181. What? Honeymoon?

17 1 0
                                        

"Habiskan waktu berdua. Esoknya kita keliling kota banyak cerita, menebus rindu dan luka yang dulu terasa."

Entah untuk keberapa kalinya Pak Budi berteriak 'Jatuh Kepada' membuat semua penghuni SMP jengkel, apalagi kelas 8 dan 9 sudah hilang dari barisan karena malas berdiam diri di bawah sinar matahari yang mulai beranjak, menyengat. Devit dan Angel pun mulai muak, bukan lagi perasaan dag dig dug seerr. Sampai pada akhirnya Pak Budi kembali melirik catatan kecil di tangannya.

"Parelel pertama jatuh kepada ... DEVIT PRABU ANDRONO, DARI KELAS A!"

"HUHUHU ...!!" Sorak kelas A bangga, akhirnya kembali Devit dapatkan masih di posisi yang sama seperti semester kemarin.

"Dan Angel sebagai parelel dua, tepuk tangan semuanya!"

Riuh tepuk tangan mengakhiri
kejengkelan Devit karena lama berdiam diri di bawah teriknya matahari. Jauh dari riuhnya suasana SMP Pancasila, Devid akhirnya sampai di depan pintu apartemennya. Kali ni ia dan dua anggota keluarganya tak lagi harus membawa ke sana ke mari kunci pintu. Metode fingerprint memudahkan semua penghuni apartemen di sana.

Pintu terbuka, Devid menemukan kesunyian. "Acha sayangku?" teriaknya, menggema memberikan kenyataan tak ada aktivitas sama sekali di dalam apartemen yang menjadi rumahnya itu semenjak menikah dengan Acha.

Seperti apartemen lainnya. Tepat pintu masuk, ruangan TV menjadi sasaran para tamu dipersilakan duduk, untuk menikmati kesibukan dunia luar Acha memberikan ruang di mana jendela yang terbilang cukup lebar menjadi tempat nongkrong dengan dua kursi dan meja kecil.

Ke samping kiri dari ruang TV terdapat pintu menuju balkon, di sana pun ada dua kursi untuk bersantai. Kembali ke dalam, masih di samping kiri dapur mini, dengan meja makan kaca ditambah empat buah kursi. Di ujung ruangan terdapat pintu kamar mandi. Di belakang kursi ruang TV, menempel pada dinding lemari hias berisikan potret mesra Acha dan Devid pula potret Devit mengacungkan piala yang sering memenangkan juara kelas semenjak duduk di bangku sekolah.

Benar kata Devid. Sama sekali tak ada potretnya sedang manggung, menyatakan kebenaran bahwa ia dulu seorang vokalis. Acha memendamnya dalam, mengubur hidup-hidup kenangan yang bagi Devid sendiri tak pernah ia sesali.

"Gak ada perubahan, sepuluh taun lamanya, Cha," lirih Devid setelah menebar pandang menikmati momen sunyi lepas membawa rapot anaknya itu.

Jika tidak ada di semua penjuru ruangan, dipastikan Acha berada di kamar. Apakah sedang menangis diam-diam? Devid pun menyimpan rapot anaknya itu di lemari, membuka pintu kamar perlahan dan benar dugaannya Acha ada di sana. Namun, dalam keadaan tidur nyaman sambil memeluk kucing milik tetangga mereka.

Devid tak mampu menahan senyum, dihampirinya tanpa menimbulkan suara. Sampai ia pun berdiri di seberang Acha yang terpejam rapat, beberapa helai rambut menutupi wajah mungilnya. Devid mengulurkan tangan, menyibak rambut yang menghalangi ujung mata Acha, diselipkannya ke belakang telinga.

"Eungh ...," desah Acha dalam tidurnya.

"Udah mandi, ya? Jadi ngantuk?" gumam Devid bicara sendiri.

Kucing yang dipeluknya erat pun sama tertidur pulas. Devid pun membuka satu per satu kancing kemeja, menggantinya dengan sweter warna cokelat, dipadukan celana pendek selutut. Ia mencari jam dinding, tepat menunjuk pukul sebelas siang, ah tak masalahkan ia bergabung dengan Acha sebelum azan dzuhur berkumandang?

Langkah kakinya mendekati ranjang, memposisikan diri tidur tepat di belakang tubuh istrinya itu. Tanpa menunggu komando, Devid menyelipkan tangan kirinya ke bawah leher Acha menjadi bantalan nyaman dari sang suami, sedangkan tangan kanannya memeluk erat tubuh mungil yang tak lepas dari pikirannya.

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang