92. Salah Paham Lagi

102 24 9
                                        

"Lagi, sikap diamnya memberikan kesempatan orang di sekitar memanfaatkan keadaan. Namun, ingatlah, tidak semuanya menganggap nyata, mungkin itu dampak pasrah lelah menghadapi?"

Arga bergerak cepat menghampiri Acha yang juga segera menyembunyikan keadaan wajahnya itu. Ia langsung mencengkeram kedua bahu Acha, memaksa menghadapnya, dengan pasrah perempuan yang penampilannya sudah berantakam total, menatap malas sok perhatian Arga. "Astaga, Acha ... kamu nangis?"

Acha ingin berteriak, barusan ia tertawa sendirian di toilet. Tanpa menunggu lama, Acha segera pergi menuju wastafel mencuci wajahnya dengan cepat, melihat tindakannya Arga pun menghampiri, berarti make up-nya juga akan luntur? Ah, sialan memang. Namun, tidak bisa dicegah, Acha selesai membersihkan wajahnya lalu begitu saja keluar meninggalkan Arga.

Tidak bisa dihindari, beberapa noda kotor dan sedikit air menempel di gaun mengembang putih Acha. Arga ingin protes, tetapi melihat wajah perempuan yang diajaknya secara paksa ke pesta ditekuk, terpaksa juga ia tidak melihat keadaannya. Sesampainya di meja yang tadi ditinggalkan, suasana pesta ternyata sedang memberikan potongan kue untuk orang tersayang, termasuk pacar.

Arga mengajak Acha untuk berdiri dan mendekati kerumunan, lagi Acha menolak dan Arga hanya menurut saja. Sampai acara berganti mempersilakan para tamu menghabiskan jamuan, beberapa pelayan mulai hilir mudik bergantian membawakan pesanan tamu. Begitu juga tamu undangan, mereka dengan cepat menarik, memanggil pelayan. Dari arah panggung yang dengan aman bisa memandang semua orang, Devita dikejutkan akan kehadiran Acha.

Ia melirik Devid sedang memainkan ponsel. Apakah temannya itu melihat Acha? Pikirannya terputus, kala salah satu anggota keluarga pemilik acara, memerintah mereka berdua untuk menikmati jamuan, dengan senyum hangat Devita segera bangkit siap menuruni tangga, Devid tersadar ia pun membantu Devita turun. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Devid hanya mengikuti Devita dan tidak mempedulikan apa pun di depannya.

Devita berhasil membawa Devid mendekati bangku, di mana Acha tanpa sadar juga melihat mereka berdua mendekat. Namun, bukan untuk menyapa, tetapi duduk di bangku sampingnya, menikmati jamuan malam itu. Di sana, Devita melancarkan aksinya, tetap berdekatan dengan Devid.

Sampai, salah satu kenalannya di kampus menghampiri. "Kalian emang serasi banget, serius! Gua tebak, lu berdua sampe pelaminan!"

Devita menunggu lama ucapan itu, dipastikan Acha yang berada di belakangnya menahan napas, ruangan di sana terasa sesak baginya pula. Devid hanya membalas dengan senyum kecil. Setelahnya, teman yang tidak diinginkan itu kembali ke mejanya. Devita bergelayut manja di lengan Devid, lalu menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

Tidak ada penolakan, Devid memilih fokus dengan game di ponsel. Namun, keterdiaman Devid membuat Acha lagi-lagi menahan napas. Apakah mereka sengaja bersikap sok romantis di depannya? Atau mungkin hanya ulah Devita saja? Ia tadi tidak menyadari mereka menemukannya untuk memanasi atau bagaimana? Acara kembali dilanjutkan dengan berfoto ria, termasuk pebisnis dan rekan kampus Cintya.

Arga juga membimbing Acha untuk mengikutinya. Karena ia tidak mau dianggap menjadi batu di pesta itu, hanya berdiam diri karena Acha yang enggan ke mana-mana. Karena paksaan itu sangat tegas, Acha pun harus menurut saja, gaun yang tadi sedikit kotor sudah dibersihkannya dengan tisu. Jadi, sedikit aman, tetapi masih terlihat juga kotornya. Belum sampai berhadapan dengan pemilik acara, segerombol perempuan dengan gaya yang elegan menghampiri keduanya.

Namun, nyatanya mulai menarik Arga dari Acha. Ternyata para penggemar akan karisma dosen itu, lalu Acha ke mana? Ia siap berbalik kembali ke mejanya. Namun, kedua sosok yang dikenal mendapatinya sendirian dan bingung harus berbuat apa. Devita yang merangkul tangan kiri Devid seolah memberi tanda, bahwa lelaki di samping adalah miliknya.

Lama mereka menjeda, sampai Devita yang membuka percakapan. "Eh, Acha lo di sini?"

Acha mengangguk, tanpa senyuman lagi. "Kalian ngapain? Bukannya Cintya anak UI?" Pertanyaan Acha seolah buta dan bisu akan penampilan mereka dari awal acara dan membuat Devid, malas berlama-lama berhadapan dengannya.

Detik berikutnya, Devid menarik Devita agar kembali berjalan, meninggalkan pertanyaan yang enggan dijawab. Acha menatap kepergian mereka, mendekati tangga menuju panggung, dengan hati-hati, Devid menarik Devita sampai berada di atas panggung dan apa yang Acha lihat bukan imajinasi, salah satu tangan Devid menarik pinggang perempuan yang menjadi musuhnya, sampai duduk bersebelahan.

Devita tersenyum lega, seraya merapikan dasi hitam Devid dengan manja. Acha hanya menatap nanar mereka dari bawah, dari kumpulan para tamu yang menikmati jamuan, dari kekosongan hati yang sekarang seolah menyerah setelah menatap kenyataan pahit di sana. Pelan, kaki mungil Acha berjalan menjauh, menuju pintu terbuka utama, ia tidak peduli akan Arga. Toh, lelaki itu juga dengan lebaynya mengikuti ajakan si penggemar.

Lewat sudut matanya, Devid melihat Acha pergi keluar. Cara berjalannya menandakan bahwa ia tidak tahu harus ke mana, bingung dan bersikap bagaimana. Mengingat, orang yang tadi bersamanya di meja, berada di tengah kumpulan perempuan yang terkenal mengagumi dosen itu. Ada keinginan untuk berlari, mengejar tubuh Acha yang semakin menghilang. Sayang, ia telah bertekad untuk menjauh.

Di luar, suasana restoran yang ramai tidak lagi terdengar. Langkah Acha mengikuti jalan trotoar dengan lamban, terbentang di atas langit hitam, beberapa bintang yang muncul bersinar. Jadi, malam itu berbintang? Berarti menandakan takkan hujan, seperti biasa mewakili perasaan. Acha terduduk di bangku tempat pemberhentian bus. Ia memainkan jarinya yang terasa dingin, sekarang ia harus benar-benar kuat menghadapi Devid dan Devita.

"Gua gak peduli juga kali, Dev, mau lu apain juga tuh cewek di depan gua. Intinya, gua akan tetap berjuang!"

Sebuah notifikasi membuat Acha menarik ponsel barunya dari dalam tas kecil. Pesan masuk dari Bram, mengabarkan bahwa ia mendapatkan alamat lengkap rumah Devid. Benar katanya, bahwa rumah Devita tepat berada di sampingnya. Tidak ada satu pun penghalang. Dipastikan mereka memang sangat dekat. Acha membalasnya dengan cepat, berterima kasih dan besok, ia akan menemui Dinda.

Ada banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan. Sampai pula, Bram bertanya di mana Acha sekarang. Tanpa menunggu lama, Acha menjelaskan keadaannya sekarang dan dosen yang tidak diinginkan memilih bersama penggemar fanatiknya. Tidak lama kemudian, mobil Bram berhenti di seberang, Acha melambaikan tangan, seraya menyeberang dan masuk ke dalam mobil.

"Lo hutang penjelasan. Kenapa dosen itu ngajak lo?"

Acha menyandarkan tubuhnya dengan tenang, sebelum menjelaskan semua beban. "Soal nyokap yang maksa gua tinggal di rumah sahabatnya, ternyata ...." Acha menatap Bram bimbing. "Anaknya itu si Arga, kan, kek dapet kesempatan banget buat dia!"

"Jadi, dari awal dia emang udah keliatan naksir ama lo?"

"Mungkin, udahlah, jalan, gua cape!"

Mobil pun berjalan melenggang, meninggalkan keriuhan pesta di dalam, sedangkan Devid yang bersandar diam-diam di balik pintu utama menyaksikan kepergian mereka berdua. Sudah dipastikan bahwa Bram dan Acha berpacaran. Itu yang Devid tangkap setelah melihat kedekatan mereka, Acha memang berniat meminta maaf dan ingin kembali dekat, tetapi tidak dengan perasaannya. Devid pun kembali mundur, menghampiri Devita yang sedang menyanyikan lagu diiringi instrumen.

Dev, enggak gitu kali elu nya juga yang menghindar. Ah, jancuk!

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang