"Memang terasa sakit dan kecewa, tetapi mama nunggu kamu berubah dengan sendirinya."
Dinda
Lantunan ayat suci terasa menyentuh hati, suaranya merdu membuat siapa pun akan terdiam menghentikan aktifitasnya demi mendengar lebih jelas lagi. Senja mulai terlihat berwarna, sekumpulan burung kelelawar keluar mencari makan beterbangan bebas di langit jingga.
Keluarga Pak Rahman bersiap-siap menyambut kumandang Azan Maghrib setelah membersihkan diri dengan mengantre, sedangkan semua wanita di sana asik menonton TV yang tidak bisa dikatakan bagus tampilannya—terkadang angin membawanya menghilang sekejap atau suaranya mengecil sendiri.
"Dev, kamu ikut ke surau, sana," ucap Sinta.
Devid yang tertawa karena ulah Acha memperagakan mulut hewan bernama monyet kepada Sri terhenti. "Males, Ma," balas Devid diakhiri senyum pepsodent.
"Lelaki di sini gitu, jangan malu-maluin, ah!" gerutu Sinta menunjuk Yogi yang sudah bersiap dengan sarungnya.
"Iya, iya!" Devid bangkit menghampiri Yogi untuk meminjamkan salah satu sarung.
Kumandang Azan pun terdengar merdu, Bu Aisyah masih terbaring, segera Sri membawa lap tangan dan air dalam baskom untuk berwudhu. Pak Rahman mematikan TV lalu berlalu menuju surau bertiga.
Rumah sederhana, bisa dikatakan sangat mengkhawatirkan. Dipan yang menjadi alas sudah keropos, bilik nampak kehitaman karena asap dari dapur juga kamar mandi mengalirkan air tak jernih.
Makanya mengapa Sri selalu membawa air dari sumur, itu hanya untuk memasak saja. Satu persatu mereka mengantre berwudhu, sampailah shalat berjamaah di ruang tengah diimami oleh Dinda dengan suara merdunya.
"Subhanallah, subhanallah." Dua puluh menit berzikir, Acha terlihat menekuk dagunya kesal. Baginya, ini hal baru semua yang wajib dikerjakan selalu ia hiraukan.
***
Devid mencuci kakinya di pancuran surau, lalu bergabung bersama para lelaki lain menunggu imam datang, sekitar lima menit barulah shalat. Dalam beribadah, Devid memang jarang menunaikan, tetapi didikan Dinda yang sigap—hafalan dari kecil bacaannya masih bisa diingat Devid lancar.
Selesai berzikir saling bersalaman dan meninggalkan surau, ada pula memilih membaca ayat suci Al-qur'an dan membuat lingkaran bershalawat. Rahman yang terbiasa tak langsung pulang, ia memilih berbincang-bincang dengan tetua, Yogi pula liput tertawa lupa bahwa Devid menginginkan kembali ke rumah.
Devid yang masih memandang lintang dan menghirup udara malam dari dekat kolam ikan sendirian, dikejutkan kehadiran seseorang duduk di sampingnya.
"Sodaranya Kang Yogi?" tanya seorang pria yang nampak kulitnya lama tersinari matahari siang.
Devid menjawabnya, "Tetangga dekat di Bandung."
"Ohh, kelas berapa?"
"Mau masuk SMA."
"Sama atuh, anak saya juga. Saya senang liat kamu ke surau," ucapnya menatap wajah Devid damai.
"Hehehe, iya."
"Dia itu susah diatur, Emaknya juga kadang nangis di sepertiga malam, minta sama Gusti, kalo si Rizki dapet Ilham gak bangor mulu," jelasnya meringis.
"Susah gimana, Mang?" tanya Devid.
Ditepuknya bahu Devid pelan. "Kalo disuruh shalat, paling males! Maunya ngorek hp mulu, udah lagi pacaran gunta-ganti! Saya pusing, meskipun itu bisa dibilang cinta monyet."
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Novela JuvenilPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)