138. Hanya Sementara

32 6 2
                                        

"Ada amarah terpendam yang lama-lama terasa membosankan. Jadi, bolehkah memaafkannya sementara? Mungkin sebuah kesempatan lagi untuknya?

Selesai menghabiskan sarapan yang terasa tawar, juga tanpa obrolan bermakna hampir membuat Acha meneteskan air mata. Karena Devit benar-benar menghindarinya, dengan alasan masih lelah. Namun, jika pendaki lain yang mengajaknya bercanda, pasti Devit dengan senang akan mendengarkan, lalu tawa lebarnya pun terdengar.

Sekali lagi diingatkan, Acha merasa jauh dari anaknya itu. Sekarang mereka sudah bersiap untuk turun, jemari mungil Devit sudah beralih tergenggam oleh tangan berotot Irsad, sedangkan Bram? Lelaki itu juga dijauhi oleh Devit untuk sementara. Alasannya, Devit kembali mengingat akan kemarin sore.

Masih terasa bayangan dua orang yang ia sayangi, tetapi tidak mendengar teriakannya karena suara hujan dan guntur lebih keras, mengalahkan jeritan mungilnya. Setelah berdoa terlebih dahulu sebelum melangkah pergi, barulah rombongan pun mulai berjalan menurun. Beberapa tenda pendaki lain terlihat masih sibuk membersihkan sisa sampah, ada juga yang tak bosannya mengabadikan momen bersama kekasihnya.

Acha menoleh sekali lagi, ada beberapa pasangan kekasih yang mengabadikan momen dengan saling melempar senyum, ada juga yang saling berbagi kehangatan lewat pelukan. Acha mengembuskan napas kasar. "Kapan, ya?" batinnya.

Dari barisan paling akhir, Bram menangkap tatapan Acha. Menatap sedih keadaan nyata yang tak bisa dihalangi oleh telapak tangan. Rasanya, Bram benar-benar tidak seharusnya mengajak Acha yang masih terluka, masih berharap Devid datang memberikan kebahagiaan lagi. Willy yang tepat di belakang Acha mengajaknya untuk menyusul rombongan lain, mereka berempat hampir ketinggalan.

"Santai aja, Kak, cuma turun doang!" ujar Willy, diakhiri senyum kecilnya.

Acha mengangguk kaku merasa bersalah, ia berada di barisan keenam, lalu tatapannya berakhir menangkap tatapan Bram yang sedang memandangnya.

Bram melempar senyum. "Lanjut?"

Tanpa membalas ucapan Bram, Acha segera berbalik melanjutkan perjalanan. Carrier di belakang punggungnya tidak seberat beban kemarin sore, sebagian makanan ringan sudah habis, hanya tersisa baju kotor dan cemilan sisa juga sebotol air mineral. Kemarin yang dilalui adalah tanjakan terjal, sedangkan sekarang adalah turunan panjang yang ditemani krikil dan batuan di samping kanan kiri.

Cuacanya juga tidak semenakutkan seperti kemarin, sekarang cerah tanpa suara guntur menggelegar di tengah hutan. Hanya suara cicit burung pagi, mereka tepat turun pukul sebelas. Setelah melewati turunan dengan lebatnya hutan, barulah mereka menyaksikan sabana dan beberapa bukit menjulang berwarna hijau. Di tempat datar sebelum melewati kemiringan, rombongan kembali beristirahat.

"Mana air minumnya?" tanya Irsad, seraya duduk di samping Devit yang bermandikan keringat.

Devit masih mengatur napas, lalu mengeluarkan air minumnya. "Ini!" serunya, tanpa menunggu lama segera menegak airnya tergesa.

Irsad tertawa melihat tingkahnya, lalu tatapannya mencari keberadaan Acha yang belum terlihat batang hidungnya juga. Sampai, kelima orang di sana, melihat jelas Acha yang dipapah oleh Bram dan Willy, sedangkan carrier miliknya dibawa oleh Bayu di belakang. Bola mata Irsad membulat lebar, ia segera meminta kepada Atul dan Risa untuk menjaga Devit.

"Kenapa?" tanya Irsad, ia melihat kaki kanan Acha tak mampu menahan berat badannya saat berjalan.

Perlahan, Bram mendudukkan Acha, dari arah lain Devit sudah berkaca-kaca, mengkhawatirkan keadaan ibunya. Namun, kehadiran Atul mampu membuatnya tenang melihat kondisi ibunya di sana. Bram segera memberikan air minum untuk Acha. Terpaksa Acha menerimanya.

CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang