174. Pelukan Terakhir

14 3 0
                                        

"Jika semuanya telah terjadi, tidak seharusnya kau sesali. Akan selalu ada makna dan ilmu yang harus kita renungi."

Tepat pukul sembilan malam, setelah makan malam bersama semua keluarga datang berkumpul termasuk Bram dan Anya memenuhi keinginan Devid untuk bertemu langsung. Seperti Dinda yang terkejut tak menyangka, Sinta pun demikian ia merasa bersalah menyangka Acha yang akan menikah lagi dengan lelaki lain. Kenyataannya ternyata Devid kembali dalam keadaan utuh, tanpa kekurangan apa pun.

Di antara mereka semua Devita pula mulai berani mendekat, dengan alasan anaknya yang sudah tidak lagi memiliki sosok ayah yang akan menyayanginya. Awalnya Devid memaklumi, bersikap layaknya teman lama yang kembali dipertemukan, tetapi lama-lama Devita semakin berani sampai mendekap tangan Devid, menarik paksa untuk mengikutinya dengan alasan teman lama yang ingin bernostalgia.

Acha tidak melarang, tetapi hatinya yang menjerit menahan kesal. Bukankah ia akan berani kepada siapa pun yang bertingkah keterlaluan di saat Devid sudah menjadi suaminya? Ah, itu hanya niat yang tak mampu ia praktikan langsung. Lihatlah, keluarganya temasuk Dinda maklum dengan keadaan Devita sekarang, bagi Acha biarkanlah hanya untuk malam ini saja.

Dari seberang sana Bram tahu perasaan Acha sedang kesal, ia hanya mampu diam membisu, sedangkan Anya sudah muak diam di sana. Ingin mengajak pulang, tetapi Devid tidak ada di sana! Bram pula belum sempat bertukar sapa dengan Devid karena sudah ditarik keluar oleh Devita.

"Sorry, ya, Bram, lo bisa nunggu kan?" tanya Acha mulai tidak enak karena mendiamkan tamunya itu.

"Santai, Cha ... di rumah juga gak ada kerjaan!" balas Bram.

Sebelum Acha berniat memanggil Devid untuk menemui Bram, Dinda datang meminta Acha duduk mendengarkan pembicaraan.

"Untuk pekerjaan baru Devid, tenang ... omnya sudah menjamin semuanya aman!" jelas Dinda, pandangannya mencari-cari. "Devid ke mana?"

Sebelum menjawab, Acha menelan ludahnya kasar. "Tadi keluar sama Devita."

"Ya udah nanti kamu jelasin ulang aja, ya, sama dia?" Dinda pun melanjutkan, "Dulu waktu aku datang ke Jakarta. Martin, omnya Devid yang mengurus semua, termasuk membeli rumah ini. Nah, dikarenakan ia sampai sekarang tidak memiliki anak, ia sudah menganggap Devid sebagai anaknya sendiri. Termasuk setelah mendengar kedatangannya sekarang, sayangnya ia tidak bisa datang karena tinggal di luar negeri," jelas Dinda panjang lebar.

"Mungkin nantinya Devid harus kuliah lagi, menurut kamu gimana, Cha?"

"Aku bersyukur banget, Ma, dimudahkan dan ya ... gimana Devid aja, tapi aku setuju kok!"

Sinta angkat bicara. "Kamu masih jadi guru SMP, Cha?"

"Ohh, itu ... terakhir minggu kemarin, sih, aku ambil cuti beberapa hari!"

Ya, Acha mengambil cuti karena perasaan dan pikirannya yang tidak bisa dikendalikan.

"Kamu resign aja, Cha! Lebih baik jadi ibu rumah tangga buat anak dan suami kamu," pesan Sinta, ingatannnya kembali akan kesalahannya yang bisa dibilang menelantarkan anak tunggalnya demi mencapai karier.

Acha menatap ibunya, ia mengangguk cepat. "Iya, Ma, nanti aku bilang dulu sama Devid," balasnya.

Tak lama Devid datang tanpa Devita lagi, Acha bernapas lega. Sampai suara tawa anak kecil menyadarkan, bahwa anak Devita sedang bermain dengan anaknya di depan televisi. Ah, dipastikan Devita akan kembali lagi!

"Ini kan lagi kumpul-kumpul nyambut kedatangan kamu, Dev ... kamunya malah ngilang!" protes Dinda, langsung saja Devid duduk manis di samping Acha.

"Hehe, maaf semuanya ... tadi ada fans yang gak bisa ditinggalkan begitu saja!" jelasnya diakhiri tawa.

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang