56. Disaksikan Oleh Hujan

270 39 4
                                        

"Gua pastikan. Momen kita akan selalu bersama hujan. Kini, kenangan yang tak gampang terlupakan."

Devid

Meja di depannya dipenuhi foto anak remaja, bola bercahaya ada di samping tangannya yang bergerak-gerak, sedangkan mulutnya entah berucap apa. Hingga matanya yang tajam, menatap kedatangan mereka. Sudah dipastikan, mereka datang kepada seorang peramal, pikir Devid.

"Sore, Mbah," sapa Reina sambil duduk beralaskan karpet hitam.

Reina mendapati panggilan itu dari Syifa, karena jika memanggilnya dengan Nenek. Maka mata si Mbah akan memerah, pertanda marah. Devid pun duduk tepat di samping Acha, sedangkan Richard berada di belakangnya.

"Kalian dua sepasang kekasih?" tanyanya dengan suara yang khas nenek-nenek kelelahan.

Reina menggeleng, ia melirik Acha menunggu jawaban darinya. Acha menelan ludahnya kasar.

"Bukan, Mbah," jawab Acha tergagap.

Si Mbah mengangguk, tangannya terhenti mengelilingi bola cahayanya. Tergantikan menengadahkan tangan kirinya, meminta sesuatu kepada Acha. Reina menyikut, mengisyaratkan memberikan ponsel Acha untuk mendokumentasikan permainan mereka.

Acha membuka ranselnya, Devid yang berada di samping terlihat ragu untuk mengikuti permainan, sedangkan Richard masih santai. Ia tak percaya dengan ramalan yang akan dilakukan nenek tua itu, malahan cerita teman perempuannya seolah hanya bualan saja, pikirnya.

Kini, ponsel Acha telah di tangan si Mbah. Tangannya menari-nari mulai bersiap mem-video mereka berempat. Si Mbah mengisyaratkan mereka agar duduk dalam satu barisan. Richard pun maju duduk di samping Devid.

"Cara mainnya. Jika, tangan kanan menggenggam tangan pasangannya yang kanan juga, berarti saling mencintai. Namun, jika tangan kanan menganggur, berarti bukan di antara kalian, bisa jadi orang yang dicintainya bersama yang lain?"

Mereka berempat mengangguk. Tak sampai hanya itu, si Mbah kembali angkat bicara.

"Satu lagi. Jika, tangan kanan kalian menggenggam erat tangan pasangan yang kiri, sedangkan tangan kanan pasangan kalian terdiam atau tak membalas. Menandakan, sebuah perasaan yang bertepuk sebelah tangan."

Acha membatu. Ia takut semua akan terjadi, ia mencoba memfokuskan agar tak memikirkan apa pun. Namun, perasaannya seolah melayang-layang, entah untuk siapa.

"Kalian mengerti?!"

"Mengerti, Mbah," jawab keempat manusia yang menunggu permainan dengan tegang.

Ponsel Acha telah terpasang di tempat khusus, agar keempatnya dapat terlihat dalam tayangan nanti. Tiba-tiba, sebuah lagu bernada lembut membuat mereka memejamkan mata. Ternyata itu adalah sebuah mantra, hingga mulut yang terkunci. Kini, hati mengikuti siapa yang dicintai.

Si Mbah masih memejamkan matanya, tangan bergerak-gerak di sekitan bola terang. Bibirnya membacakan mantra khusus, hingga pendengarannya menangkap keributan. Keempat remaja itu saling berebutan, merebut tangan satu sama lain. Si Mbah membuka matanya, ternyata ramalannya benar.

"Melingkar!!" serunya.

Mereka pun duduk melingkar, nyanyian yang diputar lewat soudsystem dihentikan. Kembali, kesadaran empat remaja itu tersadar. Mereka bertanya-tanya, kenapa duduknya menjadi melingkar, sedangkan kedua tangan mereka saling menggenggam.

"Mbah, kok, gini?" tanya Reina belum melepas tautannya karena terasa kebas.

Si Mbah mengangguk, ia menyerahkan ponsel Acha lalu memutar videonya. Mereka berempat sama-sama melihat keributan, Acha sempat menarik bahu Richard dengan mata terpejam. Acha tak menyadarinya, ia tak ingat malahan tak berbuat seperti ditayangkan.

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang