"Kita dipertemukan, dalam keadaan yang tidak pernah terpikirkan."
Menjauh dan melupakan sudah tertera dalam kamus hidup barunya sekarang. Tatapannya tertuju ke deretan huruf notasi lagu yang akan dibawakan nanti di acara yang tidak bisa ditolak, apalagi digantikan oleh gitaris lain. Dihirupnya udara dalam-dalam, mencoba menenangkan semua ketegangan dan kekecewaan. Ia masih marah kepada sang ibu, tetapi ia tidak kuasa selama satu minggu mendiamkan, seolah semuanya akan terbiasa, sayang ia kembali ke pelukan ibunya dan meminta maaf.
Semua takkan dilakukan tanpa alasan, sejuta kasih sayang diutarakan, bukan karena balas dendam saja. Namun, lebih mementingkan kehidupan baru dan melupakan masa lalu. Sampai di restoran yang telah dipersiapkan untuk acara ulang tahun seorang anak dari pemilik kafe, semua ruangan tersaji makanan pembuka dan beberapa orang bergaun mahal berdatangan, sedangkan dirinya sendiri mengenakan kemeja putih terbalut jas hitam, dipadukan sepatu hitam pula. Jangan lupakan, rambut hitam legam yang menyempurnakan wajah putih bersihnya.
Di seberang sana, gadis yang akan menjadi teman panggung sedang bercengkerama bersama teman satu SMA. Katanya, mereka dipertemukan, di mana mereka sama-sama disibukkan dengan urusan kuliah. Tatanan rambut merah mudanya digerai ke belakang, sedikit di samping telinga, sebuah kepangan tersambung dengan kepangan lainnya. Jadi, tidak memungkinkan rambunya acak ke depan. Gaun yang dikenakan berwarna putih cerah, pemberian sang ayah, dihiasi pita pitam melingkar di leher jenjang terbukanya.
Sepatu tanpa tambahan peninggi menjadi alas kaki. Meskipun tertutupi gaun sampai ke mata kaki, tetapi gadis itu dengan percaya diri selalu membiarkan gaunnya terangkat ke atas agar tidak menyulitkan cara berjalannya. Sampai, sebuah kode acara akan dimulai membuat lelaki berjas hitam dan gadis pemilik rambut merah muda itu berbalik, harus duduk di tempat seharusnya. Di atas panggung, di mana semua tamu bisa dengan leluasa melihat penampilan mereka.
Tanpa diminta, Devid segera mengulurkan tangan kanannya, Devita pun menggenggamnya, lalu menaiki anak tangga dengan percaya diri. Setelah duduk manis di atas kursi, mereka saling bertukar senyum, sebagai awal pentas musik. Petikan gitar pun terdengar, membuat beberapa tamu terpancing untuk melihat langsung siapa yang bermain di atas panggung.
"Mereka itu udah terkenal di beberapa kafe, katanya panggilan buat mereka itu Double D mengingat nama keduanya berawal huruf D," jelas seorang wanita dengan polesan lipstik merah merona, sebagian teman-temannya mengangguk mengiyakan.
Dari arah pintu utama, mulai juga berdatangan tamu undangan. Masih dengan gaun yang sama. Karena temanya adalah pangeran dan putri. Jadi, sudah dipastikan akan formal, tetapi tidak dengan kostum Disney juga. Mengingat anak dari pemilik acara yang akan berulang tahun, menginjak usia sembilan belas tahun. Kebanyakan mahasiswa dan sahabat dari kedua orang tuanya. Sebagai pebisnis, sedangkan ibunya sosialita yang tetkenal ramah dan dermawan.
Tidak bisa dihindari juga, mengingat Cintya Arabella, yang berulang tahun dan merayakannya di malam hari, mengundang beberapa dosennya. Di mana, ia menjadi mahasiswa UI. Arga datang dengan perempuan yang menjaga wajahnya agar tidak ditekuk, sekuat tenaga tersenyum dan menjaga jarak dengan lelaki yang sangat dekat di sampingnya. Arga membawa Acha ke salah satu kursi kosong, mereka langsung duduk dan menatap kemeriahan di dalam.
"Rame juga, ya," ucap Arga, seraya mengambil satu gelas sirup berwarna merah.
Acha hanya mengangguk saja. Masa iya, pesta sepi kayak kuburan? Ia pun memilih memainkan ponselnya. Satu minggu lalu, ia hanya berdiam diri berkutat dengan tugas kuliah yang tertinggal. Tidak ada niatan mencari tahu keberadaan Devid atau mengejarnya. Ia sedang menjeda, bukan berhenti berjuang. Bram juga menyetujui, tanpa sepengetahuannya juga, Acha yang diajak Arga dengan paksa ke pesta.
Sudah ditolak juga, bahwa Acha sama sekali tidak mengenal Cintya, bahkan ia juga tidak tahu masuk fakultas apa. Namun, Arga terus saja memaksa sampai meminta izin kepada Sinta dan di sana, Acha tidak bisa menolak, sebelum ibunya meluncurkan ucapan legenda 'Pilih ikut atau kamu harus pindah ke rumah, Arga?' Acha menelan ludahnya kasar, ia mulai risi dengan gaun yang dipakai, biasanya ia hanya memakai baju kaus oblong dan celana longgar, sedangkan sekarang? Ah, rasanya ingin sekali keluar dan pulang sendiri.
Tatapan Acha menyapu ruangan, hingga mendapati pintu menunjukkan kamar mandi. Namun, sayangnya ia tidak peduli dengan permainan pemusik di atas panggung. Karena, hanya masuk saja dan melihat keriuhan membuatnya muak, apalagi melihat pencipta keramaian lagu di sana? Acha pun langsung masuk ke satu bilik kamar mandi, berdiam diri duduk di atas kloset. Tanpa menunggu lama, ia memainkan game yang tertunda, dulu ia sering mabar dengan Devid, tetapi sekarang harus dipendam. Mungkin, suatu saat nanti lagi?
Lama Acha duduk santai di sana, sampai tanpa sadar orang yang berada di luar kamar mandi menyadari pintu itu tidak bergerak-gerak, menandakan si pengguna toilet keluar. Suara musik berhenti dan Acha masih dengan asiknya memainkan game, hingga pendengarannya menangkap suara perempuan yang teramat ia kenal.
"Aduh, berapa lagu lagi, nih? Cape juga," ucap Devita seraya mengelap keringat di wajah dengan tisu.
Devid menimpal, "Lima kayaknya, soalnya selesai potong kue, mereka mau karokean."
Acha yang masih ada di dalam menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar lagi percakapan di luar.
"Ya udahlah, sekarang gua harus sok bahagia nyanyi lagu potong kue. Lo mau ikut juga?"
Tidak ada jawaban, sampai ruangan kembali sepi. Acha mencoba menaiki kloset untuk mengintip, apakah dua manusia di luar masih ada? Karena jika dari bawah, ia takut gaunnya kotor dan parahnya pasti Arga mencacinya habis-habisan. Penuh ketahanan dan kesabaran, sepatu yang Acha kenakan berhasil menahan tubuhnya, sedikit demi sedikit kepala Acha menyembul, mengintip keadaan. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya, tatapan kosong lelaki yang bersandar di cermin kamar mandi khusus perempuan tersentak, mendapati Acha yang diam-diam mencoba mengintip, tetapi ketahuan.
Pijakan yang menjadi kekuatan seketika oleng, tangan Acha mencoba menggapai sisi pintu di depan. Namun, sayang ia langsung ambruk ke bawah, menciptakan suara jatuh yang mendramatis. Seketika Devid menegakkan tubuhnya, bingung harus menghampiri bilik di depannya atau pergi karena nyatanya, masih ada tamu perempuan di toilet, tetapi jika ia pergi bagaimana dengan keadaan perempuan itu? Devid memang belum melihat jelas wajah Acha, dengan cepat ia pun bergerak mendorong pintu kamar mandi, tetapi dikunci.
Ketakutan acha semakin menjadi, tetapi ia berpikir lagi, mengapa Devid tidak berlari? Bukankah lelaki itu yang memintanya menjauh seolah tidak pernah bertemu? Dan, tanpa menunggu lama, Acha segera membuka kuncinya dan pintu pun terbuka, Devid terbelalak, mendapati orang yang berniat akan ia jauhi. Karena kepalang sudah ada di depan, pikirannya menjadi tidak fokus, sampai gerakan cepat Acha yang memeluknya terasa mimpi.
Acha benar-benar memeluknya di dalam bilik toilet itu. "Gua benci dengan keadaan ini, tapi lo harus tau, gua sayang sama lo!"
Bukan waktunya memgurusi kehidupan pribadi di saat Devid mendapat tugas manggung, ia melepas pelukam Acha dengan kasar, lalu siap bergerak keluar. Namun, Acha pula segera mencekalnya. Wajah yang dipaksa terpoles make up itu sekarang sudah berantakan karena air mata, tatapannya memohon dan Devid tidak bisa membalas apa yang Acha inginkan sekarang.
"Normal kalo lo marah, tapi dengerin penjelasan gua, Dev. Jangan cuma dari satu pihak," lirih Acha.
Sayang, Devid enggan memperpanjang, ia keluar begitu saja meninggalkan Acha dalam keadaan menahan tangis, kepergian. Tidak lama, sosok Arga datang dan terkejut melihat keadaan Acha di depan.
Hadeuh. Semakin menjauh saja _-
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Teen FictionPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)