Chapter 20

38 7 32
                                        



Sky Vanilla Princessa White 


Aku berjalan memasuki sekolah bersama Alex yang ada di sebelah ku. Sedangkan Blake,Xavier,Rafael dan Dylan berjalan di belakang kami. Aku tidak tau kenapa mereka berempat mau saja berjalan di belakang Alex seperti ajudan. Mereka aneh.

Alex menggenggam tanganku erat. Biasa nya aku akan protes tapi kali ini aku hanya diam saja karena aku terlalu lelah.

Gila saja,kemarin setelah pesta ulang tahun Alex yang sangat menyenangkan itu,dia baru mengantarku pulang jam satu malam. hasilnya sekarang aku sangaaaat ngantuk dan tidak mempunyai tenaga untuk protes.











"Sky ! Kau dengar ucapanku tadi tidak?" seru Alex tiba-tiba,aku mengerjapkan mata kaget.

"Apa sih? Tidak usah pakai teriak-teriak bisa gak sih?" omelku akhirnya.

"Habis nya dari tadi aku bicara tapi kau tidak mendengarkan!" serunya.

"Aku ngantuk, dan ini salahmu tau!" seruku balik.

"Masih pagi,jangan mulai pertengkaran kalian dulu ...." Potong Blake sambil menatap kami heran,mungkin dia heran kenapa kami biaa berdebat setiap saat. Aku sendiri saja heran kenapa aku selalu punya bahan untuk berdebat dengan kepala batu ini.

"Dia yang mulai!" seruku dan Alex bersamaan sambil saling menunjuk.

ugh,aku mendesis padanya dan dia mendesis padaku.

"Bukankah kalian manis dan cocok sekali? bisa kompak seperti itu. Mungkin kalian jodoh." Ucap Dylan sambil tertawa. Iya ,DYLAN yang bicara dan dia bahkan tertawa.

"Jodoh? huh. menggelikan." ucapku sebal. Alex melotot.

"Heh! Katanya ngantuk tapi kenapa masih bisa-bisa nya marah-marah seperti itu?" serunya.

"Kan kau duluan yang marah-marah hanya karena aku tidak mendengarmu!"

"Memangnya kau tidak sebal dan marah jika kau sedang bicara panjang lebar tapi tidak di hiraukan?!"

"Tentu saja sebal,tapi tidak perlu marah-marah seperti ini kan!"

"Halah bullshit!" serunya balik. Aku mendecak kesal,dia ini ya .... Hanya karena aku melamun dan tidak mendengar ucapannya saja dia marah. Aku jadi tidak bisa percaya kalau sosok lembut kemarin itu benar-benar dirinya. Jangan-jangan kemarin dia kerasukan setan?










"Arghhhh terserah kau saja! Aku malas berdebat dengan manusia berkepala banteng sepertimu!" serunya sambil berjalan menjauh dan menabrak bahuku.

"Kau kira aku mau berdebat dengan otak udang sepertimu?!" Seruku balik. aku mendengus dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Alex. Dan satu yang kusadari ketika aku berjalan, semua teman Alex sudah tidak ada di belakang kami lagi. Mungkin mereka pergi karena malu jadi bahan sorotan orang-orang di koridor,masa bodoh lah.

SKYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang