"Berdua aja dulu, ngurusin serius enggaknya biar Tuhan yang ngasih jawaban di akhir pertemuan."
Jadi, hari-hari dilewati seperti biasa. Masuk kelas dengan cepat, mengerjakan tugas sampai tuntas, tidak lupa terselip gombalan dari dosen yang tidak diinginkan, membuat kelas menjadi curiga, bahwa mereka benar-benar dan bahkan akan menjalin ke jenjang serius. Perkumpulan MAPALA juga selalu dihadari, tanpa sapa dan senyuman dari dua manusia yang dulu paling dekat di antara anggota lainnya.
Masih terbesit ingin menyerah, tetapi lagi, lelaki yang mengawali berjuang selalu mengingatkan. Semua akan terjadi, di titik temu yang telah Tuhan rencanakan. Jangan pesimis, ingat, semua akan bisa, dengan berjuang, bukan rebahan. Sampai permintaan datang, Acha ingin Bram yang menjelaskan semuanya, dipastikan jika dirinya Devid akan pergi begitu saja.
Tentu saja Bram segera mengiyakan. Ia akan berbicara empat mata, sebagai seorang lelaki yang sebenarnya. Bukan manusia egois, hanya mendengar dari satu pihak saja. Kafe yang dulu mengawali pertemuan Acha dan Devid saat manggung, sudah menjadi tempat favorit mereka berdua, tahu begitu, Devita memutus kontrak manggung di sana.
Sungguh, sangat terlalu berlebihan, bukan? Sedangkan Devid, hanya setuju saja. Karena ia pula enggan lagi melihat Acha, apalagi duduk berdua bersama Bram di pojokan. Namun, untuk hari ini mereka ingin merasakan kesejukan, menghilangkan rasa jenuh dan pergi ke bioskop. Kata Acha, dari film yang diadaptasi dari novel yang sempat ia baca, Bram mengangguk mantap, toh, dia tidak memiliki waktu sibuk.
"Eh, Bram, sekarang malam minggu?" tanya Acha, saat mereka melalui antrean panjang dan kebanyakan anak muda berpasangan.
Bram menyelipkan satu tangannya ke saku, sedangkan tangan kirinya menggiring Acha masuk ke dalam bioskop. "Napa? Lu ada kencan?"
Acha melirik Bram sinis. "Kencan sama dosen? Idih, amit-amit!" ketusnya seraya duduk di salah satu bangku pilihan Bram.
"Ya kali, tapi ... kalaupun ada kencan, lu ngajaknya ke gua, nih!" Bram mulai menggoda Acha, dia juga lagi sendiri jadi bebaslah.
"Apaan, sih, gua tanya soal lu juga. Takutnya elu mau kencan ama doi, atau lu jomlo kayak gua?"
Bram mengangguk dengan tenang. "Lagi cari yang mau diseriusin, bosen pacaran mulu," balasnya, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Oh!" balas Acha, lalu membetulkan cara duduknya, sampai tempat duduk di bioskop penuh oleh penonton.
Seperti yang Acha sebutkan, genrenya sesuai apa yang dia rasakan sekarang. Bukan berarti semuanya sama, hanya seolah mewakili perasaannya. Judulnya Revan & Reina dibintangi oleh Bryan Domani dan Angela Gilsha. Berteman sejak kecil karena rumah mereka bertetangga. Dari berteman jadi pacaran, begitulah hubungan unik mereka. Meskipun umur Revan lebih muda 3 tahun, tapi Reina merasa nyaman dekat dengan Revan.
Baginya, Revan adalah satu-satunya cowok yang bisa membuat Reina merasa terlindungi dan tertawa di saat terpahit pun. Film Revan & Reina diadaptasi dari sebuah novel yang berjudul sama karya Christa Bella. Yang menjadi hal paling berbeda adalah umur dan belum terjadi pacaran, Acha tersenyum kecil, seolah yang bermain di sana adalah dirinya dan Devid. Lucu memang, tetapi ia tetap membayangkan sampai film pun berakhir. Jadi, si cowok yang sakit hati? Ok, Bram segera mengajaknya keluar, menghirup udara panjang-panjang.
"Kasian, ya, hujan-hujanan pasti udahnya sakit kek gue," lirih Acha, mengingat Reina dan Revan berbicara empat mata di bawah guyuran hujan.
Bram tertawa. "Emangnya Reina lemah kek, lo?"
Seketika Acha terdiam. Mengapa dari tadi ia tidak menyadari nama tokoh di film? Ingatannya langsung tertuju kepada teman dekatnya dan saudara tirinya itu. Apa kabar? Setahu Acha, sekarang Reina berubah total. Menjadi lebih feminim. Sayang, dia banyak berbelanja sesuatu yang sangat tidak penting juga. Mereka sampai di dalam mobil, jam tangan sudah menunjuk pukul sepuluh malam.
Bram melirik Acha yang menatap ke depan dengan kosong. "Makan dulu, ya, tadi belum, 'kan?"
"Gak laper gua, langsung pulang aja," tolaknya, seraya memasang sabuk pengaman.
Baiklah, Bram segera menjalankan mobil. Melaju cepat, melewati pedagang kaki lima yang menyediakan makanan hangat penuh asap. Tidak lupa dengan orang-orang yang berkunjung, menikmati malam minggu, di mana langit tidak menjatuhkan airnya ke bumi. Sesampainya di depan gerbang kosan, Acha tidak langsung turun, ia menatap lama Bram.
"Gua mau ke gunung."
"Ha? Gak salah denger gua?" Bram kira, semenjak terjatuhnya Acha dan hampir ke jurang akan berdampak malas atau hanya membicarakannya saja tidak mau.
"Berdua aja, Bram ... gua mau nenangin pikiran, ya?" Dari raut wajahnya, sudah tergambar Acha memang banyak beban.
Lama Bram menimpal, baru kemarin juga ia menjejak kaki di puncak Rinjani bersama rombongan tongkrongannya. "Nanti gua pikirin lagi."
Bibir Acha mengerucut manja. "Janji dong ... gua mau lama-lama di puncak, pengen ngurangin beban pikiran!"
"Iya, nanti gua kabarin, gak janji, tapi gua kabarin."
Acha mendengkus. "Gak seru kalo gak janji!" Secepat mungkin, tangannya membuka pintu mobil dan berlalu begitu saja, tanpa lambaian tangan akhir pertemuan.
Hanya untuk menenangkan pikiran karena Devid yang masih saja menjauh? Baiklah, sekarang Bram yang akan memulai, memperjuangkan keinginan Acha. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, mulai mengatur strategi. Besok ia akan memaksa Devid berbincang dengannya. Cara yang pertama, dia sendiri menunggu di parkiran kampus lelaki itu. Semenjak dekat dengan Acha, job potret Double D juga menghilang, tetapi ia tidak peduli.
Siapa pun yang meminta jasanya, ia akan lakukan dengan baik. Namun, jika tidak mengapa harus memaksa? Baginya itu adalah cara mengabadikam hobi, bukan benar-benar mencari penghasilan harian. Di depan rumah megahnya, terlihat dua mobil terparkir, dipastikan milik kerabatnya yang berkunjung. Jangan lupakan pula, akan ada pertanyaan di mana pacar yang belum juga menginjak rumahnya.
Bram membuka pintu sangat pelan, tetapi pendengaran orang rumah langsung peka akan kedatangannya. "Yang udah malam mingguan! Ceweknya gak dibawa juga, ya ampun ...."
Teriakan itu muncul dari arah sekumpulan ibu-ibu. "Udah malem, gak baik ngajak anak orang!" timpal Bram, seraya menyalami satu per satu kerabatnya.
"Besok-besok bawa, Bram, kita juga gak bakal nyekap tuh anak orang, ya, gak?"
Senyuman kecil menjadi akhir. Bram masuk ke dalam kamarnya. Menghempas tubuh lelahnya ke ranjang. Kelopak matanya terpejam. Ia sudah menemukan orang yang ingin diajaknya serius. Sayang, hatinya juga sudah tahu ke mana perempuan itu berlabuh, kadang ia selalu berpikir menyesal mengapa harus mengenal? Jika akhirnya hanya luka yang tercipta, tetapi ada sedikit bahagia. Pastinya hanya untuk dikenang saja.
Besok bukan soal menjelaskan tentang Acha. Ia juga bersiap, mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Agar Devid berpikir ulang, memilih kembali kepada Acha atau melepaskan begitu saja cinta pertama untuknya? Dan di sana pula, Bram menanti keputusan, menjauh atau tetap berada di titik sekarang ini.
"Gua sayang sama lo, bukan berarti ada niat jadi pengkhianat."
Ponsel Bram bergetar, menandakan seseorang mengirim pesan. Ia pun membukanya dan didapati, Acha mengingatkan kembali bahwa ia ingin menenangkan pikirannya di puncak gunung dengan perjalanan santai, tidak sesulit Ciremai. Bram segera membalas, bahwa ia akan membawa Acha ke puncak MT. PRAU terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tidak terlalu sulit, mengingat Acha sebagai pendaki pemula.
Namun, Bram segera terdiam. Besok, ia akan mengabarkan keinginan Acha muncak kepada Devid. Bukan hanya itu, ia akan menciptakan pilihan, menandakan Devid menerima maaf dan tidaknya. Jika, keegoisan itu runtuh, dengan senang Bram melepas Acha kepada Devid, berdua menaklukan MT. PRAU, tetapi jika Devid tidak memaafkan Acha, ia yang akan menemani temannya sampai ke puncak nanti.
Besok adalah jawaban dari penantian, guyss
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Teen FictionPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)