"Kita ditakdirkan kembali bersama, dalam satu ruang penuh persaingan."
Awal pertama masuk, suasana SMP Pancasila sedikit ada perubahan di mana beberapa fasilitas mulai direnovasi semakin baik dan beberapa pula ditambahi. Seperti tidak jauh dari lapangan upacara, terdapat tempat duduk di sisi kanan dan kiri dengan kanopi agar terhindar dari hujan dan terik matahari.
Bukan hanya keadaan sekolah, Devit pula banyak berpapasan dengan anak baru lulusan SD yang akan menjadi adik kelasnya. Tahun kemarin ia menaiki anak tangga menuju kelasnya, sekarang di kelas 8A ia tak perlu naik turun tangga. Karena kelasnya itu tepat di lantai bawah, samping kiri kantor guru.
Tidak masalah juga, toh penghuni kelas A biasanya baik-baik, tau sopan santun dan yang terpenting tidak berisik! Langkah kaki Devit menelusuri lorong dengan sisi kanan yang menampilkan langsung lapangan upacara, tak lupa sebuah pagar tinggi menjulang memisahkan. Agar terhindar dari lemparan bola tertuju ke jendela kelas yang mengelilingi lapangan.
Devit mendapati mading diantara dinding kelas dan kantornya. Di sana nampak deretan nama siswa satu angkatannya yang mendapatkan kelas baru. Paling heboh lagi jika mendapat kelas unggulan, yaitu kelas A. Siapa saja? Devit tidak peduli, ia mencari namanya saja dan memang kembali ada di kelas unggulan.
"Dev!"
Teriakan seseorang yang memanggil namanya membuat Devit urung melangkahkan kaki menuju kelas.
"Liburan ke mana aja, lo? Ilang dari peradaban!"
Firman menghampiri, menepuk sebelah bahu Devit.
"Ada, deh! Lo satu kelas lagi kan sama gua?"
Pertanyaan Devit membuat Firman bad mood. "Aneh banget, padahal gua selalu nyontek jawaban dari elu! Tapi kenapa tiba-tiba gua malah jadi kelas D? Kan jauh dari perkiraan! Setidaknya, ya ... kelas B gitu?!"
Devit terkikik. "Haduh ... jalani aja, kita masih satu SMP juga!" serunya menyemangati.
Di luar dugaan Devit harus mencari teman sebangku berarti, sebelum ia meninggalkan Firman, mantan teman sebangkunya itu berkata, "Si Angel itu, sekarang satu kelas ama elu!"
"Ohh," balas Devit datar. Ia tak terlalu terkejut, toh memang normalnya bukan? Angel mampu mengalahkan Gita! Dan Gita, apakah dia dipindahkan ke kelas lain?
Secepat kilat Devit yang tadinya tak peduli akan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan tiba-tiba mencari nama Gita diantara nama siswa lain. Firman, sih, tak peduli ia memilih pergi karena kelasnya berada di ujung, jauh dari kelas Devit sekarang.
"Eh, ada ternyata," batin Devit tanpa sadar ia tersenyum kecil.
Karena Firman sudah hilang entah ke mana, Devit pun memutuskan masuk ke dalam kelas. Jam tangannya menunjuk pukul 07.45 jadi kemungkinan belum banyak anak-anak lain di kelas! Dua langkah, tiga langkah, sampai lima langkah Devit mendapatkan kejutan luar biasa. Di bangku paling depan, kedua dari kanan. Angel dan Gita duduk satu bangku! Terlihat cekikikan menatap buku yang entah apa isinya.
Devit menelan ludah kasar. Mereka sudah akrab dan berteman. Dalam seperkian detik, tatapan mata Devit akhirnya bertemu dengan bola mata bulat, alis lebat milik Angel. Rambut panjangnya lagi-lagi terurai, kali ini ia menghiasi rambutnya dengan jepit kupu-kupu berwarna pink, senada dengan kalung mutiara yang dipakai.
"Hai, Devit!" seru Angel menyadarkan lamunan Devit.
Gita mengalihkan pandangannya dari buku, lalu melempar senyum.
"H—hai," gagap Devit sedikit canggung.
"Yaa ... Firman gak ama kita lagi! Lo mau sebangku sama siapa, Dev?"
Pertanyaan Gita mengalihkan pandangan Devit. "Liat aja nanti, banyak kok anak cowok yang kemarin sekelas sekarang masih bertahan," jelasnya.
Angel tersenyum kecil. "Di belakang kita masih kosong, Dev!"
Devit tak berkutik, di samping Gita sudah ada ransel yang menandakan siswa lain sudah menempati bangku yang ada di depan semua. Sebelum Devit mengiyakan saran dari Angel tiba-tiba seseorang datang, menabrak bahu Devit! Napasnya tak beraturan dan Devit tak kenal siapa lelaki yang sedang jongkok di sampingnya.
"Hah! Huh, anjir!"
Gita dan Devit sama-sama bingung. Kecuali Angel, ia langsung berkata, "Kamu sekelas bareng kita, San?"
Ah, ya, dia Ikhsan teman sekelas Angel tahun lalu dan sekarang ia kembali satu kelas.
"Iya, dong! Gua kan peringkat dua di bawah lo!" serunya membanggakan diri lalu ia pun tersadar akan kehadiran Devit dan Gita. "Hallo, guys! Gua Ikhsan, dulu kelas B sekarang kelas A unggulan!"
Gita memberikan tepuk tangan. "Selamat, ya! Semoga kita bisa belajar bareng!"
"Yoi! Ah, ya, gua duduk di mana, ya?" tanyanya seraya menebar pandang.
Sontak Angel menunjuk bangku di belakangnya yang kosong. "Pas banget, kan? Devit dan Ikhsan, kalian satu bangku aja!"
"Wahh, ide bagus, tuh!" balas Gita.
"Hah? Emang lo mau, San?"
Pertanyaan bodoh Devit membuat Ikhsan menepuk jidat. "Sejak kapan anak pintar dijauhi orang? Dah, yuk! Gua di belakang Git—Gita, ya?"
"Yaps!" seru Gita.
Tak ada penolakan, Devit menurut saja berjalan mengelilingi bangku depan Gita dan Angel, lalu ia pun duduk manis tepat di belakang Angel. Rambut hitam terurainya menjadi pemandangan pertama, berbanding terbalik dengan kepala Gita yang ditutupi kerudung putih bersih. Tak ada celah mata telanjang menatap satu helai rambut di baliknya.
"Beda, tapi tetap bersama," batin Devit.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Teen FictionPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)