"Sebuah sindiran? Jangan terlihat kalah, apalagi semua yang dikatakan salah!"
Acha menepati janjinya untuk menjenguk Bram yang katanya sedang sakit, sebelumnya ia menjemput Devit terlebih dahulu. Bocah pemilik paras bak pinang dibelah dua dengan papanya itu, tak hentinya mengoceh bercerita tentang pelajaran apa yang ada di sekolah, juga bagaimana temannya menjaili teman perempuan Devit. Acha tertawa lepas, saat Devit mencontohkan kelakuan temannya itu kepada Acha. Yaitu menggelitiki leher ibunya.
"Geli, gak, Ma?" tanyanya polos, sedangkan Acha sudah menahan jeritan dengan kedua tangan masih mengemudikan mobil.
"Geli, Sayang ...." Acha menjawil hidung mancung Devit gemas.
Devit melepas jawilannya. "Ih, Mama, kayak ibu-ibu di sekolah! Sama ibunya temen, Devit, kalian suka banget nyakitin hidungku, hem!" Bibirnya mengerucut sebal.
"Masa? Terus anak, mama, cuma bisa diam, gitu?"
Anggukan cepat Devit menjadi jawaban. "Kalo Devit marahi, 'kan gak boleh. Mereka udah tua, gak sopan!" tegasnya, mengulang pesan yang Acha katakan dulu.
Tangan Acha terulur, mengelus sayang puncak kepala anaknya. "Nah, kamu tau. Mereka itu gemas liat kamu, bukan ngejahatin."
"Loh, kita mau ke mana? Jalannya beda, Ma?" tanya Devit, sambil menurunkan kaca mobil di sampingnya, menatap jalanan yang tak biasa dilalui.
Acha menghirup udara panjang, lalu berkata, "Om Bram, sakit, kita ke rumahnya dulu, ya."
Tidak jauh dari kediaman Bram, Acha menepikan mobilnya di samping sebuah toko buah-buahan sebagai hantaran. Devit dengan cepat meminta dibelikan buah melon kesukaannya.
"Pakek susu bisa?" tanya Devit polos, ia kira es buah yang selalu Acha buatkan di apartemen.
Penjual itu tersenyum lebar. "Bisa, sebentar, ya."
"Eh, gak usah, Bu. Devit ... ini hanya menjual buah, bukan es buah."
Bibir Devit manyun ke depan. "Kata, Tantenya, bisa, ya, kan?"
"Gak papa, kok, Bu. Anak saya juga suka buat es buah, dipotong kecil-kecil, Dek?"
"Iya! Makasih, Tante ...."
Selesai membayar buah-buahan yang sudah ditata rapi dalam keranjang, tidak lupa Devit yang menjinjing sekantong potongan melon dicampur susu kental manis. Mereka kembali ke dalam mobil, melaju cepat menepikan mobilnya di depan halaman rumah Bram yang sudah penuh diisi tiga unit mobil terparkir. Apakah ada banyak tamu datang? Acha kelabakan segera merapikan penampilannya. Entahlah, ia ingin terlihat rapi saja.
Di sekitar mulut Devit sudah tidak beraturan karena susu kental manisnya yang membuat kacau. Acha segera memberikan tisu basah, Devit menerimanya lalu menghapus noda susunya. Mereka segera keluar, berjalan lurus menuju pintu yang tertutup rapat. Acha menghirup udara dalam-dalam, lalu mengetuk pintu. Tiga kali ketukan, masih belum ada sahutan. Kelima kalinya, baru pintu terbuka.
"Eh, ini Mba Acha, ya?"
Acha mengangguk kaku, sekarang ia berhadapan langsung dengan gadis muda yang manis. Sebuah tahi lalat di ujung hidungnya menjadi daya tarik, siapa pun yang baru ditemuinya. Acha tersenyum kecil, sedangkan Devit yang masih lengkap memakai seragam SD masih sibuk dengan buah melonnya.
"Bram, ada kan?" tanya Acha.
"Oh, ya, astagfirullah. Masuk, Mba, di dalam udah pada kumpul," jelas Anya, gadis yang berharap bisa bertemu langsung dengan Acha.
Sekaranglah waktu paling tepat. Di mana, Anya bisa leluasa menyindir hubungan Acha dan Bram yang tak diharapkan oleh Bu Lastri, ibunya Bram. Tentu saja tidak setuju, untuk apa memperjuangkan seorang janda beranak satu? Lalu menolak bodoh gadis cantik seperti Anya?
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Novela JuvenilPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)