20. Goyang Dumang

332 45 7
                                        

"Sahabat yang sebenarnya, akan selalu ada untuk kita. Bagaimana dan kapan saja."

Hidangan khas Sunda kembali memenuhi, harumnya wangi memancing perut bergemuruh dan memaksa menyantap cepat semua lauk. Devid dengan lahapnya tak sungkan-sungkan mengabsen rasanya dan semua memang lezat untuk masuk ke perutnya.

Acha berdecak, heran melihat nafsu makan Devid yang berlebihan. Suara radio yang menyiarkan lagu-lagu Sunda terdengar, mengalun indah tentramkan jiwa yang lelah.

Peralatan makan telah dipindahkan ke dapur, tugas Dinda membersihkannya, sedangkan Bu Mila membawa air hangat dan bak mandi bayi khusus Decha, cucunya.

"Belum mandi, ihh ... udah siang gini," ucap Acha geli menatap tubuh mungil bayi tanpa sehelai benang pun di depannya.

Wajah tanpa dosa itu berseri, menggeliat di pelukan ibunya lalu merengek.

"Kan, dingin ...," balas Nia seolah yang bicara adalah Decha.

"Hahaha, bau ...," lanjut Acha sambil mencubit pipi tembem Decha.

"Hem hem, eak ...." Rengekan Decha semakin keras ketika tubuhnya bertemu air hangat.

Nia dengan cepat membasuhi, tak lupa memakai sabun khas aroma bayi. Setelah lama beradaptasi dengan air. Decha kecil mulai tenang, tangannya menggapai-gapai hingga cipratan air mengenai wajahnya lalu tertawa.

Acha hanya bisa bertepuk tangan sambil bernyanyi-nyanyi agar Decha senang. Walaupun tangannya ingin mencubit kembali pipi tembem kemerahan.

Selesai mandi, Decha dibawa ke kamar untuk dibajukan karena sore ini mereka siap kembali ke Bandung. Acha melihat Devid dan Yogi di luar. Ia langsung menghampiri.

Devid mendongak. "Cha, lu sanggap gak, naik sepeda dari Bandung terus nge-camp kayak kemaren?" tanya Devid.

Acha menggaruk tengkuknya yang tak gatal seolah berpikir keras. Namun, ditunggu-tunggu tak ada jawaban.

"Halah ... ngomong aja kagak berani lu!" timpal Devid.

"Ogah! Capek juga," tolak Acha.

Dinda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Meneriaki Devid karena bekal bajunya belum dibereskan. Segeralah Devid bangkit mengikuti ibunya ke dalam.

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Mereka telah siap berangkat, bersalaman dengan haru harus meninggalkan Bu Mila sendirian kembali. Entah ikatan batin atau apa, Decha menangis pula lalu diciuminya cucu tercinta.

Di perjalanan, Devid memilih duduk tepat di samping ibunya. Katanya ingin tahu bagaimana mengendarai mobil hanya dengan melihatnya saja. Dinda hanya bisa memgangguk saja toh dia tidak bisa menghalangi pandangan anaknya selagi masih satu mobil.

Namun, Acha lebih memilih membaca sebuah novel tipis yang sempat ia bawa, walaupun kemarin selalu memainkan ponselnya. Dari depan Devid bertanya-bertanya untuk apa gunanya, padahal dia merasakan bagaimana setelah menginjak pedal rem pastinya berhenti.

Satu jam berlalu. Kini Devid memasuki alam mimpi, begitupula Acha. Dari sepulangnya Sinta kembali ke Bandung, tak ada kabar yang menanyakan Acha selama di Ciamis. Kedua bola mata Dinda menatap sayang, Acha lewat kaca spion.

Mobil di depan milik Yogi berhenti. Ternyata mereka ada di persimpangan jalan kota Banjar. Yogi membeli beberapa oleh-oleh khasnya. Dinda mencicipi yang namanya galendo lalu memesannya beberapa bungkus.

Selesai berbelanja, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hingga suara Adzan Maghrib harus kembali memutus perjalanan. Devid dan Acha telah bangun dari tidur, sambil membuka pintu menuju Mushola Takbir bernuansa islami.

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang