"Percayalah, rintangan penuh liku itu ujian biasa, menuju ujung nyata bahagia."
Devid memakai helmnya, siap melaju cepat menemui ibunya yang selalu dihindari. Meskipun Devita memintanya datang karena Dinda sekarang banyak diam di rumah, enggan pergi ke kantor. Jadi, pamannya sendiri yang selalu datang. Memberikan kiriman makan setiap minggunya. Sedikit luka tergores mendengarnya, tetapi Devid tetap dengan tujuannya. Sampai, Acha sendiri menyadarkan, mereka belum direstui oleh seorang ibu. Malaikat tak bersayap, melakukan apa pun demi anaknya, apalagi Devid anak tunggal.
Jalanan Kota Jakarta masih seperti biasa. Panas, macet, untung saja Devid membawa motor, bebas menyelip dan sampai ke tujuan. Tanpa sadar pula, ia tidak ketergantungan akan obat yang harus dibawanya dari dokter. Ah, ternyata Dinda sejahat itu, pikir Devid. Motornya bergema melewati rumah Devita. Terlihat sepi, mungkin sedang manggung juga, mengingat sekarang hari kerja. Pagar rumahnya ditutup rapat, tetapi tidak dikunci. Sesampainya di halaman rumah, Devid melepas helm. Menghirup udara dalam-dalam.
Sebelum melangkah maju, apakah ia harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Atau begitu saja masuk? Ah, Devid segera mendorong pintunya, tidak dikunci. Aroma ruangan yang apek membuat Devid mengernyit, ada apa dengan rumah yang biasanya bersih dan tanpa debu? Di mana makan siang yang tersaji di atas meja makan? Semuanya tidak memiliki jejak, sampai didapatinya Dinda dengan baju hangat, duduk di halaman belakang, menatap kosong ke depan sambil memegang bingkai foto Devid.
Ragu untuk menyapa, apalagi memeluk ibunya secara tiba-tiba. Hingga Dinda yang tahu keberadaan Devid lewat suara motor yang terdengar, yang lama ditunggu dari dulu, Dinda berkata, "Kamu datang, ya."
Devid tertegun, tatapan Dinda masih ke depan, terlihat setitik air mata siap jatuh ke pipi yang mulai keriput itu. Gemetar tubuh Dinda, lalu menoleh menatap Devid yang berdiri tegang.
"Puas kamu tinggalin mama, ha? Mau apa? Mau warisan menganggapku telah meninggal?!"
Bukan itu yang diharapkan, Devid menunduk dalam menahan emosi. Tubuh Dinda yang mulai menua berdiri dengan hati-hati. Menghadap langsung Devid yang lebih tinggi darinya. Tegap, seperti Prabu yang mengkhianati.
"Ke mana saja kamu, untuk apa datang kembali?"
"Maaf—"
"Maaf?" sela Dinda, "kamu bilang maaf? Mau apa ke sini, bilang!"
Jadi, apakah rangkaian kata yang telah Devid siapkan akan berakhir penolakan tanpa restu? Tidak, itu tidak akan dibiarkan. Devid menatap langsung bola mata Dinda yang penuh amarah. Dia memang salah, tetapi harus diingatkan lagi bukankah ibunya yang menjauhkan dirinya dari masa lalu hanya karena hal, yang belum tahu penjelasannya dari Acha langsung!
"Devid udah nikah, Ma, dan Mama masih anggap semuanya cuma drama saja? Devid serius menjadikan Acha sebagai istri, bukan hanya sahabat yang dulu selalu ada."
Dinda tersenyum miring. "Asal kamu tahu, alasan mama menjodohkan kamu dengan Devita hal yang tidak salah, Dev, semua mama lakuin karena mama sayang."
"Sayang? Tanpa bertanya apakah Devid akan bahagia dengan keputusan, Mama?"
Sekaranglah, Devid menjelaskan tentang kehidupannya dengan Acha. Hari yang selalu dilewati saling percaya, bahwa bahagia memang selalu mereka rasakan. Meskipun di hari pernikahan tanpa seorang ibu yang menjadi saksi di sana, hanya seorang ayah. Yang kini menjadi ayah Devid juga. Dijelaskannya apa tujuan datang, bukan mengungkit pernikahan yang telah dijalani genap satu tahun.
Namun, meminta restu. Semua doa dari sang ibu. Dinda tidak peduli, kala Devid mencium kakinya pun dia menendang kepala Devid karena marah dan emosi, Dinda berlari menuju kamarnya, lagi Devid memohon kepalanya agar diterima maafnya. Dinda menghindar enggan memaafkan, ia tidak rela Devid harus bersama Acha, ia sendiri yang membesarkan, tapi mengapa Devid harus selamanya tinggal bersama Acha!
Sampai, sebuah tamparan mendarat di pipi Devid, ia rasakan emosi ibunya benar-benar meledak. Lalu Dinda tersungkur, memeluk anaknya yang barusan ia tampar sendiri, ia menangis histeris selain kakaknya, hanya Devid yang dia punya, hanya Devid anggota keluarga yang diharapkan dan bersamanya, tapi mengapa, mengapa anak yang dijaganya itu memilih pergi?
Semuanya bukan salah Devid. "Tampar, Ma! Devid anak durhaka, 'kan?" Ia melepas pelukan Dinda, ia tahu Dinda kesal dan kecewa kepadanya dan sekarang, harus dirasakan bagaimana ibunya itu marah.
Dinda menggeleng lemah, direnggutnya Devid, dipeluknya erat. "Mama kesepian, Nak, mama mau kamu ada di sini, mama sendirian," lirih Dinda, dengan napas terputus-putus.
Pertanda Dinda merasa bersalah pula, Devid memeluk ibunya itu erat. Meminta maaf lagi karena telah meninggalkan, menepis kabar bahwa Dinda sakit. Tidak mempedulikan ajakan Devita, sampai mereka benar-benar saling memaafkan. Senyum bahagia dan tangis haru menjadi akhir, Dinda mengajak Devid untuk memasak bersama, mereka akan makan siang lagi, di meja makan yang dulu penuh masakan terhidang.
Tidak ada penolakan, Devid mengiyakan ajakan ibunya. Sekarang, rumah itu seperti biasa. Meskipun tersisa air mata, tujuan Devid pun diucapkan kala mereka bersenda gurau di depan televisi. Soal Acha dan dirinya, menginginkan cepat seorang anak. Awalnya Dinda merenung lama, mengingat umur Devid kepalang muda. Bagaimana nanti ke depannya? Lagi, Devid meyakinkan bahwa dirinya bisa membiayai, dengan senang pula Dinda langsung menghubungi Hamdan, paman Devid.
Dinda meminta kepada kakaknya itu, agar anaknya bekerja menggantikannya di perusahaan. Devid menolak, mengingat jurusan kuliahnya pula jauh berbeda dengan apa yang akan dikerjakan di kantor. Hamdan meyakinkan, semuanya gampang dan selanjutnya, Devid tidak bisa menolak pekerjaan menjanjikan itu. Ia memeluk lagi Dinda dengan erat berterima kasih.
"Asal, kamu sering ke rumah, ya, mama enggak larang kamu tinggal di apartemen dengan Acha. Ingat, mama pengen dijenguk sama kamu."
Devid mengangguk. "Aku minta doa, semoga Acha cepet mendapatkan pertanda hamil, Ma."
Dinda menggenggam jemari anaknya itu, lalu berkata, "Mama doakan dan akan senang jika mendapat kabar itu. Mama senang, kok."
Bulir air mata kembali menetes perlahan, entah untuk ke berapa kalinya mereka berpelukan. Memberikan kekuatan bahwa semuanya aman dan telah kembali ke kehidupan lalu. Devid pun akan mengajak Dinda ke apartemennya nanti. Ada bisikan pula, tetapi Dinda menahannya takut Devid murung. Ia ingin anaknya dan Acha bisa tinggal di sana, menemani masa tuanya. Namun, tidak bisa, dengan datangnya Devid kembali pula sudah membuatnya bahagia.
"Kamu nginep di sini, ya," pinta Dinda, kedua matanya mulai berkaca-kaca, Devid tersenyum kecil lalu mengangguk mengiyakan.
Setelahnya, Dinda pergi ke kamar mandi. Katanya, semenjak kepergian Devid kehidupannya terasa tidak memiliki tujuan. Namun, sekarang ada, dia menunggu cucunya dan Dinda pun membersihkan badannya. Siap kembali ke dunianya, sedangkan Devid menuju kamarnya di lantai atas, masih sama, terjaga, lalu membuka pintu menuju balkon. Menatap senja yang diam-diam bersiap tenggelam.
Ponselnya berdering, menampilkan nama Acha di sana. Seketika senyumnya semakin lebar, lalu panggilan itu tersambung. Acha nemberikan kabar bahwa ibunya telah memaafkan dan memberikan restu, begitu pula Devid. Mereka sama-sama akan menginap satu malam. Kembali menjadi seorang anak, lupa akan statusnya yang telah menikah.
"Besok gua jemput, ke sana, entar lo gua ajak juga ke sini."
"Oke, sampai berjumpa lagi, besok! Awas pelakor datang," putus Acha diakhiri tawa.
Akhirnya, kebahagiaan itu terasa nyata. Devita yang tahu kedatangan Devid hanya mengurung diri di kamar. Ia harus bisa menunjukkan kepada Acha, bahwa dirinya bisa mendapatkan seseorang yang lebih dari Devid. Karena dirinya bukan pelakor ataupun jablay! Batin Devita.
Yeeee, alhamdulillah lega huhuhu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]
Teen FictionPINDAH KE DREAME Rank 19-08-21 #1 Devid #1 Indomembaca #2 Bestseller #2 Akudandia #4 Trend (Series 1 & 2 Di Dreame 16+) Follow sebelum baca, ya, guyss. Kepergiannya hanya meninggalkan jejak seorang anak. Janjinya menemani hilang begitu saja, berlal...
![CINTA SEGI EMPAT 3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/225183986-64-k554922.jpg)