66. Menemukan Jalan Terang

130 24 10
                                        

"Kecewa karena gagal itu normal, tapi jangan langsung diam takut gagal lagi. Bangkit, ada kemenangan di depan."

Setelah saling memperkenalkan diri, Bram pun bertanya siapa yang selama ini Acha cari di antara teman-temannya. Di sanalah, Acha ragu haruskah menceritakan secara detail tentang dirinya dan Devid? Dari ungkapan cinta sampai mendorong lelaki itu hingga tabrakan maut menjadi akhir. Namun, tidak segampang itu. Acha sudah memendam rahasianya sendirian dari dulu. Ia sulit memercayai orang semenjak Devid hilang.

Maka, alasan biasalah yang Acha katakan, "Dia sahabat kecil gua, tapi tiba-tiba keluarganya menjauh gitu aja."

Bram mengangguk. Memang terasa aneh alasan Acha. "Namanya?"

Kedua tangan Acha gemetar, ia menatap balik Bram. "Devid."

Bram diam sejenak. Sejak kapan di kelasnya ada orang bernama Devid? Ia digolongkan mahasiswa baik. Karena, dalam kehidupannya tidak ada kata bolos atau absensi. Kecuali ia merasa sakit. Namun, kapan ia tidak masuk? Ia kembali mengingat setiap dosen yang mengabsen. Tidak ada nama Devid yang disebutkan di kelasnya. Bram menggeleng tegas, membuat Acha bertanya-tanya.

"Di kelas gua gak ada yang namanya Devid, lo salah fakultas kali," jelas Bram, tatapannya sangat meyakinkan. Lagi, Acha merasa perjuangannya sia-sia.

"Serius? Devid Prabu Androno gak ada di kelas lo?"

"Gak ada, oh, ya, kita pernah foto bareng satu kelas. Mungkin, lo bisa liat hasilnya." Bram pun mencari fotonya di ponsel, sedangkan Acha mulai merasakan jantung berdebar cepat.

Setelah didapati hasil pemotretan fakultas Jurnalistik, Bram menyerahkan kepada Acha. Foto di sana sangat jelas, wajah-wajah orang asing bagi Acha. Sayang, tidak ada lelaki yang ia kenal di sana. Acha menyerahkan kembali kepada Bram. Di mana Devid? Bukannya dia mau jadi reporter? Bukankah Jurnalistik fakultasnya? Lama, Acha terdiam, hingga Bram meminta foto Devid kepadanya. Mungkin dia mengenal siapa yang dicari.

Tanpa menunggu lama, Acha membuka ponselnya. Baru menggeser kunci, foto dirinya dan Devid sudah terpampang. Namun, dengan gaya konyol. Jadi, Acha mencari di galeri foto jelas Devid. Ditemukan, lelaki itu bergaya sok keren, tapi masih terlihat manusia bobroknya. Acha memberikan ponselnya kepada Bram. Tidak butuh waktu lama Bram mengenali foto itu. Ia menatap tak percaya kepada Acha. Lalu menunjuk foto itu, memastikan bahwa benar-benar itu yang dicari Acha.

"Iya, itu sahabat gua."

Bram menepuk keningnya merasa konyol. "Lo cari orang ini? Gua pastikan, lo salah satu fans beratnya ketemu dia di kafe, 'kan?"

Sekarang Acha yang tidak mengerti jalan pikir Bram. Di kafe? Ngapain Devid di kafe? Dan katanya fans? Sejak kapan itu? Bram menegaskan dengan teliti. Bahwa Devid bukan anak Jurnalistik yang Acha tebak, dia masuk fakultas Seni. Bram bisa mengenal Devid karena sama-sama anak MAPALA, kadang pula menerima jasa untuk pemotretan dokumentasi. Jika, Devid diundang menyanyikan beberapa lagu di kafe.

Acha tidak memercayai segalanya yang dijelaskan Bram. Devid nyanyi? Main musik? Ah, kenyataan macam apa itu? Sejak kapan Devid memiliki keinginan masuk ke musik? Oh, ya, bukankah suara Devid dulu lumayan dan dia juga memang mahir soal gitar. Namun, lagi, Devid bukan anak seni. Dia ingin menjadi reporter, tegas Acha. Akhirnya, penantian yang tidak berujung temu mendapat jalan. Sekarang, ia tinggal membenarkan apa kata Bram.

"Kalo besok gua gak bisa, masih ada pemotretan lain. Gimana kalo minggu depan? Kita liat dia biasanya manggung di kafe gak jauh dari kampusnya."

"Oke, gua tunggu janji lo," putus Acha, sebelum kakinya melangkah pergi, Acha berbalik. "Makasih infonya."

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang