kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
TeenfikcePINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)